Note: Novel genre High Fantasi. se-chapter berjumlah 3000 sampai 4000 kata. Harap maklum, jika lama untuk membacanya.
Di dunia di mana ras monster dan manusia terpaksa bertarung untuk bertahan hidup, Serena, seorang gadis naga, bermimpi tentang perdamaian yang selama ini sulit diwujudkan. Meskipun dihadapkan pada penolakan dan ketidaksetujuan, dia bertekad untuk mengubah nasib rasnya sendiri.
Dengan tekad yang kuat, Serena berusaha untuk menciptakan sebuah dunia di mana kedamaian antara monster dan manusia bukan lagi sekadar impian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quinnela Estesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Apa (2)
Koridor asrama bagian barat itu terasa hangat oleh cahaya jingga dari batu sihir yang menempel di dinding.
Di sini, para monster kecil belajar hidup layaknya manusia: belajar menulis, memasak, hingga mengendalikan kekuatan sebelum diizinkan terjun ke dunia manusia.
Suasananya hari ini cukup sepi. Hanya ada suara langkah kaki kecil dan tawa samar dari ujung lorong.
Serena melangkah perlahan melewati deretan pintu kayu. Sebagian tertutup rapat, sebagian lainnya terbuka menampakkan kamar mungil dengan ranjang bertingkat dan barang-barang penghuninya yang beraneka ragam.
Dari salah satu kamar yang pintunya terbuka, terdengar suara teguran tajam.
“Hei, kalian! Kenapa masih di kamar? Sekarang masih jam sekolah, kan?” Suara itu milik seorang gadis bergaun abu-abu dengan rok selutut dan stoking hitam, berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang. “Cepat kembali sebelum aku lapor ke guru pengajar kalian, kalo kalian bolos!”
Empat anak monster di dalam kamar menoleh bersamaan: Dua laki-laki dan dua perempuan, dengan wajah mereka yang cemas. Di lantai, koin dan lembaran uang kertas berantakan di atas papan kayu.
“Kami akan kembali sebentar lagi, Kak Evny,” ucap salah satu anak dengan suara kecil. “Kami cuma mau menghitung uang saku buat beli alat praktek besok.”
Anak-anak lain mengangguk cepat, takut tapi berharap tindakan mereka dapat dimaklumi.
Namanya Evny, si gadis yang ditugaskan untuk mengecek keamanan seluruh kamar di asrama. Ia menghela napas panjang. Ekspresinya yang tadi tegas perlahan melunak.
Penampilan Evny adalah monster wanita berambut panjang acak-acakan, dengan gigi dan cakar panjang yang tubuhnya dapat melayang di udara. Ia berasal dari bangsa monster Banshee. Namun, saat di wujud manusianya, rupa seperti itu tidak nampak sama sekali.
Serena masih ingat dengan jelas, wujud asli Evny itu, ketika dulu dirinya masih belajar bersama di akademi monster untuk pelatihan menjadi petualang monster pemula.
“Ya sudah. Tapi cepat! kalau ada barang yang hilang, kalian yang kakak hukum duluan. Mengerti?”
“Iyaaa, Kak!” jawab mereka bersamaan, sebelum kembali sibuk menghitung koinnya.
Serena tersenyum kecil menyaksikan pemandangan itu. Sudah lama ia tidak melihat suasana asrama yang sesederhana dan sehangat ini. Ia melangkah mendekat, menepuk ringan bahu Evny.
“Hey, Evny. Apa kabar? Masih cerewet seperti biasanya, ya?” sapanya dengan nada bersahabat.
Evny menoleh, dan wajah tegasnya seketika berubah lega.
“Serena! Ya ampun, kau dari mana saja sih? Semua pengurus panik loh! Katanya kau belum balik dari quest receh. Aku kira kau—”
Serena terkekeh kecil, mendengar berita keterlambatan dirinya kembali sampai seperti itu.
“Aku tahu,” potong Serena sambil tersenyum kecil. “Sudah banyak yang ngomel soal itu. Tapi aku baik-baik saja, kok.” Ia merogoh saku gaun di roknya, menunjukkan kertas reward questnya. “Aku sudah bawa reward-nya, tinggal dibuka saja, tapi kalau Bibi Mei enggak ada, kau bisa bantu buka segelnya, kan? Aku belum belajar sihir penguraian kode reward quest soalnya.”
Evny mengangkat sebelah alis, menyipitkan mata seolah menahan senyum.
“Oh! Tapi kau belum bisa membuka segel reward quest, ya?”
Serena hanya menggeleng, tak berusaha menutupi rasa malu.
“Belum. Di akademi petualang tidak diajarkan sihir itu, sih. Makanya aku mau cari Bibi Mei. Sekalian bilang kalau aku baik-baik saja. Beliau pasti sudah khawatir.”
Evny mengangguk pelan, lalu menunjuk ke arah lorong, yang berbelok ke sebelah kiri.
“Ada, kok. Bibi Mei lagi masak makan siang buat anak-anak di dapur, dibantu pengurus asrama lain. Kau ke sana aja langsung. Beliau khawatir banget sama kau, tahu!”
Serena tersenyum kecil. “Baiklah.” Ia menunduk sedikit, memberi salam pamit. “Aku pergi dulu, Evny. Terima kasih, ya.”
Evny membalas dengan lambaian tangan, mata hitamnya berbinar lembut di bawah cahaya lampu kristal yang terpasang dilangit-langit koridor asrama.
“Iya, Serena. Aku juga mau keliling lagi, ngecek anak-anak yang bolos sekolah.” Ia menyengir. “Sesekali ikut bantu ngajar dong nanti! Besok anak-anak latihan praktek sihir di lapangan akademi monster bagian timur. Materinya tentang survival di dunia manusia.”
Serena terkekeh ringan, mengangkat tangan seolah menyerah.
“Akan aku pertimbangkan, kalau aku bisa bangun besok. Dua hari ini, aku belum tidur soalnya.”
“Masih saja begitu.” Evny menggeleng sambil tertawa kecil. “Jangan memaksakan diri, ya Serena!"
Serena hanya melambaikan tangan tanpa menoleh lagi. Langkahnya tenang menyusuri lorong, meninggalkan Evny dan suara tawa anak-anak di belakang.
Beberapa menit kemudian, Serena sudah melewati sejumlah koridor panjang dengan pintu-pintu kamar di kedua sisinya.
Dia melintasi aula belajar, lalu perpustakaan kecil tempat tumpukan buku sihir dan sejarah dunia manusia yang tersusun rapi. Semua itu memancarkan ketenangan, sesuatu yang jarang ia temui di luar asrama.
Tidak lama, aroma gurih menyeruak dari arah ujung lorong. Hidung Serena sedikit berkedut. Ia tahu betul aroma itu: kaldu daging bumbu rendang pedas buatan para pengurus asrama ini.
Langkah Serena otomatis bertambah cepat, seolah tubuhnya tahu bahwa tempat tujuannya sudah dekat.
Begitu tiba di aula makan, pemandangan yang menenangkan menyambutnya.
Deretan meja kayu panjang tertata rapi, masing-masing dikelilingi empat kursi kecil yang mengilap. Cahaya oranye dari kristal gantung di langit-langit memantul lembut di permukaan meja, membuat ruangan itu terasa hangat dan hidup, meski saat ini masih sepi, belum waktunya makan siang.
Serena tersenyum kecil. Ia bisa membayangkan riuh tawa anak-anak monster nanti saat jam makan tiba. Namun, kini hanya aroma masakan yang menuntunnya melangkah.
Dia berjalan menyusuri koridor belakang, sampai di dapur asrama, tempat semua sarapan dan makan siang anak-anak disiapkan setiap hari.
Suasana di dapur sangat berbeda. Penuh aktivitas dan suara kehidupan.
Bunyi dentingan panci, desis minyak panas, dan gemericik air bercampur menjadi satu.
Para pengurus asrama: wanita dari berbagai ras monster, bekerja berdampingan tanpa kenal lelah: ada yang menggoreng, merebus, mencuci, hingga menyiapkan bumbu sihir dalam mangkuk kristal. Tak ada perbedaan di antara mereka, hanya kesibukan yang tulus.
Asap tipis mengepul ke langit, keluar lewat cerobong dapur terbuka. Ruangan itu memang bergaya semi-outdoor: tanpa atap, dinaungi dua pohon raksasa yang daunnya membentuk kanopi alami.
Cahaya rembulan menembus sela-sela dedaunan, menimbulkan pola cahaya remang dan bayang-bayang benda sekitar di tanah hitam yang lembap.
Serena berhenti sejenak, menatap pemandangan itu. Dunia monster punya sisi keras, tapi di sini, semuanya terasa damai.
“Permisi!” serunya sambil melangkah masuk. “Bibi Mei ada? Aku sudah membawa bahan makanannya.”
Beberapa kepala serentak menoleh. Para pengurus monster yang mengenakan seragam abu-abu seperti Evny tadi saling berpandangan, lalu ekspresi mereka berubah lega.
“Serena sudah kembali!” seru salah satu pengurus, suaranya terdengar riang.
“Syukurlah, dia baik-baik saja,” sahut yang lain sambil tersenyum.
Namun, satu suara menimpali dengan nada cemas, “Tapi di mana Violina? Bukankah dia pergi bersama Serena juga?”
Sebelum Serena sempat menjawab pertanyaan para pengurus, terdengar langkah tergesa dari arah pintu dapur bertuliskan “Gudang Bahan Makanan.”
Pintu itu terbuka lebar, dan seorang wanita monster muncul dengan wajah penuh keringat.
Rambut hitamnya tersanggul bundar rapi di belakang kepala, meski dua helai tipis di dekat pipinya terlepas, menempel karena lembap. Gaun abu-abu yang ia kenakan sama dengan para pengurus lain, hanya saja apron putih di depannya kini berlumur tepung dan noda rempah makanan.
“Serena!” serunya, nada suaranya campuran antara lega dan marah.
Bibi Mei berlari kecil mendekat, lalu tanpa banyak bicara langsung memeluk Serena erat-erat. Pelukannya kuat dan hangat seperti seorang ibu yang akhirnya menemukan anak yang hilang.
“Aku pikir kau, kenapa-kenapa!” suaranya bergetar, lalu terhenti di tengah kalimat. Ia mengelus rambut putih Serena, jemarinya gemetar ringan. “Dasar anak ini! Dari dulu selalu saja membuat orang khawatir.”
Serena tak bisa menahan senyum kecil. Ia membalas pelukan itu perlahan, matanya terasa panas. Ekor naganya terkulai di lantai, bergetar lembut.
“Aku tahu. Maaf, Bibi. Aku nggak bermaksud bikin semua orang panik. Quest-nya cuma sedikit lebih susah dari yang kupikir.”
Bibi Mei menarik diri sedikit, menatap Serena dengan mata lembut tapi penuh tanya.
“Bagaimana dengan Violina? Kau tidak pergi sendirian, kan? Apa dia baik-baik saja?”
Serena cepat mengangguk. “Iya, Bibi. Violina enggak apa-apa kok. Kami berpisah di jalan waktu pulang. Dia sudah kembali ke rumahnya.”
Hening sejenak. Lalu, terdengar helaan napas lega dari berbagai sudut dapur.
Para pengurus yang tadinya diam dan menatap khawatir kini saling tersenyum.
Beberapa mengangguk lega, sementara yang lain kembali ke pekerjaan mereka: ada yang mengaduk adonan di mangkuk besar, ada yang memindahkan panci ke atas tungku. Suara dentingan logam dan desis api kembali memenuhi udara.
Bibi Mei melepaskan tangannya dari bahu Serena, lalu menatap gadis itu dengan mata lembut penuh kelegaan.
“Syukurlah kalau begitu.” Beliau tersenyum samar sebelum melanjutkan, “Lalu bagaimana dengan reward quest-nya? Kau sudah membawanya, kan?”
Serena segera merogoh saku roknya, mengeluarkan gulungan kertas bersegel biru. Ia mengulurkannya dengan hati-hati, kertas itu masih beraroma samar tanah dan abu, bekas pertempurannya dengan makhluk undead.
“Ini, Bibi Mei. Aku dan Violina sudah menyelesaikan tugasnya.” ia mengedip pelan, sedikit canggung. “Bahan makanannya itu agak aneh sih. Mungkin daging manusia karena monster yang kami lawan itu zombie.”
Wajah Bibi Mei sempat menegang, tapi beliau cepat menenangkan diri dan tersenyum. “Baiklah. Terima kasih, Serena. Untung kau membawanya tepat waktu.”
Beliau mengambil gulungan itu, membukanya perlahan di atas meja dapur. Di tengah lembaran kertas, terdapat sebuah lingkaran sihir berukir simbol kuno yang berdenyut lembut, seolah hidup.
Bibi Mei menaruh telapak tangannya di atas lingkaran tersebut.
Jemarinya bersinar lembut, menyebarkan cahaya biru ke seluruh pola sihir di permukaan kertas. Suara hum rendah bergema pelan, seperti napas dari dunia lain.
Dalam hitungan detik, cahaya itu memuncak, membentuk pusaran aurora yang berputar di udara, lalu memadat menjadi sebuah peti kayu besar yang jatuh dengan bunyi thud! di atas lantai tanah dapur.
Kertas quest di tangan Bibi Mei bergetar, sebelum berubah menjadi serpihan asap perak yang terbawa angin dan lenyap begitu saja.
Serena melangkah maju, matanya berbinar takjub. “Wah! selalu menakjubkan tiap kali lihat Bibi buka segel reward quest.”
Bibi Mei tersenyum sambil menempelkan kembali telapak tangannya ke peti itu.
Simbol-simbol sihir di permukaannya menyala satu per satu, seperti rangkaian bintang yang hidup.
Perlahan, mantranya pecah menjadi debu cahaya, menghilang tanpa suara.
Serena berdecak kagum. “Bibi Mei hebat! Bibi bisa semua jenis sihir, termasuk tipe Tools!”
“Itu mudah kok,” sahut Bibi Mei sambil tersenyum, matanya memancarkan binar yakin. “Semua orang bisa belajar sihir tipe lain, asal mau sabar dan tekun!”
Beliau lalu mengangkat tiga jari tangan kanannya di depan wajah Serena. “Ingat, sihir cuma terbagi jadi tiga macam saja: Agresif, Support, dan Tools. Kalau Serena mau, nanti Bibi ajarkan dua tipe lainnya.”
Serena tersenyum tipis, sedikit canggung. Tatapannya merendah, memandangi lantai tanah di bawah kakinya yang berdebu lembut.
“Sepertinya akan sulit, deh, Bibi,” ujarnya lirih. “Aku bahkan belum bisa menguasai satu tipe dengan benar.”
Nada suaranya membuat suasana dapur mendadak hening sejenak, sebelum salah satu pengurus asrama yang tengah mencuci piring bersuara, nada suaranya agak sebal.
“Mei, jangan samakan dirimu dengan orang lain dong! Tidak semua orang bisa menguasai banyak tipe sihir sekaligus sepertimu!”
Suara lain menimpali dari arah meja adonan. Seorang monster wanita bermata merah muda yang tengah menguleni tepung tanpa menoleh ikut berkomentar.
“Iya, Mei! Belajar satu tipe aja udah susah setengah mati. Lagian, kalau fungsinya mirip, ngapain repot-repot belajar yang lain?”
Suasana dapur seketika ramai, seperti pasar kecil. Beberapa pengurus lain ikut berkomentar pelan, antara protes dan menggoda.
Bibi Mei hanya mengangkat bahu, bibirnya menyungging senyum nakal.
“Kalian malas aja sih. Memang benar, tiap tipe sihir punya fungsi yang saling mirip. Tapi kalau hanya menguasai satu, kalian akan punya celah besar saat bertarung atau bekerja di luar. Belajar tipe lain itu penting untuk menutupi kekurangan.”
Para pengurus dapur serempak menghela napas, sebagian tertawa kecil.
“Baiklah, baiklah, Mei! Kau benar deh, kita orangnya pemalas!” canda salah satunya sambil mengibaskan tangan, membuat percikan air terbang ke udara.
Bibi Mei tertawa geli, “Heh. Alasannya malas terus bisanya!”
Tawa pecah di antara mereka. Suasana dapur yang semula serius kembali hangat dan riuh oleh gurauan.
Serena menatap mereka dengan senyum kecil di wajahnya. Suara tawa, aroma makanan, dan cahaya putih rembulan yang jatuh dari sela daun membuat dadanya terasa hangat seperti berada di rumah setelah perjalanan panjang.
Dia kemudian menunduk sopan.
“Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Bibi Mei. Aku mau istirahat sebentar sebelum kepalaku tumbang di sini.”
“Baiklah, Serena. Pergilah istirahat.” Bibi Mei melambaikan tangan sambil menatapnya penuh kasih. “Dan jangan lupa makan nanti, ya! Kau lapar nanti.”
Serena mengangguk ringan. “Siap, Bibi.”
Dia melangkah meninggalkan dapur, sementara suara tawa dan percakapan di belakangnya perlahan memudar, tergantikan oleh ketenangan koridor asrama yang panjang.
Serena melangkah menyusuri koridor belakang asrama, menuju kamarnya yang berada di ujung barat penginapan monster.
Udara siang hari di kota Hiddenama yang selalu malam terasa hangat, membawa aroma rumput liar yang tumbuh di halaman kecil belakang bangunan. Ilalang bergoyang pelan tertiup angin, berdesir lembut seperti menyambut kepulangannya.
Di tengah hamparan hijau itu berdiri sebuah pohon besar yang menaungi satu lemari kayu kecil di bawahnya, tempat Serena dan Violina biasa duduk sambil membaca atau berbincang sebelum matahari terbenam.
Hening dan damai. Seakan tempat itu ikut bernapas lega melihatnya kembali.
Saat Serena sampai di depan pintu kamarnya, ia memutar gagang besi perlahan.
Klik~ suara kunci berputar terdengar jelas. Ia masuk, menutup pintu, lalu mengunci dari dalam.
“Ahh! akhirnya bisa kembali ke rumah dengan selamat,” gumamnya pelan, hampir seperti mengeluh lega.
Serena menendang sepatunya ke arah keranjang di dekat pintu, melepaskan stoking putihnya dan melemparkannya ke tumpukan pakaian kotor.
Gerakannya malas karena rasa lelahnya. Setiap tarikan napasnya terdengar berat, seperti menumpahkan beban dua hari perjalanan tanpa tidur.
Serena kemudian melepaskan gaun merah, biru berendanya, menggantungkannya di sisi lemari tanpa pintu. Ia selalu memisahkan pakaian yang baru dipakai dari yang masih bersih, kebiasaannya sejak dulu agar bau keringat atau debu dari luar tidak menempel ke pakaian lain.
Namun, saat matanya melirik ke arah badannya. Serena mengerutkan alis, menyadari sesuatu ada yang hilang.
“Eh?” gumamnya pelan.
Dia menyadari sesuatu yang aneh: bra dan celana dalamnya tidak ia kenakan, tubuhnya telanjang, padahal ia masih ingat jelas, telah memakainya setelah mandi di pemandian teleportasi Chirandian dan masih merasakan pakaian dalamnya di badan.
Serena terdiam sejenak, mencoba mengingat, lalu menghela napas pendek.
“Ah, sudahlah. Bra sama celana dalam aja, aku masih punya lagi,” bisiknya dengan nada pasrah.
Serena memanjat ke atas ranjangnya, tanpa menggunakan pakaian terlebih dahulu, membiarkan tubuhnya yang telanjang jatuh ke kasur yang empuk dan dingin.
Kasur itu menyambutnya seperti teman lama: hangat dan familiar, setelah dua hari setengah, tidak tidur sama sekali. Ia menggulung tubuhnya, memeluk ekor naganya sendiri seperti bantal panjang, membiarkan ujungnya bergetar lembut di antara lengannya.
“Rasanya pengen tidur seharian,” ucapnya lirih.
Suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan. Tok~ tok~ tok~ bunyi pintu diketuk.
“Serena!” panggil seseorang dari luar. Suaranya terdengar seperti salah satu pengurus asrama. “Kau tidak mau makan dulu?”
Serena menoleh sekilas ke arah pintu, tapi tak menjawab langsung.
Dirinya tidak mengenali suara itu. Dengan jumlah pengurus sebanyak itu, sulit baginya mengingat siapa, apalagi dirinya lebih sering di luar, menjalankan quest, daripada membantu urusan asrama.
Dia akhirnya menjawab malas dari tempat tidur.
“Iya, Bibi. Taruh saja di dapur! Kalau aku mau, nanti aku ke sana.”
Suara dari luar kembali terdengar, sedikit cerewet tapi penuh perhatian.
“Nanti habis loh makanannya!”
Serena menutup matanya, menahan senyum tipis. “Iya, tidak apa.”
“Baiklah kalau begitu,” sahut suara itu, terdengar menjauh. “Jangan lupa mampir ke dapur, ya, Nak!”
Setelah suara langkah itu benar-benar hilang, keheningan kembali menyelimuti kamar.
Serena menarik napas panjang, membenamkan wajahnya ke bantal. Di luar, suara gemerisik dedaunan yang bergoyang mulai terdengar, bersatu dengan desir lembut angin yang masuk lewat jendela.
Dalam hitungan menit, matanya mulai terasa berat.
Akhirnya, setelah perjalanan panjang, Serena pun tenggelam dalam tidur, dalam kehangatan kecil yang hanya bisa diberikan oleh tempat bernama kamar yang sudah ia anggap rumah.
Serena tak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Rasanya baru saja memejamkan mata, namun tubuhnya terasa lebih ringan—meski sedikit lengket oleh keringat sisa perjalanan.
Suara ketukan tiba-tiba memecah keheningan kamarnya. Tok~ tok~ tok~
“Serena! Serena! Ayo bangun!” suara itu terdengar lantang dari luar pintu.
Serena menggeliat pelan di atas kasur, wajahnya masih tertutup bantal. Ia mendesah malas.
“Evny. Ada apa sih? Kenapa kau berisik sekali?” gumamnya setengah sadar, sudah mengenali suara itu tanpa perlu berpikir.
“Bukannya kau janji mau ikut mengajar anak-anak?” balas Evny dari luar, terdengar kesal sekaligus cerewet seperti biasanya.
Serena memejamkan mata lagi, menarik selimut sampai menutupi wajah.
“Iya, kalau aku mood,” sahutnya datar.
Terdengar suara Evny mengeluh panjang di luar, lalu sunyi sejenak. Serena mengira temannya sudah pergi, tapi Tok~ tok~ tok~
Kali ini ketukannya lebih pelan, namun suara yang terdengar bukan milik Evny.
“Serena,” panggil seseorang dengan nada lebih lembut tapi tegas. “Ayo, tolong bantu Evny. Banyak anak monster baru yang perlu diajari cara bertahan hidup di dunia manusia.”
Serena langsung mengenali suara itu. Bibi Ella, salah satu pengurus tertua di asrama bagian barat, teman Bibi Mei juga.
“Kasihan mereka kalau tidak mandiri,” lanjut Bibi Ella. “Warga Hiddenama juga akan kesulitan menanggung anak-anak yang tidak tahu cara hidup di luar sana.”
Serena membuka matanya perlahan. Ia terdiam sejenak, menatap langit-langit kamarnya yang sudah mulai diterpa cahaya pagi dari jendela. Lalu, dengan satu tarikan napas panjang, ia duduk dan meregangkan badan.
Suara kretek kecil terdengar dari punggungnya.
“Iya, Bibi. Aku akan ke sana.”
Dari balik pintu terdengar suara Evny yang langsung bersorak, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
“Terima kasih, Serena! Kalau begitu, aku tunggu di ruang makan pengurus ya! Kita berangkat setelah sarapan pagi!”
Serena tersenyum kecil mendengar suara Evny yang sudah pergi. Ia menepuk pipinya pelan, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menempel seperti kabut tipis di kepala.
“Baiklah,” gumamnya pada bayangan diri sendiri di cermin kecil yang tergantung di sudut kamar. “Kalau bukan karena anak-anak, aku pasti sudah tidur lagi.”
Dia berdiri, menggeliat sebentar, lalu berjalan sambil memejamkan mata setengah. Tubuhnya yang masih telanjang berbalut sisa kehangatan kasur.
Serena berjalan ke arah lemari tanpa pintu di pojokan ruangan, berniat mengambil pakaian bersih yang biasanya tergantung rapi di sana.
Namun, begitu matanya terbuka penuh, rasa kantuknya langsung menguap.
“Eh?” ujarnya lirih. Kedua matanya membesar.
Lemari itu kosong. Benar-benar kosong, kecuali satu baju yang tergantung di tengah, sepotong pakaian yang ia tahu betul adalah pemberian Tuan Malvier.
“Eh?! Di mana pakaianku yang lain?!” serunya panik, mendekat ke lemari dan memeriksa setiap sisi. “Bajuku? Gaunku? Pakaian dalamku juga. Kok tinggal baju ini aja?!”
Dia menunduk, menelusuri bagian bawah lemari, bahkan membuka kotak penyimpanan kecil di bawah ranjang.
Tidak ada. Tidak satu pun. Semua pakaian yang kemarin sore masih tersusun rapi kini lenyap tanpa jejak.
“Tidak! Seluruh pakaianku menghilang!” Serena memegangi rambut putihnya dengan ekspresi frustasi. “Aduh, gimana ini?!”
Dia menjatuhkan diri duduk di lantai, mendesah keras sambil menatap lemari kosong itu seperti menatap lubang nasib.
“Di toko pakaian juga enggak ada yang jual baju buat bangsa naga, apalagi bajuku yang lama, buatnya aja lama banget,” keluhnya pelan.
Serena tahu betul. Tidak sembarang penjahit bisa membuat pakaian untuk bangsa naga.
Gaunnya harus punya lubang di punggung agar sayapnya bisa keluar, bagian bawah roknya pun dibuat menonjol agar ekornya tidak tertekan, dan bahkan pakaian dalamnya dijahit khusus agar tidak robek ketika tubuhnya berubah.
Semua itu bukan hal yang mudah ditemukan di Hiddenama, apalagi hanya dirinya satu-satunya bangsa naga yang ada di kota ini.
Serena menghela napas panjang. Kepalanya terkulai.
“Sudahlah,” bisiknya pasrah. “Aku beli baru saja nanti, meskipun lama jadinya. Semoga aja putingku enggak ngecap di gaun ini.”
Serena berdiri, meraih satu-satunya baju yang tersisa: gaun rok panjang merah-birunya yang berenda, dengan potongan punggung terbuka dan kain lembut yang agak dingin disentuh.
“Tinggal baju ini saja deh,” gumamnya. Perasaan kesal masih bergejolak di hatinya. “Kok bisa sih, bajuku menghilang?!”
Serena mencoba menghiraukannya. Ia melangkah ke kamar mandi, menyalakan aliran air yang langsung memantul di dinding batu halus.
Uap tipis mulai memenuhi ruangan, menari di udara seperti kabut pagi.
Sambil menunggu air memanas, ia berdiri di depan cermin besar berbingkai kayu, menatap bayangan dirinya. Rambut putihnya yang masih acak-acakan dan mata birunya yang tampak letih, perlahan memantulkan semangat baru.
“Hah.” napasnya keluar bersama uap. “Seharusnya aku sudah terbiasa dengan semua hal ini, tapi rasanya tetap saja capek.”
Serena tersenyum kecil, lalu masuk ke bawah pancuran. Air hangat mengalir lembut, membasuh rasa kantuk dan sisa kekhawatiran yang masih menempel.
Suara air yang jatuh menenangkan, seperti bisikan halus dari dunia yang selalu bergerak tanpa henti.
Setelah selesai mandi, Serena mengambil handuk putih lembut dan mengeringkan tubuhnya perlahan.
Di depan cermin, ia mengenakan gaun merah-biru pemberian Tuan Malvier yang telah menyatu dengan pakaian lamanya: satu-satunya pakaian yang tersisa di lemarinya. Kainnya dingin di kulit, tapi pas di tubuhnya, mengikuti lekuk punggung dan pinggulnya tanpa mengganggu sayap kecil yang tersembunyi di bawah kulit.
“Nyaman juga ternyata,” gumamnya sambil menatap pantulan dirinya dari berbagai sisi. “Meskipun tanpa pakaian dalam, tapi rasanya agak aneh juga sih.”
Dia tertawa kecil, menepuk pipinya pelan. “Yasudah, aku ambil cadangan yang kusimpan aja.”
Serena berlutut, meraih koper tua yang terselip di bawah kasurnya. Engselnya mengeluarkan suara berderit lembut ketika dibuka.
Di dalamnya, beberapa celana dalam yang disimpannya dan aksesorisnya sewaktu dulu tersusun rapi, seolah tidak tersentuh waktu. Ada juga beberapa foto lusuh: potret dirinya bersama dua manusia dewasa: sepasang suami istri yang memeluknya di tengah jalanan kota manusia.
Serena menghela napas perlahan. Tangannya berhenti pada satu benda yang membuat dadanya seketika sesak, sebuah mahkota dari logam berwarna biru dengan hiasan banyak sekali permata kecil, perak dan emas.
Cahaya lembut dari lampu kamar memantul di masing-masing permatanya, memantulkan gemerlap cahaya bermacam warna, membuat mahkota itu tampak barang yang langka.
Serena mengangkat mahkota itu perlahan, menatapnya lama, mengamati setiap hiasan yang ada disana.
Kenangan mulai mengalir, membawa Serena ke masa lalu, masa ketika ia dan kedua orang tua manusianya hidup berpindah-pindah, bersembunyi di kota Alcaist, mencoba bertahan dari dunia yang menolak keberadaan mereka.
Mahkota itu adalah barang yang kedua orang tuanya lindungi dengan nyawa mereka. Semua kejadian tidak mengenakkan yang dialami Serena dulu disebabkan oleh benda ini.
Orang tuanya menyebut mahkota itu sebuah artefak tingkat tinggi, yang harus Serena jaga dengan serius karena jika artefak itu sampai jatuh ke orang yang salah dapat membuat dunia kacau, meskipun Serena tidak tahu, apa kegunaannya? Sampai kerajaan naga sangat menginginkan benda ini dan mengincar dirinya juga.
“Ibu, Ayah,” bisiknya lirih. Suaranya hampir tenggelam di antara desir angin dari jendela kecil.
Matanya berkaca-kaca, tapi Serena tetap berusaha tersenyum. “Di mana kalian sekarang? Apa kalian baik-baik saja?”
Kilasan masa lalunya kembali muncul, menyambung cerita nostalgianya yang dulu belum selesai.
kenapa mereka tidak bercocok tanam atau beternak? mengandalkan pasokan saja ya sulit.
pasokan itu dari mana?
serigala cukup terbayang, yang satunya belum.
Diceritakan juga bahwa mereka sepertinya berjumlah banyak, prediksiku mungkin ada belasan atau puluhan. Kalau mereka tipe agresif feel di keroyoknya itu kurang terasa buatku.
Atau mungkin karena mereka lemah ya, jadi tidak segalak para zombie bab bab sebelumnya🤣 jadi gampang buat di sikatnya
Tapi overal aku masih menikmati kok, hehe, sejauh ini belum kerasa ada minus yang benar benar merusak ceritanya..