Nasib malang seakan terus mengikuti Ava Charolline sejak pernikahan sang Papa dengan Maria-Mama tirinya.
Ava selalu bersikap baik pada Mama tiri dan juga Kakak tirinya berharap jika kebencian dan juga penyiksaan keduanya akan berkurang padanya, tapi sepertinya hal itu hanya angan-angan belaka. Sejak sang Papa meninggal, Mama dan juga Kakak tirinya semakin mempersulit kehidupan Ava. Dan puncaknya ketika Ava dijual pada seorang lelaki hidup belang.
Dijual seharga 2 Milliar. Itu tak pernah Ava bayangkan sebelumnya!
Apakah Ava akan menjadi istri lelaki berusia 68 tahun?
Atau justru ada pangeran lain yang akan menggantikan situa bangka itu?
Simak kisah serunya serta follow IG.Khairin_junior dan juga ikuti akun Mangatoon saya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khairin Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pujian Ava Peluntur Emosi
Ansell membawa Ava menuju ke ruangan kamar mereka berdua, setelah sampai di dalam kamar. Ansell melepaskan tangan Ava begitu saja, kini leli itu sedang menatap ke arah Ava dengan mata elangnya kemudian mengikis jarang dengan Ava.
Ava yang merasa terancam dengan tatapan Tuan Ansell segera mengambil langkah mundur, sorot mata lelaki itu seakan seperti burung elang yang sedang mengepakkan sayapnya di udara ketika sedang mengamati mangsanya di daratan. Sial! Tubuh Ava terpojok ke dinding ruangan ini hingga membuatnya tak bisa berkuti lagi, Ava mencoba menggeser tubuhnya tetapi tangan Tuan Ansell segera menyentuh dinding seakan memerangkap Ava di dalam kedua tangannya.
“Tu-tuan kenapa Anda marah pada saya?” tanya Ava. Wanita ini lupa jika ia harus memanggil Tuan Ansell dengan sebutan sayang, rasa takut bercampur gugup membuat Ava lupa panggilan penting untuk sang suami.
Tuan Ansell mengetatkan rahangnya, hembusan nafas kasar lelaki itu menandakan jika lelaki tersebut merasa keberatan dengan apa yang Ava katakan barusan. Tuan Ansell menarik tangannya dari tembok di dekat Ava, mengarahkan tangan kekar itu ke rahang Ava tanpa menyakitinya.
“Kau lupa dengan panggilan itu Sayang.” Suara Tuan Ansell terdengar penuh penekanan seakan lelaki itu sedang menunjukkan jika ia sedang berusaha untuk menekan emosinya.
“Ma-maaf saya lupa. Sa-sayang,” ujar Ava tergagap.
Tuan Ansell mendekatkan wajahnya ke arah Ava, kemudian menjulurkan lidahnya pada leher jenjang dengan aroma manis itu, Ava seketika merasakan jika sekujur tubuhnya meremang dengan begitu sempurna saat lidah Tuan Ansell menyentuh lehernya yang begitu sensitif.
“Sayang, lain kali jangan pernah berbicara dengan Papa seperti itu, jangan pernah menangapi ataupun berjanji padanya, aku tidak suka,” bisik Tuan Ansell di dekat telinga Ava.
“Ba-baik,” jawab Ava. Ava sungguh tak bisa memikirkan apapun lagi ketika ia berada di jarak yang sedekat ini dengan Tuan Ansell, sikap suka perintah yang selalu mendominasi lelaki itu sungguh membuat Ava tak bisa berkutik dan hanya bisa menjawab apa yang ingin Tuan Ansell dengar. Wibawa seorang pemimpin sungguh terlihat nyata dari air muka suaminya, mengagumkan sekali.
Tuan Ansell melihat wajah Ava yang terus menatapnya sampai tak berkedip sedikitpun itu membuat Tuan Ansell merasa penasaran dengan apa yang wanita itu pikirkan tentangnya hingga tak berkedip seperti itu, hati Tuan Ansell mulai terusik dan ingin mengetahui apa yang ada di dalam pikiran sang istri.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Tuan Ansell pada Ava dengan tatapan penuh selidik.
"Ganteng," jawab Ava tanpa sadar.
Ava seketika membuka mulutnya ketika menyadari kata apa yang barusan lolos dari bibir laknatnya ini. Ava sungguh ingin memukul kepalanya sendiri karena sudah berbicara jujur seperti itu, Ava melihat ke arah salah satu alis Tuan Ansell yang terangkat ke atas menandakan jika lelaki itu terkejut dengan apa yang ia katakan barusan. Astaga! Ava ingin sekali memukul mulutnya sendiri yang mengeluarkan kata sejujur itu.
Emosi yang sempat menyelimuti hati Tuan Ansell langsung melebur menjadi partikel kecil dan lenyap bersama angin lewat ketika melihat cara Ava yang polos mengucapkan dirinya ‘ganteng’ semenjak mereka menikah ini untuk kali pertama Tuan Ansell mendengar Ava memujinya meskipun tanpa wanita itu sadari sendiri. Netra Tuan Ansell terus saja melihat ke arah Ava yang kini sedang menundukkan kepalanya, kedua pipi wanita itu perlahan tapi pasti mulai berubah memerah membuat Tuan Ansell merasa sangat gemas sekali.
“Cepat ganti baju dan ikut aku.” Setelah bicara Tuan Ansell segera melangkah meninggalkan Ava.
“Kita mau ke mana?” tanya Ava.
“Sekali lagi bertanya seperti itu, maka aku akan langsung melemparkan kamu ke atas ranjang dan bisa aku pastikan jika kau tak akan bisa bangun dari atas ranjang sampai dua hari!” ancam Tuan Ansell yang memang tidak suka jika melihat ada orang yang banyak bertanya.
Bisakah kalian semua bayangkan bagaimana ekspresi wajah Ava sekarang?