Seorang gadis berusia 23 tahun bernama Aleta Quenby Elvina yang biasa dipanggil Vina ini memiliki jiwa kepemimpinan dan suka menolong dalam bidang kesehatan. ia seorang dokter muda yang memiliki talenta dalam ilmu kedokteran hingga ia bertemu dengan dengan orang yang sangat menyebalkan itu. mau tau selengkapnya mari simak bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon carlin_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
🌼 HAPPY READING 🌼
_____
" Aku pulang dulu ya. Jangan lupa kunci pintunya " pamit Angga.
" Iya. Sudah lima kali kamu mengatakan itu. " Ucap Nisa. Angga sudah berpamitan dari tadi tapi belum juga meninggal Nisa.
" Nisa bagaiman kali pernikahan kita di majukan. Aku merasa tidak rela meninggalkan mu. Aku ingin kita menikah. Aku sangat tidak sabar bersama mu aku sudah menunggu dari kelas satu SMA. " Angga sangat tidak sabar bersama Nisa. Wanita yang sukai dari SMA. selalu menjaga Nisa dari jauh. Selalu ada di samping Nisa ketika Nisa membutuhkan teman curhat.
" Bersabarlah! Tinggal satu bulan lagi. Nanti kalo nikah aku akan selalu bersama mu hingga maut memisahkan kita. " Nisa mengelus pipi yang terdapat buku halus.
" Ahhrgg! Aku sayang kamu " ucap Angga frustasi. Ia memeluk Nisa dengan erat membuat sesak nafas.
" Uhuk uhuk. " Saking eratnya pelukan Angga Nisa terbatuk-batuk. Angga lantas melepaskan pelukannya. Angga menepuk-nepuk punggung Nisa untuk mengurangi batuknya.
" Erat banget uhuk "
" Maaf ya. Aku pulang ya. " Pamit Angga lagi. Angga masuk ke dalam mobilnya. Nisa menatap mobil Angga hingga hilang dari pandangannya.
" Menyebalkan, tapi sayang " gumam Nisa menutup dan mengunci pintu. Nisa berjalan menuju dapur melihat Vina baru selesai mencuci piring.
" Kamu main air ya? " Tanya Nisa membuat Vina kaget. Vina hanya mengelus dada. Vina berjalan mengisi penuh botol minum agar tidak keluar-keluar lagi ke dapur untuk mengambil minum.
" Kak aku mau tidur dulu, tadi aku belum sempat tidur. Jadi ngantuk banget huaamm. " Ucap Vina melewati Nisa.
Nisa yang melihat kelakuan Vina sedikit berbeda. Ia juga memutuskan untuk pergi ke kamar. Baru saja menuju kamar Nisa mendengar ketukan pintu.
Ceklek
" Eh.. Haikal ada yang ketinggalan? Jangan bilang mau ketemu Vina lagi. Apa belum cukup tadi ketemunya " Nisa melihat Haikal berdiri di ambang pintu memegang boneka besar.
" Iya aku mau ketemu Vina. " Ucap Haikal.
" Vina tadi habis cuci piring langsung masuk kamar. Dia bilang mau tidur karena tadi belum sempat tidur. Coba aku panggil dulu " Nisa dengan cepat menuju kamar Vina. Tapi, tidak ada sahutan dari dalam pintu.
" Kayaknya sudah tidur " ucap Nisa kembali ke depan pintu. Haikal sedang memegang ponsel di tangannya.
Haikal mendapat pesan dari Vina. " Pulanglah kamu butuh istirahat. Aku mau sendiri " isi pesan Vina pada Haikal.
" Kalo gitu aku titip ini ya.. aku pamit pulang dulu salam buat Vina " pamit Haikal memberikan boneka besar itu pada Nisa.
Nisa mengunci pintu lagi. Ia melihat boneka yang di berikan Haikal pada Vina dan melihat ke arah pintu kamar Vina yang masih tertutup. Nisa menaruh boneka beruang besar di sofa dan berjalan menuju kamarnya sendiri.
~~
Sedangkan di dalam kamar Vina sedang duduk menatap ponsel yang bergetar menandakan ada notifikasi dari orang yang ia sudah sakiti tadi. Pandangan Vina beralih kearah telapak tangan yang terasa sakit. Ia terlalu memaksakan diri untuk mencuci piring.
Vina membuka perban di telapak tangan kirinya. Luka yang terkena air dingin terlalu lama hingga kulit tangannya memucat.
So, before you go
Was there something I could've said to make your heart beat better?
If only I'd have known you had a storm to weather
So, before you go
Ponselnya berdering tapi Vina tidak memiliki niat untuk mengangkatnya. Tertera nama Nia di ponsel Vina. Dia hanya ingin sendiri, tidak ingin di ganggu. Kenapa Meraka tidak mengerti?. Vina mengambil ponsel canggih menekan tombol untuk mematikan ponselnya.
Vina merasa tangannya tambah sakit. Ternyata, darah segar mengalir lagi. Dengan cepat Vina mengambil tisu di nakas.
Tok..tok
" Vina, kamu belum tidur, kan? Aku masuk ya.. " ucap Nisa dari luar pintu. Nisa tidak merasa tenang seperti ada yang menggangu pikirannya.
" Astaga Vina! " Teriak Nisa melihat wajah Vina yang pucat dan keringat dingin mengucur membasahi kening Vina. Nisa berjalan mendekati Vina yang duduk di karpet tebal samping ranjang. Nisa kaget sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
" Vina astaga tangan kamu " ucap Nisa melihat darah begitu banyak keluar dari tangan Vina hingga mengenai karpet yang tadinya berwarna peach sudah berubah menjadi merah.
~~
" Kata Nisa tadi ia habis cuci piring padahal lukanya masih basah. Aku sangat khawatir pada dia, Nia. Aku tidak bisa melihat dia kesakitan. Hati ku sakit " ucap Haikal mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
" Coba aku telfon "
" Iya "
" Nomornya tidak aktif. Apa yang kamu bicarakan sama di kemarin " tanya Nia merasa tidak beres dengan sikap Vina padanya. Sepulang Haikal kemarin malam Vina pergi entah kemana dan tadi pagi ia sudah siap dengan rapi untuk kembali ke rumah sakit cabang.
" Hanya ngobrol biasa sama dia "
" Tidak mungkin karena aku tidak ke mall, kan? "
" Aku baru ingat, kemarin aku bilang ke Vina untuk pindah ke rumah sakit biar kamu tidak ikut pindah " ucap Haikal.
" Astaga! Kal, apa yang kamu ucakan? " Tanya Nia menahan diri agar bisa menjelaskan pada Haikal dengan baik.
" Tidak "
" Kamu tau? Secara tidak langsung kamu membela wanita lain di depannya. Astaga, berarti aku masuk dalam pertengkaran kalian. Makannya tadi pagi ia bilang untuk tidak pindah. Haikal kamu bagaimana sih. " Teriak Nia meluapkan emosi yang memuncak pada Haikal.
" Haikal kamu itu cowok. Kamu yang pertama mau dekat dengan Vina ketika Vina mulai membuka hati untuk kamu. Malah kamu membuat ahhrgg " Nia meramas kepalanya sendiri dengan keras. Ia tidak habis pikir dengan Haikal.
" Tadi kamu bilang sakit melihat ia kesakitan. Tapi kamu sendiri yang membuat ia sakit."
" Ini terakhir kamu bertemu dengan Vina. Aku sebagai sahabat tidak akan membawa cowok seperti kamu. " Ucap Nia dengan penuh amarah.
" Iya aku yang salah. Aku memiliki rencana sendiri untuk mendekati Vina." Ucap dingin Haikal. Haikal hanya fokus menyetir mobilnya itu.
" Kamu kita wanita itu kayak bagaimana? Wanita itu kali dengan orang mereka suka aja bersikap baik. Dan Vina sudah melakukan itu, apa itu belum cukup? "
" Memang kamu tidak cocok untuk menjadi pacar Vina. " Ucap Nia sedikit meremehkan Haikal.
" Aku tau kamu. Tapi, aku lebih memilih vina. Aku akan selalu mendukung setiap keputusan Vina. " Ucap Nia.
' oh tuhan kenapa firasat ku jadi tidak enak begini. Apa yang sebenarnya terjadi. '
" Haikal, kamu kenapa? " Tanya Nia yang melihat Haikal sedikit gelisah.
" Ak..aku tidak papa. " Ucap Haikal dengan gugup.
" Menepi sekarang Haikal " perintah Nia. Nia tau pikiran Haikal sedang penuh dengan pekerjaan dan di tambah hubungannya dengan Vina yang tidak akur lagi.
Haikal belum menepikan mobilnya juga. Ia tetap membawa mobil berusaha untuk tetap jalan. Pikirannya semakin tidak tenang.
" Haikal awaas! "
____
Jangan lupa like dan komen 💙
Vote juga jangan lupa🤗
Ig: carlin_ar.
Salam hangat