Namanya Linda, umur 21 tahun, mahasiswi jurusan Ekonomi dari salah satu perguruan tinggi ternama di kota Semarang. Linda dan kelompoknya ditugaskan pihak kampus untuk menjalankan program KKN di sebuah desa yang terletak di daerah Bangetayu.
Di hari pertama Linda menjalankan tugas kesialan menghampiri. Linda tanpa sengaja merusak pembatas pagar desa yang baru saja ditanam warga. Untuk kali pertama Linda bertemu Yudhistira, seorang pemuda yang ternyata menjabat ketua RT setempat.
Pesona Yudhistira membuat hati Linda bergetar setiap kali melihatnya. Wajahnya yang tampan eksotik dan tutur kata yang lemah lembut tanpa meninggalkan kesopanan membuat Linda jatuh hati pada Yudhistira. Linda pun bertekad untuk mengejar cinta Yudhistira yang masih single.
Bagaimana kisah Linda untuk mendapatkan cinta mas RT? Ikuti keseruannya hanya di Mengejar Cinta Mas RT.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nath_e, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Linda yang Berani
Linda gelisah tak karuan, di dalam kamar ia tak hentinya memikirkan kehadiran Ratri, wanita cantik berhijab yang usianya mungkin hampir sama dengan Yudhistira. Ratri terlihat begitu akrab dengan Yudhistira, terbukti dengan mulai tersitanya perhatian mas Rt setelah kedatangan Ratri.
"Dia siapa sih? Sok akrab gitu, apa memang dia itu … pacar mas RT?" ucapnya sambil menatap langit-langit kamar.
Isna dan Widya masuk ke dalam kamar, mereka hendak pergi ke undangan pengajian Akbar di masjid setempat.
"Kak, kok belum ganti baju sih? Acaranya jam tujuh lho." Widya mengingatkan.
"Kak Linda lupa atau gimana nih kok dari tadi malah bengong aja ngeliatin atap." Isna menimpali.
"Hhmm, pengajian ya _," Linda menjawab gamang dan tatapannya masih tak berubah.
Isna dan Widya saling sikut memberi kode untuk menanyakan lebih jauh. Akhirnya keduanya pun mendekati Linda dan ikut menatap langit-langit layaknya yang dilakukan Linda.
"Hhm, kosong. Kirain ada wajah mas RT disana." kata Isna sengaja menyindir Linda.
"Sama, tiwas aku meh meluan ki lho ngintip mas RT." balas Widya, keduanya mengerjapkan mata saling memberi kode.
"Kalian gila apa gimana, mana mungkin wajah mas RT ada disana. Kalau iya ada, saya yang takut malah." sahut Linda santai, matanya masih menerawang jauh.
"Ya kirain ada mas RT disitu kan lumayan kita juga mau liat. Kak Linda suka kan sama mas RT, mau jadi calon istri lagi." Isna kembali memancing.
"Hhhm, tau deh. Mana mau mas RT sama saya yang oon gini bisa ilfeel dia tiap hari ngadepin saya. Kayaknya emang dia cocok sama cewek itu ketimbang saya."
Isna dan Widya kembali saling pandang, "Cewek mana kak? Mbak Ratri yang kemarin datang?" tanya Widya penasaran.
"Hhmm, siapa lagi? Cantik, pinter, pake hijab, perfect!" jawab Linda pelan tanpa semangat.
"Oooh, kak Linda cemburu ya sama mbak Ratri?" Isna kembali bertanya tapi Linda kali ini tak menjawab.
"Kak, belum tentu lho mas RT itu suka sama mbak Ratri. Lagian nih kita kan nggak tau siapa mbak Ratri itu. Bisa jadi dia cuma saudara, teman atau _,"
"Calon istri," potong Linda cepat, gadis dengan rambut sebahu itu menghela nafas panjang. "Nggak ada harapan,"
"Eh, tumben kak Linda kok lemes gitu. Biasanya kak Linda semangat lho." Widya cukup dibuat penasaran karena sikap Linda memang sedikit pendiam sejak kedatangan Ratri.
"Kalian tuh salah tanggap, mas RT itu bukan calon suami aku kali. Aku cuma bantuin dia lolos dari si ratu ulet, tapi malah dibikin heboh sama bunda. Hhm, sial bener hidup aku kalo dipikir-pikir ya?!"
Linda mengubah posisinya, ia duduk bersandar ke tembok. "Udah KKN telat daftar, eh pas KKN nggak beres semua pake macem-macem kejadian aneh lagi. Udah lengkap bener dari awal."
"Kak Linda butuh diruwat kayaknya sih, biar nggak apes terus." sahut Isna dan Widya cekikikan.
"Hhm, mungkin." tatapan Linda kosong menerawang membuat kedua rekannya saling menatap.
"Kak, kalau kakak emang suka sama mas RT kenapa nggak kakak kejar aja sih?" Pertanyaan Widya berhasil membuat Linda menoleh padanya.
"Iya kak, perjuangin cinta kakak kalo emang kakak suka." Isna ikut menambahkan semangat pada Linda.
"Tapi … gimana ya, kayaknya peluangnya susah deh. Saya kalah telak sama mbak Ratri, dan lagi mereka kayaknya cocok."
"Eets, jangan bilang gitu kak. Cocok belum tentu berjodoh, kalah telak belum tentu nggak ada kemungkinan."
Widya terlihat bersemangat, ia pun kembali bercerita tentang kisah temannya yang juga bernasib sama seperti Linda. Bagaimana perjuangan temannya itu meski peluang memiliki hati si pujaan hati sangat kecil. Cukup sulit perjuangan tapi hasilnya begitu manis dan berujung pada pernikahan.
"Temen kamu cewek juga?"
"Hem, cowok kak." jawab Widya cengengesan.
"Eets dah, ya pantes lah berjuang orang cowok! Ngapain juga saya dengerin kamu ceramah panjang lebar dari tadi coba! Wajar cowok ya berjuang laah saya cewek masa iya ngejar begitu sih?"
"Sst, udah lah kak yang penting coba aja dulu tapi yang paling penting tuh berdoa sama Yang Punya Hidup! Ketuk pintu langit ketujuh biar doa kakak dicatat dulu disana perkara realisasinya bagaimana yaa … serahin sama takdir!" Isna bersikap bijak.
"Eh ngomong-ngomong acara pengajian jam berapa?" Linda tiba-tiba teringat jadwal pengajian.
"Jam tujuh kak,"
Ketiganya terbelalak saat melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Secepat kilat ketiganya bersiap, dan langsung pergi menuju ke masjid.
"Gara-gara kak Linda niih kita jadi telat! Mana jalanan sepi, gelap lagi!" gerutu Widya.
Isna berkali kali menoleh kebelakang, suasana desa yang sepi dan hanya terdengar suara-suara binatang malam membuatnya dijebak rasa takut yang berlebihan.
"Duuh, kak Linda … takut!"
"Ssst, udah kalian ngapain sih malah pada ketakutan gini? Ini baru jam berapa juga mana ada setan lewat iseng ngerjain kita."
Linda berusaha menenangkan keduanya meski dalam hati ia sendiri tak yakin. Bayangan wanita mengerikan yang ia temui di galeri terlintas kembali di benaknya dan membuat Linda bergidik ngeri.
SREEK!!
Suara ranting patah dan langkah kaki terseret yang berjalan di belakang mereka membuat ketiganya berhenti seketika.
"Kakak, denger itu nggak sih!" Widya gemetar dan memegang tangan Linda kuat.
"Ka-kalian dengar juga kan?"
Widya dan Isna mengangguk, Linda menelan ludah kasar. "Kita pura-pura nggak liat dan nggak denger aja, yuuk jalan cepetan!"
Linda menarik paksa keduanya, mereka kembali berjalan dengan gemetar. Isna bahkan hampir saja terjatuh beberapa kali, sementara Widya hendak menoleh ke belakang tapi tangan Linda dengan sigap mengalihkan agar Widya tak melihat apa yang ada di belakang mereka.
Jalan terasa amat panjang dan tak berujung, langkah kaki mereka terasa berat dan kelelahan. Hingga akhirnya mereka pun harus melewati bagian terseram dalam malam. Melewati jembatan dengan rimbun pohon bambu di sisi kanan dan kiri jalan.
"Kak Linda, gimana ini! Aku takut!" Isna merengek, air matanya pun tak tertahan lagi.
"Kamu bisa diem nggak sih, tenang! Semakin kita takut semakin mereka seneng kali!" Linda berkata menutupi rasa takutnya.
"Emang kak Linda nggak takut ya? Serem tau kak!" Tangan Widya semakin mencengkram kuat tangan Linda.
SRAAK!!
Bunyi itu kembali terdengar bahkan lebih keras dan nyaring dari sebelumnya. Ketiga gadis itu menjerit ketakutan. Isna sampai berjongkok dan menutupi telinganya sementara Widya menjerit dan selanjutnya pingsan. Linda dengan sisa keberaniannya yang tak lebih besar dari buah jambu pun akhirnya memberanikan diri menoleh kebelakang.
Wajah pucat putih menyembul dari balik kain yang menyelimuti hampir seluruh tubuh. Linda menatap tak percaya pada sosok yang berdiri dihadapannya. Matanya terbelalak lebar, rasa takut bercampur kesal dan bingung menguasai dirinya. Jantungnya berdebar kencang dan lututnya pun terasa lemas, tapi meski demikian Linda menguatkan tekad untuk melawan.
Secepat kilat ia melepas sandal yang dikenakan lalu,
"Dasar setan, jurig, demit, jin jahil, mbelgedes, an***, beraninya gangguin kita! Nih rasain … rasaiiiiin, siapa suruh nakutin kita! Berani kamu sama saya, belum ngerasain jurus keplakan sandal swallow ni demit! Hiiiaaaat … rasaiiiin, blegug sia! Mati nggak, mati nggak!"
Bikin karakter model Linda yg Oon dan cerewet..tapi mahasiswa..
Itu amat sangattt sulit.
Jauhhh lebih sulit dibanding bikin karakter Cool Jenius, dikit omong..
===
Asli...geleng2 buat Othornya..
Atau...jangan2..Othor biasa ngerjain temen2 dg mode oon, biar aman dari tugas kelompok..
ha.ha.ha.ha...
Lup Yu sekebon tetangga..
👍👍👍🙏🙏🙏
Biar gak mesam mesem sendirian kayak si Othor...🙏🙏🙏
Kabuuurrrr...
🏇🏇🏇🏇🏇🏇🏇🏇🏇
komen berlogo