Sebuah cerita tentang anak perempuan yang lahir di musim dingin
Menurutmu cerita seperti apa?
Anak perempuan yang melawan takdir?
Atau anak perempuan yang menjalankan takdirnya?
Tidak keduanya.
Melainkan ia yang sedang mencari takdirnya
Delphy Frostine Whittaker, Putri Mahkota yang tidak dapat dianggap sebagai keluarga kerajaan. Kelahirannya disembunyikan hingga ia harus menjadi pengawal pribadi saudara kembarnya sendiri yang menduduki takhta putri Mahkota.
Semua itu hanya karena penampilannya, warna matanya yang berbeda serta rambutnya yg seputih salju.
Takdir apa yang sebenarnya ia cari?
Karya ini merupakan seri pertama dari "Story of Season : Series"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazel Sassy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Langit tampak gelap, salju kembali turun. Delphy berdiri kembali di samping makam. Bukan makam sang ayah kali ini, namun seseorang yang telah setia melayaninya tanpa lelah sekalipun. Tertulis nama Lilian Silvaria pada batu nisan. Bunga lili diletakkan Delphy di atasnya.
"Kali ini kamu bisa beristirahat yang lama tanpa perlu mengkhawatirkanku. Istirahatlah dengan tenang, aku baik baik saja di sini." Suara Delphy terdengan tenang namun sedikit bergetar. "Mungkin aku tidak akan mengunjungimu untuk waktu yang cukup lama, maaf ya."
Insiden kebakaran itu menewaskan beberapa pekerja Istana, Lilian salah satunya. Wanita itu terjebak di Kamar Delphy hingga tertimpa reruntuhan bangunan yang terbakar. Jenazahnya ditemukan di sela sela reruntuhan bangunan dengan kondisi yang cukup mengerikan. Para korban dipulangkan ke keluarga mereka masing masing dan dimakamkan dengan layak.
"Aku benar benar sendirian ya sekarang?"
Delphy berjalan keluar dari pemakaman, ntah kemana ia akan melangkah pergi. Setelah pengusiran itu, Delphy benar benar pergi meski Colden berusaha keras menahannya hingga Colden sendiri rela ikut pergi bersama Delphy, menemani gadis itu.
Sayang, Colden tak bisa melepas tanggung jawabnya begitu saja sebagai Keluarga Kerajaan. Ia tak bisa bersikap egois dan meninggalkan rakyatnya.begitu saja demi satu orang yang diusir secara tidak hormat dari Kerajaan.
"Sudah?" Frost bertanya ketika Delphy melangkah keluar dari pemakaman yang dibalas anggukan pelan dari Delphy.
"Kemana ya?" Gumam Delphy cukup keras
"Apa kamu sungguh tidak penasaran dengan dirimu sendiri?"
Tak ada jawaban dari Delphy. Ia hanya berjalan tak tentu arah sambil termenung. Jika ayahnya masih ada, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Dulu, Crystal pernah tanpa sengaja menyinggung Delphy agar keluar dari Istana karena kesal pada Delphy yang terus menerus menjahilinya. Saat itulah ayah mereka akan memarahi Crystal dan memberikannnya hukuman.
Tak hanya itu, pernah satu kali Crystal benar benar diberi hukuman karena mengejek Delphy yang tak bisa diakui sebagai keluarga Kerajaan. Saat itulah Crystal diberi hukuman untuk membaca setumpuk buku terkait etika kerajaan selama sebulan penuh. "agar kamu tau apa yang pantas dan tidak pantas dijadikan bahan bercanda" ujar sang ayah.
Jika sudah seperti itu, Delphy akan menemui ayahnya dan membujuknya agar meringankan hukuman Crystal. Tentu saja itu juga karena Crystal yang merengek kepada Delphy agar membantunya membujuk ayahnya. Namun, di depan Crystal, Delphy akan bersikap seakan tak peduli.
"Tidak mau, aku sibuk latihan." Ujar Delphy dengan nada tidak peduli.
Setelah itu mata Crystal akan berkaca kaca hanya saja ia gengsi untuk menangis di depan saudari kembarnya yang akan mengubah raut wajah dinginnya itu menjadi mengejek. Crystal tak pernah suka dengan ejekan Delphy, apalagi raut wajah Delphy akan terlihat sangat menyebalkan baginya.
Meskipun begitu, Raja Whittaker juga tak pilih kasih dengan Delphy. Ia akan menghukum Delphy jika berbuat salah. Biasanya ketika ia bangun kesiangan atau menjahili Crystal dengan berlebihan. Biasanya Delphy akan diberi hukuman lari mengelilingi lapangan atau membersihkan kandang kuda. Jika sudah seperti itu Crystal akan gantian mengejeknya walau seringkali Delphy tak menghiraukan ejekan Crystal.
Tidak seperti Crystal yang akan marah jika diejek, Delphy hanya akan tetap diam sambil mengerjakan hukumannya sampai Crystal kesal sendiri dibuatnya.
Mengingat masa masa itu membuat Delphy menghela nafas panjang. Mulai sekarang tidak ada lagi ayahnya yang akan menengahi mereka dan Delphy hanya bisa sadar akan posisi dirinya sendiri yang tidak mempunyai kekuasaan apapun. Hanya janjinya kepada sang ayah untuk terus melindungi Whittaker yang membuatnya bertahan.
"Sebenarnnya apa yang dilakukan Erd hingga ia bisa membuat Whittaker mengalami musim panas yang lebih lama dari biasanya?" Tanya Delphy mereka sudah melintasi perbatasan Ibu Kota.
Frost menggeleng, "Aku kurang tau past, namun sepertinya ada kegelapan yang menyelimutinya."
"Aku tidak mengerti, jika Erd tau ia bisa mengendalikan musim kenapa aku tidak?"
"Karena sebuah kesalahan mungkin"
"Mungkin? Jawaban macam apa itu?" Delphy menghela nafas pelan. "Haruskah kita kembali ke Negeri Musim Dingin?"
Frost menggeleng, "Jika kamu ingin berdiam diri berada di zona aman kamu bisa kembali kesana. Tapi jika kamu ingin kembali lagi ke Kerajaanmu, jadilah lebih kuat. Rebut kembali kerajaanmu dan tunjukkan siapa dirimu sebenarnya."
Delphy mengerutkan alisnya, "Bukankah karena itu harusnya aku kembali ke Negeri Musim Dingin menmui Ailee dan meminta penjelasan kepadanya?"
"Ailee sudah memberitahumu semuanya. Saat ini tinggal bagaimana kamu bisa menemukan kembali kekuatanmu dan jati dirimu yang sebenarnya."
Hari sudah semakin gelap saat Delphy dan Frost tiba di sebuah desa kecil di dekat sungai. Suasana desa tersebut tampak tenang dengan beberap anak kecil yang masih bercanda tawa di sekitaran api unggun ditemani iringan gitar oleh seorang pemuda. Mereka tampak menikmati kehangatan di sekitar api unggun.
Frost menutup kepala Delphy dengan tudung dari jubahnya. "Tutupi rambutmu, jangan terlihat mencolok di sini." Ujar Frost sebelum ikut menutup kepalanya juga, "Setidaknya kita bisa menumpang malam ini, terlalu bahaya untuk melanjutkan perjalanan malam hari."
Delphy hanya mengangguk dan mengikuti Frost dalam diam. Mereka menghampiri api unggun di sana dengan hati hati.
"Permisi, apakah di sini ada penginapan?" Tanya Frost dengan ramah.
Petikan gitar terhenti, kegiatan mereka seakan terintrupsi melihat Frost dan Delphy menghampiri mereka.
"Kami tidak menyediakan penginapan di sini, namun jika kalian butuh tempat tinggal sementara kalian bisa menginap di rumah saya." Ujar pemuda yang tadi bermain gitar.
"Terima kasih banyak. Kami butuh tempat istirahat untuk malam ini saja sebelum kembali melakukan perjalanan besok."
"Kemarilah, ikuti saya." Ajak pemuda itu, "dan kalian kembalilah ke rumah masing masing, ini sudah cukup malam untuk tetap berada di luar rumah." Lanjutnya kepada anak anak yang masih melingkari api unggun.
Delphy dan Frost mengikuti pemuda itu. Sesekali Frost melemparkan pertanyaan perkenalan, sedangkan Delphy hanya terdiam sambil menunduk hingga mereka tiba di sebuah rumah kecil dengan perapian sederhana untuk menghangatkan diri di musim dingin.
Pemuda itu mempersilahkan Delphy dan Frost duduk di ruang tamu beralaskan tikar. "Tunggu di sini sebentar." Ucap pemuda itu.
"Beruntungnya kita menemukan tempat tinggal malam ini dan sepertinya ia terlihat ramah." Delphy yang sedari tadi hanya diam akhirnya berbicara.
"Minumlah ini dulu untuk menghangatkan tubuh kalian." Pemudai itu kembali dengan membawa dua cankgkir coklat panas. "Akhir akhir ini cuacanya sangat dingin, bahkan kami harus menyalakan perapian sepanjang hari."
Frost mengangguk setuju, "Benar, kami bahkan rasanya hampir mati membeku jika tak mendapat tempat tinggal malam ini." Candanya.
Mendengarnya membuat Delphy mengerutkan kening, karena ia dan Frost tak sekalipun merasa kedinginan selama perjalanan kemari. Sepertyinya hanya basa basi Pikir Delphy.
"Memangnya kalian ingin kemana? Akhir akhir ini terdengar rumor untuk tidak berpergian jauh selama musim dingin." Jelas pemuda gitar itu, "Oh iya perkenalkan aku Xavier."
"Aku Frost dan ia Delphy. Kami hanya sedang berkelana ke beberapa tempat." Jawab Frost.
"Kalau begitu berhati hatilah, banyak rumor beredar tentang perampokan dan penyihir akhir akhir ini>"
hebat thor
dep yg malang