Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Desakan dari sang mama
“Mana Adinata, Gerry?! Sudah hampir setengah jam saya menunggu disini hanya untuk bertemu dengan anak saya!” Meranti Hardiyanto—mama Adinata dan istri dari Prasetya Hardiyanto—papa Adinata merengek kesal di ruangan Adinata.
Gerry menganggukkan kepalanya sambil mempertahankan senyum tipis di bibirnya. “Tuan Adinata masih berada di ruangan rapat, Nyonya.”
“Panggil kesini dong, Ger. Masa dia tidak mau menemui mamanya disini?! Atau kamu cari cara supaya Adinata bisa datang kesini, Ger.”
“Maaf, Nyonya.”
“Kamu ini ‘maaf’, ‘maaf’ saja bisanya.” Mama Ranti memijat pelipisnya. “Punya 1 anak laki-laki, tapi tidak bisa menuruti mamanya. Tidak pernah mau bertemu mamanya kalau mamanya tidak memaksa.”
“Berapa lama lagi, Ger?”
Gerry yang ditugaskan sang pimpinan untuk menjaga Mama Ranti hanya bisa berdiri dan memerima celotehan sang nyonya besar yang sangat berisik.
“Sekitar 20 menit lagi, Nyonya.”
“Dipercepat tidak bisa, kah?”
“Maaf, Nyonya.”
Pintu ruangan Adinata terbuka dan Adinata melangkahkan kakinya masuk dengan wajah lelahnya.
“Adinata,” panggil Mama Ranti. Langkah kakinya diayunkan mendekati Adinata—anak sulung dan laki-laki satu-satunya. “Benarkah kamu sudah bercerai dengan Nadine?”
Adinata menghentikan langkah kakinya ketika sang Mama berdiri di depannya. “Iya.”
“Iya? Benar?” Mata Mama Ranti berbinar bahagia. “Ayo, pulang. Kita buat acara besar untuk menyambut perceraian kamu.”
Mama Ranti bertepuk tangan dan tawa bahagia tidak bisa tertutupi dari wajahnya.
“Ma,” panggil Adinata. Tubuh dan pikirannya terasa lelah. Lelah karena harus menyiapkan kebutuhannya sendiri dan menjauh dari sang istri tercintanya. “Tidak ada yang perlu dirayakan. Yang bahagia disini hanya mama.”
“Kamu tidak bahagia karena berhasil bercerai dari Nadine, Adinata?”
“Perlu Adinata jelaskan, Ma?” Adinata duduk di sofa. “Kembali ke pekerjaanmu, Ger. Terima kasih atas bantuanmu.”
“Sama-sama, Tuan. Saya permisi.” Gerry menutup pintu ruangan Adinata.
“Perempuan seperti Nadine banyak diluar sana, Adinata. Bahkan ada yang 1.000 lebih baik daripada Nadine. Kamu hanya perlu menunjuknya dan dia akan datang dengan sendirinya.” Mama Ranti duduk di sebelah Adinata. “Atau perlukan mama cari untukmu, Adinata?”
Adinata tertawa kecil. Tangannya bergerak membuka tutup botol minum yang ada di meja depannya. “Sepertinya mama bahagia sekali, ya? Selamat, ya, Ma sudah menghancurkan rumah tangga Adinata.”
Adinata meminum air putih dari botolnya dengan sekali (mengelek).
“Tentu. Mama senang sekali karena kamu akhirnya bercerai dari Nadine. Nadine benar-benar pembawa sial untukmu, Adinata. Mama akui, mama tidak bisa untuk tidak membenci Nadine.”
“Pulang, Ma. Adinata harus bekerja.”
“Mama akan pulang kalau kamu juga pulang, Adinata.” Pandangan mata Mama Ranti mengikuti Adinata yang sudah berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya kembali ke meja kerja. “Mama dapat kabar dari bibi di rumah kalau kamu tidak pulang ke rumah. Kamu berhari-hari tidak pulang ke rumah kamu, Adinata? Kamu tinggal dimana?”
“Itu memang bukan rumah Adinata, itu rumah mama. Bukan rumah Adinata dan keluarga Adinata.”
“Itu juga rumah kamu, Adinata. Setelah papa dan mama tiada, kamu yang akan tinggal di rumah itu dengan adik-adikmu!” Mama Ranti berteriak kesal.
“Iya.” Adinata mengambil salah satu berkas di tumpukan paling atas untuk ia baca. Sebagai peralihan fokus daripada mendengarkan ucapan sang mama.
“Pulang, Nak. Mama akan ajak nenek dan keluarga besar kita untuk membuat pesta di rumah, ya. Pesta menyambut perceraian kamu dan Nadine. Kamu, kan tahu kalau tidak ada yang menyukai Nadine hadir di keluarga kita. Tapi kamu sendiri yang membawa Nadine masuk ke dalam keluarga kita, jadi bukan salah mama, ya kalau mama tidak bisa menyembunyikan rasa tidak suka mama di depan Nadine.”
Adinata menganggukkan kepalanya dengan samar. “Adinata yang salah, Ma.”
“Makanya kalau mama bicara denganmu, dengarkan, Adinata. Sudahlah, mama carikan istri baru untukmu yang pasti tidak akan mama benci.”
“Silahkan ikuti saja kata hati mama.” Adinata tidak menatap sang mama, tapi ia tahu jika sang mama benar-benar kesal dengan dirinya.
“Apa yang istimewa dari Nadine?! Mama tidak mau mengakui kalau dia adalah istrimu. Tidak akan pernah mama akui dia menantu mama! Mama tidak sudi,” ucap Mama Ranti dengan suara menggelegar.
Adinata menggebrak meja kerjanya. “Pulang, Ma. Mama disini hanya mengacaukan pekerjaan Adinata.”
“Kamu harus ikut mama pulang, Adinata!”
“Ma,” panggil Adinata dengan nada menggantung. “Perceraian Adinata dan Nadine, mama yang menginginkannya, kan? Sudah Adinata turuti, Ma. Adinata lakukan walau Adinata tidak ingin melakukannya. Perlu mama ingat, yang Adinata lakukan saat ini akan Adinata tagih di masa depan kepada mama dan papa.”
“Itu juga untuk kebaikanmu. Kalau kamu tidak bercerai dengan Nadine, apakah bisa harta keturunan keluarga akan jatuh kepadamu, Adinata.”
Adinata tertawa kecil. “Mama benar. Adinata melakukannya karena harta keturunan yang sangat berlimpah. Adinata pastikan, Adinata yang akan mendapatkannya. Setelahnya, mama tidak perlu campuri urusan Adinata.”
“Kamu tidak boleh kembali dengan Nadine!”
“Itu urusan Adinata, bukan urusan orang lain.”
“Mama yang melahirkanmu!”
“Mama juga yang menaruh dendam dan ambisi ke diri Adinata untuk merebut harta keluarga, Ma,” ucap Adinata diakhiri dengan tawa singkat. “Yang tidak mama sadari adalah ambisi dan dendam pada diri Adinata bertambah besar. Mama pun akan mendapatkan balasan dari perintah mama untuk Adinata selama ini.”
“Adinata akan kembali dengan Nadine sekalipun tanpa restu mama.”