Perjanjian antara Prabu Dira Pratakarsa Diwana dengan Putri Ani Saraswani, memicu perang yang melengserkan Prabu Galang Digdaya, ayah sang putri sendiri.
Setelah menggulingkan Prabu Galang dari tahtanya, Prabu Dira menikahi Putri Ani yang telah bersekutu dengannya. Putri Ani mau menikah dengan salah satu syaratnya, di hari pernikahan tidak ada istri Prabu Dira yang lain hadir.
Para istri Prabu Dira setuju suami mereka menikah dengan Putri Ani dengan tujuan bisa membangun benteng dan armada laut di kerajaan pesisir tersebut. Prabu Dira harus segera membangun armada laut yang kuat untuk menghadapi perang besar melawan Negeri Tanduk dan sekutunya.
Namun, syarat yang diajukan oleh Putri Ani yang melarang kehadiran istri Prabu Dira di hari pernikahan, justru menyinggung perasaan beberapa orang permaisuri.
Puncaknya, setelah Putri Ani menjadi istri muda Prabu Dira dan menjadi ratu di kerajaannya sendiri, dia ditemukan telah tewas. Salah satu permaisuri Prabu Dira diduga pelakunya. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRM 29: Musuh Bajak Laut
*Dendam Ratu Muda (DRM)*
“Sembah hormat kami, Gusti Prabu!” seru Mata Samudera sambil turun berlutut satu kaki yang diikuti oleh seluruh anak buahnya.
Mereka semua menghormat setelah Prabu Dira Pratakarsa Diwana melayang terbang naik ke Kapal Elang Biru yang lebih besar dari kapal perang Kerajaan Pasir Langit. Pakaian dan rambut lurus panjang Prabu Dira berkibar-kibar ditiup oleh angin laut, bukan angin lalu.
Barulah para pengawalnya berlompatan naik ke atas kapal biru yang memiliki bendera merah bergambar burung terbang warna hitam.
Mata Samudera selaku Ketua Bajak Laut Elang Samudera adalah seorang kakek berambut serba putih dan berpakaian hijau gelap. Kakek yang masih terlihat gagah di usianya yang kepala delapan itu memiliki jenggot panjang seperut yang dikepang tiga. Alis putihnya juga tebal, menaungi sepasang matanya yang merah dan tajam. Di sabuk tebalnya, tepatnya di bagian perut, terselip sebuah pisau panjang melengkung bergagang dan bersarung biru. Di kedua bawah matanya ada tato taring warna kuning.
Di belakang Mata Samudera ada sebanyak tiga puluh tujuh anak buah. Mayoritas lelaki dengan berbagai perawakan, tapi aroma tubuh hampir sama, yaitu amis pahit. Pokoknya tidak ada aroma wangi yang memanjakan mata di atas kapal itu, kecuali setelah Prabu Dira naik. Hanya, aroma harum tubuh dan pakaian Prabu Dira terlalu cepat dicuri embusan angin laut.
Yang terlihat sama dari sosok Prabu Dira dengan dirinya pada sepuluh tahun yang lalu di mata Mata Samudera adalah bibir merah dan rompi merahnya. Rompi pusaka itu memang tidak pernah dikawinkan sehingga masih selalu setia dikenakan oleh sang prabu. Warnanya pun tidak berubah kusam.
“Bangunlah, Tetua! Bangunlah, kalian semua!” perintah Prabu Dira berwibawa.
Maka para anggota bajak laut itu bergerak bangkit. Setelah berdiri mereka tegak sempurna, barulah Prabu Dira yang menjura hormat dengan menundukkan kepalanya dan mempertemukan kedua telapak tangannya di depan dahi.
“Hormatku, Tetua Mata Samudera,” ucap Prabu Dira yang membuat Mata Samudera dan kelompoknya terkejut.
“Hamba tidak pantas menerima hormat, Gusti Prabu!” ucap Mata Samudera merasa tidak enak jiwa.
“Hahaha!” tawa Prabu Dira yang sudah tidak menghormat. “Dulu Tetua menolak bergabung bersamaku membangun Kerajaan Sanggana Kecil, takdir memang tidak akan ke mana.”
Mendengar tawa dan perkataan Prabu Dira yang sangat bersahabat meski telah menjadi seorang raja besar, Mata Samudera jadi tertawa yang diikuti oleh senyum para anggotanya di belakang.
“Jika bukan kepada Gusti Prabu yang pernah menghancurkan Bajak Laut Elang Biru, tidak ada sejarahnya kami tunduk kepada seorang raja pun,” kata Mata Samudera.
“Iya, iya, iya,” ucap Prabu Dira seraya manggut-manggut dan tersenyum. Lalu katanya, “Aku tidak akan merekrut kalian menjadi prajuritku seperti Garis Merak atau Swara Sesat, tetapi aku ingin membeli jasa kalian untuk melatih pasukanku dalam mengendalikan kapal perang dengan gaya bajak laut. Tetua tinggal mengajukan besaran harga jasa kalian, maka aku akan menyetujuinya.”
“Apakah hanya itu, Gusti Prabu?” tanya Mata Samudera.
“Aku memiliki pasukan yang sudah pandai berenang seperti buaya, tetapi mereka tidak dilatih dalam hal berperahu. Pasukan Buaya Samudera milikku akan dilatih cara Angkatan Laut Kerajaan Pasir Langit dan cara bajak laut. Tetua Mata Samudera akan bekerja sama dengan Laksamana Tarek Giling dalam mengatur pola pelatihan.”
Prabu Dira memperkenalkan Laksamana Tarek Giling kepada Mata Samudera.
“Hormatku, Tetua Mata Samudera,” ucap Tarek Giling seraya menjura hormat.
Mata Samudera mengangguk.
“Setahuku, Panglima Angkatan Laut Pasir Langit adalah Laksamana Dudung Kulo,” kata Mata Samudera.
“Benar. Namun, dia memilih tidak mengabdi dan harus menjadi warga sipil atau keluar dari wilayah Pasir Langit,” jawab Prabu Dira.
“Pantas saja, kami melihatnya pergi berlayar mengenakan pakaian kependekaran,” ucap Mata Samudera.
“Apakah Tetua tahu, ke mana Laksamana Dudung Kulo pergi?” tanya Tarek Giling, serius.
“Sepertinya ke arah selatan dengan dua kapal yang penuh penumpang,” jawab Mata Samudera.
“Ada negeri apa saja di selatan?” tanya Prabu Dira.
“Kerajaan Karyasukma dan Negeri Suku Rata,” jawab Mata Samudera.
“Kerajaan Karyasukma aku pernah mendengarnya, tetapi tidak Negeri Suku Rata,” kata Prabu Dira.
“Negeri Suku Rata adalah satu pulau yang tanahnya rata secara keseluruhan, tanpa gunung atau bukit, juga tidak ada hutan. Penghuninya tinggal di dalam tanah,” jelas Mata Samudera.
“Negeri yang menarik,” kata Prabu Dira. Lalu tanyanya, “Apakah di arah sana tidak ada Negeri Tanduk?”
“Negeri Tanduk,” sebut ulang Mata Samudera.
Melihat reaksi wajah lelaki tua itu, Prabu Dira lalu berkata.
“Sebagai orang yang sebagian besar usianya dihabiskan di lautan samudera, aku rasa Tetua seharusnya tahu tentang Negeri Tanduk yang posisinya ada di arah selatan kita.”
“Aku memang tahu, tapi aku belum pernah mendengar ada kelompok bajak laut yang pernah mendarat di negeri itu. Angkatan lautnya sangat bengis terhadap bajak laut, sehingga tidak ada kapal laut yang berani memasuki perairan Negeri Tanduk,” kata Mata Samudera.
“Sebab itulah, aku sangat membutuhkan benteng dan angkatan laut yang kuat, karena mereka kelak akan datang menyerang ke perairan ini,” kata Prabu Dira.
Terbeliak mata tua Mata Samudera dan para pengikutnya.
“Jika menghadapi Negeri Tanduk, Bajak Laut Elang Samudera siap ikut berperang di bawah komando Gusti Prabu,” kata Mata Samudera mantap jiwa. “Bahkan aku rasa, semua kelompok bajak laut akan ikut berperang karena Negeri Tanduk adalah musuh para bajak laut.”
“Oh seperti itu. Itu berita bagus. Apakah Tetua juga mengenal kelompok Bajak Laut Malam?” tanya Prabu Dira.
“Kami mengenalnya. Mereka kelompok bajak laut yang sangat berbahaya. Kami segan kepada mereka,” jawab mata Samudera.
“Bajak Laut Malam kini mengabdi kepada putraku di Negeri Pulau Kabut,” kata Prabu Dira yang membuat Mata Samudera dan para anak buahnya terkejut, termasuk Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat yang juga mantan anggota bajak laut.
Sementara itu di Pantai Segadis, di atas pasir kering tapi di bawah kerimbunan pohon, sekelompok lelaki berpakaian pendekar sedang duduk-duduk santai, tetapi pandangan mereka serius memandang jauh kepada dua kapal besar yang saling merapat.
Rombongan pendekar itu tidak lain adalah Angger Sepakodol bersama rekrutan barunya, yaitu Ati Urat dan Wedang Ketek.
Bukan hanya kedua orang itu yang bersama Angger, tetapi ada lima lelaki lain yang berpenampilan pendekar dengan warna dan model pakaian yang berbeda. Mereka adalah rekan atau anak buah Angger Sepakodol. Mereka dalam kelompok yang sama.
Mereka memerhatikan dari jauh kapal kerajaan dan kapal bajak laut yang mereka duga sedang melakukan pertemuan atau transaksi.
“Dari rompinya, aku yakin itu adalah Prabu Dira,” kata Ati Urat yang yakin melihat sosok Prabu Dira di antara orang-orang yang lain, meski tidak bisa mengenali rupanya.
“Itu berarti, Prabu Dira bersekutu dengan Bajak Laut Elang Samudera,” kata Angger menyimpulkan. (RH)