Di usianya yang ke 27 tahun, Nattan sama sekali tidak berniat untuk menikah dan membina sebuah rumah tangga seperti pria normal pada umumnya.
Sang ibu yang notabene ingin segera memiliki menantu dari putra bungsunya, beberapa kali berusaha untuk menjodohkannya dengan beberapa gadis pilihannya yang berakhir dengan penolakan Nattan.
Hingga suatu hari saat ia berniat baik untuk menolong seorang gadis yang kala itu hampir dilecehkan oleh dua orang preman, justru malah membawanya pada sebuah tanggung jawab yang besar seumur hidupnya.
Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bandung
"Buruan mandi, ganti baju, saya tunggu diluar." ucap Nattan tanpa menunggu Jawaban dari Anggia yang hendak melayangkan sebuah protes.
"CK menyebalkan! dia selalu seenaknya sendiri, dasar batu pondasi." gerutu Anggia, namun meski begitu ia tetap menuruti perintah suaminya, mandi dan berganti pakaian, kemudian menuruni tangga untuk berpamitan kepada mama mertuanya.
"Ma, Anggia pamit keluar ya." meraih tangan mama Indri dan menyalaminya.
"Iya, Nattan sudah masuk mobil duluan kayaknya, sekalian manasin mesin juga sih katanya."
"Eh iya ma."
*
"Maaf mas, lama ya?"
"Nyadar juga ternyata." jawab Nattan tanpa menoleh, membuat Anggia mengerucutkan bibirnya kesal.
"Nggak usah di maju-majuin gitu bibirnya, udah mirip ikan hias punya mama aja."
"CK, mas Nattan punya mata batin ya, kok bisa tahu kalau_"
"Tanpa harus menggunakan mata batin pun saya sudah bisa menebak reaksi kamu itu akan seperti apa."
Anggia semakin mencebik, kekesalan nya terhadap Nattan kini kian bertambah dan menumpuk.
"Kamu nggak nanya kita mau pergi kemana hari ini?"
"Ya, mau kemana kita hari ini?" ucap Anggia dengan wajah terpaksa.
"CK, telat!"
''Mas Nattan ihs.''
"Nggak usah protes, jelek!"
"Katain aja terus, padahal gini-gini disekolah banyak lho yang suka sama saya."
"Really?"
"Tentu saja."
*
"Bagus banget rumahnya." ujar Anggia dengan senyum mengembang, saat Nattan menepikan mobilnya didepan sebuah Villa dengan tulisan 'Beautiful Villa.'
"CK, kamu memang norak ya, ini Villa, bukan rumah!" ucap Nattan seraya berdecak, dan terlihat mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan tak lama berselang seorang wanita cantik keluar dari Villa tersebut sembari memangku seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan menggemaskan.
"Lho om serius datang, aku kira cuma bercanda lho tadi?" wanita tersebut tampak sumringah dan menyalami Nattan.
"CK, emangnya om tukang bohong, oh iya Ersya udah gede nih, Salim ke om dek." Nattan mengulurkan tangannya menggenggam tangan bayi mungil yang sedang berceloteh ala bayi digendongan ibunya.
"Eh ini siapa om, pacar ya? dih si om pinter banget nyari pacar yang masih muda." godanya, yang membuat Anggia meringis malu, sementara Nattan terlihat biasa saja.
"Kenalin aku Cantika, keponakannya om Nattan." ucap Cantika seraya mengulurkan tangannya kearah Anggia yang disambut gadis tersebut dengan ramah.
"Anggia."
"Kok mau sih sama om Nattan, dia jomblo abadi lho, selain itu kamu nggak lihat, wajahnya aja nyebelin gitu, dingin kayak kulkas suhu full." ujar Cantika, yang membuat Anggia hampir menyemburkan tawanya, rupanya pendapat seperti itu bukan hanya dirinya saja, bahkan keluarga nya sendiri merasakan hal yang sama.
"CK, kualat kamu dek, ngatain om sendiri sembarangan."
"Bukan ngatain om, tapi kenyataan, iya nggak Anggia."
"Terus ngomong-ngomong kamu nggak mau nyuruh kita masuk dulu, suruh duduk, sekalian tanyain mau minum apa misalkan?"
Cantika terkekeh, "Eh iya sampai lupa, ayo masuk! lagian om Nattan pake sok-sok an mau disuruh, biasanya juga langsung nyelonong."
"Tuhkan seneng banget buka aib orang."
"Oh iya, Langit kemana dek, sepi banget?" ujar Nattan celingukan menatap sekitar.
"Ada sedikit pekerjaan diluar om." jawab Cantika yang hendak menidurkan baby Ersya yang sudah menguap, tak lama ia kembali dengan membawa nampan yang berisi dua gelas minuman ditangannya.
"Minum dulu om, Anggia."
"Iya, terimakasih." Anggia yang menyahut.
"Sebenarnya Anggia kenal om Nattan dimana sih?"
"Tuhkan nih anak bahas itu lagi, udah om duga."
"Kan penasaran, aneh aja gitu, kok ada ya gadis secantik Anggia mau sama om.''
"CK, dek kamu_"
"Aku belum selesai ngomong om, jadi Anggia apa yang membuat kamu menyukai om Nattan, secara dia_"
"Om sama Anggia sudah menikah." potong Nattan tanpa ekspresi, membuat Cantika mengerjap tak percaya.
"Om_"
"Om sama Anggia sudah menikah dua bulan yang lalu, puas?"
"Hah ini_ ini beneran nggak sih, kok aku nggak tahu?"
"Yaiyalah nggak tahu, orang kamu nggak pernah main kerumah."
"Ihs om, tapi kan sekarang aku sibuk ngurus Ersya."
"Salah sendiri."
"Benar begitu yang dibilang om Nattan, Anggia?"
"Iya." jawab Anggia dengan anggukan kecil.
Plaaakkk..
Cantika melemparkan bantal sofa kearah dada bidang Nattan.
"Om jahat banget sih, Nikah nggak bilang-bilang."
"Nggak sempat dek, kamu juga nggak pernah main."
"Telpon kan bisa."
"Yaudah iya nanti deh kalau resepsi om kasih tahu."
"Om ngeselin banget ihs."
Nattan meringis, terlebih saat Cantika kembali melemparnya dengan bantal.
*
Setelah mampir di Villa milik Langit dan Cantika, Nattan membawa Anggia ke berbagai tempat wisata yang berada di daerah Bandung.
"Makasih ya mas." ujar Anggia dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
"Buat?" tanya Nattan dengan sebelah alis terangkat.
"Buat hari ini, seneng banget tahu nggak sih, makasih ya."
"Hmmm."
Selama perjalanan pulang, Anggia terus menatap keluar kaca mobil seolah tak rela jika harus meninggalkan kota tersebut.
Sementara Nattan diam-diam mengulas senyum tipis, saat mengingat betapa terlihat bahagianya Anggia hari ini.
*
*