"Begini, ya. Bukan aku tak tahu, diluar sana banyak yang membenci sikap dinginku, aku juga ketus dan galak. Jadi, menurutmu adakah wanita yang menyukai orang sepertiku? Kau saja komplain buktinya."
Liliyana berpikir. Pasti banyak yang menyukai suaminya. Meski dingin, Kalandra punya pesona. Kenapa Kalandra malah berpikiran sempit begitu sih.
"Mas Alan jangan pesimis gitu. Pasti banyak kok yang menyukai Mas Alan."
Kalandra nyaris tertawa. Liliyana tetaplah Liliyana. Tak bisa serius sedikit, sekarang malah seolah melucu lagi di depannya.
"Jadi kau ingin ada wanita lain yang menyukai ku?"
Liliyana mendengkus. "Terserah, aku tak punya hak marah, bukan?"
"Tentu punya," jawab Kalandra.
"Apa hakku?" tanya Liliyana.
"Kau kan istriku," pungkas Kalandra membuat Liliyana jadi berdebar mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apple Cherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Siapa Michele?
Kalandra duduk di tepi ranjang sambil memeriksa ponselnya. Dia baru sadar bahwa sejak tadi membiarkan ponselnya begitu saja hingga banyak panggilan yang belum terjawab, salah satunya dari kliennya—orang yang sangat menyukai Michele.
"Huft." Kemudian dengan terpaksa Kalandra menghubungi orang itu karena dia adalah klien penting.
"Halo, Nyonya Abel. Maaf tadi saya tidak menerima panggilan Anda, karena kebetulan saya sedang di luar."
Kalandra mengangguk-angguk mendengar jawaban kliennya.
"Baik, setelah ini saya akan atur waktu pertemuan."
Mata Kalandra melirik Liliyana yang masih tertidur sewaktu mendengar kliennya bilang Kalandra harus mengajak Michele malam nanti.
"Ya, baik, saya akan membawa dia. Kalau begitu sekarang saya akan ke sana," jawab Kalandra.
Sebenarnya Liliyana sudah bangun sejak Kalandra menerima panggilan tersebut. Tapi dia pura-pura tidur supaya Kalandra tak merasa terusik dengan keberadaannya. Mendengar Kalandra berbicara barusan. Liliyana jadi berpikir mungkin saja yang dimaksud Kalandra akan membawa, itu adalah ditujukan padanya? Jadi, Kalandra akan membawa dia juga?
Liliyana pun tak sabar ingin Kalandra memberitahukannya.
"Em, sepertinya dia masih tidur. Aku tak perlu membangunkannya. Aku harus memberitahu Michele."
Mendengar nama yang disebutkan Kalandra membuat Liliyana yang tadinya akan membuka mata menjadi terkejut. Siapa orang yang disebut Kalandra tadi? Dia nama wanita, bukan?
Tanpa berpamitan pada Liliyana terlebih dahulu, karena Kalandra pikir Liliyana masih tertidur. Ia langsung pergi menuju tempat yang sudah ditentukan oleh kliennya. Tak lupa ia juga menghubungi Michele agar segera ke sana.
"Halo, Michele. Kau bisa langsung ke lokasi tujuan saja."
"Maaf Tuan, tapi mobil saya sedang di bengkel," jawab Michele dari sambungan telepon.
"Ada taksi. Aku tunggu di sana." Kemudian Kalandra mematikan ponselnya.
Michele mendengkus jengkel. Ya, itu baru Kalandra yang sulit dihadapi. Tapi dia tak masalah, baginya malam ini adalah momen yang pas untuknya kembali mendekati pria pujaannya itu kembali.
Liliyana melihat mobil Kalandra keluar dari gerbang rumah. Ia bersembunyi di balik jendela.
"Kenapa aku malah sembunyi gini, sih?" gumam Liliyana. Padahal dia bisa langsung bertanya pada Kalandra. Tapi situasi tadi amat tidak pas. Dia hanya tak ingin Kalandra jadi merasa tak nyaman.
"Namun sekarang aku yang tidak nyaman. Tadi itu, Michele, ya. Dia pasti perempuan." Liliyana menunduk sambil menggembungkan pipinya. Mendadak ingin tahu siapa wanita dengan nama itu.
"Hentikan, Lily. Kau tak boleh mencurigai suamimu. Dia adalah pebisnis, bukankah wajar jika mengenal beberapa wanita untuk urusan bisnis?" ucapnya mencoba berpikiran positif.
Daripada terus mencurigai Kalandra, padahal hubungan mereka baru saja mulai membaik. Akhirnya Liliyana memutuskan untuk menunggu sampai Kalandra pulang dan bertanya langsung nanti.
Bel berbunyi membuat Liliyana tersenyum lalu secepatnya berlari ke arah pintu. "Itu mas Alan?"
Meski dia bertanya-tanya kenapa Kalandra pulang kembali ke rumah. Mungkin ada sesuatu yang tertinggal atau apa pun itu. Liliyana hanya ingin segera bertanya pada sang suami, dalam rangka apa menemui wanita yang bernama Michele tadi.
"Mas Alaan...."
Senyum Liliyana perlahan memudar, matanya lantas membulat melihat orang didepannya. Dia bukan Kalandra.
"Hei, Lily."
"Mas Abi?"
"Ya, kau sedang menunggu Alan?"
Liliyana tersenyum canggung. "Silakan masuk, Mas. Tapi maaf, Mas Alan gak ada di rumah."
Abimanyu pun masuk, dia melihat wajah Liliyana tertunduk lesu. "Memangnya dia kemana?"
Liliyana menggeleng artinya tak tahu Kalandra pergi kemana.
"Memangnya dia tidak bilang padamu, Lily?" tanya Abimanyu lagi.
"Em, tadi aku ketiduran, Mas."
"Oh begitu rupanya." Abimanyu seperti memikirkan sesuatu.
"Mas Abi ada apa malam-malam kemari?"
"Hei, ini masih pukul tujuh. Bukannya ini masih sore?" Abimanyu tersenyum simpul.
"Hem, iya juga." Liliyana pun senyum seadanya. "Mau menunggu Mas Alan? Tapi dia belum tahu pulang jam berapa."
"Kenapa tidak coba kau hubungi saja?"
"Hem, tidak deh. Takutnya dia sedang bekerja," jawab Liliyana. Padahal Liliyana hanya takut jika respon Kalandra nanti kurang baik, sebab yang dia tahu Kalandra sangat serius kalau sedang bekerja. Dia tak ingin hubungan yang mulai membaik antara dirinya dan Kalandra menjadi kurang nyaman lagi.
"Tadi sudah kucari ke kantor, dia katanya libur. Aku kaget sebab Alan tak pernah libur sebelumnya," kata Abimanyu.
"Oh tadi itu Mas Alan mengajakku jalan-jalan," terang Liliyana.
"Jalan-jalan?"
"Iya."
"Kemana?"
Abimanyu merasa tidak yakin. Benarkah Kalandra mengajak Liliyana pergi jalan-jalan. Atau ini bagian dari perintah kakek Anggara?
"Hem ...." Liliyana ragu memberitahu Abimanyu.
"Hanya ingin tahu saja, kok, tidak boleh?"
Liliyana lalu menggeleng cepat. "Tidak. Bukan begitu. Boleh kok, lagipula hanya ke mall."
Rupanya Kalandra mengajak Lilyana berkeliling di mall milik Kalandra sendiri, batin Abimanyu lega. Pasti ini hanya titah kakek Anggara.
"Baiklah, Lily. Karena Alan tidak ada. Apa aku boleh menunggu saja?"
"Tapi kalau lama bagaimana, Mas?" sahut Liliyana.
"Tidak apa, atau kau ingin aku antar pergi kemana? Mungkin bosan jika hanya menunggu Alan?"
Tiba-tiba Liliyana jadi kepikiran dengan telepon yang diterima oleh Kalandra tadi. Mungkinkah Abimanyu tahu sesuatu? Mereka adalah sepupu, meski sepupu jauh, tapi yang Liliyana tahu, mereka dekat sejak kecil. Abimanyu anak dari bibi jauh Kalandra yang tinggal di luar negeri. Liliyana tahu sebab menanyakannya pada kakek Anggara waktu itu.
"Mas Abi, apa hubungan Mas Abi dan mas Alan cukup dekat?" tanya Liliyana.
Ia mencoba menggali informasi dulu.
"Ya, lumayan. Aku dan Alan sekolah di tempat yang sama saat di Aussie dulu. Meski tidak sedekat saudara, kami lebih sering bertengkar, sih," ucap Abimanyu sambil tertawa.
"Hehehe. Rupanya begitu," balas Liliyana.
"Memangnya kenapa? Ada yang ingin kau tahu tentang Alan?"
"Em, tidak juga. Hanya saja sedikit penasaran. Tapi belum tentu juga Mas Abi tahu tentang apa yang ingin kutanyakan," ujar Liliyana.
"Hem, coba saja tanyakan dulu. Siapa tahu aku bisa memberimu informasi sedikit," pungkas Abimanyu. Bagaimanapun dia ingin membantu Liliyana. Apalagi setelah dia tahu dari ibunya, tentang kabar Kalandra yang menikahi Liliyana hanya karena terpaksa. Dia jadi tak tega, membayangkan betapa sulitnya Liliyana beradaptasi dengan Kalandra yang memang sulit dihadapi.
"Apa Mas Abi tahu siapa wanita yang pernah dekat dengan Mas Alan?" tanya Liliyana ragu-ragu. Dia juga tak enak dan amat canggung bertanya begitu. Tapi mau bagaimana lagi, dia hanya sangat ingin tahu.
Abimanyu sontak terkekeh-kekeh.
"Kenapa Mas Abi malah tertawa?"
"Lily, kuberi tahu," ucap Abimanyu menjeda sambil mengentikan tawanya yang pecah. Mendengar pertanyaan Liliyana membuatnya merasa amat lucu. Itu memang menggelikan, batinnya.
"Mana ada wanita yang tahan dekat-dekat Alan?" lanjut Abimanyu yakin.
"Memangnya kenapa?" Padahal Kalandra baik dan sangat menyenangkan, batin Liliyana. Ya, versi baik Kalandra yang belum lama ini dia kenal. Kalandra memang tidak menyenangkan sedari awal, tapi saat ini Liliyana bersyukur hubungannya dengan Kalandra berangsur akrab.
"Kau harus tahu, Lily. Satu-satunya wanita yang betah berlama-lama dengan Alan adalah Michella Zenith."
Deg.
Liliyana yakin dia tak salah mendengar Abimanyu menyebut nama itu. Nama yang sama seperti yang dia dengar tadi saat Kalandra menelepon seseorang. "Michele?"
"Ya, dia wanita yang aku juga heran kenapa bisa betah dengan Alan." Abimanyu merasa biasa-biasa saja memberitahu itu pada Liliyana. Dia tak melihat bahwa sekarang mata Liliyana sudah mulai berkaca-kaca.
"Lily, apa kau baik-baik saja?" tanya Abimanyu saat melihat mata Liliyana memerah.
lekas sembh kk biar bisa u
moga lekas sembuh
jngan" abi krja sama nnti sama micele
Podo ae Ly, akupun gak bisa kalo pak bojo sedang mood menggoda merayu kayak Mas Alan begitu.. 🤭🤣🤣