Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Arga masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tertuju pada pintu ruang administrasi yang baru saja dilewati Calista.
Beberapa detik... Lalu beberapa detik lagi... Ia masih belum bergerak.
Dimas yang berdiri di sampingnya hanya memperhatikan dalam diam. Sampai akhirnya... "Pak."
"Hm?"
"Kita mau berdiri di sini sampai sore?"
Arga tersadar. Ia berdehem pelan. "Tidak." Arga menatap map kosong di tangannya. Kemudian berkata dengan nada datar, "Kita masuk."
Dimas mengangguk. "Baik."
Mereka pun berjalan menuju ruang administrasi.
Namun baru beberapa langkah...
Arga berhenti.
Dimas ikut berhenti. "Ada apa lagi, Pak?"
Arga melihat map kosong yang masih berada di tangannya. "Dokumennya."
"Iya?"
"Saya lupa." Arga menghela napas. "Dokumennya memang belum saya bawa."
Dimas menundukkan kepala.
Bahu laki-laki itu bergetar menahan tawa.
"Jadi... Bapak datang ke sini tanpa membawa dokumen yang mau diperiksa?"
Arga menatapnya tajam.
"Jangan banyak bicara."
"Baik, Pak."
Dimas kembali menahan senyum.
Arga akhirnya berjalan lagi. Kali ini lebih cepat. Namun di dalam hatinya... Ia tahu. Dimas benar. Tidak ada dokumen yang perlu diperiksa. Tidak ada laporan yang mendesak. Tidak ada rapat mendadak. Ia hanya ingin melihat Calista. Hanya itu. Setidaknya... itulah yang berusaha ia yakinkan kepada dirinya sendiri.
*
Di dalam ruang administrasi... Calista sudah kembali duduk di mejanya. Ia membuka sebuah berkas tebal. Satu per satu dokumen diperiksa. Tangannya sesekali mencatat sesuatu di kertas kecil yang berada di samping laptop. Wajahnya begitu serius. Dahi sedikit berkerut. Matanya bergerak mengikuti setiap angka yang tertera pada laporan. Ia bahkan tidak menyadari bahwa beberapa menit kemudian...
Pintu ruangan terbuka.
Beberapa karyawan langsung berdiri. "Selamat pagi, Pak."
Arga mengangguk. "Pagi."
Calista yang mendengar suara itu perlahan mengangkat kepala. Tatapannya bertemu dengan Arga. Lagi. Untuk kedua kalinya pagi itu.
Calista tersenyum sopan. "Pak Arga."
Arga membalas senyum itu. "Calista."
Hanya satu nama. Namun entah mengapa... Cara Arga mengucapkannya terdengar berbeda. Lebih lembut.
Calista kembali menundukkan kepala.
Sedangkan Arga berjalan menuju meja supervisor.
"Pak."
Supervisor langsung berdiri. "Iya, Pak Arga?"
"Saya ingin melihat perkembangan laporan administrasi."
Supervisor tampak sedikit bingung. "Yang bagian mana, Pak?"
Arga terdiam sesaat.
Dimas yang berdiri beberapa langkah di belakangnya langsung menundukkan wajah. Ia tahu, Arga tidak tahu bagian mana yang ingin diperiksa.
"Semua." Jawab Arga.
Supervisor mengangguk. "Baik, Pak."
Beberapa dokumen kemudian dikeluarkan.
Arga mulai melihat satu per satu. Namun... Entah mengapa ekor matanya kembali mencari seseorang.
Calista.
Perempuan itu masih sibuk bekerja. Ia tidak memperhatikan siapa pun. Tidak memperhatikan Arga. Tidak berusaha menarik perhatian. Justru sikap itulah yang membuat Arga semakin sering memperhatikannya.
Beberapa menit kemudian...
Supervisor menjelaskan laporan. "Untuk bagian ini, Pak, kami masih menunggu data dari divisi keuangan."
Arga mengangguk. "Baik."
"Sedangkan yang ini..." Penjelasan terus berjalan.
Namun sesekali... Tatapan Arga kembali melirik ke arah Calista.
Sekilas. Kemudian kembali kepada dokumen.
Dimas memperhatikan semuanya. Ia sampai hampir tersenyum.
"Kalau begini terus..." pikirnya. "Pak Arga bisa hafal posisi meja Bu Calista sebelum hafal isi laporan." Batin Dimas
*
Sementara itu... Calista sedang membaca sebuah dokumen. Tiba-tiba salah satu karyawan datang.
"Bu Calista."
"Iya?"
"Ini ada berkas yang perlu diperiksa."
Calista menerima dokumen tersebut. "Baik. Terima kasih."
Ia membuka berkas itu. Namun baru membaca halaman pertama... Sebuah suara terdengar dari arah belakang.
"Calista."
Calista langsung mengangkat kepala. "Iya, Pak?"
Arga berdiri beberapa langkah darinya. Di tangannya terdapat sebuah dokumen.
"Kamu punya waktu sebentar?"
Calista langsung berdiri. "Tentu, Pak."
Arga mengangguk. Ia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu yang sederhana. Namun begitu Calista berdiri di hadapannya... Pikirannya kembali kosong. Padahal tadi... Ia sudah menyiapkan kalimat. Bahkan sejak berjalan menuju lantai ini. Namun sekarang... Tidak ada satu pun yang terasa tepat.
Calista menunggu. "Pak?"
Arga berkedip. "Hm?"
"Ada yang ingin Bapak tanyakan?"
"Oh..."
Arga menatap dokumen di tangannya. "Saya ingin bertanya tentang sistem yang kamu presentasikan kemarin."
Calista langsung mengangguk. "Baik, Pak."
"Ada satu bagian yang menurut saya menarik."
"Bagian mana?"
Arga menunjuk sebuah halaman. "Ini." Tunjuk Arga asal.
Calista mendekat sedikit untuk melihat. Ia mulai menjelaskan. "Bagian itu saya buat supaya pencarian dokumen bisa lebih cepat."
Arga mendengarkan. Namun semakin lama... Perhatiannya bukan hanya tertuju kepada penjelasan Calista. Ia memperhatikan cara perempuan itu berbicara.
Sesekali Calista menggunakan tangannya untuk menunjuk bagian tertentu pada dokumen.
Dan setiap kali ia menemukan sesuatu yang perlu dijelaskan... Alisnya sedikit terangkat. Sangat kecil. Tetapi Arga memperhatikannya.
Tanpa sadar... Senyum tipis muncul di wajahnya.
Calista berhenti menjelaskan. Ia menatap Arga. "Pak?"
Arga tersadar. "Hm?"
"Apakah penjelasannya sudah cukup?"
Arga mengangguk. "Sudah."
Calista tersenyum kecil. "Alhamdulillah."
Arga kembali tersenyum. Kali ini... Lebih terlihat.
Namun begitu Calista menatap wajahnya... Arga langsung mengalihkan pandangan kepada dokumen.
Calista sedikit mengernyit. "Pak Arga..."
"Iya?"
"Bapak sedang tersenyum."
Arga terdiam.
Dimas yang berada tidak jauh dari sana langsung menahan napas.
Arga menatap Calista. Kemudian berdehem. "Memangnya tidak boleh?"
Calista buru-buru menggeleng. "Bukan begitu, Pak."
"Jadi?"
"Saya hanya..." Calista tampak malu. "Jarang melihat Bapak tersenyum."
Arga terdiam beberapa detik. Kemudian sudut bibirnya kembali terangkat. "Berarti sekarang sudah melihat."
Calista tidak mampu menjawab. Wajahnya perlahan memerah. Ia menundukkan kepala. "Iya, Pak."
Arga memandang wajah perempuan itu. Untuk sesaat... Ia lupa bahwa mereka sedang berada di tengah kantor. Lupa bahwa dirinya adalah CEO. Lupa bahwa beberapa karyawan masih berada di ruangan yang sama.
Yang ia tahu... Melihat Calista tersenyum malu seperti itu membuat dadanya terasa hangat.
*
Di sisi lain...
Ponsel Ratna bergetar. Satu pesan masuk.
Ratna yang sedang duduk di ruang keluarga langsung mengambilnya. Ia berharap pesan dari Pak Adrian. Benar saja.Nomor itu muncul di layar.
Ratna segera membuka pesan tersebut. Namun senyumnya perlahan menghilang.
"Untuk proses pencairan dana, diperlukan biaya verifikasi tambahan sebesar Rp25.000.000."
Ratna membeku.
"Tambahan lagi...?"
Ia segera mencoba menelepon. Tidak tersambung. Sekali lagi. Tetap tidak tersambung.
Ratna mulai gelisah. Tangannya menggenggam ponsel semakin erat.
"Pak Adrian?"
Tidak ada jawaban.
Ia membuka aplikasi investasi.
Saldo masih tertera.
Rp360.000.000.
Namun... Tidak ada satu rupiah pun yang bisa ditarik.
Ratna menelan ludah. Untuk pertama kalinya... Sebuah rasa takut perlahan muncul.
"Jangan-jangan..." Ia buru-buru menggeleng. "Tidak mungkin."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Perusahaan sebesar itu tidak mungkin menipu."