Berkali-kali Velly Alexander (26 tahun) mengungkapkan perasaannya pada seorang pria. Velly tergila-gila, pada pesona seorang David Stuart (33 tahun). Yang tak lain adalah sahabat kakaknya sendiri. Berkali-kali juga, David tak peduli dengan apa, yang dikatakan Velly.
Namun seiring berjalannya waktu, Velly yang tak pernah bosan mengejar cinta David, membuat David pun semakin dekat dengan Velly. Tentu saja, awal yang indah bagi Velly. Perhatian David membuat Velly akhirnya, menganggap hubungan mereka, seperti sepasang kekasih. Sementara David, tak pernah menyatakan, bahwa hubungan mereka lebih dari teman. Pada akhirnya, entah mengapa David berusaha menghindari Velly. Membuat Velly merasakan kekecewaan lagi dan lagi. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah memang David, tak memiliki perasaan apapun pada Velly selama ini? Di kisah ini, masa lalu David dan Velly akan hadir. Apakah mereka sebenarnya berjodoh? Yuk kepoin novel ku yang kedua ini guys. Jangan lupa like dan komen nya ya. Love you readers🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Octa_since, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Hari sudah mulai sore, Velly sudah sampai di mansion. Apa dia mulai merasa lega sekarang? Ya, lumayan. Velly keluar dari mobil mewahnya, dan segera berjalan masuk ke dalam mansion. Matanya masih kelihatan bengkak, dari tadi memang dia menangis. Mery yang kebetulan, lagi mempersiapkan sesuatu di meja, melihat putrinya sudah pulang.
“ Sayang, kamu sudah pulang?” tanya Mery pada putrinya itu. Velly pun berhenti, dan melihat ke arah Mery.
“ Iya ma, aku ingin istirahat dulu,” jawab Velly tersenyum. Mery melihat, ada yang aneh dari putrinya itu. Lalu dia berjalan menghampiri Velly.
“ Mata kamu bengkak? Kamu baru menangis Vell?” tanya Mery heran. Seketika, Velly pun langsung tertawa. Ya, dia harus menyembunyikan yang terjadi hari ini.
“ Ah iya ma, tadi temanku curhat! Lalu ceritanya sedih banget tau ma!” seru Velly pura-pura semangat. Mery mengerutkan keningnya,
“ Benarkah? Memang cerita apa?” tanya Mery yang sebenarnya curiga. Seketika, Velly langsung mengajak Mery duduk di sofa. Dia harus bisa meyakinkan mamanya.
“ Sini ma, kita duduk dulu,” kata Velly. Mereka pun duduk bersama, tapi wajah Mery benar-benar heran.
“ Tadi itu kan ma, temanku cerita kalau dia baru putus dengan pacarnya. Padahal, mereka sudah lama menjalin hubungan,” terang Velly berbohong.
“ Lalu?” tanya Mery singkat.
“ Ya temanku sedih ma! Dia masih sayang dengan kekasihnya, tapi kekasihnya selingkuh!” seru Velly. Seketika Mery melebarkan matanya.
“ Bagus dong mereka putus, pria seperti itu ga layak di pertahankan!” seru Mery yang mulai percaya cerita putrinya.
“ Menurut mama begitu?” tanya Velly serius. Mery pun mengangguk,
“ Iya dong! Berarti, pria itu tak menghargai hubungan mereka selama ini. Kalau pun menikah, pasti bakal selingkuh lagi,” terang Mery pada putrinya.
Entah kenapa, Velly langsung terdiam mendengar perkataan mamanya. Apa dia merasa tersindir? Bisa jadi.
“ Hey, kok bengong sayang?” tanya Mery heran, karena Velly tiba-tiba diam.
“ Ha? Ga kok ma, aku hanya merasa apa yang mama katakan itu, ada benarnya juga.” kata Velly dengan tersenyum. Mery pun mengangguk kan kepalanya,
“ Ya iya dong sayang! Cari pasangan itu yang setia, baik, tanggung jawab dan pastinya, harus menghargai kita sebagai wanita,” terang Mery lagi. Velly pun tersenyum, dia membenarkan perkataan mamanya.
“ Mama paling best! Maaf ya ma, waktu itu aku melawan mama,” kata Velly pelan dengan memeluk mamanya.
“ Iya, ga apa-apa sayang. Mama mengerti kok perasaan mu. Kamu takut ga bahagia kan?” kata Mery lembut pada putrinya. Velly pun mengangguk, di pelukan mamanya.
“ Mama, hanya ingin yang terbaik untukmu. Mama tidak mungkin menjerumuskan anak mama yang cantik ini,” kata Mery lagi mengelus kepala Velly,
Velly pun tersenyum di pelukan mamanya, dia seperti anak kecil yang sedang mengadu. Mery pun bahagia, akhirnya putrinya mengerti maksud dan tujuannya.
Lalu Velly melepaskan diri dari pelukan Mery, dan berkata..
“ Ma, memangnya pria yang ingin mama kenalkan itu siapa sih?” Velly bertanya tiba-tiba. Memang benar, sampai saat ini Mery belum memberi tahu, tentang pria itu.
“ Tumben di tanyain?” kata Mery tersenyum.
“ Aku kan ga kenal ma! Setidaknya kasi gambaran gitu ma,” kata Velly lagi serius.
“ Kalau seperti itu, berarti ga kejutan dong sayang,” sahut Mery tersenyum.
“ Ha? Masa iya pria itu jadi kejutan ma?”
“ udah ya! Sebaiknya, kamu istriahat dulu. Nanti, malam dia datang,” kata Mery memicingkan matanya. Velly memayunkan bibirnya, dia kesal mamanya tak memberi tahunya,
“ Udah ga usah cemberut sayang! Nanti, malam kalian akan bertemu,” kata Mery yang melihat putrinya cemberut.
“ Baiklah mama sayang! Aku ke kamar dulu,” kata Velly yang memang ingin segera berbaring sejenak.
“ Ok sayang selamat istirahat,” ucap Mery dan Velly pun segera berlalu dari hadapan Mery.
Velly yang sudah berada di kamarnya pun langsung meletakkan tasnya, membuka sepatu nya dan segera, menghempaskan tubuhnya di ranjang.
“ Huff,” suata Velly yang memejamkan matanya. Di pelupuk matanya, masih ada bayangan David. Namun, dia berusaha untuk menghilangkan wajah itu. Lalu dia membuka matanya, dan menatap ke atas.
“ Setidaknya, aku merasa lega sekarang! Akhirnya wanita mu kembali! Aku hanya menjaga jodoh orang!” katanya pelan dan tersenyum.
“ Sudahlah, tak perlu mengingatnya lagi,” katanya lagi. Di saat Velly terdiam, ponselnya berdering..
“ David?” batinnya dengan mengerutkan kening.
“ Mau apa lagi dia?”
Velly meletakkan lagi ponselnya di sampingnya. Dia tak menjawab panggilan David. Tapi, lagi-lagi ponsel itu berdering.
“ Apa ku blokir aja ya nomornya?” katanya pelan.
“ Hah! Dia kenapa sih? Udah aku ikhlas kan sama wanitanya, masih aja menghubungiku!” ucapnya dengan nada kesal. Velly tetap tak menjawab panggilan itu. Dia sudah malas, berhubungan dengan pria yang dia rasa tak punya empati. Akan tetapi, ponselnya masih terus-menerus berdering. Velly geram dan memejamkan matanya. Lalu dia pun akhirnya, menjawab..
“ Apa lagi sih?” ketus Velly menjawab panggilan dari David.
“ Velly! Kamu kenapa susah sekali di hubungi akhir-akhir ini?” tanya David dengan nada kesal. Velly yang mendengar perkataan David pun semakin geram.
“ Heh tuan! Memangnya ada urusan apa anda dengan saya?” bentak Velly.
“ Velly, kamu kok gitu ngomongnya? Apa aku salah menghubungi kamu?” tanya David.
“ Bisa ga? Mulai sekarang, kamu jangan menghubungi ku lagi?” kata Velly emosi.
“ Aku ga bisa!” jawab David singkat.
“ Maunya kamu itu apa sih? Wanita mu sudah hadir sekarang! Jadi untuk apa lagi kamu menghubungi ku?” tanya Velly.
“ Velly aku..”
“ Udah ya Dav, seperti yang kamu bilang kalau aku, harus tau diri kan? Kamu bilang kita tak punya hubungan spesial kan? Jadi aku mohon, kembalilah pada wanita mu! Aku akan baik-baik saja tanpa mu!” terang Velly dengan suara meninggi.
“ Velly,” suara David melemah.
“ Kita cari jalan masing-masing Dav! Aku bukan wanita, perebut kekasih orang! Aku tak akan pernah, merebut apa yang tidak ku miliki!” kata Velly tegas.
“ Aku tutup! Bye!” ucap Velly dan memutuskan sambungan telepon.
Velly pun menghela nafasnya, dan menggelengkan kepalanya. Dia sudah tak ingin David menganggunya lagi. Satu fakta tentang Velly, bahwa Velly adalah wanita yang tidak akan pernah, merebut apapun dari orang. Pantang baginya, melakukan hal tersebut. Ya, David bukan miliknya, jadi dia tak berhak mempertahankan David. Ditambah sakit hati, yang selama ini David berikan padanya.
*
New york…
Agnes yang berada di apartemen nya, lagi duduk dan bekerja di laptopnya. Dia bekerja kembali seperti biasa, dia sudah pulang ke apartemen 1 jam yang lalu. Dan sekarang, dia melanjutkan pekerjaannya dari apartemen. Ponselnya berdering dan membuat Agnes, menghentikan pekerjaan nya sejenak. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi.
“ Bos menelepon!” katanya serius. Lalu dia pun menjawab panggilan itu,
“ Halo nyonya,”
“ Ya Agnes! Bagaimana kabar mu?” tanya Lidya.
“ Saya baik nyonya, saya sudah pulang ke apartemen,” jawab Agnes.
“ Apa kau ada masalah Agnes?” tanya Lidya serius.
“ Tidak ada nyonya, saya baik-baik saja,”
“ Apa benar kau dan Lucky menjalin asmara?” tanya Lidya lagi. Seketika Agnes melebarkan matanya, jantungnya berdetak. Bagaimana Lidya tahu?
“ Da..dari mana nyonya tau?” tanya Agnes gugup.
“ Dia sendiri yang mengatakan, dia terlihat melamun akhir-akhir ini,” terang Lidya pada asistennya itu. Wajah Agnes pun tiba-tiba menjadi geram. Dia benci dengan Lucky.
“ Kau mendengar ku Agnes?” tanya Lidya lagi karena Agnes terdiam.
“ Ah iya nyonya!”
“ Apa masalah kalian? Kau juga selama ini, kenapa tidak memberi tahu padaku?” tanya Lidya.
“ Saya minta maaf nyonya, tapi kami sudah putus,” kata Agnes menjelaskan hubungan mereka.
“ Apa? Putus? Tapi kata Lucky dia ingin segera menikahi mu!” ucap Lidya yang terkejut.
Agnes yang mendengar perkataan bos nya itu, seketika terkejut bukan main. Apa dia tak salah dengar?
“ Maksud nyonya?”
“ Kemarin dia bilang pada suamiku! Kalau dia ingin menikahi mu secepatnya,” terang Lidya dan membuat Agnes menggelengkan kepalanya.
“ Tidak! Aku benci dengannya! Aku tidak mau menikah dengan mu Lucky!” batinnya dengan geram.