Terkadang, memory yang pahit juga berhak untuk di ingat. Karna semanis apapun memory yang ada, jika semua keadaanya telah berubah, maka rasanya akan sama- sama seperti luka. Bahkan lebih dalam.
Bagi kakak semua yang mampir aku mintak kritik dan sarannya ya biar nanti bisa jadi bahan evaluasi.
Kalau berkenan bisa tambahkan ke favorit, kasih bintang dan tinggalkan like sebagai dukungan.
Masih terus dalam tahap pembenahan, jadi kalau ada ketidak nyamanan saat membaca maaf ya kak.
Makasih kakak semua...
Mampir juga ke work aku yang lain ya kak, semuanya masih dalam fase pembenahan😁😁😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uza Atsanni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 29- Gagal Faham
Selalu ada kata rindu yang mendalam, atau mungkin cuman delusi semata.
Seperti hujan yang jatuh secara alamiah, tanpa rasa, dan tanpa iba.
Tapi... Semua itu, nyata.
~ Lord Alberta.
Dan hal terakhir yang ku ingat saat itu, adalah salju.
Butiran-butiran lembut berwarna putih itu berjatuhan seiring waktu kian deras. Tapi, hawa dingin sama sekali tak menyentuhku. Jarak di antara wajah kami hanyalah tinggal satu kepal tangan.
Aku memejamkan mata, mencoba untuk terus menikmati saat ini dengan lebih leluasa lagi.
Semuanya...
Aroma mawar segar yang masih berembun dari tubuhnya, butiran salju yang mengenai kami dengan leluasa, Malam dengan segala ornamenya yang kemudian hilang tak bersisa, angin lembut dan air sungai yang meramaikan sepi...
Dan kehangatan ini, rasa nyaman yang dia hadirkan ke dalam diriku, yang tak ingin lagi memedulikan apapun. Hanya saat kami berdua.
Karena ke esokan paginya, aku tau, cinta, hanya milik mereka yang merdeka. Perhatian, hanya untuk mereka yang lemah.
Kami bukan lagi aku, dan dia. Kami hanyalah sepasang titah langit, Lord dan Queen yang harus bersikap penuh tipu muslihat, tanpa ekspresi. Menjadi orang, yang bukan lagi menjadi milik diri sendiri, melainkan milik semua orang yang percaya akannya.
Andai waktu bisa berhenti untuk sesaat...
Tidak tidak! Andai waktu berhenti saja, di antara aku, dan dirinya.
Aku tak membutuhkan apa pun lagi dari isi dunia, bahkan jika aku tak lagi dapat bereinkarnasi kedepannya. Setidaknya, dialah yang sekarang mendekapku dengan seluruh sisa kekuatan yang ia punya.
Tapi takdir berkata lain, yang kami dapatkan bukan rasa bebas, tapi justru sebuah singgasana bertatahkan emas. Hal yang bahkan orang lain banyak yang ingin merengkuhnya.
" Aku mencintai mu, jangan pergi lagi... Diamlah, dan biarkan malam ini, seluruh semesta iri dan cemburu. Aku, hanya ingin berada di sisi mu, mencintai mu, dan terus seperti ini," bisiknya lirih. Membuat hati ku berdebar kencang.
Tapi aku lelah...
Sangat...
Lelah...
🌀🌀🌀
Aku mengerjapkan mataku berulang-ulang. Dan, hal yang pertama ku lihat, adalah...
" A... Apa yang kakak lakukan di sini?" Tanyaku. Tangannya menyentuh leherku, dan wajahnya terlihat sangat serius.
Dekat... Sekali.
Aku mencoba untuk bangun, tapi Kak Aleta mencegahku, membuatku kembali berbaring. Memungut handuk kecil yang tadi tak sengaja jatuh dari keningku. Menaruhnya di atas nakas di sebelah ranjangku.
Canggung...
" Tidak, kakak hanya penasaran dengan tambalan di lehermu," aku spontan meraba bagian leherku. Huh, bodoh! Dia itu kakakmu... Memang apa yang bisa dia lakukan?
" E'h, tidak papa kok," sangkalku. Kak Al malah sengaja menekannya kuat-kuat.
" Au!! Dasar! Kau benar-benar bodoh kak, sakit tau!" Teriakku asal. Saat aku menyadarinya aku langsung terdiam.
" Tadi kau tiba-tiba saja memejamkan mata saat masih dalam perjalanan pulang. Tubuhmu terasa sangat panas, wajah pucat, lebih menakutkan dari mayat, jadi kakak menggendongmu ke kamar, memang apa yang bisa kakak lakukan lagi?"
Wajahku mungkin sekarang terlihat semerah tomat. Bodoh! Bodoh! Bodoh!...
" Mayat tidak akan terlihat secantik diriku kak," jawabku, cemberut.
" Hem, tidak ada yang judes baru kakak percaya," sangkalnya.
" Up to you deh kak," pungkasku. Cowok tidak peka... Pokoknya semua stempel baiknya sudah lama hilang.
" Itu juga, kalau kau merasa sakit seharusnya lekas bilang pada kakak, jadi kakak bisa segera antar ke dokter, luka di lehermu cukup dalam, lain kali kau harus ingat untuk hati-hati," kenapa malah jadi secerewet itu coba.
" Aku juga tidak tau kak, tiba-tiba saja terasa perih, ketika aku bercermin, ternyata sudah ada luka seperti ini... Aku tidak mau kakak khawatir, jadi sengaja tidak bilang," jawabku mengelus-elus tengkukku.
" Sudah-sudah, makanlah, tadi kakak sudah memasak bubur, kakak akan menyuapimu," timpalnya. Kemudian Kak Aleta membantuku untuk bangun, menatakan bantal agar aku bisa duduk bersandar ke dinding dengan nyaman.
Aku menatapnya dalam. Kadang-kadang kakak memang terlihat sangat romantis. Dia bahkan mengganti plester luka di leherku, yang malah aku kira... Sudah-sudah...
Dan sekarang, dia malah sibuk meniup-niup bubur yang masih panas di atas sendok. Kak Aleta menyuapiku dengan sangat sabar. Sorot matanya sangat menawan. Saat ini, aku baru sadar, bahwa Kak Aleta, memang benar-benar seorang idola.
Beberapa menit yang lalu.
ALETA
" Bagaimana kalau kita ke dokter," lampu lalu lintas masih belum berubah menjadi hijau, aku menoleh ke sisi kiri.
" Var, Variella," aku mengguncangnya pelan, tak ada respon. Wajahnya terlihat sangat pucat, sebenarnya apa yang dia rasakan? Dahinya panas, suhunya tinggi sekali, sejak kapan dia demam? Sepertinya pagi tadi masih terlihat baik-baik saja.
Setelah kendaraan-kendaraan yang berada di depan melaju, aku menginjak pedal gas lebih dalam. Berharap lekas sampai ke rumah.
Butuh beberapa waktu, aku memarkirkan mobil sembarangan. Membawa Variella kembali ke kamarnya. Lalu menyiapkan air untuk mengompres dan memasak bubur kalau-kalau nanti dia siuman.
Sore semakin padam, menyapa langit yang perlahan mulai memetang dengan sendirinya. Aku hanya duduk di sisinya. Menunggu.
Rambutnya berantakan, aku menggunakan jari-jari ku untuk menyibakan anak rambutnya, menyimpannya di balik telinga.
Deg... Deg... Deg...
Wajah pucatnya masih terlihat sangat cantik, bulu matanya yang panjang, dan, bibirnya yang... Ranum.
Apa yang ku pikirkan!!! Aleta... Dia, dia adalah... Queen-mu, junjungan yang harus selalu kau hormati, adik yang selalu harus kau lindungi.
Aku mendekatkan wajahku, aku tak berharap apa pun darimu, di lahirkan kembali menjadi orang yang sangat dekat denganmu, menjadi orang yang selalu ingin kau percaya dan memercayaimu, adalah sebuah kebahagiaan.
Sebelah tanganku terus membelai rambut hitamnya yang terasa halus. Nafasnya terasa lemah, huh... Aku tidak bisa, meskipun, meskipun aku sangat menginginkannya, meski aku sangat mencintaimu, Queen.
Maaf...
~ Arguza.
Aku menarik wajahku, tapi sebelum sempat terlalu jauh, aku menangkap sesuatu,
" Plester?" Aku melepasnya. Luka yang dalam. Dari mana dia mendapatkan bekas luka seperti itu?
Luka itu masih baru, aku menempelkan jari telunjukku di situ, lalu menciumnya.
" Bukan luka biasa, ada aroma seorang Vampir, sangat memalukan! Beraninya gigi-gigi kotor mereka menyentuh adikku!" Vampir itu tidak menggigitnya seperti apa yang biasa mereka lakukan kepada mangsa-mangsa yang lain, berarti tujuannya bukan mencari darah untuk pelepas dahaga, atau untuk memperbanyak jumlah.
Tapi mungkinkah dia memberikan goresan yang cukup dalam seperti ini tanpa alasan?
Semoga tidak terjadi hal buruk padamu. Aku meraih tangannya, lalu menciumnya lembut. Mengganti plester yang tadi sudah ku lepas dengan plester yang baru.
Hingga kemudian,
" A... Apa yang kakak lakukan di sini?" Tanya Variella. Tangannya menyentuh leher, dan wajahnya terlihat sangat serius.
Apa dia sedang, salah faham kepadaku?
mampir jg ke ceritaku 😁
mampir yuk ke Novel ku
•System Behavior.
siapa tau tertarik
Aku mampir dah kasih Boomlike tiap chapt dan rate 5. Ditunggu boomlike+rate 5 back nya di karyaku The Power of Mutant yaa... Makasihh🙏
💕Saling Support💕
keep spirit thor
Mari saling dukung :)
ceritanya makin bagus, bikin penasaran
Mari saling dukung😍
Semangat nulisnyaa
🌸Halo ini author Fur Therese yuk mampir dan saling like, rate5 dan vote🌸
Tambahkan ke favorite ya karena bakal up setiap hari ❤
nitip jejak di sini dulu
🌸Halo ini author Fur Therese yuk mampir dan saling like🌸
makin seru ceritanya