Bianca Fernandez baru saja putus dengan kekasihnya yang berpacaran dengannya selama tiga tahun. Hatinya sangat hancur dan ia memutuskan pergi ke suatu tempat dan tak sengaja bertemu dengan Lucas Taylor. Ironisnya takdir kembali mempertemukan mereka yang ternyata akan menjadi saudara tiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Pagi itu Bianca sedang berjalan di pekarangan rumah mereka seraya menggendong Rosella yang begitu nyaman dalam dekapan Bibinya. Lusy ditemani Anastasia sedang ke dokter untuk check up, jadi Bianca yang menjaga Rose untuk sementara.
Tanpa Bianca sadari, Lucas sedari tadi memperhatikannya dari depan pintu rumah sambil meminum kopinya. Ia pun memutuskan untuk bergabung dengan Bianca dan Rosella.
"Aku ingin menggendongnya," pinta Lucas seraya merentangkan kedua tangannya ke depan, meminta Rose dari gendongan Bianca.
Senyum Bianca luncur seketika, keberadaan Lucas di dekatnya membuat moodnya hancur. Ia menatap tajam pria itu dan memberikan Rose kepadanya. Baru saja ingin meninggalkan Lucas, sebuah pertanyaan yang terlintas di otaknya menghentikan langkahnya.
"Bagaimana dengan perkembangan kasus Clara?"
"Oh iya tentang itu... Semua bukti sudah dilimpahkan ke pengadilan, dia sudah di tahan. Tinggal tunggu sidang penetapan hukumannya." Jawab Lucas seraya mengusap-usap pipi Rosella.
Bianca terdiam sejenak, ada beberapa pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Brian, jadi sepertinya ia harus bertemu dengan. "Aku harus menemuinya sebentar."
Lucas menatapnya datar, "Untuk apa kau bertemu dengan orang yang hampir saja membunuhmu?"
Bianca mendelik tajam, "Apa urusanmu?" Wanita itu kemudian melangkah menjauh dari Lucas.
"Kembali ke sini atau aku akan meneriaki kejadian kemarin!" Pekik Lucas seraya tersenyum menyeringai, Bianca langsung saja menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap kesal Lucas, sedangkan pria itu tersenyum puas kearahnya.
"Ada apa, sialan?"
Lucas menggeleng pelan seraya menutup telinga Rose dengan tangan kirinya, "Kau berkata kasar di depan anak bayi. Perempuan macam apa kau!"
"Ah, maafkan Bibi, Sayang." Ucap Bianca seraya mengecup pipi Rosella. "Kau tidak boleh berkata kasar kecuali kepada pamanmu. Dia memang pantas mendapatkan kata-kata seperti itu," lanjutnya.
"Kau juga harus membiasakan diri untuk memanggilku 'Sayang', Bianca. Atau tidak, minimal mencium aku seperti itu."
Bianca memutar bola matanya jengah dan segera mengambil alih Rose dari gendongan Lucas. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia beranjak meninggalkannya. Lucas terus memanggil nama Bianca namun sama sekali digubris oleh wanita itu.
...----------------...
Bianca menuruni tangga menuju ruang makan. Ia melihat Lusy dan Anastasia yang sedang menata makanan, mereka baru saja sampai beberapa saat yang lalu.
"Bianca mau ke kantor polisi, Bunda." Ujar Bianca seraya mengambil buah apel yang berada di atas meja.
Anastasia dan Lusy langsung saja mengalihkan perhatiannya kepada Bianca, "Untuk apa kamu ke sana, Bianca?"
Bianca sempat ragu untuk jujur kepada Anastasia, hanya saja ia harus mengatakannya. "Bianca mau ketemu Brian, ad-"
"Tidak, Bianca! Kamu tidak boleh bertemu dengan pembunuh itu!" Bianca dan Lusy terkejut mendengar bentakan dari Anastasia. Ia tahu Bundanya pasti akan menentang rencananya itu, hanya saja baru kali ini ia mendengar bentakan dari Anastasia.
"Dia sudah membunuh Clara dan juga hampir saja membunuhmu, Bianca. Berhenti berhubungan dengan dia!" lanjutnya dengan sangat tegas.
"Aku akan menemani Bianca, Bunda." Suara itu berasal dari Lucas yang baru saja menuruni tangga dari kamarnya.
Ketiga wanita yang berada di dalam ruangan itu sangat terkejut, pasalnya untuk pertama kalinya mereka mendengar Lucas memanggil Anastasia dengan sebutan 'Bunda'. Namun, Bianca segera menyadari bahwa pria itu pasti memiliki niat buruk yang terselubung.
Emosi Anastasia langsung mereda, "Baiklah kalau Lucas yang menemani kamu. Ingat, ini terakhir kalinya kamu bertemu dengan Brian."
Bianca terlihat kesal melihat senyuman penuh muslihat dari Lucas, ia mendahului pria itu pergi ke mobil.
Lusy mengernyit keheranan kepada abangnya, sedang Lucas hanya mengangkat bahunya seperti tidak tahu apa-apa. Ia segera pamit kepada Lusy dan Anastasia lalu menyusul Bianca.
"Masuk ke mobilku." Perkataan Lucas menginterupsi pergerakan Bianca yang hendak memasuki mobilnya.
"Kau pikir, kau siapa, hah?" emosi Bianca sudah berada di ubun-ubun.
"Masuk ke mobil aku atau aku mengatakan kepada ibumu kalau aku tidak jadi mengantarmu? Kemudian kau juga tidak diijinkan untuk pergi. Kau lupa karena siapa kau diperbolehkan menemui mantan pacarmu itu?"
Bianca berusaha meredamkan amarahnya, lagi-lagi ia dikalahkan oleh ancaman pria licik itu. Ia berjalan dengan menghentakkan kakinya untuk melampiaskan kekesalannya. Lucas tersenyum melihat tingkah Bianca dan ikut masuk ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada dari mereka berdua yang membuka percakapan. Lucas tentu saja sibuk melihat jalan di depannya, sedang Bianca melihat pemandangan di luar jendela mobil. Nyatanya itu hanya pengalihan agar ia tidak melihat Lucas, padahal sebenarnya lehernya sudah pegal karena terpaku melihat satu arah.
Hingga akhirnya mereka sampai ke kantor polisi, tempat di mana Brian ditahan. Sebelum Bianca keluar dari mobil, Lucas menahan lengannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan dengannya?"
Bianca mengernyit bingung, "Apa urusanmu?"
Lucas terlihat menghela napas sejenak, "Dengar... Putusannya belum di tetapkan, kau harus terus waspada terhadapnya. Ingat... jika saja kau mencoba membantunya karena kasihan atau apalah. Aku akan membunuhnya sendiri, Bianca."
Bianca tertegun memandang Lucas yang terlihat serius dengan ucapannya. "Kau terlihat seperti seorang kakak yang over protective."
"Lebih dari seorang kakak, Sayang. Aku pacarmu." Ujar Lucas seraya tersenyum menyeringai.
"Kumat lagi," gumamnya lalu beranjak keluar dari mobil itu.
...----------------...
Beberapa menit telah berlalu, Bianca masih saja diam memandang mantan pacarnya yang sedang menunduk melihat borgol yang melilit kedua tangannya.
"Apakah kau menyesalinya?" akhirnya Bianca buka suara.
Brian terlihat menghela napas, "Ayolah, Sayang. Ini bukan kali pertamanya aku membunuh seseorang, Clara tidak ada apa-apanya."
Bianca membelalakkan matanya terkejut, "Apakah kau sudah gila? Clara itu juga orang yang kamu sayang, bahkan dia juga mengandung darah daging kamu sendiri, Brian."
"Sayang? Aku tidak memiliki orang yang aku sayangi, Bianca. Bahkan berpacaran denganmu selama tiga tahun tidak ada apa-apanya untukku." Jawab Brian seraya tersenyum menyeringai.
Bianca mematung, ia merasa asing dengan pria yang berada di hadapannya itu. Ia seperti menatap sosok monster, Brian yang ia kenali tidak seperti itu.
"Jadi pergi sekarang, sebelum aku mencekik lehermu, Bianca." Ancam Brian seraya memajukan dirinya, menghantam kepalanya pada kaca yang membatasi mereka berdua.
Lidah Bianca keluh dan tanpa sadar bulir bening kembali meleleh dari kelopak matanya. Ia tidak menyangka pria yang dicintainya itu memiliki kepribadian seperti ini. Bayangan kenangan dirinya bersama Brian yang penuh bahagia menjadi hantaman kuat yang melanda kalbunya.
"AKU AKAN MEMBUNUHMU, BIANCA!"
Bianca reflek berdiri menjauhi Brian yang terlihat sangat beringas. Lucas yang sedari tadi berdiri di depan pintu ruangan itu langsung saja masuk dan menarik Bianca keluar.
Lucas terus memeriksa tubuh Bianca dan terus menanyakan kondisi wanitanya itu. Namun Bianca hanya terus terisak membuat Lucas menggeram khawatir sekaligus kesal.
"Beri dia pelajaran!" titahnya pada beberapa petugas dan segera membawa Bianca keluar.
...*Bersambung......
Note: Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman Nasrani.
Jangan lupa follow author yaaaa*
gak seru...thor