NovelToon NovelToon
Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan

Status: tamat
Genre:Patahhati / Selingkuh / Cerai / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:486.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: nita kinanti

Orang-orang mengira rumah tanggaku baik-baik saja. Aku mempunyai suami yang tampan, karir mapan dan tidak suka macam-macam. Salahku sendiri, aku selalu menutupi kebiasaan buruk suamiku dari orang-orang di sekitarku. Sehingga ketika aku sudah tidak kuat lagi, tidak ada yang membelaku. Bahkan ketika aku ingin meminta cerai, orang-orang justru menyalahkan aku.

Terpaksa aku bertahan untuk bisa membuktikan jika suamiku tidak sebaik yang mereka kira. Tetapi akhirnya, kenyataan tidak berjalan sesuai rencana awalku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Adji POV

Aku sudah membayangkan akan bertemu kembali dengan teman-temanku dulu. Hiruk-pikuk kantor ketika mau ada meeting dan juga pertemuan-pertemuan yang membuatku bisa sedikit refreshing memenuhi pikiranku. Baru membayangkan saja sudah membuat aku tersenyum-senyum.

Selama aku sakit aku tidak bisa keluar rumah. Sekalinya keluar pastilah ke rumah sakit kalau tidak ke tempat terapi. Beruntung aku masih diberi kewarasan menghadapi penyakit ini.

Tetapi aku harus menelan kekecewaan karena Winda tidak memberikan ijin. Aku tidak menyalahkan Winda jika dia tidak mengijinkannya. Semua kesalahan ada padaku, aku mengakui itu. Mungkin dia takut hal itu akan terulang lagi.

Sebenarnya aku bisa saja langsung berangkat tanpa meminta persetujuan darinya, tapi aku tidak bisa. Kami masih sedang dalam masa memulihkan hubungan kami dan aku tidak ingin membuat cela lagi. Aku tidak mungkin memaksa Winda agar percaya bahwa aku sudah berubah.

Kepercayaan itu harus muncul dari dalam hatinya. Dan aku pikir Winda masih belum percaya padaku sepenuhnya. Buktinya dia belum mau tidur denganku. Jadi sekarang yang bisa aku lakukan adalah bersabar dan membuktikan jika aku benar-benar bukan Adji yang dulu.

Adji yang sekarang adalah Adji yang sudah merasakan ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Adji yang diabaikan ketika sedang dalam keterpurukannya bahkan oleh keluargaku sendiri dan hanya Winda yang mau menerimaku. Jadi apapun yang Winda inginkan saat ini, aku akan menurutinya.

Jika Winda tidak menginginkan aku bekerja di tempat itu lagi, maka aku akan menurutinya. Mungkin memang ini yang terbaik untuk hubungan kami, membangun lagi rasa percaya diantara kami.

Dering telepon membangunkan aku dari lamunan.

"Halo ... "

"Gimana sudah ngomong ke istrimu belum? Kapan bisa mulai kerja?"

"Istriku tidak mengijinkan aku bekerja lagi di sana."

Suara temanku terkekeh mendengar jawabanku.

"Apa-apaan sih kamu?! Jadi laki kok nurut banget sama istri! Kamu kan seorang suami, kepala rumah tangga masa kalah sama istri? Mau kerja mah kerja aja, nggak usah nunggu dikasih ijin sama istri. Toh nanti kalau gajian istrimu juga yang nikmatin."

"Bukannya gitu ... Orang berumahtangga wajar dong kalau mau apa-apa suami ijin istri dulu."

"Halaahh ... Emang dari dulu kamu takut sama istri," ujarnya sambil kembali terkekeh mengejekku.

"Sudah ... Nanti kalau ada lowongan di perusahaan lain kabari aku. Ini aku juga sudah nanya-nanya kenalan-kenalanku dulu. Siapa tahu perusahaan mereka sedang ada posisi yang kosong."

"Iya-iya beres. Nanti aku info."

Segera kututup teleponku. Aku tidak mau bicara lebih jauh lagi dengan temanku itu. Nanti dia hanya akan semakin mengolok-olok aku yang dia anggap takut dengan istri. Dialah orang yang dulu mengenalkan aku ke "dunia baru".

Setelah menutup telepon, iseng aku menuju garasi. Aku akan belajar naik motor, untuk mengetes sudah seberapa kuat kakiku.

Aku melihat sepeda motor Winda terparkir dan dipenuhi berdebu. Sudah sebulan lebih Winda tidak menyentuh sepeda motor ini. Segera ku bersihkan debu-debu yang menutupinya.

Lalu aku keluarkan motor itu dari garasi. Ku coba menyalakan mesinnya tapi tidak bisa. Aku tahu sebabnya. Segera aku berjalan menuju warung tak jauh dari rumah, itung-itung untuk melatih otot-otot kakiku. Aku ingat, biasanya warung itu menjual bensin eceran.

Pulang dari warung, aku membawa satu botol bensin. Setiap hari Winda memberiku uang untuk jaga-jaga jika Keisha ingin jajan. Tapi kali ini aku menggunakannya untuk hal lain, yaitu membeli bensin.

Ku coba menyalakan mesinnya lagi, dan kali ini berhasil. Tentu saja karena aku sudah mengisi bahan bakarnya. Aku diamkan sebentar untuk memanaskan mesinnya baru setelah itu bisa aku kendarai.

Perlahan aku mulai melajukan motor Winda. Rasanya aku tidak bisa berhenti tersenyum. Aku merasa sangat bahagia, seperti merasa hidup kembali.

Tujuan pertama adalah ke warung untuk mengembalikan botol bensin yang tadi aku bawa. Setelah itu aku hanya ingin berputar-putar di sekitar tempat tinggalku saja.

"Woi ... Adji!!! Sudah sembuh kamu?!" teriak salah seorang tetangga ketika melihatku.

Aku hanya melambaikan tanganku untuk membalasnya.

"Sini mampir!!" teriaknya lagi diiringi senyum seakan senang melihatku.

"Kapan-kapan aja Pak!" balasku.

Aku terus melajukan motorku dan menikmati momen ini. Hingga akhirnya aku ingat Winda.

"Sebaiknya aku pulang. Nanti malam aku akan mengajak Winda ke rumah ibu," gumamku.

...****************...

Winda

Seperti biasa, Mas Adji dan Keisha menyambut kepulanganku di depan pintu.

"Mama ....!!!" teriak Keisha sambil berlari memelukku seakan kami sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Dan Mas Adji pun berjalan menghampiriku.

"Win ... Nanti malam kita jadi ke rumah ibu ya?"

Aku menatap Mas Adji heran. Kenapa justru dia yang niat sekali ke rumah ibunya.

"Aku tadi sudah belajar naik motor Win. Jadi aku sudah bisa bonceng kamu dan Keisha. Nanti malam kita ke rumah ibu dan aku akan menjelaskan semuanya kepada Ibu dan yang lain," ujar Mas Adji semangat.

Sebenarnya aku sudah tidak terlalu memikirkan hal itu. Kemarin-kemarin mungkin aku hanya terbawa emosi. Dan itu membuatku ingin keluarga Mas Adji mengetahui dan mengakui keburukan Mas Adji, sehingga tidak melulu aku yang disalahkan.

"Kayaknya nggak perlu Mas. Nggak usah mengungkit yang sudah-sudah. Asalkan kita sudah baik-baik saja sudah cukup."

"Tapi aku ingin ke sana Win ... Keluargaku harus tahu kalau aku sudah sembuh."

"Oh ... " jawabku singkat. Aku tidak tahu harus berkomentar bagaimana.

Memangnya kalau keluargamu tahu terus kenapa Mas? Apa untungnya buatku? Selama kamu sakit apa mereka peduli padamu? Aku pontang panting mencari biaya berobat untukmu apa mereka mau tahu? Sekarang kamu sudah sembuh kenapa mereka harus diberi tahu?

Rasa tidak terima muncul di hatiku tapi aku tidak enak untuk mengutarakannya kepada Mas Adji.

"Mau kan Win?"

Aku melirik Keisha, menanyakan bagaimana pendapatnya melalui tatapan mataku. Kami berdua sama-sama memiliki pengalaman tidak mengenakkan setiap kali berkunjung ke rumah mertuaku, neneknya Keisha.

"Terserah Mama," jawab Keisha yang mengerti maksud dari tatapanku.

Sebenarnya aku malas sekali bertemu mertuaku. Harusnya aku bersyukur selama Mas Adji sakit dia hanya sekali mengunjungi kami. Bayangkan jika suamiku sakit, tidak punya uang, digunjingkan tetangga, diejek teman-teman, masih harus mendengarkan omelan mertua? Apa aku sanggup?

Mas Adji terus menatapku penuh harap. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarganya. Dia pasti ingin bertemu keluarganya, mungkin kangen dengan ibunya atau adiknya. Meskipun selama ini mereka tidak peduli padanya, mereka tetaplah keluarganya. Dan aku tidak sejahat itu tidak membiarkan dia bertemu keluarganya.

Akhirnya aku mengangguk karena tidak tega melihat ekspresi Mas Adji.

"Terima kasih Win ... " ucap Mas Adji sambil meraih tanganku. Aku bisa melihat dia sangat bahagia.

1
Alvivia
satu kata untuk kamu winda....terserah deh....
Alvivia
kisah yang mengharukan....
falea sezi
bodooooooooh
falea sezi
skip lah gk mutu masak ada keledei bodoh kek winda
falea sezi
Winda kn emang tolol
Maghfira Izzani
Ok
Xiao Bai
Aku suka bagian ini. Ini cobaan terberat dan Winds bisa melaluinya.
Xiao Bai
oooo trnyta ini alasan Winda meminta cerai.
Xiao Bai
Kl sdh suami istri, suaminya sdh merasa beesalah dan mau memperbaiki hubungan, seburuk apapun ya dimaaffin lah
falea sezi: komen paling tolol
total 1 replies
Xiao Bai
Tipe wanita yg cm dengerin omongan org doang langsung percaya gini ini repot dah. Pikirannya cerai2 pdhl suaminya mau memperbaiki, kl gini terus ya lama2 suaminya selingkuh beneran yg semula cm.pijat2 doang.
Lala Al Fadholi
useh...buntut2nya balik ma aji2 juga...kaya ga ada laki2 lain...mending ma indra enak amat jd penghianat menang 2x ini namanya...🤣
Lala Al Fadholi
harusnya winda memang bisa mnjg hati likha...ini namanya udah luka eh di siram garam sM winda....harusnya jgn ikut campur krn ada hati yg bakal sakit akan kebaikan dia...ini namanya winda ga bisa menghargai teman....buat apa baik ma musuh klo akhirnya menyakiti kawan
Lala Al Fadholi
apa kau anggap aku bodoh...? EMANG BODOH...kalo lo pintar harusnya tes DNA sebelum nikahin udah tau perempuan sejuta laki2...
Lala Al Fadholi
rasakno jiiiii....semoga yg ku baca nanti akan lebih pedih dr ini buat aji
Lala Al Fadholi
hayoooo eva siksa terus suamimu....aku mendukung...hahaha...
Lala Al Fadholi
useh balik lagi...ga jijik bekas pelacur
Lala Al Fadholi
Hah memang lelaki bejad...ama pelacur aja doyan
9A_11_Ivania Lila Wiasputri
keren-keren ceritanya.
Rosma Wati
Luar biasa
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!