Adeline Brisena adalah anak perempuan dari Raja ke lima kerajaan Elston yang tidak bisa hidup bebas layaknya manusia pada umumnya termasuk penentuan pasangan hidupnya yang dipasangkan dengan putra dari Raja Hilmar. Walaupun berulang kali memohon, Raja dan Ratu atau orang tua Adeline tidak menggubris permintaanya untuk membatalkan perjodohan itu. Hingga Adeline teringat satu cara terkejam yang digunakan Raja untuk menghukum rakyat nya yang berkhianat, yaitu mengirimkan mereka ke dunia lain dengan menyisakan raga yang tidak bernyawa di dekat pintu ajaib. Tidak ada cara lain yang bisa digunakan untuk bisa terlepas dari peraturan dalam hidupnya, dengan berat hati Adeline meninggalkan raganya di depan pintu ajaib untuk pergi ke dunia lain.
Bagaimana kehidupan Adeline di dunia lain? Akan kah Adeline akan bebas sesuai dengan apa yang diharapkan atau malah nasib nya sama saja seperti di kehidupan sebelumnya?
Semua akan diceritakan di cerita ADELINE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clreani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekarang Mereka Berteman
Patut diapresiasi, seorang Kalandra dengan hebatnya hanya membutuhkan waktu yang singkat dapat mengambil hati Agatha yang sulit percaya pada orang lain, kini berhasil dijadikan sebagai teman. Bahkan Rebyano yang selama ini sering ditemuinya di kedai Al namun sikapnya selalu profesional layaknya pelayan kepada pembeli, kini Kalandra juga berhasil menyulapnya menjadi seperti kerabat yang sudah kenal lama.
"Ya sebenarnya udah lama sih gue mau kenalan sama lo, karena kan lo pembeli setia di kedai gue dan kita juga seumuran. Tapi setiap lo ke kedai tuh selalu sibuk ngomongin bisnis sama orang lain, gue jadi agak minder buat kenalan sama lo hahaha," ucap Rebyano dengan gaya bicara yang tidak formal setelah dipersilahkan oleh Kalandra yang dengan santai juga membalasnya dengan gaya bicara tidak formal.
Kalandra tertawa kecil sembari minum teh manis yang dibuatkan Adeline. Kemudian gelas itu diletakkan kembali di atas meja. "Gak perlu minder sama gue, Rebyano. Kalau sejak di kedai gue juga sebenarnya mau kenalan sama lo. Tapi seperti yang lo bilang, gue sering sibuk ngomongin bisnis, jadi gue gak ada waktu buat kenalan sama lo. Dan juga setiap gue ke kedai lo tuh yang nganterin makanan bukan lo kan? Pak Daryata atau Ayline yang nganterin. Jadi gue agak susah lah buat kenalan sama lo. Syukurnya gue bisa kenalan sama Ayline, jadi sekarang gue bisa kenalan juga sama lo dan Agatha."
"Kalo waktu itu di rumah sakit saya gak nerima pertemanan kamu, gimana jadinya kita sekarang ya, Kalandra?" tanya Adeline yang datang dari dapur sembari membawa beberapa potong pastel goreng dan saus sambal yang dibeli oleh Agatha waktu perjalanan pulang dari rumah sakit.
"Ya berarti waktu yang saya gunakan untuk mengajak kamu berteman pada waktu itu kurang tepat. Kalo misalkan waktu itu kamu gak nerima pertemanan saya, kita pasti akan berteman di tempat lain," jawab Kalandra dengan tatapan tulusnya kepada Adeline yang duduk di seberangnya.
Piring berisikan pastel dan saus sambal langsung diletakkan di atas meja dekat dengan Kalandra dan Rebyano oleh Adeline. "Kalo misalkan tidak ada keajaiban juga kita berteman di tempat lain?" tanya Adeline dengan penasaran.
"Pasti saya akan menciptakan keajaiban itu sendiri. Saya tidak akan menyerah untuk bisa berteman dengan kamu. Karena memang sejak awal kita bertemu, saya langsung tertarik untuk menjadikan kamu teman yang baru," ucap Kalandra yang kemudian melebarkan jarak antara kedua kakinya untuk menyamankan posisi duduknya. "Emangnya kenapa? Kamu sebenarnya gak mau berteman dengan saya ya?"
Dengan cepat Adeline menggeleng ketika melihat tatapan Kalandra yang berubah menjadi sendu. "Engga bukan begitu maksud saya, Kalandra."
"Jangan raguin perasaan Ayline, Kalandra. Ayline selalu bilang ke gue kalo dia senang banget berteman sama lo." Agatha yang barus selesai membersihkan alat masaknya pun kini kembali bergabung bersama temannya yang kini bertambah satu. Agatha juga berbicara tidak formal kepada Kalandra yang dengan senang hati mengizinkannya.
Sorot mata Kalandra yang semula menatap Agatha pun kembali menatap Adeline yang tersenyum tipis ke arahnya. "Benar begitu, Ayline?" tanyanya.
Adeline mengangguk. "Tadi s-saya cuma mau tau jawaban kamu dari pertanyaan yang selama ini saya pertanyakan pada diri saya sendiri. Saya senang berteman dengan kamu kok, Kalandra," jawab Adeline dengan hati sedikit panik akan jawabannya barusan takut ada yang menyinggung hati Kalandra lagi.
Kalandra tertawa mendengar Adeline yang menjelaskan maksudnya dengan suara yang terdengar gugup. "Syukurlah kalo kamu senang berteman dengan saya, lin. Sebenarnya tadi saya juga mau tau aja jawaban kamu dari pertanyaan yang selama ini saya pertanyakan pada diri saya sendiri. Selama ini saya memang sedikit ragu akan perasaan kamu ketika berteman dengan saya."
"Tenang aja, Ayline senang banget kok berteman sama lo. Kalo lo juga ragu akan perasaan gue setelah nerima pertemanan lo, jujur gue juga seneng kok akhirnya bisa berteman sama lo," ucap Agatha sembari duduk di samping Rebyano yang tadi menepuk-nepuk bagian kosong di sampingnya mengisyaratkan Agatha untuk duduk di situ. "Lo juga senang kan berteman sama Kalandra, no?" lanjutnya bertanya pada Rebyano yang sedari tadi menatapnya.
Rebyano mengangguk. "Siapa sih yang gak senang berteman sama seorang Kalandra yang dihormati di kota ini. Kalo boleh dipamerin, udah gue pamerin dah ke seluruh orang-orang di kota ini kalo sekarang Kalandra udah jadi teman gue."
"Emang gak boleh dipamerin ya?" tanya Agatha yang sedikit panik langsung mengeluarkan handphone nya yang disimpan di dalam saku celana. "Gue abis pamerin di story Instagram kalo kedatangan tamu terhormat," lanjutnya sembari menunjukkan foto Kalandra yang tadi diambilnya secara diam-diam dari arah dapur.
"Hayoloh bisa kena pasal pelanggaran privasi tuh," jawab Rebyano yang menakut-nakuti Agatha.
Raut panik bukan main terlihat pada wajah Agatha yang kini berkutik dengan handphonenya. "Eh Kalandra maaf ya, Kalandra. Gue langsung hapus nih sekarang, Kalandra. Jangan bawa gue ke jalur hukum ya, Kalandra."
Kalandra tertawa sangat geli tanpa suara sampai kedua matanya tertutup saking tidak tahannya melihat raut panik Agatha. "Gak perlu dihapus, Agatha. Gue gak masalah sama foto itu. Kita sekarang teman. Kalian gak perlu berlebihan anggap gue orang yang sangat penting di kota ini. Gue gak akan bawa hal sepele seperti itu ke jalur hukum."
"Tapi waktu itu ada orang yang ngambil foto lo diam-diam di kedai, terus orang itu langsung dicari sama ajudan pak Barul buat diminta pertanggungjawabannya. Berarti ajudan pak Barul bisa aja bakal lakuin hal yang sama kayak kejadian waktu itu ke Agatha yang tadi udah ngambil foto lo secara diam-diam," ucap Rebyano menceritakan kejadian beberapa tahun lalu.
Kejadian yang baru saja diceritakan Rebyano itu memang benar-benar terjadi pada beberapa tahun lalu. Dengan itu bisa dijelaskan betapa terhormat dan pentingnya Kalandra di kota ini. Sehingga tidak bisa sembarangan orang dapat mengambil fotonya apalagi dapat berteman dengannya.
"Ternyata sebegitu dihormatinya saya di kota ini," ucap Kalandra yang menggaruk alisnya yang tidak gatal memikirkan sesuatu entah apa yang dipikirkannya sekarang. "Yaudah lo hapus saja foto tadi yang udah lo kirim. Gue akan jelasin ke kakek gue nanti tentang foto yang lo ambil tadi. Gue pastikan gak ada ajudan yang akan berurusan sama lo."
"Beneran ya, Kalandra. Jangan ada ajudan pak Barul ke sini ya. Gue minta maaf ya, Kalandra," ucap Agatha menatap Kalandra dengan mata yang berbinar.
Kalandra tertawa kecil lalu mengangguk. "Iya beneran. Gue gak masalah dengan foto itu," balas Kalandra dengan suara lembutnya membuat Agatha menjadi lebih tenang.
Rebyano pun langsung membantu Agatha untuk memastikan foto tadi benar-benar terhapus walaupun foto itu tadi sudah ada beberapa orang yang melihatnya.
Sedangkan Adeline yang menyimak pembicaraan tiga orang dihadapannya tadi pun hanya bisa terdiam dan termenung. Bukan iri ataupun kaget, Adeline malah kasihan ketika mengahui fakta mengenai Kalandra yang satu itu. Sebab di dunia sebelumnya, Adeline juga merasakan hal yang sama seperti Kalandra. Di dunia sebelumnya Adeline tidak dapat sekedar berkenalan bahkan berteman pada sembarangan orang. Keterbatasan itu yang membuat dirinya muak sehingga sekarang kasihan kepada Kalandra yang tidak bisa merasakan kebebasan seperti Adeline sekarang.
"Kamu semangat ya, Kalandra," ucap Adeline secara tiba-tiba.
Kalandra pun langsung menoleh ke arahnya. "Kenapa kamu semangati saya?" tanyanya.
Adeline menyamankan posisi duduknya. "Karena saya tau rasanya jadi kamu. Hidup serba dibatasi itu memuakkan, Kalandra. Padahal kamu pengen banget kan merasakan kebebasan?"
"Kebebasan itu menyenangkan. Siapa sih orang yang gak mau mendapatkan itu? Tapi dengan kita dibatasi, hidup kita juga bisa lebih teratur dan terarah demi kebaikan kita juga," kata Kalandra yang mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan menatap dengan serius Adeline yang menatapnya dengan tatapan sendu. "Kamu pasti senang kan hidup dengan kebebasan di dunia ini?" tanyanya dengan senyum yang tidak dapat diartikan oleh Adeline.
Adeline mengangguk. "Benar kata kamu, kebebasan itu menyenangkan. Saya senang sekali hidup dengan kebebasan di dunia ini."
"Saya senang mendengar kamu senang hidup dengan kebebasan. Semoga kebebasan selalu menyertai kamu ya, lin," ucap Kalandra dengan penuh arti.
Arti yang terkandung dalam ucapan Kalandra barusan tidak bisa diketahui langsung oleh Adeline yang dengan sangat senang hati menerima doa dari Kalandra. Dalam hati Adeline juga berdoa agar Kalandra bisa merasakan kebebasan. Adeline sangat berharap orang-orang baik yang ada disekitarnya di dunia baru ini dapat hidup dengan kebebasan seperti kehidupannya yang saat ini.
salut jg sm gaya bahasa, n bnr2 rapih pih ga ada typonya
lanjut thor