Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 18
"Kenapa kau begitu terkejut, Anak muda? Jika kau ingin tahu betapa rumitnya politik istana, maka seperti inilah hasilnya. Kau tidak akan tahu siapa lawan dan siapa kawan. Orang yang kau percaya akan bisa menghianatimu secara tiba-tiba hanya demi suatu kepentingan!" kata Patih Mahasura. Berada di markas Organisasi Iblis Kematian, keyakinannya saat ini begitu besar untuk menghabisi pemuda tersebut.
Arya diam-diam menakar kekuatan orang-orang berpakaian hitam yang sedang mengepungnya. Dalam hitungan kasarnya, dia tidak akan kesulitan menghabisi mereka semua, terkecuali Patih Mahasura dan Senopati Mandala turut campur. Meskipun tetap yakin bisa menang, tapi dia akan sedikit mengalami kesulitan.
Namun tiba-tiba saja pemuda itu merasakan adanya energi yang lebih besar dari pada Senopati Mandala maupun Patih Mahasura, dan pemilik energi tersebut sepertinya sedang mengawasinya dari jauh.
"Hahahaha! Kalau kau takut, lebih baik kau menyerah saja Anak muda! Aku jamin kematianmu tidak akan menyakitkan." Senopati Mandala tertawa lantang penuh kemenangan.
"Bukankah Jaya kemarin bilang jika dia bisa membunuh Nyi Asih, berarti dia tidak perlu takut kepada kita, hahahaha!" sahut Patih Mahasura.
"Seberapa yakin kalian bisa menang dariku?" Arya menyeringai menunjukkan gigi-giginya. Kedua kakinya menapak tanah dengan kuat memasang kuda-kuda yang kokoh.
"Bajingan tengik ... Bunuh dia!" teriak Patih Mahasura memberi perintah.
Dikepung 40 orang bersenjata tajam tidak sedikitpun membuat Arya takut dan gentar. Bahkan dia menunggu serangan yang datang kepadanya dengan senyuman tersungging di bibir.
5 orang berpakaian hitam itu bergerak maju bersama-sama memberi serangan pembuka. Pedang tajam yang mereka gunakan berkelebatan terkena sinar Bulan yang menerobos lebatnya dedaunan.
Arya sigap menghindari satu serangan sambil memberi pukulan kuat untuk menjatuhkan pedang lawan yang terarah ke tubuhnya. Dalam sekali lompatan, tangannya meraih pedang yang terjatuh dan langsung memberi tebasan kuat ke arah kaki dua penyerangnya sekaligus hingga putus.
Teriakan kesakitan bagaikan lolongan serigala seketika terdengar bersahutan di heningnya malam. Dua penyerang tumbang hanya dalam satu serangan, ditambah dengan dua tubuh lainnya yang menyusul tergeletak di tanah tak berkepala setelah pemuda berambut merah itu bergerak cepat menebaskan pedang di tangannya ke leher mereka berdua.
Satu orang tersisa bergerak mundur beberapa langkah. Dia sadar jika menyerang sendirian sama artinya dengan menyerahkan kematian.
"Cepat sekali gerakannya," gumam Patih Mahasura. Dia tidak menyangka jika 4 anggota organisasi Iblis Kematian tewas dengan mudah hanya dalam dua gebrakan saja.
"Kalian semua, serang dia!" teriaknya.
Arya meraih kembali satu pedang yang tergeletak di sampingnya. Setelah itu dia mengambil posisi bersiap menyerang.
Dua langkah sebelum para penyerangnya sampai, kedua tangan Arya merentang dan berputar cepat seperti sebuah kipas angin memberi serangan dengan ujung pedang sebagai senjata.
Serangan yang tak disangka oleh para penyerang di bagian depan, tentunya menimbulkan korban yang tidak sedikit. Delapan anggota organisasi pembunuh bayaran yang terkenal di wilayah kerajaan Kanjuruhan tersebut tergorok lehernya oleh ujung pedang yang digunakan Arya. Mereka terkejut tapi tidak bisa berbuat apa dan hanya bisa menyerah pada nasib.
Tidak ada teriakan kesakitan keluar dari mut mereka, melainkan suara ngorok seperti sapi yang tergorok lehernya oleh golok tajam tukang jagal.
Kurang dari tiga puluh penyerang lainnya terkejut dan seketika berhenti melangkahkan kaki. Ada rasa takut yang mulai membanjiri pikiran mereka. Tidak sedikit pula tetesan peluh yang bergerak turun seperti aliran anak sungai menuju muara.
Arya menyeringai lebar. Tidak tampak ada rasa gundah setelah membunuh belasan orang dalam waktu singkat. Bagi anggota organisasi Iblis Kematian, Arya lebih menakutkan dari pada Iblis Kematian itu sendiri.
Senyum lebar yang ditunjukkan Arya membuat sukma mereka seperti sudah berada di ujung rambut dan hanya tinggal menunggu dicabut oleh Dewa Kematian. Memang bukan kali ini saja mereka merasa takut, tapi rasa takut yang kini mereka rasakan sangat berbeda dan jauh lebih menakutkan.
Mereka adalah pembunuh bayaran profesional dan terbiasa membunuh tanpa perasaan, tapi ketika dihadirkan pada situasi dimana buruan mereka yang ternyata lebih kejam, tak pelak keberanian mereka pun runtuh seketika.
Terlebih senyum yang ditunjukkan pemuda itu setelah membunuh dengan mudah, menandakan sebuah situasi yang tidak baik bagi mereka.
"Jika ingin selamat, pergi dari tempat ini atau kalian akan bernasib sseperti mereka!"
Suara Arya yang begitu mengintimidasi, berhasil membuat sebagian dari anggota organisasi pembunuh bayaran tersebut berlari ketakutan. Mereka tidak perduli dengan sumpah serapah yang keluar dari mulut Senopati Mandala dan juga Patih Mahasura. Saat ini yang ada dalam pikiran mereka hanya bagaimana caranya menyelamatkan nyawa satu-satunya yang bersemayam di tubuh.
Namun baru belasan meter mereka berlari, teriakan kematian menyayat hati terdengar bersahutan. Entah siapa yang sudah membunuh mereka, tapi belasan anggota organisasi Iblis Kematian yang hendak melarikan diri tiba-tiba saja tergeletak tidak bernyawa di tanah.
Posisi dilema sedang dihadapi anggota yang yang masih bertahan di tempat itu. Jika mereka maju menyerang pemuda tersebut, mereka yakin tidak akan selamat. Namun jika mereka melarikan diri, nasib yang sama juga akan mereka alami. Maju atau mundur, kematian adalah hasilnya.
Patih Mahasura dan Senopati Mandala menggeram gusar. Niat hati membunuh Arya dengan memanfaatkan jasa organisasi Iblis Kematian, nyatanya sejauh ini tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
"Cepat serang dia!" Senopati Mandala berteriak keras.
Namun anggota organisasi Iblis Kematian yang tersisa tidak bergeming dari tempatnya. Mereka belum bisa untuk menentukan apakah maju atau mundur, atau tetap diam di tempat.
"Cepat serang dia! Kalau tidak, maka aku yang akan membunuh kalian semua!" Kali ini Patih Mahasura yang berteriak memberi perintah.
Arya terkekeh pelan. Pemuda berambut kemerahan itu berjalan maju beberapa langkah. "Kenapa tidak kalian berdua saja yang maju melawanku? Bukannya kalian adalah Patih dan Senopati yang tentunya memiliki ilmu kanuragan mumpuni? Atau jangan-jangan jabatan yang kalian dapatkan saat ini adalah hasil rekayasa semata?" cibirnya.
Memang benar karakter Arya tidak berbeda jauh dengan Ranu yang suka menggunakan tekanan verbal untuk memancing emosi lawan.
Patih Mahasura semakin geram. Lelaki tua itu mencabut bilah pedang yang tergantung di pinggangnya. "Ayo kita lawan dia! Aku yakin kita bisa menang melawannya."
Berbeda keyakinan dirasakan Senopati Mandala. Melihat betapa mudahnya pemuda itu membunuh belasan anggota organisasi Iblis Kematian, dia sadar jika yang diucapkan Jaya mulai mendekati kebenaran. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin juga dia mundur dari rencana yang sudah dibuat dengan matang.
"Ada sedikit hal yang perlu kalian tahu, aku tidak berminat sedikitpun dengan jabatan yang kalian miliki. Jadi kalian sudah salah besar menilai ucapan Paman Jaya. Seumpama kalian berdua bertanya langsung kepadaku sebelum merencanakan ingin membunuhku, tentu kejadian malam ini tidak akan terjadi. Kalian terlalu takut kehilangan jabatan yang sudah ada dalam genggaman!"
Kedua pejabat penting kerajaan Kanjuruhan itu tersentak mendengar pengakuan Arya. Tapi keduanya tidak bisa mundur begitu saja setelah kedok mereka ketahuan. Rencana membunuh pemuda berambut kemerahan itu harus tetap dilakukan untuk menutupi kebusukan mereka berdua yang memiliki keinginan lebih besar, mengkudeta Raja Gajayana dan menguasai kerajaan Kanjuruhan.
Patih Mahasura bergerak maju menyerang terlebih dahulu, disusul Senopati Mandala di belakangnya. Kedua pejabat penting itu bergantian melakukan serangan dan berusaha membuka pertahanan Arya. Namun pemuda itu nyatanya terlalu tangguh bagi keduanya, dengan mudah dia menghindari serangan yang terarah ke tubuhnya.
"Jangan sekali-kali lengah menghadapiku!" Arya melompat tinggi, lalu melepaskan tebasan kuat menuju kepala Senopati Mandala yang sedikit kehilangan konsentrasinya.
"Mati kau!"