Entah siapa yang menjebak Bima dengan obat sampai harus memanfaatkan gadis yang tidak berdaya bernama Olivia, di malam pertunangan gadis itu
“Saya khawatir kalau nanti Olivia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas,“Hamil.”
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia
Benarkah Bima dan Olivia dijebak? Mungkinkah Bima dan Olivia akhirnya menjadi pasangan dan melupakan masa lalunya?
====
Spin Off : Jerat Cinta Dibalik Dendam
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 ~ Di mana kamu (2)
Jam kerjanya baru berakhir satu jam lagi, tapi Bima sudah izin pulang lebih awal dengan alasan istri sakit. Rekan-rekannya belum ada yang tahu kalau ia sudah menikah, tentu saja hal ini menjadi pembicaraan.
“Gue kira lo masih single.”
“Yah, patah hati deh saya,” ujar mbak-mbak housekeeper.
“Kapan nikahnya?”
“Masih anget, baru beberapa hari kemarin pas cuti. Duluan ya,” ujar Bima bergegas menuju mobilnya. Ia sempat menyesal membawa kendaraan roda empat, dalam kondisi seperti ini sepertinya roda dua lebih baik.
“Oliv, kamu ke mana sayang,” gumam Bima. Sambil fokus dengan kemudi, ponselnya menghubungi kontak Olivia tapi tidak aktif. Kepalanya memikirkan kemungkinan kemana Olivia pergi dalam keadaan seperti ini.
Ponsel Bima berdering, ternyata panggilan dari Alan.
“Halo Bang.”
“Lo bisa jaga Oliv nggak?”
“Saya sedang cari, sumpah nggak ngerti kenapa Olivia begini. Tadi siang ke kampus masih oke, bahkan dia dadah-dadah waktu saya pergi.”
“Dari awal hubungan kalian memang bencana. Temukan sekarang juga, sampai tengah malam lo nggak temuin Olivia jangan harap bisa bertemu dia lagi. Gue bakal hubungi Papi,” ancam Alan.
“Bang, tahu teman dekatnya Oliv. Please, kita harus kerja sama biar Oliv cepat ketemu.”
“Helen, dia sahabatan dengan Helen.”
“Bisa kirim kontaknya?”
Panggilan pun berakhir, lalu ada pesan masuk. Alan mengirimkan kontak Helen. Walaupun Bima ragu menghubungi wanita itu, karena seingatnya Oliv dan Helen tidak akur. Bima menepikan mobilnya lalu menghubungi kontak Helen.
“Halo, Helen?”
“Iya, ini siapa?”
“Gue Bima. Apa Oliv ada dengan lo?”
“Oliv? Lo pikir gue baby sitternya. Kenapa lagi si Oliv, nggak pulang? Mungkin dia sudah bosan dengan lo jadi cari laki lain. Hobinya ‘kan gitu, jadi percuma lo nikahin dia. Rencana gue berhasil dan kelihatan rusaknya si Oliv.”
“Maksud lo apa sih?”
“Yaelah Bim, lo Cuma korban. Udah ah malas gil4 gue ngomongin masalah Olivia. Mau dia gimana juga bodo amat, sok kecakepan. Heran gue, kenapa semua orang selalu membela dan memuja dia dan mengabaikan gue. Kurang apa sih gue?”
“Kurang lo cuma satu.”
“Apa?” terdengar Helen bertanya dengan antusias.
“Kurang waras.”
Bima merasa dirinya akan ikut tidak waras kalau terus meladeni Helen, panggilan pun diakhiri dan kembali melaju mobilnya.
“Kampus,” gumam Bima.
Hampir pukul sepuluh Bima tiba di kampus Olivia, suasana sudah sangat sepi walaupun masih ada mahasiswa yang terlihat berkumpul di area tertentu. Para aktivis kampus.
“Pak Iwan bilang perpustakaan, tapi Oliv bilang mau ke café.”
Bima kembali melajukan mobilnya keluar area kampus menuju café yang berada tidak jauh dari gerbang kampus. Tempat itu tidak terlalu ramai, tapi masih buka. Bima bertanya pada pelayan café dengan menunjukan foto Olivia di ponselnya.
“Mbak Oliv ya?”
“Iya, Olivia,” sahut Bima.
“Bro, mbak Oliv ke sini nggak?”
Pelayan lain menghampiri Bima dan menyampaikan titik terang.
“Ke sini waktu sore, tapi aneh Mas kayak yang murung gitu. Pesanannya juga nggak disentuh, biasanya ke sini bareng mbak Helen tapi tadi sendiri.”
“Lihat nggak perginya ke mana?”
“Mbak Oliv sering nongkrong di sini dan taman kota, di ujung jalan.”
“Taman kota, oke makasih ya.”
Jarak dari café ke taman tidak jauh, Bima memarkirkan mobil tepat di sisi jalan. Terlihat masih ada gerombolan pemuda yang berada di beberapa titik taman. Pria itu memasuki area lebih dalam sambil menatap sekeliling dan pandangannya tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi tepat di bawah lampu taman.
“Oliv,” gumam Bima lalu melangkah pelan dan merasa lega telah menemukan istrinya.
“Sayang,” panggil Bima langsung duduk bersimpuh di hadapan Olivia, membuat wanita itu terkejut. “Maafkan aku,” ujar Bima.
Olivia memandang Bima yang berlutut memeluk pinggangnya, wajah itu terlihat khawatir dan urat ketega_ngan masih tampak di batang leher pria itu. Perlahan air mata kembali menetes ia pun terisak. Bima berpindah duduk di samping istrinya dan merengkuh tubuh yang bergetar karena isakan.
“Maaf sayang. Maaf karena aku tidak ada saat kamu butuh aku.”
Olivia membenamkan wajahnya di dada Bima yang masih mengenakan seragam kerja.
“Mereka jahat, aku nggak ngerti kenapa mereka bisa memusuhiku.”
“Iya, aku paham. Ada aku di sini,” ujar Bima semakin mengeratkan pelukannya.
Setelah isak tangis Olivia berkurang, Bima mengurai pelukan lalu mengusap jejak basah di wajah cantik istrinya. Sepasang mata itu terlihat sembab dan bengkak.
“Kita pulang ya, peluk-pelukan di sini nanti diangkut satpol PP dipikir sedang mesum.”
Olivia mengerucutkan bibirnya lalu memukul pelan bahu Bima, tapi tidak menolak ketika pria itu menggenggam erat tangannya.
Dalam perjalanan, ketika mobil berhenti karena lampu lalu lintas. Bima mengirimkan pesan pada Alan kalau Olivia sudah bersamanya.
“Mau mampir nggak, beli apa dulu gitu?”
Olivia menggelengkan kepalanya.
“Mau pulang, cepetan.”
“Siap bos.”
Sudah cukup larut, jalanan mulai lenggang. Mobil akhirnya berbelok melewati gerbang kediaman keluarga Emilio. Pak Iwan bergegas menghampiri Bima, sedangkan Olivia sudah beranjak masuk.
“Mas, ketemu di mana?”
“Ada di area kampus juga.”
“Sumpah mas, khawatir saya. Bisa dipecat Pak Tristan, mbak Oliv kesayangannya Bapak sama Ibu.”
Bima tersenyum kemudian menyerahkan kunci mobil pada Pak Iwan. “Tolong diurus, saya ke dalam. Keburu ngambek.”
Olivia masih dengan wajah lelah melepas sepatunya dan meletakan tas di atas meja rias. Perkataan Helen masih terngiang di telinganya.
“Mandi dulu ya, pakai air hangat. Biar enak tidurnya,” seru Bima yang sudah berada di belakang Olivia seraya menahan agar wanita itu tidak menempati sofa atau ranjang sebelum membersihkan diri.
Selama Olivia berada di dalam toilet, Bima berdiri bersandar pada tembok tepat di samping pintu. Khawatir jika Olivia butuh bantuan atau kembali menangis. akhirnya pintu toilet terbuka, aroma sabun mandi menguar dari tubuh Oliv yang hanya mengenakan bathrobe.
“Mau aku bantu pakai baju?” tanya Bima yang refleks mendapat cibiran.
“Mesum.”
“Aku mandi dulu ya?”
Olivia mengedikkan bahu lalu menuju ruang ganti. Ketika Bima selesai dengan urusannya, bahkan hanya mengenakan boxer dan kaos tipis. Ia menghampiri Oliv yang duduk termenung di pinggir ranjang. pria itu kembali bersimpuh dan menenggelamkan wajah di pangkuan istrinya.
“Maaf, semua berawal karena aku. Kalau saja malam itu aku bisa menjaga diri, kamu tidak akan ….” Bima menengadah dan menatap wajah Olivia dengan mata kembali berkaca-kaca. Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan tangan menangkup wajah Bima.
“Bukan salahmu, bukan salah kita.”
Kejadian tadi membuat Olivia pasrah dan membutuhkan Bima -- suaminya. Kebencian yang perlahan mulai mencair kini berubah menjadi keterikatan. Olivia yakin kalau Bima memang mencintainya, pria itu bertanggung jawab dan kini menjadi dunianya.
“Tidak ada yang salah,” ucapnya lagi.
Tatapan mereka semakin mengikat dan situasi mendukung untuk kedua insan ini terlena dalam perasaan masing-masing. Wajah Bima semakin mendekat dan perlahan bibir mereka bertemu, bersatu dengan pagutan malu-malu dan berangsur menjadi pagutan panas dan liar.
walaupun gak sepenuhnya salah tp keadaan yg bikin Bima bersalah..
lawannya keluarga kalangan atas pula...
kuat² yaaa Bima🤭
wkwkckk..good job,teruslah berkarya, bravo anak2 bangsa yg hebat , aku bangga padamu 🥰💪🙏