NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: GONCANGAN DI BATAS EGO

Waktu bergerak membelah kesunyian malam yang panjang, merajut untaian takdir yang senyap dalam balutan ego manusia yang enggan saling mengalah. Sepulang dari perbincangan syahdu di tepi aliran sungai sore itu, Aini mendudukkan tubuhnya di kursi kayu meja kerja barunya di dalam kamar.

Pandangan netra teduhnya menatap kosong ke arah rak buku kayu ukiran jepara yang teramat indah pemberian dari Egi. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, wanita berusia 26 tahun dengan tinggi tubuh 155 sentimeter dan berat badan 50 kilogram itu dirongrong oleh rasa bersalah yang teramat besar pada ketulusan Egi. Logikanya tahu bahwa Egi adalah pria yang sangat baik, namun jiwanya menolak berbohong bahwa getaran benih cintanya masih sepenuhnya terjajah oleh bayangan Arka Mahesa Pratama.

Dengan gerakan tangan yang sedikit ragu dan bergetar, Aini akhirnya membuka layar ponselnya. Jemarinya bergerak perlahan membuka kolom pengaturan, lalu menghapus nomor WhatsApp milik sang presdir dari daftar pemblokiran. Dia melakukannya hanya untuk memastikan satu hal; melihat apakah pria angkuh bertubuh tegap 175 sentimeter itu mencarinya setelah satu bulan berpisah.

Namun, setelah layar obrolan kembali terbuka bersih, ruang obrolan itu tetap sepi senyap tanpa ada satu pun untaian pesan baru yang masuk. Aini menghela napas yang teramat berat, mengunci kembali ponselnya dengan senyuman yang sarat akan kepedihan batin. Dia tersadar sepenuhnya bahwa dirinya murni telah dilupakan oleh sang miliarder di ibu kota.

Drrtt... Drrtt...

Tiba-tiba, keheningan bilik kamar Aini robek oleh getaran panjang dari ponselnya. Jantung Aini seketika berdegup kencang tak karuan saat melihat sebuah nomor yang teramat dia kenal memanggil. Namun, itu bukan nomor milik Arka, melainkan panggilan suara dari Arga sang asisten pribadi. Aini menarik napas dalam, menekan tombol hijau sembari menempelkan ponsel di telinganya.

"Selamat sore, Nona Aini Lidya," ujar Arga dari seberang sambungan telepon dengan nada suara yang teramat formal, kaku, dan dingin sesuai perintah ketat dari atasannya.

"Mohon maaf jika saya mengganggu waktu istirahat Anda di kampung halaman. Saya hanya ingin menyampaikan laporan operasional terakhir bahwa seluruh urusan administrasi pencairan honor naskah film adaptasi Anda sudah selesai diproses seratus persen oleh divisi keuangan kami."

Setelah kalimat formal mengenai urusan kerja itu selesai diucapkan, Arga langsung terdiam membisu tanpa menambahkan sepatah kata pun mengenai kabar perkembangan Arka. Sesuai dengan titah mutlak dari Arka yang melarang keras asistennya membicarakan hal-hal melenceng di luar profesionalitas kerja, padahal alasan Arga menelpon adalah suruhan Arka, krena sang miliarder ingin mendengar suara wanita kampung yang ia rindukan itu.

Di seberang telepon, Aini sempat terdiam sejenak, membiarkan dadanya dihantam oleh rasa hampa yang mendadak terasa mengimpit ulu hatinya.

“Hanya urusan kerja... sama sekali tidak ada sepatah kata pun tentang pria itu,atau hanya sekedar menanyakan kabar ku" batin Aini dalam keheningan jiwanya, merasakan seluruh harapan kecil yang sempat tumbuh di dadanya kini telah resmi pupus menjadi serpihan debu yang tak berharga.

"Halo Nona Aini, apakah suara saya masih terdengar dengan jelas di sana?" tanya Arga memecah keheningan karena tidak kunjung mendapat jawaban. Di seberang sana Arka dan Arga saling tatap siap mendengar balasan telepon dari wanita itu yang panggilan di speaker.

Aini mengerjapkan matanya, menguasai kembali ketenangan suaranya agar tidak terdengar rapuh.

"Oh, iya. Terima kasih banyak atas informasinya, Asisten Arga," jawab Aini datar, lalu dengan cepat mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak. Rasa kecewa yang teramat pekat seketika menjalar hebat di dalam rongga benak Aini. Air mata asing hampir saja luruh membasahi kulit mulusnya. Semua hal di dalam garis hidupnya memang teramat jarang berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan.

Sementara itu, garis takdir bergerak membelah jarak menuju kemegahan gedung agensi pusat di ibu kota yang mulai diselimuti malam. Di dalam ruang kerja CEO yang luas, Arka Mahesa Pratama sedang duduk bersandar di kursi kebesaran di bawah temaram lampu ruangan yang redup. Pandangan sepasang mata elangnya yang tajam tampak menatap lurus ke arah lembaran kertas putih di atas meja kerja—sebuah berkas data diri lengkap milik Aini Lidya yang baru saja dia minta dari bagian administrasi.

" Bisa-bisa nya wanita itu langsung mematikan sambungan telepon, tanpa menanyakan kabar ku" Arka berguman sendiri dengan suara nyaris tak terdengar.

Saat jemarinya membalik baris halaman kedua, tubuh tegap berisi milik Arka seketika menegang kaku di tempat duduknya. Di bawah kolom status sipil, tertera sebuah tulisan resmi yang membuat rahang tegasnya mengeras sempurna menahan keterkejutan. Janda. Arka baru menyadari fakta mutlak sore itu bahwa wanita kampung bermulut pedas yang selama satu bulan ini telah berhasil merampok seluruh kedamaian pikirannya ternyata adalah seorang wanita yang pernah menikah sebelumnya. Getaran rasa tidak rela dan rindu yang tertahan berbaur menjadi satu di dalam dadanya, menyiksa batinnya sendiri akibat keangkuhan gengsi yang sengaja dia bangun.

"Bisa-bisanya hal sebesar ini aku tidak tahu" Arka membatin.

Di saat Arka sedang tenggelam dalam lamunan panjang memikirkan sosok Aini, daun pintu ruangan kerjanya mendadak terbuka tanpa suara.

"Kakak... kau sedang apa?" tanya Celine yang tiba-tiba melangkah masuk dengan gaun mewahnya yang megah, memecah kesunyian ruangan dengan suara nyaringnya.

Suara lembut itu seketika membuat Arka terkejut tersentak dari lamunannya. Pria berusia 35 tahun itu dengan cepat membalikkan lembaran kertas data diri Aini, lalu menatap Celine dengan sorot mata elang yang memancarkan amarah dingin yang teramat ketus.

"Kenapa kamu bisa masuk ke dalam ruangan saya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Celine?! Tindakanmu itu benar-benar teramat tidak sopan!" ketus Arka dengan suara beratnya yang mendikte penuh wibawa, membuang wajah mancungnya ke arah samping menahan kesal.

Celine mendengus pelan, melangkah mendekati meja kerja dengan gaya anggun yang dipaksakan.

 "Aku sudah mengetuk pintu kamar kerja ini sebanyak tiga kali, Kak. Hanya kakak saja yang sejak tadi melamun bengong sendirian sampai tidak mendengar suaraku. Memangnya apa sih yang sedang Kakak pikirkan?" selidik Celine penasaran.

Secara diam-diam, sepasang netra milik Celine bergerak lincah melirik ke arah sudut meja kerja, di mana selembar kertas data diri Aini sedikit menyembul dari balik map. Di sana tertulis jelas isi informasi mengenai data diri Aini—seorang gadis kampung dengan tinggi 155 sentimeter yang memiliki mulut sepedas cabai rawit, namun secara ajaib sanggup menarik perhatian penuh dari sepupu tampannya yang terkenal dingin laksana es batu.

Fakta itu seketika memercikkan api kebencian yang mendalam di dalam dada Celine. Gengsi tingginya bergejolak hebat, menolak kalah saing dari seorang janda kampung. Celine merasa di dalam hatinya bahwa dari segi takhta kekayaan, kemewahan pakaian, serta kecantikan fisik, dirinya berada jauh lebih tinggi dan jauh lebih sempurna dibandingkan dengan sosok Aini Lidya.

Namun, di balik keangkuhan tatapan mata Celine, Arka hanya terdiam membisu dengan rahang yang kian mengeras, mengunci rapat pintu pikirannya dalam keheningan batin yang menyiksa, menutup malam yang dingin itu dengan teka-teki cinta yang kian membara di balik runtuhnya dinding ego sang penguasa.

Sebab, bagian paling menyakitkan dari sebuah keangkuhan gengsi adalah saat kamu terpaksa tersadar bahwa seseorang yang kamu anggap biasa, justru memiliki kekuatan batin yang teramat dahsyat untuk menjajah seluruh ruang pikiranmu; membuktikan bahwa kemandirian jiwa seorang wanita tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh kilau kemewahan harta manusia yang tidak pernah tulus memuliakan arti sebuah ketulusan rasa.

 

1
falea sezi
arka arka gengsi di gedein 🤣🤣 di rebut pria lain lu merasa tersakiti😒 anehh bgt luu wahai pak ceo🤣
falea sezi
aini jangan gampang baper donk😒 jual mahal lahh
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!