inilah kisah cinta perjalanan rumah tanggaku. yang awalnya begitu sangat indah dan sempurna di mataku kini berubah menjadi malapetaka. kehadiran mertuaku yang mendambakan sosok seorang cucu membuatku harus menerima cacian dan makian tiap harinya.
Hingga pada saat titik di mana mertuaku terus mendesak suamiku harus menikah lagi demi mendapatkan seorang keturunan. Hancur sudah hati yang selama ini aku jaga, hancur sudah rumah tangga yang di bangun kokoh dengan cinta karena kehadiran seorang wanita yang akan menjadi istri dari suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Halisah dan juga Sukma serentak berdiri dan langsung berjalan dengan cepat keluar menuju pagar saat mendengar dari seseorang bahwa di luar sana mantan ibu mertua Maharani tengah terbaring pingsan.
"Ayo di bawah masuk ke dalam." Kata Halisah saat Agam saat ingin sedang memangku kepala sang ibu. Halisah tidak memperdulikan siapa atau kenapa. Jiwa kemanusianya memang sangat luar biasa. Ia melupakan semua kekecewaannya dan memilih untuk berbelas kasih pada Ramayani yang saat ini sedang terjatuh pingsan. Agam langsung menggendong tubuh sang ibu dan membawanya masuk ke dalam saat mendengar perkataan mantan ibu mertuanya. Sedangkan di dalam sana, Bastian yang juga penasaran dengan apa yang terjadi dan kenapa kedua orang tuanya serentak berjalan cepat keluar, langsung berdiri dari duduknya. Bastian kaget saat melihat Agam yang kini masuk ke dalam rumah sambil menggendong ibunya, dan di susul oleh Halisah dan juga Sukma.
Seperti tahu apa yang ada di dalam pikiran sang anak. Sukma langsung menghampiri Bastian. "Dia pingsan. Dan andai ibu jadi mertuamu, pasti ibu pun akan membiarkan dia masuk." Kata Sukma memberikan pengertian pada Bastian. Bukannya marah, Bastian justru tetsenyum. Ia tidak menyangkah jika sang ibu mertua memiliki hati yang begitu mulia. Itulah yang mungkin di wariskan pada Maharani sang istri, yang saat ini sedang masih di dalam kamar.
Agam meletakkan tubuh ibunya secara perlahan di tempat tidur Halisah. Lalu dengan segerah Halisah memberikan aroma terapi di oleskan pada kepala dan juga di sedikit bagian hidung agar Ramayani bisa menghirup aroma terapi.
"Agam, tolong lihat ibumu. Aku ingin menjemput Maharani dulu." Kata Halisah lalu keluar dari kamar dan pergi menjemput Maharani yang saat ini sedang berada di dalam kamar. Maharani berjalan dengan begitu sangat anggunnya menuju tempat di mana Bastian saat ini menunggunya. Lelaki yang sudah sah telah menjadi suaminya beberapa menit yang lalu. Bastian tersenyum menatap wajah sang istri yang begitu sangat cantik di balut dengan gaun kebaya hijau dan rok batik yang bermotif dengan warna senada. Saat Maharani telah sampai tepat di hadapan Bastian, keduanya saling pandang. Kini keduanya telah resmi menjadi sepasang istri dan suami secara hukum dan agama.
•••
Halisah kembali ke dalam kamar, dan mendapati jika saat ini Ramayani telah sadar dari pingsannya.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Halisah sambil membawa semangkuk bubur dan juga air hangat.
Bukannya menjawab, Ramayani justru langsung menangis. Ia tak kuasa menahan air matanya kala mengingat perilakunya. Mungkin jika dia yang berada di posisi Halisah, ia tidak akan mungkin mau memafkan dan juga membawanya masuk ke dalam rumah sampai membaringkannya di kamar apalagi mengingat jika ini adalah hari bahagia sang putri. "Kau harus makan bubur ini. Biar keadaanmu bisa membaik." Kata Halisah sambil duduk di tepi tempat tidur dan meletakkan nampan di atas brangkar lalu mengambil semangkuk bubur.
"Maaf." Satu kata yang berhasil terlontar dari bibir Ramayani. Agam yang berada di sana hanya bisa diam. Halisah tersenyum seraya menggenggam tangan Ramayani.
"Sudah terjadi, tak perlu di sesali. Karena semua tidak akan kembali ke semula hanya karena penyesalan." Kata Halisah. "Makanlah."
Di luar sana. Satu persatu tamu telah pulang, dan kini Maharani menyadari jika dirinya sejak tadi tidak melihat sang ibu.
"Mencari ibu?" Tanya Bastian yang seakan tahu isi pikiran Maharani. Maharani menganggukkan kepalanya.
"Ibu ada di kamar."
"Di kamar? Apa ibu sakit?"
"Tidak, tapi.." Bastian diam sejenak mengatur nafasnya. "Agam dan juga ibunya ada di dalam kamar ibu." Jelas Agam yang membuat Maharani seketika kaget.
Kenapa bisa Agam bisa berada di rumah ini bersama dengan ibunya? Dan jam berapa meraka ada di rumah ini? Lalu, apa mereka sudah tahu jika Maharani telah menikah? Semua pertanyaan muncul di dalam pikiran Maharani. Maharani bingung.
Bastian menggenggam tangan Maharani. "Mau melihat keadaan ibunya Agam?" Tanya Bastian, dan Maharani langsung menggelengkan kepalanya.
Tentu Maharani tidak ingin bertemu dengan Agam. Maharani kini telah menikah dan juga ia tidak ingin melukai hati suaminya dengan harus bertemu secara langsung dengan mantan suami dan juga mantan ibu mertuanya. Terlalu sangat baik Bastian pada Maharani selama ini, itulah sebabnya Maharani tidak ingin membuat seorang Bastian menyesal telah memilihnya.
"Baiklah, jika tidak mau. Bagaimana jika kita beristirahat saja. Aku yakin pasti kau sangat lelah." Ajak Bastian sambil menggenggam tangan Maharani dan berjalan masuk bersama ke dalam kamar.
aduh...
tolong perbaiki lagi dan cari info lagi jangan asal nulis GK tau hukum bisa juga ntar orang pada meniru saat hamil di nikahi
kecuali author GK usah pakai ijab Kabul
mungkin beda tanggapan ku