NovelToon NovelToon
Jika Takemichi Dan Izana Menjadi Perempuan

Jika Takemichi Dan Izana Menjadi Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Tokyo Revengers / Tamat
Popularitas:46.9k
Nilai: 5
Nama Author: sit nur Aisyah

bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.

"wanita cantik" takemichi

"apa kau lihat lihat!?" izana

"garang sekali" takemichi

"kau sekarang sama denganku" izana

"hah?" takemichi nge-lag

"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hogwarts

Siapa mereka? Apakah tempat ini berbahaya?

.

.

.

.

"Waaaw, siapakah kalian?"

Suara itu membuat Takemichi dan Izana menoleh bersamaan.

Tak jauh dari mereka berdiri dua anak laki-laki yang tampaknya masih sangat muda.

"Sst, diam, Malfoy!"

"Bagaimana bisa kau keluar dari persembunyian?"

ucap seorang anak berambut hitam berantakan yang memakai kacamata bundar kuno.

Dilihat dari sudut mana pun, keduanya masih terlihat sangat kecil dan menggemaskan.

"Kalian terlihat seperti malaikat."

ucap anak berambut pirang platinum itu tanpa ragu.

Takemichi langsung terkesiap.

Refleks, ia menyembunyikan sayapnya.

Izana melakukan hal yang sama, namun tatapannya langsung berubah waspada.

"Siapa kalian?"

"Dan bagaimana bisa ada anak-anak di tempat seperti ini?"

tanya Izana tajam.

"Kami?"

"Tentu saja kami penyihir."

jawab si pirang dengan santai.

"Kami sedang menjalani detensi."

"Lalu kami melihat kalian bermain di sini dan tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian."

Ia menatap keduanya dengan rasa penasaran yang begitu jelas.

"Sebenarnya... makhluk apakah kalian?"

Takemichi langsung tersenyum kaku.

"K-kalian pasti salah lihat."

"Mana mungkin manusia seperti kami punya sayap?"

"Haha... adik-adik ini lucu sekali."

Namun kedua anak itu tidak terlihat percaya.

"Aku juga melihatnya."

ucap anak berkacamata.

"Bagaimana mungkin kami salah lihat?"

"Kalau kalian takut identitas kalian diketahui, kami tidak akan memberi tahu siapa pun."

Izana tetap tidak mengendurkan kewaspadaannya.

"Tidak."

"Kami tidak percaya pada kalian."

Nada suaranya tegas.

Kedua bocah itu langsung menelan ludah.

"Kenapa?"

"Apa salah kami?"

tanya anak berkacamata bingung.

"Aku tahu para penyihir bisa membaca pikiran."

"Itu membuat kami berada dalam bahaya."

jawab Izana.

Takemichi ikut terkejut mendengarnya.

"L-lalu apa yang harus kami lakukan?"

"Kami benar-benar tidak bermaksud buruk."

ucap si pirang buru-buru.

"Izana..."

Takemichi menatapnya dengan khawatir.

Namun Izana hanya menghela napas.

"Baiklah."

"Kalau begitu aku akan melindungi pikiran kalian."

"Agar tidak bisa dibaca sembarang orang."

Bahkan kedua anak itu tampak terkejut.

"Hah?"

"Sungguh?"

Izana mengangkat tangannya.

Beberapa simbol bercahaya muncul di udara.

Rune-rune asing berputar perlahan di atas kepala kedua bocah itu.

Mereka berdua hanya bisa menatap takjub.

Beberapa saat kemudian cahaya itu menghilang.

"Nah."

"Sekarang pikiran kalian tidak bisa dibaca sembarang orang."

ucap Izana.

Kedua anak itu langsung tersenyum senang.

"Ayo pergi, Takemichi."

"Kita harus mencari tempat menginap."

Takemichi mengangguk.

Ia melambaikan tangannya kepada kedua anak itu.

Namun tiba-tiba—

"Tunggu, nona-nona."

Suara berat yang dingin terdengar dari belakang.

Semua orang langsung menoleh.

Takemichi dan Izana sedikit terkejut.

Seseorang muncul begitu saja di belakang mereka.

Jubah hitam panjangnya berkibar tertiup angin malam.

"Profesor!"

ucap anak berkacamata terkejut.

Anak pirang di sampingnya pun langsung membeku.

"Sedang apa kalian di sini?"

tanya pria itu.

"Dan kenapa kalian berbicara dengan orang asing?"

Nada suaranya begitu tajam dan mengintimidasi.

Bahkan Takemichi yang dikenal sebagai "tank Toman" langsung bersembunyi di belakang Izana.

"K-kami tadi..."

Anak berkacamata itu langsung kehilangan keberanian ketika ditatap tajam oleh pria tersebut.

"Mr. Potter."

"Mr. Malfoy."

"Detensi kalian sudah selesai."

"Kembali sekarang."

"Baik, Profesor."

jawab keduanya serempak.

"Ayo, Potter."

ajak Draco sambil menarik temannya pergi.

"Tunggu!"

panggil Takemichi.

"Kalian siapa?"

Kedua bocah itu menoleh.

"Aku Harry Potter."

jawab si anak berkacamata.

"Draco Malfoy."

ucap si pirang dengan senyum khasnya.

Setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan tempat tersebut.

Kini hanya tersisa Takemichi, Izana, dan pria berjubah hitam itu.

"Kalau begitu..."

Takemichi menatapnya tanpa rasa takut.

"Siapa Anda?"

Pria itu membalas tatapannya.

"Perkenalkan."

"Saya profesor di Hogwarts."

"Profesor Ramuan."

"Nama saya Severus Snape."

Tatapan hitamnya beralih kepada mereka berdua.

"Dan saya ingin tahu apa yang dilakukan dua gadis muda di Hutan Hogwarts pada malam hari."

"Tempat ini berbahaya."

Nada curiganya sangat jelas.

Izana tersenyum sopan.

"Maaf atas kelancangan kami."

"Kami hanya sedang bermain dan tidak sengaja sampai ke sini."

Severus langsung menyipitkan mata.

"Bermain?"

"Dan berakhir di Hutan Hogwarts?"

"Nona, bisakah kalian tidak berbohong?"

Jubahnya kembali berkibar tertiup angin malam.

Namun Takemichi buru-buru menggeleng.

"Tapi kami benar-benar berkata jujur, Sir."

"Apa ada yang salah?"

Severus menghela napas.

"Yang salah adalah kalian berada di sini."

"Bagaimana jika kalian bertemu Death Eater?"

Takemichi langsung berkedip bingung.

"Death Eater?"

"Itu apa?"

Kini justru Severus yang terlihat curiga.

Ia memperhatikan mereka berdua dengan seksama.

"Sepertinya kalian bukan penduduk London."

"Dari mana asal kalian?"

Takemichi tersenyum kikuk.

"Eum..."

"Kami dari Jepang."

"Jepang?"

Severus semakin heran.

"Lalu bagaimana kalian bisa sampai ke sini?"

"Apakah kalian berasal dari desa Muggle atau kota Muggle?"

"Muggle?"

Takemichi kembali terlihat bingung.

"Apa itu lagi?"

"Kami memang bukan dari dunia sihir."

"Tapi kami bisa menggunakan sihir."

Izana hanya berdiri diam sambil mendengarkan.

"Itu istilah untuk orang yang tidak memiliki sihir."

jelas Severus.

"Oh begitu."

Takemichi mengangguk cepat.

"Kalau begitu bagaimana sekolah sihir?"

"Apakah menyenangkan?"

Mata safirnya langsung berbinar.

Severus hanya menatap datar.

Pertanyaan itu menurutnya sama sekali tidak penting.

"Berapa umur kalian?"

tanyanya.

Takemichi langsung menoleh kepada Izana.

"Izanami, bukankah umurmu lima belas tahun?"

Takemichi sengaja menggunakan nama samaran.

Ia tidak ingin identitas mereka diketahui.

"Michiko."

"Kita masih empat belas tahun."

"Kau bahkan lupa ulang tahunmu beberapa minggu lalu."

ucap Izana sambil mengelus rambut Takemichi.

"Jadi kalian belum pernah masuk sekolah sihir?"

Severus terlihat semakin heran.

"Kenapa kementerian sihir Jepang membiarkan anak-anak seperti kalian?"

Izana tertawa kecil.

"Kami?"

"Kami hanya berandalan."

"Kami tidak punya kehidupan yang istimewa."

"Kami tinggal di apartemen biasa bersama teman-teman kami."

"Meskipun aku punya keluarga, itu hanya keluarga tiri."

"Bisa sekolah saja sudah cukup."

Takemichi langsung menatap Izana.

"Iza punya Michi."

"Apa Iza tidak menganggap Michi keluarga?"

Izana tersenyum lembut.

"Kau berbeda."

"Kau akan selalu menjadi bagian penting dalam hidupku."

"Jadi tenang saja."

"Aku akan melindungimu."

Takemichi langsung tersenyum lebar.

Melihat interaksi keduanya, Severus hanya terdiam beberapa saat.

"Jadi..."

"Kalian saat ini bepergian sendirian?"

"Kalian mau pergi ke mana?"

tanyanya.

"Sebenarnya kami ingin berpetualang."

jawab Takemichi jujur.

"Kami hanya beristirahat di sekitar sini dan tidak sengaja bertemu Harry dan Draco."

Severus memijat pelipisnya.

Entah kenapa ia merasa kedua anak ini terlalu polos untuk berkeliaran sendirian.

"Kalau begitu..."

"Kalian bisa bersekolah di Hogwarts."

"Kecuali kalian punya alasan untuk segera pulang ke rumah."

Izana menatapnya.

"Aku punya rumah di Jepang."

"Tapi untuk sementara tidak masalah."

Severus mengangguk pelan.

"Kalau begitu ikut aku."

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berjalan memimpin jalan.

.

.

.

Kantor Kepala Sekolah Hogwarts.

"Jadi ada apa kau menemuiku, Severus?"

tanya seorang pria tua berambut putih panjang.

Mata birunya berbinar penuh rasa ingin tahu.

Takemichi dan Izana saling menatap sebelum melihat ke arah pria itu.

"Aku menemukan dua anak penyihir yang tidak terdaftar di kementerian sihir Jepang."

ucap Severus.

"Mereka bahkan tidak pernah bersekolah di dunia sihir."

Dumbledore langsung menatap keduanya dengan penuh minat.

"Begitu ya?"

"Kalau boleh tahu, berapa usia kalian?"

"Empat belas tahun."

jawab Izana datar.

"Ah."

Dumbledore tersenyum.

"Perkenalkan."

"Saya Albus Dumbledore."

"Kepala Sekolah Hogwarts."

"Apakah kalian pernah belajar menggunakan tongkat sihir?"

Kedua gadis itu menggeleng bersamaan.

"Begitu rupanya."

"Berarti kalian memang terlambat masuk sekolah sihir."

Namun senyumnya justru semakin lebar.

"Baiklah, anak-anak."

"Aku akan membantu kalian membeli perlengkapan sekolah."

Dumbledore kemudian membuka sebuah buku besar tua.

Ia membolak-balik halamannya.

"Hmm..."

"Hmm..."

Beberapa saat kemudian matanya berbinar.

"Menarik."

"Nama kalian ternyata sudah terdaftar."

Takemichi dan Izana saling pandang.

"Selamat datang di Hogwarts."

ucap Dumbledore.

"Aikawa Izanami."

"Dan Hanaga Michiko."

Ia tersenyum hangat kepada mereka berdua.

Takemichi hanya bisa berkedip bingung.

Sementara Izana tetap memasang wajah datar seperti biasa.

"Apakah kami boleh pergi sekarang, Albus?"

tanya Severus.

"Tentu saja."

jawab Dumbledore sambil tersenyum ramah.

Dan begitulah, tanpa mereka sadari, petualangan baru mereka di dunia sihir Hogwarts resmi dimulai.

.

.

.

.

...-TO BE CONTINUED-...

1
Kirana Yola adiba
lanjut kak penasaran sama cerita selanjutnya
Kirana Yola adiba
aku penasaran kak lanjut kak
Kirana Yola adiba
lanjut kak penasaran aku dg cerita selanjutnya
makasih ya kak udah up banyak
shinobu
lanjut min ceritanya bagus
Kirana Yola adiba
penasaran aku dg cerita selanjutnya
shinobu
lanjut min ceritanya bagus min
shinobu
lanjut ke konten utama nya
Kirana Yola adiba
lanjut kak
Kirana Yola adiba
aduh penasaran aku lanjut kak semangat
Saada Sania
lanjut author
Kirana Yola adiba
lanjut kak
hore kakak up
Kirana Yola adiba: sama sama
total 4 replies
REN & HARUKA
baguss thorrr🤩
누르하이다🤭☺️
pantesan thor aku tungguin gak up up ternyata eh ternyata.....
누르하이다🤭☺️: gak papa thor tapi kalo ada rencana mau buat cs/novel baru kabari ya thor biar aku bisa basa
total 2 replies
Kirana Yola adiba
padahal cerita nya bagus dan menarik
AkuAulia loplop pecinta BxB: iya bener
total 3 replies
haruchiyo aya
Luar biasa
aza
Kecewa
aza
Buruk
Kirana Yola adiba
lanjut kak
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak
nea oktavia d
author lanjut
Shazarina Kamlun
di tunggu kelanjutaanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!