"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Membeli Beras'
Sore yang kian merayap jingga membuat suasana pasar perlahan melandai. Dinda menatap lekat kantong kain lecek yang kini berada di genggaman tangannya. Di dalam kantong itu, tersimpan sekitar 50 kepeng tembaga hasil jerih payahnya, yang jika dikonversikan setara dengan nilai 3 kepeng perak di wilayah ini.
Sebuah senyuman lebar berkembang di bibir manis Dinda, pemandangan yang tanpa sadar membuat kurva senyum tipis terukir di wajah kaku Wira.
"Kanda, aku mau membelikan Si Mbok beras," kata Dinda mendongak, menatap Wira penuh harap.
Wira seketika mengernyitkan dahinya dalam-dalam. "Beras? Lebih baik tidak usah, Dinda... Beras itu harganya terlampau tinggi, biasanya hanya menjadi makanan pokok untuk para saudagar dan pedagang kaya yang singgah," ucap Wira mencoba memberi pengertian.
"Tapi, Kanda..." Kalimat Dinda terhenti saat melihat gurat bersalah di wajah pria tegap itu.
"Maafkan aku, Dinda... Bukan maksudku hendak melarang-larang keinginanmu," ucap Wira lembut. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Dinda dengan sayang. "Aku tahu, kau pasti merasa tidak nyaman dengan kehidupan di rumah panggungku. Makanan kita sehari-hari seadanya... Tapi percayalah padaku, aku akan berusaha lebih keras lagi. Jika kau memang ingin sekali makan dengan sekul (nasi), simpanlah uang hasil daganganmu itu. Aku masih mempunyai sedikit simpanan tael tembaga untuk membeli beberapa genggam beras."
Dinda menatap manik mata elang Wira dengan pelupuk mata yang mendadak berkaca-kaca. Jantungnya berdesir hangat mendengar ketulusan pria purba di depannya ini.
"Jangan, Kanda...! Simpan saja uang tabunganmu itu. Pakai saja uang hasil jualan sabun ini, lagipula lusa nanti kan kita mau berjualan di sini lagi," cegah Dinda, tidak tega, membiarkan Wira kesusahan sendirian.
"Tidak apa-apa! Besok aku akan berusaha lebih keras lagi untuk berburu ke dalam hutan. Kalau aku berhasil mendapatkan babi hutan yang besar, dagingnya akan kujual ke pasa' ini untuk menambah simpanan kita," ucap Wira menenangkan dengan nada suara yang begitu mengayomi.
Dinda akhirnya mengalah agar tidak menyinggung harga diri prianya. "Kalau begitu, aku mau membelikan Si Mbok sayuran saja, ya? Biar Si Mbok senang melihat kita pulang membawa lauk baru."
Wira mengangguk menyetujui. Langkah kaki keduanya lantas bergerak bersama menuju area lapak penjual beras yang berada di sisi dalam pasar.
"Kisanak, berapa harga untuk satu cangkok beras hari ini?" tanya Wira pelan pada si penjual.
"Satu cangkok harganya 10 kepeng tembaga untuk beras yang agak hancur, Anak Muda. Kalau mau yang bulirnya utuh dan bersih, satu cangkoknya 15 kepeng tembaga," jawab si penjual beras sembari merapikan karung gushinya.
Wira terdiam sesaat, menimbang-nimbang isi pundi-pundinya. Dari sudut matanya, ia melihat Dinda yang tengah berdiri agak jauh di depan lapak seberang, tersenyum riang memilih-milih sayuran bersama anak penjual sayur.
Baiklah. Akan kukuras habis tabunganku hari ini demi wanitaku, batin Wira memantapkan tekad.
"Tolong berikan beras yang utuh sebanyak dua cangkok, dan yang hancur satu cangkok saja," ucap Wira menyerahkan sejumlah keping tembaga miliknya sendiri. Si penjual mengangguk cepat, lantas dengan cekatan menyiapkan pesanan beras tersebut.
Sementara itu di lapak seberang, seorang gadis muda bernama Ruhi—anak dari Mbok Tiem sang penjual sayur—menatap Dinda dengan raut penasaran sekaligus kecewa.
"Saudari, tadi aku melihat benda wangi berbusa yang kau jual di depan sana... Apakah kiranya masih ada sisa satu buah untukku?" tanya Ruhi ragu-ragu.
Dinda tersenyum tipis, merasa agak sungkan. "Aduh, maaf sekali, Mbak Ruhi... Semua sabun mandi wanginya sudah habis terjual tanpa sisa."
"Yah, sayang sekali... Padahal baunya harum sekali sampai ke lapak ibuku. Benar-benar barang yang bagus," ucap Ruhi dengan wajah murung yang bersedih.
Dinda buru-buru menyahut untuk menenangkan gadis itu. "Tapi kalau Mbak Ruhi mau, tiga hari lagi saya akan kembali ke sini untuk menjual barang itu lagi."
"Ah, benarkah? Kalau begitu, aku titip pesan dua buah ya, Saudari! Tolong amankan untukku," ucap Ruhi seketika berubah gembira, yang langsung disambut anggukan ramah penuh komitmen oleh Dinda.
Setelah selesai bertransaksi dengan Ruhi, Dinda membawa belanjaannya. Sebenarnya, bukan sayuran hijau biasa yang Dinda beli. Wanita kota itu sama sekali tidak tahu apa nama ilmiah atau sebutan lokal untuk tumbuhan yang dipegangnya ini—hanya saja, ia pernah melihat bentuk daun dan tekstur ini di dunianya dulu. Selain daun hijau itu, Dinda juga membeli tewel (nangka muda) untuk disayur gurih oleh Mbok Ginem nanti.
Dinda melangkah mendekati Wira yang baru saja menerima bungkusan kain berisi beras dari si penjual.
"Sudah selesai belanjanya,?" tanya Wira.
Dinda mengangguk seraya memeluk bakul kecilnya. Ia melirik ke arah langit yang kian menggelap. "Kanda, hari sudah agak gelap sekarang. Apakah akan sempat dan aman jika kita memaksakan pulang ke rumah pohon sekarang?" tanya Dinda agak cemas.
Wira menatap langit malam yang mulai memamerkan pekatnya, menimbang risiko di dalam kepala. "Apa kau berani jika kita harus berjalan membelah tengah hutan malam-malam begini, Dinda?"
"Aku tidak masalah kalau soal berjalan kaki, Kanda... Hanya saja, apa di dalam hutan nanti tidak akan ada serangan binatang buas?" tanya Dinda memastikan keamanan mereka.
"Tidak ada. Kawanan hewan buas biasanya berburu jauh dari jalur setapak yang sering dilalui manusia ini," ucap Wira menenangkan. "Hanya saja..." Wira menjeda kalimatnya, membuat debaran dada Dinda mendadak tak enak. "...biasanya di jam-jam seperti ini, suka ada bandit hutan yang berkeliaran mencari mangsa."
"Hah?! Bandit?! Perampok maksudmu, Kanda? Lalu bagaimana ini?" tanya Dinda panik, bayangan buruk langsung memenuhi kepalanya.
"Tidak apa-apa, jangan takut. Kita jalan saja sekarang... Aku akan melindungimu dengan seluruh nyawaku," ucap Wira rendah namun sarat akan penekanan yang mutlak, menenangkan badai kepanikan di dada Dinda.
Dinda akhirnya mengangguk pasrah, menaruh kepercayaan penuh pada kekuatan pria di sampingnya. Mereka pun mulai melangkah bersama meninggalkan gerbang pasar yang kian sepi.
Wira berjalan di posisi depan untuk membuka jalan. Tangan kanannya memegang erat sebatang obor bambu yang menyala berkobar, memecah kegelapan rimba, sementara tangan kirinya menggandeng erat jemari halus Dinda tanpa berniat melepaskannya sedikit pun. Di punggung tegap sang pemburu, tersampir keranjang anyaman berisi beras dan tewel yang baru saja mereka beli, bersiap menghadapi pekat dan misterinya malam di tengah hutan...
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍