Bermula ketika Zara memilih membantu menggantikan Hana, sang sahabat, yang akan bertemu dengan pria yang akan dijodohkan dengannya. Zara harus terjerat hubungan pria itu.
Melakukan kontrak cinta dengan Devano, yang merupakan salah satu CEO muda di Ibukota.
Di awal, rencana Devano berjalan sangan mulus, hingga tiba disuatu saat, sang kakek mengetahui kontrak cintanya bersama Zara.
Ketika benih cinta mulai tumbuh, keduanya harus mengakhirinya, karena keluarganya akan kembali menjodohkan Devano dengan wanita lain.
Tidak di sangka, rupanya Tuhan memiliki cerita sendiri untuk mereka. Dari perkenalannya dengan keluarga Devano, membuat Zara bisa kembali menguak kisah lama keluarganya yang cukup menyedihkan hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini ia nantikan.
bagaimana kisah selengkapnya?
yuk ikuti terus ceritanyaa...
jangan lupa subscribe dan follow Nad ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadya Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Seperti yang sudah di minta Devano. Malam ini Zara akan kembali ke rumah sakit untuk menemani kakek Seno disana.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, kini Zara telah bersiap dengan kuda besi kesayangannya yang hari ini tampak mulus karena baru saja di cuci.
"Ayo baby, kita berangkat!" seru Zara sebelum akhirnya melajukan motornya menuju ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan gadis itu menepikan motornya di salah satu toko yang menjual beraneka macam buah-buahan.
Setelah mendapat apa yang ia inginkan, Zara segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Hembusan angin malam kembali menerpa wajah gadis cantik dengan polesan make up tipis yang saat ini tengah bersenandung ria. Zara menikmati suasana malam yang terasa menenangkan.
Tidak terasa sudah hampir 20 menit berkendara, kini gadis cantik itu telah sampai di rumah sakit. Zara segera memarkirkan motornya dengan benar, kemudian berjalan tenang menuju pintu rumah sakit.
"Zara!" panggil seseorang dari belakang, membuat Zara langsung menoleh.
"Loh, mas Dev. Ngapain disini?" tanya Zara
"Menurutmu?" tanya Devano sembari memperlihatkan beberapa kantong keresek di tangannya.
"Kakek minta saya buat siapin makanan buat kamu, jadinya saya keluar sebentar sekalian ada urusan tadi. Ayo masuk!" ajaknya.
Keduanya berjalan bersama menyusuri lorong rumah sakit yang masih ramai. Sesekali Devano melirik ke arah Zara membuat gadis itu tampak risih dibuatnya.
"Mas Dev jangan lirik-lirik terus. Nanti matanya bintitan loh!" seloroh Zara tersenyum sinis kearah Devano.
"Dih, siapa yang lirik-lirik. Saya cuma heran saja sama kamu. Bukannya waktu itu saya sudah membelikan banyak pakaian. Tapi kenapa malam ini, kamu justru memakai pakaian seperti ini?" Devano memindai pakaian Zara yang malam ini tampak berbeda.
Jika biasanya Zara akan memakai dress cantik ketika bertemu dengannya, malam ini gadis itu hanya mengenakan celana jeans panjang serta kemeja berwarna krem yang di masukkan kedalam celana, dengan tas selempang kecil untuk tempat penyimpanan ponsel.
Mendengar itu, Zara langsung berdecak kesal, "ya kali, saya naik motor pakai dress pendek begitu, yang ada sampai di rumah sakit, saya langsung masuk angin. Lagipula saya itu lebih suka pakaian seperti ini. Nyaman dan nggak takut masuk angin," papar Zara bangga.
Devano melambaikan tangan ke udara, seolah mengatakan jika dirinya tidak peduli sama sekali.
***
"Bagaimana keadaan kakek?" tanya Zara begitu sampai di dalam ruang rawat kakek Seno.
Gadis itu meletakkan buah yang sebelumnya ia beli di atas nakas, kemudian segera duduk di kursi samping brangkar dan tersenyum kearah kakek Seno.
Kakek Seno tersenyum senang, akhirnya Zara benar-benar bersedia untuk datang mengunjunginya.
"Sudah lebih baik. Terimakasih sudah bersedia datang kesini," kata kakek sembari mengusap punggung tangan Zara.
Awalnya Devano menolak dengan keras akan permintaan kakek yang meminta Zara untuk datang ke rumah sakit. Apalagi biasanya kakek akan meminta semua anggota keluarganya untuk pulang membiarkan dirinya sendiri di rumah sakit, tetapi untuk kali pertama, kakek meminta Devano untuk membawa Zara menemuinya, lelaki tua itu berkata, ingin lebih akrab dengan Zara.
Devano tentu tidak ingin kakek mengorek lebih dalam mengenai kehidupan Zara, tetapi pria itu tidak kuasa membuat sang kakek kembali bersedih. Akhirnya dengan terpaksa Devano menyetujui membawa Zara ke rumah sakit dengan syarat, hanya sebentar saja.
Dan seperti inilah saat ini, kakek Seno sedang asik mengobrol dengan Zara sedangkan Devano memilih untuk menunggunya di sofa sembari mengecek pekerjaannya melalui laptop yang ia bawa.
"Kakek sangat senang bertemu dengan gadis seperti kamu, rasa-rasanya kakek seperti kembali muda lagi," kekeh kakek Seno.
Samar Devano mendengar pembicaraan keduanya, pria itu hanya menggelengkan kepalanya, tidak menyangka sang kakek akan sebahagia ini bertemu Zara. Ia jadi kembali berpikir, jika seandainya kontrak mereka berakhir, pasti akan membuat kakek Seno kecewa bahkan sakit hati.
"Wah, sepertinya jurus pelet jaran goyang milik Zara ampuh kek, sampai kakek merasa seperti itu." Zara turut tertawa bersama kakek Seno.
"Haha… , Kamu bisa saja. Kakek yang tadinya bosan disini, jadi terhibur karena kedatangan kamu. Kakek harus memberitahu mama Devano, jika calon mantunya sangat asik dan mudah senyum, pasti dia sangat senang," kata kakek Seno.
"Ma-mama mas Dev? A-ah iya kek. Memangnya mama mas Dev kemana?" tanya Zara yang tiba-tiba linglung.
"Loh, Devano tidak cerita tentang mama dan papanya? Bocah itu! Papa Devano itu mengurus perusahaan kakek yang di Singapura, jadi mama Devano turut ikut menemani suaminya disana, sedangkan Devano mengurus perusahaan yang di Indonesia. Karena kakek sudah tidak cukup tenaga kalau harus mengurus perusahaan yang di luar negeri," jelas kakek Seno.
"Kenapa bukan mas Dev saja yang di luar negeri, kek? Biasanya anak muda suka tantangan?" heran Zara, gadis itu belum sepenuhnya mengetahui persoalan asmara Devano yang hampir membuat pria itu meregang nyawa.
"Itu karena–"
Tok!
Tok!
Belum sempat kakek Seno berbicara, suara ketukan dari luar mengalihkan atensi keduanya.
Tak selang lama kemudian, muncullah sepasang paruh baya dan seorang pria yang Zara kenal.
"Loh, Ra. Kamu disini juga?" tanya Tomi yang sudah mendekat kearahnya bersama kedua orang tuanya.
"Iya mas Tomi," jawab Zara tersenyum. Gadis itu beranjak dari duduknya, mempersilahkan pasangan paruh baya itu untuk lebih dekat dengan kakek Seno.
"Silahkan duduk, om," kata Zara
"Terima kasih," ucap Ali, papa dari Tomi.
Pria paruh baya itu, bukannya menduduki kursi yang di berikan Zara, tetapi justru memandang kearah Zara dengan tatapan yang sulit untuk artikan.
Ratna, istrinya, menyenggol lengan sang suami karena sedari tadi mata suaminya tidak lepas memandang kearah Zara. Wanita itu sedikit cemburu karena mengira suaminya jatuh cinta pada Zara.
Zara yang mengetahui jika dirinya sedari tadi di tatap oleh Ali, ia segera pergi, menuju sofa dimana Devano berada.
Kakek Seno lalu bertatap-tatapan dengan Ali, seakan mempertanyakan dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Kalian kenapa repot-repot kesini," tegur kakek Seno, ia tidak menyangka jika berita dirinya masuk kerumah sakit sudah terdengar sampai di telinga putra dari almarhum sahabatnya.
"Tidak merepotkan sama sekali, Paman. Kenapa paman bisa sampai di rawat dirumah sakit? Apa ada yang mengganggu pikiran paman?" tanya Ali yang sudah duduk di kursi samping brangkar.
Kakek Seno menggeleng, "Tidak ada, paman hanya kelelahan saja, kamu tidak perlu khawatir, Li,"
Percakapan antar paruh baya itu terus berlanjut. Tomi sendiri memilih menyingkir menghampiri Devano dan Zara daripada harus terlibat obrolan papanya dengan kakek Seno.
***
"Kamu pakai pelet ya, Ra?"
Bersambung