Cinta yang membutakan segalanya,
Dan bila hati sudah jatuh cinta seberat apa pun rintangan akan ku lalui demi mendapatkan cinta mu yang seutuhnya.
😍😍😍😍😍😘😘😘😘😘😘😘
>>>>>>>>>>><<<<<<<>>><<<
Hai🖐 thank's buat yang udah mampir di Novel ku kali ini.😘
Mohon dukungannya💪 di Vote, subscribe, like, dan komen/saran. 🙏
Salam hangat dari Author 😍
~ Gadis Nias ~
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis Nias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
***
"Ohh ternyata salon murahan ini milik mu, tidak nyangka aku menemuinya di sini,"
Suara itu sontak membuat Yuki menghentikan kesibukannya, ia menoleh dan mendapati Elys yang tengah berjalan angkuh masuk kedalam salonnya. Wajah perempuan itu tampak menyeramkan dengan senyumnya menatap Yuki.
"Dia siapa sih?" tak hanya dia, Echy dan karyawan lainnya juga ikut serentak menatap kearah Elys. "Ih karyawanmu juga ada yang belok ternyata, haha!" matanya beralih kearah Echy, ia pun dengan lantang menertawai laki-laki setengah perempuan itu. "Cih mulut loe asam banget," Echy menghampirinya dan menatapnya jijik dari unjung kaki sampai unjung rambut.
"Aku gak butuh orang seperti mu di sini lebih baik kau pergi," Yuki tau jika Elys pasti membuat rusuh disana, mengingat juga ia pernah menampar perempuan itu dan tentu nya ia pasti akan balas dendam. "Apakah sikap seorang Bos seperti ini kepada customer yang datang, gimana bisnis mu mau tenar?" ia tidak peduli dengan Yuki yang mengusirnya, malah dengan kasar ia menarik kursi dan duduk dengan gaya sombongnya disana.
Yuki membuang nafasnya kasar sambil berdecak pinggang menghampiri Elys yang tengah memandangi dirinya di cermin. " Klo kau mau cari masalah dengan ku, jangan disini. Aku gak mau jika kelakuan busuk mu di ketahui karyawan dan customer ku, apa kau tidak punya malu lagi?" tak mau kalah, Yuki malah menyinggung dan memanas-manasinnya. Ia juga yakin jika Elys banyak mulut semua kelakuan busuknya akan dia ucapkan disana, bukankah itu terus membuatnya malu.
Elys terdiam sembari menoleh kearah Yuki, sudut bibirnya terangkat tersenyum sinis. Sepertinya kata-kata Yuki menekannya, jangan sampai kelakuan busuknya juga terbongkar disana mau taruh mana mukanya.
"Silahkan saja, apa kau lupa harga dirimu lebih rendah dari pada ku. Bukan kah kau wanita yang suka merebut kekasih orang lain?" ia tertawa lebar saat mengucapkan kalimat itu, matanya juga tidak pernah lepas dengan tajam kearah Yuki.
Kedua telinga Yuki terasa panas kala mendengar penghinaan ini, seumur hidup saja ia tidak pernah menjalin hubungan kepada pria mana pun malah di depan umum ia di cap sebagai perebut laki-laki orang. Hatinya terasa sakit, emosinya meluap tak tahan ingin menerkam perempuan itu di hadapannya.
"Kenapa diam, atau karena yang ku katakan emang benar?" Elys semakin membuatnya panas, ia berjalan mengelilingi Yuki yang berdiri mematung tak lupa ia tersenyum mengejek gadis itu. " Cih aku gak merasa sama sekali, kau bahkan tidak sadar kalau kau seorang pelakor. Lihat lah betapa malu nya kau saat di pergoki mamasuki hotel bersama suami orang, haha!"
Deg!
Seketika senyuman Elys memudar kala Yuki kembali menekannya, ia menatap gadis itu seakan-akan berharap agar perbuatannya itu tidak di publikasikan. "Ngena banget yah, makanya sebelum berucap itu dipikir pake otak dulu," ucap Yuki angkuh, dengan berani ia mendorong kepala Elys dengan satu jari telunjuknya. Bibirnya tersenyum menang, ia tidak akan kalah karena perbuatan Elys jauh lebih hina dari padanya. Dengan cara apa pun juga gadis itu tidak akan jatuh.
"Oh ya ampun, ternyata wanita ini seorang pelakor? Cih bangga banget pamer muka kesini, haha!" Echy yang sudah geram kepada Elys juga tidak kalah menyahuti ucapan Yuki bahkan semua yang ada di sana menatap Elys dan sedikit tertawa mengejek.
"Bisa diam gak, sebaiknya kau ngaca! Lihat penampilan mu seperti tidak punya masa depan!" perempuan itu semakin emosi kala melihat semua yang menertawakannya, karena tidak bisa melawan Yuki akhirnya ia melemparkan sindiran kepada Echy. "Hei kau pikir merebut suami orang juga punya masa depan? Hello,,, kayaknya loe mulai gak waras deh!" serentak mereka disana tertawa ngakak mendengar Echy yang semakin menghinanya. Elys semakin emosi dengan cepat ia menghampiri Echy hendak menamparnya, dan..
"Oops, tidak semudah itu tangan kotor loe menampar wajah gue yang mahal ini cih!" Echy menahan tangannya dan menghempaskannya kasar, raut wajahnya terlihat sangat benci menatap Elys, baginya perempuan itu tidak lebih seperti barang murahan yang suka di promosikan sana sini tapi masih tidak laku.
"Dasar bencong!" perempuan itu mendengus kesal, pikirannya saat ini tengah kacau dan bingung harus berkata apa lagi. Ia berniat datang disana untuk mempermalukan Yuki tapi kenyataannya ia yang di permalukan balik.
"Haha sepertinya loe kehabisan kata-kata deh, sebaiknya loe pulang kita gak butuh pelakor disini," Echy malah tertawa ngakak saat Elys mengatai nya, dengan kasar ia mendorong tubuh perempuan itu sampai di depan pintu agar segera pergi dari sana.
"Dah loe sebaiknya pergi, loe seperti orang gila mengganggu kewarasan kami disini,"
Yuki menghela nafas lega saat melihat tindakan Echy terhadap perempuan itu, dari pada di buat pusing dan semakin emosi lebih baik dia diusir. Sepertinya juga perempuan itu sudah tidak waras, ia datang kesana hanya untuk mempermalukan dirinya sendiri.
"Nah Kan udah beres, bikin gue naik darah tau!" Echy membuang nafas nya kasar seraya berjalan bak perempuan, tak lupa ia menyeka keringat di dahinya dengan satu jari. Semua customer yang ada disana pun tertawa ketir dengan tingkah lucu nya.
***
*Dasar bencong kesasar, lihat saja aku akan membalas mu Yuki!" perempuan itu memaki saat tubuhnya terseret keluar dari dalam salon mewah itu, ia menyumpahi Yuki dan sepertinya menyimpan dendam yang mendalam. Ia pun memikirkan suatu rencana agar gadis itu terjebak dalam perangkapnya.
"Kak Echy emang hebat, padahal tadinya aku gak tau harus bagaimana mengusir perempuan sialan itu!" Yuki memujinya sembari mengelus-elus bahu laki-laki itu dengan lembut. "Hello,,, orang seperti itu serahkan sama gue, Echy si markonah ini tau cara menghadapinya," bibirnya begitu lentik serta matanya berkedip saat berbicara seperti itu, Yuki dan yang lainnya merasa gemes dengan ekspresinya. Untung saja Echy berada disana setidaknya ada yang membuat mereka tertawa setiap hari.
...****************...
BERSAMBUNG
***