Mencintaimu,...
seumur hidupku...
Selamanya, setia menanti.
Walau di hati saja,
seluruh hidupku.
Selamanya, kau tetap milikku...
Cinta pada pandangan pertama, cinta pertama, dan dia juga yang pertama mencium bibir ini hingga membawaku pada perbuatan yang dilarang agama.
Tapi setelah itu, dia mencampakkanku. Lalu kembali lagi ketika ada pria lain yang mengaku begitu mencintaiku setulus hati.
Mana yang harus kupilih? Dirimu atau dirinya? Yang pertama? Ataukah berharap yang terakhir?
-Sheila Herfiza-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBAS 27
Ternyata, Zein meminta Sheila untuk menghubungi Anggara juga.
Dan kini mereka bertiga berada dalam satu ruangan di apartemen mewah milik Zeinul alias Gerald Alfaro. Mereka bertiga saling berpandangan.
"Sheila akan menikah denganku!" ujar Zein membuat Anggara menghela nafas panjang.
"Tapi Aku tidak akan ganggu hubungan kalian!" tambahnya lagi membuat kedua bola mata Sheila membulat.
"Benarkah?"
"Jika kalian memaksa restu dari Mama Susanti dan Papa Yus, rasanya tidak mungkin. Kalian akan sangat lama mendapatkan izin itu."
"Apa yang kau rencanakan Zein?" selidik Sheila ingin tahu.
"Dengarkan Aku, Sheila. Aku, hanya akan menikahimu hitungan jam saja. Setelah itu, talak cerai akan kuucapkan. Dan Aku akan kembali ke Brisbane Australia."
Sheila dan Anggara saling berpandangan.
"Setelah itu?" tanya Sheila.
"Tentu saja kau berstatus janda. Dan otomatis Keluargamu akan memberikan izin menikah untuk kalian jika kalian benar-benar saling cinta."
Sheila menatap Anggara penuh pengharapan.
"Aku akan berusaha mencari jalan agar keluarga Sheila memberikan kami restu dan menikahkan kami." Anggara dengan mantap mengatakan kalimat yang paling ditunggu Sheila.
Zein mengangguk, walau dalam hati sedih sekali karena ternyata Sheila telah melupakan kisah cintanya yang indah di masa lalu.
"Aku hanya ingin membuka jalan untuk kalian berdua bisa bersama." Imbuh Zein membuat Sheila mengangguk.
"Terima kasih, Zein!"
Sheila sadar sekali. Posisi mereka benar-benar dalam keadaan terjepit.
Sulit rasanya mengiba meminta restu kepada Keluarganya terutama Sang Mama.
Kisah hidup mereka di masa lalu dengan Mamanya Anggara cukup pelik dan memang agak rumit jika ditelaah lebih dalam.
Hubungan yang sangat buruk. Dan amat sulit untuk diajak kompromi.
Zein menawarkan bantuan, walaupun terkesan lebih beresiko lagi karena Ia seolah sedang bermain-main dengan nasib dan takdir.
Bagaimana mungkin menikah hanya dalam hitungan jam lalu ditalak cerai secepatnya.
Apa kata dunia, tapi... ini juga jalan yang terbaik untuk dirinya dan Anggara kedepannya bisa bersama.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Kita iyakan saja rencana mereka membuat pesta pernikahan. Biarkan dulu mereka mengurus semuanya agar tidak ada yang curiga."
"Lalu?"
"Kita buat sandiwara seolah Aku adalah pria yang memiliki kelainan jiwa dengan memukulimu di malam pertama. Dan, kuyakin pasti keluargamu akan bereaksi. Aku akan ceraikan kamu secepatnya dan kita ketuk palu tanpa ada yang melarang. Simpel bukan?"
Sheila menatap Zein.
Ide yang bagus. Dan Sheila seketika menyetujui rencana Zeinul Abidin Taher.
"Terima kasih banyak, sudah memberikan kami pengertian." Anggara mengucapkan kalimat itu dengan tulus.
"Jangan berterimakasih kepadaku. Ini hanyalah caraku meminta maaf kepada Sheila atas semua kesalahan di masa lalu."
Anggara menunduk. Ia tak ingin membicarakan masa lalu. Ada debaran cemburu yang timbul jika mengingat masa lalu Sheila yang pernah memiliki hubungan khusus dengan pria yang sekarang teramat baik ini.
Rencana kali ini bisa saja membuat Sheila kembali mendekat dengan Zein. Apalagi ada Devano diantara mereka. Dan Devano sempat ingin menjodohkan mereka kembali untuk hidup bersama.
Anggara minder. Ia hanyalah orang biasa. Jangankan harta, bahkan Mamanya sendiri hidup seperti benalu bagi keluarga Sheila.
Kini, hanya kepercayaan diri serta dukungan cinta yang tulus dan murni dari Sheila saja yang Ia punya. Selebihnya, tidak ada.
.............
Waktu berjalan terasa lamban.
Seperti yang diperkirakan Zeinul Abidin Taher, kedua orang tua mereka sudah bersiap untuk menikahkan dirinya dengan Sheila.
Persiapan fitting baju pengantin, pernak-pernik acara pernikahan, juga menunjuk wedding organizer yang sudah ternama untuk mengurus semua. Dengan uang semua lancar jaya.
Zein sendiri saat ini masih cuti dari pekerjaannya sebagai pilot komersil di perusahaan transportasi milik pribadi.
Setelah pesta pernikahan di gelar, dirinya akan kembali ke Brisbane. Melanjutkan pekerjaannya karena Ia memang menetap di sana.
Menurut rencana keluarga, Sheila akan diboyong serta sekalian bulan madu.
Tetapi Zein dan Sheila telah punya rencana lain. Mereka akan bermain drama di malam pertama setelah pesta pernikahan usai.
Hari ini Nirina mengajak Sheila dan Zein ke butik langganannya untuk fitting baju pengantin yang sudah dipesan Nirina beberapa hari yang lalu.
Semua bergerak cepat mempersiapkan perhelatan dua keluarga pengusaha tersebut. Sepertinya akan jadi pernikahan terakbar di tahun ini.
Zein dan Sheila hanya menuruti saja.
Nirina terlebih dahulu menjajal pakaian yang sudah dipesan.
Tinggal Sheila dan Zein menunggu di fitting room butik yang luas itu.
Zein, menggulung celana panjangnya hingga terlihat besi kaki palsu robotnya yang dipenuhi kawat. Membuat Sheila bergidik ngeri.
"Hehehe... Ngeri ya lihatnya?!" Zein seperti bisa membaca jalan fikiran Sheila.
"Ma_maaf!"
"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Hehehe..."
"Apa kamu tidak sedih melihat kondisimu seperti ini?" tanya Sheila dengan suara pelan penuh kehati-hatian. Takut Zein tersinggung.
"Diawal ya. Sangat sedih bahkan sampai pernah berfikir menyalahkan Tuhan. Tapi setelah banyaknya pelajaran hidup yang membukakan mata dan hati ini, Alhamdulillah... sekarang jauh lebih santai."
Sheila terpekur. Ia seperti merasakan apa yang Zein rasa. Kesedihan yang teramat dalam.
"Berapa lama kamu bisa fight, Zein? Dan bukankah saat itu, kondisi kejiwaan karena hilang ingatan juga bisa mempengaruhi kesehatan fisik serta psikologis?"
Zein mengambil dompetnya. Lalu memperlihatkan sesuatu.
Sebuah foto masa lalu.
"Lihat. Ini fotoku disaat dunia bagaikan runtuh. Kurus kering, batin banyak fikiran tapi bingung memikirkan apa lagi karena semua memori di kepala ini hilang semua berkas dokumennya. Bisa kamu bayangkan, bagaimana para dokter dan perawat mencoba mengobati tubuh serta hatiku. Hm. Itulah sebabnya, Papa Bernard dan Mama Nirina kuanggap seperti malaikat yang turun ke bumi menjadi penolong hidupku, Shei!"
Sheila tersekat kerongkongannya.
Tak berani membayangkan betapa Zein hidup dengan perasaan tersiksa bertahun-tahun lamanya.
"Tuhan Maha Baik ya?"
Sheila menoleh.
Terkejut dan terkesan pada pria yang dulu begitu dipujanya. Zein masih bisa bersyukur didalam kondisi yang memprihatinkan.
"Allah ambil satu kenikmatan, tapi tidak lupa memberikan kenikmatan yang lainnya. Benar-benar Maha Baik, bukan?"
Sheila kembali tertegun. Zein benar-benar berubah menjadi pribadi yang hebat dengan pemikiran yang luar biasa dalam menyikapi cobaan.
Sheila, tanpa sadar kagum kembali kepada Zein.
"Kamu dan Anggara, bertemu dimana? Maaf, aku kepo!"
"Kami teman sekelas di sekolah menengah atas di tahun terakhir setahun setelah aku melahirkan Devano. Dia, teman sebangku ku."
Zein menunduk.
"Dia pemuda yang baik. Dan sepertinya, hanya dia yang bisa mengerti Aku saat itu bahkan sampai saat ini pun."
Zein tak ingin menyela. Hanya mendengarkan cerita Sheila yang membuat hatinya berdenyut nyeri.
Dia mulai membanding-bandingkan dirinya yang tidak punya kesempatan memperlihatkan betapa dirinya pun mencintai Sheila dengan banyak sekali. Bahkan punya keinginan ingin segera melamar pujaan hatinya itu setelah Sheila tamat SMA. Rencana Zein bahkan sudah sampai jauh. Ia akan mencari pekerjaan yang bagus agar bisa membiayai kuliah Sheila setelah mereka menikah.
Impian masa muda yang terbuang sia-sia.
"Apa kamu..., tidak pernah mencoba berhubungan dengan perempuan lain?" tanya Sheila membuat Zein terkekeh.
"Siapa yang mau dengan pria cacat seperti ini? Hm... Sudah diberikan penghidupan oleh Yang Maha Kuasa pun, aku sudah bersyukur Alhamdulillah. Dan aku sadar diri, dengan kondisiku yang seperti ini."
Sheila mengusap tangan Zein. Mencoba memberi kekuatan.
"Jangan khawatir, Sheila. Aku sudah cukup kebal koq. Bahkan ada beberapa wanita di Melbourne sana, awalnya mengejarku begitu gigihnya. Setelah kuperlihatkan kakiku yang cacat ini, mereka perlahan menyingkir dan menghilang. Hehehe... Tak ada yang mau hidup dengan pria cacat ini!"
"Bukan, Zein! Tapi memang belum berjodoh. Dan Tuhan sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik pastinya untuk kamu."
"Aamiin... Terima kasih, sudah memberiku kata-kata penghiburan."
Sheila menggelengkan kepala. Senyuman tipis mengembang. Matanya merebak memendam rasa bersalah juga kesedihan. Tetapi semua sudah jadi takdir baginya juga bagi Zein.
"Mungkin ini adalah hukuman bagiku yang sudah meninggalkanmu, Sheila! Allah ingin Aku mengambil pelajaran hidup yang sangat berharga ini."
Sheila menggeleng lagi.
"Biarlah semua berlalu setelah waktu yang mengobati semua luka. Aku hanya ingin menatap masa depan, Zein! Aku hanya ingin bahagia. Hidup tenang dengan pasangan yang saling mencintai. Itu saja doaku pada Sang Maha Kuasa."
"Semoga kamu bahagia hidup bersama Anggara."
"Apa? Apa maksudnya, Ge? Shei? Kenapa semoga Sheila bahagia hidup bersama pria lain?"
Zein dan Sheila pucat pasi. Nirina yang tiba-tiba muncul tanpa mereka sadari mendengar obrolan keduanya dan langsung menimpali.
"Apa yang sedang kalian rencanakan?" desak Nirina membuatnya Zein tergagap.
"Tunggu! Jangan bilang kalau pernikahan ini hanya alat untuk menyatukan Sheila dengan putra selingkuhan Papanya! Benar begitu?"
BERSAMBUNG
next lgi...
buat nyicil.
salam dari novel terbaruku yg berjudul menuju bahagia
cinta 3 serangkai hadir kk...