Hari harusnya menjadi hari bahagia tiba-tiba berubah menjadi hari duka. Pernikahan yang sudah berada di depan mata harus terkubur untuk selama-lamanya.
Tepat di hari pernikahannya Yudha mengalami sebuah kecelakaan dan tidak bisa terselamatkan. Namun, sebelum Yudha menghembuskan nafas terakhirnya dia berpesan kepada Huda, sang adik untuk menggantikan dirinya menikahi calon istrinya.
Huda yang terkenal playboy tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan berat hati dia pun menyanggupi permintaan terakhir sang kakak. Mampukah Huda menjadi pengganti kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teh ijo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikahi Calon Ipar ~ 29
Mbak," panggil Huda memanggil perhatian Husna yang hendak merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ada apa, Hud?" balas Husna sambil menatap wanita itu dengan tajam ketika melihat Huda menyerahkan sebuah kantong plastik kepadanya dengan perasaan ragu.
"Tunggu sebentar," gumam Huda ragu-ragu. Dia tidak tahu bagaimana cara memberitahu Husna bahwa dia harus mengecek apakah benar dia hamil atau tidak.
"Ada apa lagi, Hud?" tanya Husna dalam kebingungan karena Huda terdiam. Namun, saat Husna melihat sebuah plastik apa yang ada di tangan Huda, keningnya langsung mengernyit. "Itu apa, Hud?"
Huda gelagapan dan langsung menyembunyikan plastik kecil itu di balik punggungnya tetapi Husna meminta Huda untuk memberikan plastik kecil yang diselipkan di balik badannya. Seketika Husna langsung mendelik saat melihat apa yang berada di dalam plastik itu.
"Astaghfirullahaladzim, Huda! Ini apa?" Husna langsung mengeluarkan sebuah kotak alat tespek. "Kenapa kamu beli ini, Hud? Apakah kamu mau memulai bisnis ini?"
Huda hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. "Bukan, Mbak. Tapi tespek itu aku beli untuk mengetahui apakah saat ini mbak Husna hamil atau tidak," ujar Huda.
Husna kembali membolak-balik sebungkus tespek itu dan berkata dengan tajam, "Untuk apa kamu membeli tespek sebanyak ini! Satu atau dua sudah cukup, tidak perlu sepaket. Itu buang-buang uang!"
Namun, seketika Husna terdiam dengan tangan yang memegang bagian perutnya. Mencoba untuk mengingat kapan terakhir kalinya dia kedatangan tamu bulanan. Dan saat Husna mengingat ternyata tamu itu telah telah selama dua bulan, matanya langsung melotot kearah Huda.
"Hud, tau dari mana kamu kalau aku udah telat 2 minggu?" tanyanya pada Huda.
"Aku enggak tau, Mbak. Cuma aku tadi cerita tentang keanehan yang tengah menimpa Mbak Husna kepada anak-anak, sehingga mereka berpikir kalau saat ini mbak Husna sedang hamil. Tadi yang nyuruh beli alat itu Mail," ucap Huda dengan apa adanya.
"Hah?!" Lagi-lagi Husna melotot lebar kearah Huda lagi. "Ya ampun Huda, kenapa kamu harus cerita apa yang terjadi di rumah sama anak-anak, sih?! Kamu tuh buat aku malu, tau! Jangan-jangan kalau kita lagi itu kamu juga ceritain sama temen-temen kamu ya?!" tuduh Husna yang merasa tidak terima jika Huda menceritakan apa yang terjadi diantara keduanya.
Dengan cepat Huda langsung menggeleng. "Enggak kok, Mbak. Masa iya aku ceritain saat aku lagi push up, kan enggak lucu! Tadi tuh aku cerita karena heran aja sama sikap mbak Husna yang aneh. Apalagi saat mbak Husna minta dibeliin rujak. Seketika anak-anak beranggapan jika saat ini mbak Husna sedang hamil."
Husna hanya menghela napas panjang dan memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi untuk mengecek apakah benar jika saat ini dirinya sedang hamil.
"Mbak! Jangan ngambek lagi, dong!" teriak Huda yang mengira jika saat ini Husna sedang marah padanya.
Didalam kamar mandi Husna segera mengeluarkan satu alat tespek untuk membuktikan rasa penasarannya.
Aduh ... ini hamil benaran gak ya? Kok aku jadi deg-degan gini sih? Husna mencoba untuk menunggu dari hasil alat tespeknya. Dan saat dilihat, Husna melotot dengan lebar. Terlihat dua garis merah yang masih muncul di alat tespeknya.
"Ya ampun ... dua garis merah."
...Bersambung ...
segala sesuatu memang harus dibiasakan kok
kak author beneran nih ditamatin,,,,,,,
astagfiruloh
torrr ini beneran tamat