Penyesalan selalu datang di akhir!
Itulah yang dirasakan Rafa Zayano Faresta setelah dikirimkan pesan putus tiba-tiba dari sang pacar. Meski dia sendiri tidak serius hubungan itu karena hanya ingin memanfaatkannya untuk mendekati sahabatnya. Tapi saat pacarnya Riska Safira pergi jauh darinya maka di situlah dia menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina♡´・ᴗ・`♡, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Benar-benar keterlaluan! Ini pertama kalinya aku di permalukan! Kenapa pria itu jahat sekali?!" Untuk sekian kalinya Bulan ngedumel tentang kejadian tadi. Tatapannya berkilat tajam menatap bayangannya di cermin toilet. Dia masih tidak terima perlakuan Rafa yang tidak menghargainya. Kesal dan malu bercampur jadi satu.
"Apa aku kasih tau kakek saja ya? biar Rafa tidak mempermainkan ku lagi! Tapi masa iya aku ngeluh di hari pertama aku kerja! Nanti yang ada Rafa makin membenciku dan semakin sulit untuk menerima ku!" Dia benar-benar merasa frustasi saat ini. Kemarin malam ketika kakeknya Rafa menelponnya untuk menawarkannya menjadi sekretaris Rafa, dia langsung menerimanya dengan senang hati. Bangun sangat pagi untuk bersiap-siap bahkan berdandan dengan sangat cantik agar bisa menarik perhatian Rafa. Tapi yang dia dapat adalah di permainkan dan di permalukan seperti ini.
"Kau lihat tadi! Wanita itu terlihat konyol! Bisa-bisanya memberikan laporan yang membuat tuan Rafa marah!"
"Ku kira dia sangat hebat karena jadi tunangan tuan Rafa tapi aku salah besar! Dia mempermalukan dirinya di hari pertama kerjanya"
"Statusnya aja tunangan, tuan Rafa bahkan terlihat tidak menyukainya"
"Jangan bilang nasibnya bakalan sama nantinya seperti wanita-wanita yang pernah tuan Rafa tolak! Uuhh.. Kacian sekali!!"
Ketiga wanita itu langsung tertawa keras namun saat membuka pintu toilet mereka menghentikan tawanya dan mematung saat melihat orang yang mereka bicarakan ada di toilet juga.
Bulan mengelap tangannya setelah selesai mencucinya lalu berjalan ke arah ketiga wanita itu atau lebih tepatnya menuju pintu.Tidak mengeluarkan ledakan amarah apapun karena sudah dibicarakan oleh ketiga wanita itu, dia hanya memasang wajah dingin dan muka merah seperti mencoba menahan emosinya.
"Tolong permisi kalian menghalangi jalan!" dia mengeluarkan suara tenangnya namun dingin. Membuat ketiga wanita yang berdiri bak patung di depan pintu langsung menyingkir dengan kikuk membuka jalan untuknya. Lalu dia melanjutkan langkahnya tanpa merasa terpengaruh oleh ucapan mereka. Walau sebenarnya dalam dia mengutuk ketiga wanita itu karena berani membicarakannya. Awas saja jika dia sudah menjadi nyonya Faresta akan dia pastikan kalian bertiga akan di pecat!!
Sementara ketiga wanita itu saling pandang, merasa mati rasa saat pembicaraan mereka di dengar oleh orangnya. Entah kenapa ketakutan mulai bersarang di wajah mereka. Berharap tidak terjadi apa-apa dengan mereka setelah ini, misalnya pemecatan secara tidak langsung.
.
.
"Tuan Rafa, untuk makan siangnya anda ingin di pesankan apa?" Ryan bertanya pada bosnya yang saat ini berada di ruangan bosnya.
Rafa melihat arlojinya yang ternyata sudah masuk jam istirahat, "Kita ke rumah sakit!" berdiri dari duduknya dan bersiap pergi.
Bukannya menyebut makanan apa, Rafa malah berkata akan pergi ke rumah sakit.Tapi Ryan langsung paham maksud bosnya. Wanita yang di sukai bosnya yang pertama melintas di pikirannya saat bosnya ingin pergi ke rumah sakit. Dia yakin bosnya pasti ingin mengajak dokter itu untuk makan siang bersama.
...----------------...
Di rumah sakit.
Riska mengelap keringatnya yang bercucuran membasahi dahinya. Jadwal hari ini sangat padat. Dia baru saja menyelesaikan operasi besar pada pasiennya. Operasinya bahkan memakan waktu berjam-jam hingga menguras energinya.Sekarang dia merasa sangat lapar.
Saat perjalanannya menuju ke kantin dia tidak sengaja berpapasan dengan Vero yang sepertinya juga ingin ke sana.
"Kau ingin pergi ke kantin?" tanya Vero lebih dulu.
"iya aku udah sangat lapar!!" jawabnya memelas sambil menepuk perutnya pelan.
Vero langsung tertawa geli merasa lucu dengan tingkah Riska yang menggemaskan baginya, "Ya udah ayo kita barengan!" Meraih pundak Riska lalu merangkulnya.
Namun dengan cepat Riska melepaskannya karena saat ini mereka masih di rumah sakit.
"Malu tau" bisik nya pelan sambil melirik orang-orang yang sedang memperhatikan mereka.
Vero ikut melirik, dan benar saja banyak keluarga pasien dan para suster di sana memperhatikan mereka berdua.Tapi sebenarnya dia tidak peduli malahan dia senang jika mereka melihat jika dirinya dan Riska sangat dekat.
Setelah tiba di kantin, mereka berdua memesan makanan.Terlihat kantin lumayan ramai, banyak dokter dan suster makan siang disini. Kantin ini emang di khususkan untuk para pekerja rumah sakit agar mereka tidak susah untuk pergi ke luar. Makanan yang di sediakan juga makanan bergizi yang cocok untuk mereka.
"Waw waw Riska pelan-pelan saja! Kau terlihat seperti orang yang tidak pernah makan selama setahun"
Riska mendelik tak suka dengan perkataan Vero. Itu sangat berlebihan, tapi mungkin saja dia terlihat seperti itu. Setelah dapat makanannya, dia langsung melahap rakus tanpa menunggunya lebih dulu.
"Aku tidak peduli! Perutku sudah keroncongan, butuh makanan banyak untuk mengisinya kembali" sahutnya dengan makanan terisi penuh di mulutnya.
Vero hanya geleng-geleng kepala. Merasa gemas melihat Riska yang tidak ada anggun-anggunnya saat makan, " Jangan makan terlalu banyak! Nanti kau terlihat seperti babi kekenyangan yang tidak bisa berjalan!" candanya.
Riska mengerucutkan bibirnya, "Sialan kau!"
"Ha ha ha.. " Vero tertawa lepas dengan suara yang lumayan keras, membuat mereka kembali menjadi pusat perhatian. Tapi hanya dia yang merasakannya karena Riska masih asik melahap makanan tanpa melihat sekitar.
"Mereka manis sekali! Apa mereka pacaran?"
Adisty menatap tidak suka pada teman dokter disampingnya yang memuji kedekatan Vero dan Riska. Saat ini dia juga sedang makan siang dan duduk tak jauh dari meja yang tempati mereka.
"Mereka tidak pacaran dan berhenti bertanya!"
Dokter wanita yang menjadi teman Adisty menutup rapat mulutnya saat hendak bertanya kembali. Namun di urungkan saat melihat raut Adisty yang terlihat tidak senang entah karena apa.
Sedangkan Adisty menahan panas di hatinya, melihat kedekatan mereka yang selalu bersama. Wanita itu sangat tidak tau malu! berani-beraninya selalu menempel pada Vero. Ini tidak bisa di biarkan, Vero hanya miliknya tak ada yang boleh merebutnya darinya, batinnya cemburu.
Riska yang tadinya serius memakan makanannya menoleh ke kesana kemari saat merasakan ada tatapan menusuk yang diarahkan kepadanya. Dan berhenti saat matanya saling bertabrakan dengan mata Adisty. Dia mengangkat alis sebelah saat menyadari tatapan menusuk itu datang darinya. Salahnya apa? Kenapa Adisty menatapnya tajam seperti itu? Seperti ingin membunuhnya saja lewat tatapan itu. Ihh menyeramkan...
"Kau kenapa?" Vero bertanya keheranan saat melihat Riska menatap sesuatu di belakangnya sambil bergidik ngeri.
Riska mengalihkan pandangannya pada Vero, "Hanya perasaan ku saja atau dokter Adisty emang membenciku ya?" ucapnya pelan seperti berbisik.
Vero menautkan alisnya mendengar kalimat Riska. Lalu menoleh ke belakang untuk memastikan. Ternyata benar, Adisty sedang menatap tajam kami berdua atau lebih tepatnya ke arah Riska.
"Biar aku tanyakan!"
"E-eh jangan dong! Bagaimana jika itu hanya perasaanku saja. Dan kita salah paham padanya. Udah lebih baik kau duduk aja dan habiskan makananmu!" Cegah Riska saat melihat Vero hendak bangkit dan ingin menghampiri Adisty.
"Tidak ada salahnya kita bertanya kan? Aku hanya tidak suka caranya menatap mu seperti itu!" protes Vero dan ingin berdiri lagi.
"Duduk atau ku tinggal" ancam Riska penuh penekanan dengan mata melotot tajam.
Vero menghela nafas pelan dan akhirnya kembali duduk. Dia menatap Riska jengkel yang sedang tersenyum puas. Dia tidak akan menyerah begitu saja, dia akan bertanya nanti saja saat tidak ada Riska.
Tidak tahan melihat mereka berdua, Adisty bangun dari duduknya dan pergi begitu saja dengan perasaan marah dan cemburu. Temannya yang tadi terlihat keheranan dengan sikap Adisty yang main pergi begitu saja tanpa menghabiskan makanannya. Lalu tatapannya beralih menatap Riska dan Vero yang menjadi perhatian Adisty dari tadi. Dia bisa merasakan ada tatapan cemburu darinya saat menatap mereka. Apa Adisty menyukai dokter Vero?
udah gak sabar nunggu kelanjutannya cerita nya 😍