NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Lembur

Seminggu telah berlalu sejak badai emosi yang menggoncang Nara di kedai kopi dan masjid sudut kota itu. Suasana di rumah berlantai dua milik Zaid perlahan-lahan mulai berubah.

Tidak ada lagi rasa asing yang mencekat atau kecanggungan berlebihan. Hubungan mereka melangkah menuju ritme baru yang tenang, dipenuhi rasa saling menghormati walau tetap dibalut oleh batas-batas rasa canggung yang manis.

Pagi itu menjadi hari pertama Nara kembali bekerja di kantornya, sebuah perusahaan konsultan desain interior yang cukup ternama.

Masa cuti menikahnya telah usai, dan seperti yang sudah ia duga, tumpukan berkas serta tenggat waktu proyek menunggunya tanpa ampun di atas meja kerja.

"Nara! Akhirnya kamu masuk juga!" seru Siska, rekan kerja sekaligus sahabat dekatnya, begitu Nara melangkah masuk ke ruangan divisi kreatif. Siska langsung memeluknya gemas.

"Gimana pengantin baru? Duh, muka kamu kelihatan makin segar ya, walau ada sedikit kantung mata kangen, nih?"

Nara hanya tertawa tipis menanggapi godaan Siska, menyembunyikan kenyataan bahwa kantung mata itu bukan karena keromantisan, melainkan karena kelelahan emosional beberapa hari lalu.

"Jangan mulai deh, Ka. Mana berkas proyek klien yang bilang mau revisi total itu?"

"Nah, itu dia masalahnya," raut wajah Siska mendadak berubah serius seraya menyerahkan sebuah map tebal.

"Klien dari Puri Indah minta layout dan konsep visual barunya beres besok pagi. Karena kamu kemarin cuti, drafnya tertunda. Hari ini kita harus lembur mati-matian, Ra."

Nara menghela napas panjang, lalu mengangguk mantap. Ia menyingsingkan lengan kemejanya. "Oke, ayo kita selesaikan hari ini."

Kesibukan mendadak menyerap seluruh perhatian Nara. Sejak pukul sembilan pagi hingga matahari tenggelam, jemari Nara tak berhenti menari di atas layar komputer, menggambar sketsa 3D, menyelaraskan palet warna, dan mendiskusikan material bersama timnya.

Ruang divisi kreatif berubah menjadi medan perang penuh kertas sketsa, cangkir kopi yang menumpuk, dan bunyi ketikan keyboard yang tak henti-hentinya bergema.

Saking fokus dan tenggelamnya dalam pusaran pekerjaan, Nara sama sekali tidak menyadari waktu yang terus bergulir tajam. Ia bahkan tak sempat menyentuh ponselnya yang tergeletak pasrah di dalam tas tangan di samping meja.

.

.

Sementara itu, di tempat lain, Zaid menyelesaikan pekerjaannya lebih awal sore itu. Sebagai seorang pengusaha muda yang mengelola perusahaannya sendiri, Zaid memiliki fleksibilitas waktu. Sekitar pukul enam sore, ia sudah melangkah masuk ke dalam rumah.

Rumah terasa hening. Mbok Tini sudah pamit pulang sejak pukul empat. Zaid melangkah ke dapur, melonggarkan dasinya, dan memandangi area meja makan yang kosong.

Ada kebiasaan baru yang tanpa sadar mulai terbentuk dalam seminggu terakhir.

Zaid menikmati momen memasak untuk mereka berdua. Bagi pria kaku yang jarang mengungkapkan perasaan lewat kata-kata manis itu, memasak adalah salah satu cara paling sederhana untuk menunjukkan perhatian.

Sore itu, Zaid menyingsingkan lengan kemejanya dan mulai berkutat di dapur. Ia mengolah bahan-bahan segar yang ada di kulkas. Membuat tumis brokoli daging sapi dan sup iga hangat. Bau harum masakan segera memenuhi seluruh ruangan, menciptakan suasana rumah yang begitu hangat.

Jarum jam di dinding dapur terus berputar. Pukul tujuh malam... pukul delapan malam... namun suara deru mobil atau ketukan pintu yang menandakan kepulangan Nara tak kunjung terdengar.

Zaid duduk di meja makan sendirian. Makanan yang ia buat mulai mendingin. Pria itu melirik jam tangannya, lalu menatap hidangan di depannya.

Setelah menunggu hingga pukul delapan lewat tiga puluh menit, Zaid akhirnya menyendok nasi dan makan dalam diam.

Ia memisahkan porsi yang cukup besar untuk Nara, menutupnya rapat dengan tudung saji di meja makan agar tetap bersih, lalu membereskan peralatan dapur yang kotor.

Ketika jarum jam dinding di ruang kerjanya tepat menunjuk angka sembilan malam dan suasana luar rumah makin sunyi, rasa khawatir yang terbiasa ia tekan mulai merayap naik. Zaid berdiri dari kursi kerjanya, mengambil ponsel dari saku celana, dan menekan nomor Nara.

Di dalam mobil Siska yang sedang membelah jalanan kota yang cukup padat, ponsel Nara di dalam tas mendadak bergetar hebat.

Nara yang sedang bersandar lelah di kursi penumpang depan kaget. Ia merogoh tasnya dan mendapati nama Zaid tertera di layar. Seketika itu juga, ingatan Nara melayang pada kenyataan bahwa ia sama sekali belum mengabari suaminya!

Nara menepuk jidatnya sendiri. "Ya ampun..."

"Kenapa, Ra?" tanya Siska yang sedang menyetir.

"Suamiku nelfon, Ka... Aku lupa banget ngabarin kalau aku lembur!". bisik Nara panik sebelum buru-buru menggeser tombol hijau.

["Wa'alaikum salam, Ha-halo, Zaid?"]

["Nara,"] suara Zaid terdengar di ujung telepon. Datar, rendah, namun ada nada kegetiran samar yang tersirat di sana. ["Kamu di mana? Ini sudah jam sembilan malam."]

["Zaid, maaf... maafkan aku," ucap Nara cepat, rasa bersalah mendadak menghimpit dadanya. "Aku benar-benar minta maaf. Hari ini pekerjaan di kantor menumpuk banget karena tengang waktu besok pagi. Aku sampai lupa pegang ponsel dan lupa mengabari kamu kalau aku lembur."]

Hening sejenak di ujung telepon. Zaid menghela napas pelan. sebuah helaan napas lega mengetahui wanita itu baik-baik saja, namun juga tercampur sedikit rasa kecewa.

["Kamu posisi di mana sekarang?" tanya Zaid, mengabaikan rasa canggungnya.]

["Aku sudah di jalan pulang, Zaid. Ini diantar sama Siska. Mungkin sekitar sepuluh atau lima belas menit lagi sampai rumah," jawab Nara penuh penyesalan.]

"Baiklah. Hati-hati di jalan. Jangan terburu-buru," kata Zaid singkat.

"Sekali lagi maaf ya, Zaid..."

"Ya. Tidak apa-apa."

Sambungan telepon terputus. Nara menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memejamkan mata erat-erat.

Siska yang berada di sampingnya menoleh sekilas lalu tersenyum menggodanya. "Galak ya suamimu, Ra? Tapi perhatian banget jam segini udah dicariin."

Nara hanya tersenyum tipis tanpa membalas. Hatinya merasa sangat enak. Ia tahu Zaid pasti menunggunya di rumah.

.

.

Lima belas menit kemudian, mobil Siska berhenti tepat di depan pagar rumah Zaid. Setelah mengucapkan terima kasih pada Siska, Nara melangkah turun dan membukakan pintu pagar secara mandiri.

Rumah itu tampak tenang dari luar. Lampu teras menyala terang, membiaskan cahaya hangat. Nara membuka pintu utama dengan pelan, berusaha tidak menimbulkan suara gaduh.

Saat melangkah masuk ke dalam area foyer dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, langkah Nara terhenti seketika.

Di atas meja makan kayu yang bersih, tampak sebuah tudung saji tersaji rapi. Nara mendekat dan membukanya perlahan.

Mangkuk berisi sup iga dan tumis brokoli daging sapi. Masih tercium aroma gurihnya walau sudah mulai dingin, tersaji indah di sana bersama sebuah piring kosong dan sendok yang sudah disiapkan di sampingnya.

Di dekat tudung saji, ada selembar kertas catatan kecil tulisan tangan Zaid yang rapi:

"Makanannya sudah saya siapkan. Kalau mau dimakan, tolong panaskan sebentar di microwave. Jangan tidur dalam keadaan perut kosong."

Nara mematung. Matanya mendadak terasa panas. Rasa penyesalan yang tadi sore hinggap kini menjelma menjadi rasa haru yang luar biasa.

Zaid yang pulang lebih awal bukan hanya menunggunya, tetapi juga sengaja memasak makan malam untuknya. Dan di tengah rasa abai yang Nara lakukan secara tidak sengaja, pria itu tetap menyisakan makanan dan menyiapkan pesan sehangat ini.

Nara meremas kertas kecil itu di dadanya. Rasa lelah akibat tumpukan pekerjaan seharian ini seolah menguap begitu saja.

Nara menatap ke arah tangga lantai dua. Koridor atas tampak remang. Dengan langkah pelan dan hati-hati, Nara menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar Zaid.

Pintu kamar Zaid sedikit terbuka. Nara mengintip dari celah kecil. Celah itu memperlihatkan bahwa lampu utama kamar Zaid sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur di sudut meja yang memancarkan pendar redup.

Di atas ranjang, sosok Zaid berbaring memunggungi pintu, diselimuti hingga dada. Pria itu tampak sudah terlelap tenang.

Nara menahan napasnya, enggan mengganggu tidur pria yang mungkin lelah menunggunya seharian.

Sebenarnya, Zaid belum sepenuhnya tertidur. Pria itu mendengar langkah kaki pelan Nara di luar kamar dan tahu persis istrinya sedang berdiri di ambang pintu. Namun, Zaid sengaja memejamkan mata dan berpura-pura lelap.

Zaid tahu betul betapa lelahnya raut suara Nara di telepon tadi; ia tidak ingin membebankan Nara dengan penjelasan panjang lebar atau suasana canggung di larut malam seperti ini. Membiarkan Nara beristirahat tanpa beban adalah pilihan terbaik yang bisa Zaid berikan malam itu.

Nara tersenyum sangat tipis. Dari balik pintu yang terbuka sedikit itu, Nara berbisik lirih, nyaris tak terdengar oleh angin malam.

"Selamat malam, Zaid... Terima kasih untuk makan malamnya. Dan maafkan aku..."

Nara lalu menarik pintu kayu itu pelan-pelan hingga merapat kembali tanpa menimbulkan bunyi. Ia berbalik melangkah menuju kamarnya sendiri, membawa perasaan hangat yang perlahan-lahan mulai mekar dan menetap di dalam dadanya.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!