NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Sahabatku

Terpaksa Menikahi Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: putri sulis

Kerap kali persahabatkan akan menumbuhkan ras cinta, terlebih jika persahabatan antara laki - laki dan perempuan.

Seperti yang aku alami, aku dan Arjuna sudah bersahabat sejak lama tepatnya sejak SMP. Usiaku memang lebih muda dua tahun darinya. Tapi karena keenceran otakku aku bisa tinggat dengannya.

Dan ini kisahku dengan sahabatku Arjuna, yang terpaksa menikah karena suatu alasan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri sulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati yang mati.

Hari pernikahan Gina dan Aby sudah semakin dekat. Malam itu aku, Gina dan Bayu tengah sibuk mengurus undangan yang telah jadi dan diantar kerumah.

" Untung aja waktu nikahannya mas Juna, acara resepsinya diadakan sepuluh hari setelah akad nikah, yaa mbak!" kata Bayu, melirik pada Gina.

" Iya, dek. Untung aja undangan belum disebar. Kan bisa bikin malu dua kali jadinya.!"

" Hmm," Bayu berdehem melirik padaku, mungkin baru ingat ada aku terus merasa tak enak hati.

" Ada yang udah dapet sebenarnya. Ada dua puluhan undangan lah." sahut mama yang datang turut bergabung disana.

Aku hanya tersenyum menangapinya, sakit sebetulnya. Namun, memang begitulah kenyataannya. Aku bisa apa? Maka harus selalu membesarkan hati sendiri. Kata - kata yang menyakitkan cukup sampai telinga, jangan bawa kehati.

" Ma, Gin. Aku penasaran dengan ceritanya. Masa aku gak boleh tahu cerita sebenarnya.?" kataku, sambil menulis nama diundangan itu.

" Memang gak nanya Arjuna, apa dia gak mau cerita?" tanya Gina, heran.

Aku menggeleng, " pernah tanya sih cuma Arjunanya masih berat untuk cerita, takut nyakitin perasaan, mungkin hatinya masih terlalu sakit." jawabku.

Hening beberapa saat, Gina dan mama saling melempar pandangan. Sepertinya juga ragu dan tak enak hati menceritakan semuanya.

" Setahu Hana, Arjuna dan Dafina udah lama pacaran. Kenapa bisa Dafina pergi sama laki - laki lain.?" tanyaku

" Iya, sayang. Waktu lamaran itu sebenarnya mama udah curiga ada yang tidak beres sama gadis itu. Mama pernah cerita kan sama kamu waktu itu." Mama menjawab dengan lembut sepertinya beliau sudah tak mau memikirkan hal itu lagi.

" Jadi dia kabur sama siapa, Gin?" tanyaku pada Gina yang sepertinya lebih paham.

" Mantan pacarnya yang baru balik dari Landon mbak. Anak pejabat daerah timur. Tapi, keknya gak direstui sama pihak keluarga laki - laki. Yaa, intinya memang bukan jodoh mas Juna lah." jawab Gina.

Jadi gadis itu selingkuh dari Arjuna. Aku terhenyak cukup lama, meremas bolpoin ditangan. Merasa geram sendiri dengan gadis itu. Benar - benar tak berperasaan. Kalau memang ragu, menolak kan lebih baik,?

" Terus apa sekarang mereka udah nikah?"

" Yang Gina denger sih, belum mbak."

Hening sesaat, sepertinya kami hanyut dalam pikiran masing - masing. Seketika aku merasa galau. Positive thinking Farhana, jangan mikir yang bukan - bukan.

Aku menghela nafas, mencoba meredam emosi yang bergejolak didada.

Aku tersentak, saat ku rasakan sentuhan lembut mengusap kepala. Aku mendongak, " Mama!" batinku. Aku tersenyum hambar.

" Udah dilanjut besok, makan dulu yuuk.!" ajak mama beranjak dari duduknya.

Saat kami semua sampai dimeja makan, entah mengapa perut rasanya sudah tak tahan untuk diisi. Makanan diatas meja sungguh mengoda untuk segera diserbu.

****

" Assalamualaikum, " sapa Arjuna yang baru masuk kamar. Setelah menutup pintu, dia langsung membuka baju. Kebiasaan!

" Walaikum salam, Abang.!" jawabku.

Aku bersikap biasa saja, tapi rasanya masih tetap malu. Jadilah sekarang pura - pura cuek, pura - pura tak melihat. mencoba abai dengan pemandangan yang indah. Roti sobek bantet. Rata dan seksi. Eh...!

Aku berbaring fokus dengan ponsel di hadapan. Yang memang sedari tadi menunggu Arjuna pulang, dari mengurus persiapan pernikahan Gina.

" Udah makan mas.?" tanyaku tanpa menoleh.

" Udah, tadi makan diluar." jawabnya.

Padahal aku berharap dia menanyakan hal yang sama. Aku mengekeh, menertawakan ekspektasi yang tak sesuai realita. Resiko punya suami yang tak mencintai diri. Mimpi, diperhatikan.

" Sampai mana persiapan pernikahan Gina,?" tanyaku.

Arjuna yang sudah berganti pakaian, ikut berbaring disampingku. " 70% dah hampir selesai. Kenapa pingin juga?"

" Nggak lah, aku cuma nanya." Aku menghembuskan nafas. Sebenarnya memang iya, perempuan mana yang tak ingin mewujudkan pernikahan impian. Aku pun sama, dulu punya sebuah mimpi tentang pernikahan. Sayang, takdir tak menggariskan aku mewujudkannya.

" Ngurus pernikahan itu sungguh melelahkan.!" Aku menoleh padanya. Sebuah ekspresi datar, menatap langit - langit kamar. Mungkin dia teringat akan pernikahannya dengan Dafina yang gagal itu.

" Ehmm, kenapa ingat masa lalu? Masih sakit hati?"

Arjuna tak menjawab, sepeertinya tak memperhatikanku dan tak mendengar pertanyaanku. Entah pikirinya melayang kemana.

Aku menghembuskan nafas kasar, lalu berbalik memunggunginya, kesal tak dianggap apalagi dipeehatikan. Nasib istri penganti kek gini banget.

" Tidur, Han?"

Aku diam, menggenggam ponsel.

Kasur terasa bergelombang. Aku terkesiap saat dia melingkarkan tangan dipinggang. Lalu menyambar ponsel ditangan.

Refleks aku memegangi dada, merasakan debaran jantung yang mulai berdebug tak karuan.

" Wangi, yang!" Arjuna menghirup nafas dalam. Menciumi rambut panjangku.

" Halah, palingan cuma modus."

Dia mengekeh, " nggak, lah."

" Abang, meluk - meluk gini pasti ada maunya, kan?" kataku masih merasa kesal karena diabaikan.

" Enggak, " katanya menyakinkan. " Denger sini!"

Aku berbalik dengan tangan Arjuna masih setia melingkar dipinggang. Menghadap padanya, hingga membuat kami saling menatap, intens.

Dari sana aku bisa melihat, masih ada luka yang terlalu dalam dihatinya. Bahkan aku tak melihat cinta untukku dari sana.

" Nggak usah mimpiin resepsi pernikahan kek orang lain. Aku gak akan pernah siap untuk itu.!" ucapnya penuh penekanan.

Aku tersenyum, mencoba menerima. Aku tahu bayang - bayang kegagalan yang dialami suamiku tak akan pernah bisa terlupakan.

" Iya, aku tahu. Aku telah bersedia menjadi istrimu, maka aku juga harus siap dan menerima keadaan ini."

Hening beberapa saat, aku menunduk menatap cincin ditangan. Nyatanya tiga bulan bertahan menjalani pernikahan ini tak bisa mencaikan hati Arjuna yang telah membeku. Miris, berjuang seorang diri.

" Keluar kamar gak usah terlalu wangi.!" katanya.

" Hm," aku tersentum hambar.

" Lagi nggak datang tamu, kan?" Arjuna menautkan alis.

" Tuu, kan Abang. Ihh." Aku mencubit perutnya, " benerkan apa yang aku bilang. Abang cuma modus.!"

Dia malah tertawa sambil sesekali meringis. Kemudian dengan cepat, ia mengunci kedua tangan. Jantung berdebar makin cepat, saat ia mendekatkan wajahnya perlahan.

Dekat, makin dekat hingga aku perlahan memejamkan mata. Aku merasakan hembusan nafasnya, menerpa kulit wajah.

" Ck," Arjuna berdecak saat suara ponsel berdering, memecah keheningan. Membuatku membuka mata, tampak Arjuna kembali berbaring.

Aku tertawa geli, merasa lucu sendiri. Melihatnya yang kelihatannya sangat kesal.

" Siapa sih, ganggu aja. Orang lagi nanggung juga.!" Arjuna meracau.

Ia lalu meraih ponsel yang tergeletak dikasur. Mengrenyit, saat melihat layar ponsel yang masih berdering. Lalu beranjak duduk, dilanjutkan merapatkan ponsel ketelinga. Setelah menggeser layar telepon pintar itu.

"...... "

" Walaikumsalam," kata Arjuna dingin.

" ........ "

Terdengar helaan nafas panjang.

" Nggak bisa."

" ......... "

" Hm, dimana ?" ucapnya pelan, terdengar lesu.

" ..... "

" Iya, aku kesana."

Arjuna kembali melihat layar ponsel. Mematung sesaat dengan tatapan koseng. Ekspresi wajahnya mendadak kacau, seperti baru saja mendapat berita buruk.

Membuat aku semakin penasaran. " Ada apa, Bang.?"

" Aku harus pergi, ada urusan penting.!" la tersenyum hambar ketika menoleh padaku. Lalu beranjak menuruni tempat tidur.

" Urusan apa?" Aku mengambil ponselku, melihat penunjuk waktu disana, pukul 22.00.

Urusan penting apa malam - malam begini.

Tanpa menjawab Arjuna menyambar jaket digantungan. Lantas keluar dari kamar tanpa pamit ataupun berkata apa - apa.

Sementara aku menatap nanar kepergiannya. Telepon siapa? Urusan penting apa malam - malam begini? Gelisah, karena firasatku mengatakan sesuatu yang tidak baik. Semoga saja pikiranku salah.

Terima kasih sudah mampir dan membaca.

Sehat selalu semua.

1
vivit nurhidayah
Luar biasa
Aulia Ananda
seru bgt ceritanya
Ade Diah
kok gitu...
Ade Diah
Baguslah ceritanya ampe nangis tadi...
Ade Diah
Baguslah ceritanya ampe nangis tadi... pas baca yang Juna bilang sepupu
Ade Diah
Luar biasa
Ade Diah
Banget ampe netes air mata saking sakitnya.
Elizabeth Zulfa
ini si kembar blm dikasih nama loh.. tpi udah gak up lgi smpek skrg..
IndraAsya
jejak 🐾
Intan Reni Agustina
bagus
Rha Shantika
good
Olivia Jasmine Arsend
alur ceritanya bikin aku nyesek thor.. jd ingat masa lalu 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Olivia Jasmine Arsend
cowok emang susah minta maaf klo punya salah yg ada kita yg kena omelnya
Olivia Jasmine Arsend
cowok emang susah minta maaf klo punya salah yg ada kita yg kena omelnya
Indrijati Saptarita
lanjuuuuuuuuutttt udah setahun lebih tuuu.....
Indrijati Saptarita
ngeselin amat yaa....
Bunda Salma
egois sekali nih orang tua, kenapa gak anak kamu yang kamu cecar... dia yang gagal move on dari mantan calon istrinya koq yg disalahin hana?
Dafina Delisha
sebel sama si Juna.. Kurang apa pengorbanan hana 😡😡
miramiramp
bikin baper, ceritanya bagus banget thor
Rully Salahudin
CCTV, Thor... bukan sisi TV
D€LLANØ ARZZ: typo nya kejauhan njirr😭🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!