Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Surya tidak menyakiti Bening, ia tidak melakukan apa pun yang melukai istrinya, hal itu ia buktikan dengan menuruti permintaannya untuk tetap berada di ranjangnya usai bercinta, walau tidak sampai sepanjang malam, dan tidak terjadi apa pun yang menyakiti istrinya.
Ketakutan terbesarnya memang tidak menyadi nyata, namun Surya tetap tidak bisa tenang, ia tidak bisa di tidur walau sudah berada di kamarnya sendiri. Surya mondar-mandir sembari bergumam 'Aku tidak menyakiti Bening,' ucapnya berulang-ulang.
Tepat pukul 05.00 pagi Surya keluar dari kamarnya. Toto terkejut saat Surya menghampirinya dan mengatakan bahwa dia akan terbang ke Jakarta pagi ini juga. "Tolong sampaikan pada istriku, ada urusan bisnis yang harus aku selesaikan di Jakarta." Surya berlalu meninggalkan kediamannya dan terbang dengan helikopter pribadinya menuju Jakarta.
Setibanya di Jakarta, Surya langsung menuju hotel milik keluarganya. Akhirnya ia merasakan kelegaan dalam dirinya setelah memasuki kamar tidur Bening tadi malam, pria itu bahkan bisa tidur nyenyak dan bangun keesokan harinya.
Setelah bangun ia menghubungi rumah sakit tempat dokter Leo bekerja, untuk mengetahui apakah ia bisa menemui dokter Leo hari ini? Beberapa menit kemudian dokter Leo menghubungi Surya, dia mengatakan bahwa Surya adalah pasien prioritasnya yang tak perlu menunggu jadwal senggangnya, dia akan dengan senang hati menerima kunjungan Surya.
"Tuan Magenta," sapa dokter Leo ketika Surya masuk ke ruang kerjanya, dokter itu membungkuk hormat, kemudian mempersilahkan Surya untuk duduk. "Apa yang bisa aku bantu, Tuan?" tanyanya.
Surya menaruh tangannya di atas meja, kemudian mengetuk-ngetuk. "Aku sudah berusaha berjuang untuk... Mengusir bayangan-bayangan aneh," sahutnya.
"Ah," ucap dokter Leo tatapannya tertuju pada jemari Surya. "Apa Tuan terserang serangan kegelisahan lagi?"
"Ya," jawab Surya singkat.
Dokter Leo berpikir sesaat. "Sudah saatnya Tuan Magenta menjalani psikoterapi dan meminum obat-obatan yang dapat mengurangi gairah seksual Anda."
"Tidak," Surya langsung menyahut. Ia tidak bisa bolak-balik Bandung-Jakarta untuk menjalani terapi, karena tak ingin Bening mengetahui tentang kelainan yang di milikinya, Surya begitu takut Bening akan meninggalkannya.
"Tuan, hanya itu satu-satunya jalan untuk menyembuhkanmu. Jika kau tidak mau melakukannya maka kau tidak akan pernah bisa..."
"Baiklah," tukas Surya memotong, jika memang tidak ada jalan lain Surya bersedia menjalani apa pun yang di sarankan oleh dokter Leo.
Mereka mulai menentukan jadwal terapi keesokan harinya, dan dokter Leo memberikan beberapa vitamin dan obat untuk Surya.
Sekembalinya Surya ke hotel, ia langsung meminum satu takaran sesuai yang di resepkan oleh dokter. Surya menyandarkan punggungnya di kursi santai dan menunggu obat itu mengambil alih menenangkan pikirannya.
Sekitar satu jam kemudian, Surya mengamati jalanan ibu kota dari balkon kamarnya. Mobil-mobil berlalu lalang di jalan, ia melihat dirinya tengah berkendara bersama Bening dengan riang gembira.
Surya yakin jika bayangan-bayangan gila yang selalu menghantui pikirannya sudah menghilang berkat obat yang di berikan oleh dokter Leo. Namun sayangnya itu hanya sesaat, ketika Surya membalik tubuhnya menatap tempat tidur, ia kembali pada bayangan Bening dengan sebuah cambuk dan borgol di sampingnya.
Tidak ada harapan baginya, Surya mehembuskan napas frustasi.
...****************...
Bening mengetahui kepergian Surya yang mendadak dari Cinta. "Kata Pak Toto, ada pekerjaan yang harus Tuan Magenta selesaikan," ucap Cinta, sembari merapihkan tempat tidur Bening.
Tanpa menanggapi ucapan Cinta, Bening langsung turun ke lantai dasar untuk menemui Toto. "Toto, kapan tuan Magenta kembali?"
"Kepulangannya belum di tentukan, Nyonya."
Belum di tentukan? Surya meninggalkan Bening begitu saja tanpa sepatah kata pun, itu membuat Bening marah. "Tunggu saja pembalasanku, Tuan Surya Magenta!" ia meminta Toto untuk mengantarnya ke Boscha untuk membeli sesuatu yang Bening perlukan.
"Baik Nyonya, aku akan menyiapkan mobil untukmu," Toto berlalu meninggalkan Bening menuju garasi, sementara Bening dan Milo menunggu di teras.
Lima menit kemudian mobil siap di depan teras, ketika Toto membuka pintu mobil, Milo berlari terlebih dahulu masuk ke mobil seperti takut di tinggal oleh Bening, baru kemudian Bening masuk ke mobil.
Butuh waktu satu jam delapan belas menit bagi Bening untuk tiba di Boscha, ia mengarahkan sopir menuju sebuah galeri lukisan yang cukup terkenal. Sebelumnya Bening pernah mengunjungi tempat itu untuk memembeli lukisan, yang memperindah coffee shopnya.
Sekarang Bening kembali lagi ke galeri itu untuk membeli lukisan yang akan memperindah kediamannya. Wanita itu menag tak mengeri mengenai art, tapi ia memiliki selera yang bagus dalam memilih lukisan.
Bening mengambil sepuluh lukisan dengan ukuran yang bebeda, tak hanya itu di tempat berbeda setelah pergi meninggalkan galeri lukisan, Bening membeli beberapa bingkai foto dengan model dan ukuran yang berbeda pula, serta vas bunga berwarna kuning cerah, dan satu set kursi makan berwarna merah menyala.
"Nyonya, untuk apa semua ini?" tanya Toto, ia ragu untuk membayar semua barang belanjaan Bening. "Tuan pasti sangat membenci ini semua, dia akan ..."
"Suruh dia protes langsung denganku," jawabnya kesal, ia meminta Toto untuk segera membayar semua belanjaannya karena Bening sudah tidak sabar kembali dan memasang semua belanjaannya di kediamannya.
Toto yang tak punya pilihan lain pun membayar semua belanjaan Bening dengan uang pemeliharaan kediaman Surya, kemudian mengantar Bening kembali pulang. Setibanya di rumah, lukisan pesanan Bening pun sudah tiba.
Dengan cekatan Bening mengatur lukisan-lukisan itu disetiap ruangan yang selalu Surya lalui, sementara Toto nampak sangat khawatir melihat ketidakteraturan yang sangat di benci oleh tuannya, namun meski demikian Toto sigap dalam membantu apa pun yang Bening butuhkan.
"Kau videokan semua perubahan ini, kemudian kirim ke suamiku!" perintah Bening ketika ia telah mengatur semuanya.
"Tapi Nyonya..."
"Kerjakan sekarang juga, Toto! Aku yang akan menanggung kemarahan Tuan Magenta."
Seharian penuh Bening menunggu kabar dari suaminya, ia pikir dengan merubah rumah menjadi hal yang tidak disukainnya membuat Surya segera pulang, namun jangankan pulang. Surya bahkan tidak membuka video yang dikirim oleh Toto, Bening justru mendapatkan kabar jika Surya tidak berada di kamar hotel dan keberadaannya tidak di ketahui oleh stafnya.
'Apa dia menemui Rindu lagi?'
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka