NovelToon NovelToon
ARETHA

ARETHA

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Perjodohan / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:553.3k
Nilai: 5
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

"Tak pernah kusangka, mencintaimu adalah sebenar-benarnya bencana, dan tak pernah kuduga, pria setampan dan sebaik dirimu bisa membuat luka yang sempurna." Aretha.

"Aku tidak mencintainya, lalu mengapa cemburu itu ada?" Reyhan.

"Kau mengatakan jika kau tidak mencintaiku, tapi reaksi tubuhmu begitu mudah jatuh dalam sentuhanku, Aretha." Fabrizio O'clan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu penuh sabar

Sebuah gedung yang berdiri begitu tinggi menjulang dihadapanku ini nampak lebih menyeramkan dari rumah hantu, apalagi yang menjadi alasannya jika bukan karena aku yang harus segera masuk ke dalam sana untuk menyerahkan hasil designe yang kubuat semalam untuk kuserahkan pada Mr. CEO yang angkuh itu. Benar, gedung mewah perusahaan O'clan Company ini adalah rumah hantu, dan Mr. CEO itu adalah hantunya.

***

Setiap mata yang menjumpaiku memberikan tatapan tersinisnya, dan berselang sedetik aku melewati mereka mulut mereka pun mulai berbusa mengghibah. Benar-benar viral, semua orang pasti mengenalku karena kejadian waktu itu, menendang pusakanya, ufhhh,,,, rasanya aku ingin menghilang sekarang juga.

Aku masuk ke dalam lift berbaur dengan para karyawan O'clan Company yang lain untuk menuju lantai ruang Mr. CEO, kuabaikan tatapan sinis mereka yang terus ditajamkan padaku, ada hal yang lebih penting untuk aku pikirkan saat ini dibanding gosip fakta yang mereka gunjingkan. Apakah terlalu berlebihan jika ini kusebut antara hidup dan mati?.

***

"Mr. CEO belum datang, anda bisa menunggunya terlebih dulu," ucap seorang wanita cantik berpakaian seksi yang duduk di kursi ruang kubikel berhadapan dengan pintu ruang CEO

Aku ingat, dia adalah sekertaris Mr. CEO. Mona, nama yang tertulis pada name tag di dadanya.

"Baik, terimakasih, akan saya tunggu," ini memang masih terbilang cukup pagi, meski beberapa karyawan sudah berdatangan, tapi untuk dia sang pemilik perusahaan, pasti bebas untuk datang kapan saja termasuk lebih siang dari jam seharusnya.

Meski aku harus menunggunya itu tidak masalah, justru aku masih memiliki waktu lebih untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Datang lebih pagi itu lebih baik, setidaknya aku tidak membuat masalah baru dengan datang terlambat, ia mengatakan harus menyerahkan hasil designennya pagi ini, dan aku sudah mempersiapkan semuanya, semoga semua berjalan sesuai harapanku.

Aku duduk pada sofa yang berada dekat dengan jendela kaca, dari sini aku bisa melihat hampir seluruh pemandangan pusat kota yang nampak sangat sibuk, padat merayap. Jalanan dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu lalang cepat di jalurnya, terkadang ini mengingatkanku saat dulu masih tinggal di kota yang lama, meski tak sesibuk kota ini, tapi ini membuatku merindukan ibu. Yah, juga mas Reyhan yang sudah sekuat tenaga aku mencoba melupakannya. Tapi bayangannya sesekali masih datang menghampiri.

"Selamat pagi, Sir." kalimat sambutan yang Nona Mona katakan menarik perhatianku, membuyarkanku dari lamunan. Mr. CEO angkuh itu datang.

"Laporkan jadwalku sekarang," perintah Mr. CEO pada sekertarisnya tanpa menoleh sedikitpun, sekedar membalas sapaan selamat paginya pun nihil. Ia terus melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan langkah kaki yang lebar.

Hey, aku di sini, tempat ini sangat terbuka dan semua orang pasti dapat melihatku dengan mudah, kenapa Mr. CEO malah mengabaikanku dan langsung melesat masuk ke dalam sarangnya?

Sabar, harus sabar. Aku menghembuskan pelan nafasku setelah tadi sekuat tenaga menghirupnya.

"Nona," aku berdiri bergegas menghampiri Nona Mona untuk bertanya.

"Bagaimana dengan saya?" tanyaku mulai gugup, membayangkan bagaimana nantinya aku bisa menghadapi keangkuhan dan amarah Mr. CEO yang kejam tak berperasaan itu.

"Silahkan tunggu, Mr. O'clan bukan orang sembarangan yang bisa anda temui dengan mudah," Cih, mendengar kalimat itu tentu aku merasa kesal, pantas saja orang itu sombong, karena orang disekitarnya juga mendewakan dirinya.

"Jika dia sudah bisa menerima tamu, anda akan saya panggil." jadi? Aku harus menunggu sampai dia mengijinkanku masuk? Oh, sial.

Nona mona masuk ke dalam ruangan Mr. CEO. Meninggalkanku yang kembali duduk terdiam di sofa, menunggu untuk beberapa waktu lagi.

5 menit, nona Mona keluar dari ruangan Mr. CEO dengan membawa setumpuk berkas, ia menaruh berkas itu di atas mejanya untuk ia kerjakan, aku pun segera menghampirinya.

"Nona, bagaimana?"

"Ufhhh,,,, kenapa anda tidak sabar? Jika anda tidak bisa menunggu, maka silahkan pergi dari sini,"

Ya Tuhan,,,, jawaban macan apa itu? Tentu aku bersedia menunggu, memangnya apa yang kulakukan sedari tadi jika bukan menunggu, wanita ini bisa bicara sangat lembut mendayu saat berhadapan dengan Mr. CEO, tapi nyatanya mulutnya sangat tajam saat berhadapan dengan orang lain.

"I-i iya, baiklah, akan saya tunggu,"

Aku kembali duduk pada sofa semula, menunggu dan menunggu.

10 menit, 30 menit, 2 jam, 3 jam, punggungku sampai kaku rasanya karena tegang, sampai kapan aku harus menungggu?

Tepat jam 11, pintu ruang CEO itu terbuka, dan orang yang sedari tadi kutunggu memunculkan batang hidungnya.

Aku lekas berdiri, berpikir jika dia akan memanggilku, namun aku salah, dia terus melangkah melewati Mona yang memberinya bow sebagai penghormatan, Mr. CEO melangkah menuju ruang meeting yang masih berada di lantai yang sama.

Tak ingin kehilangan kesempatan, aku pun berlari mengejarnya, namun langkah ku dihentikan oleh nona Mona.

"Nona, apa yang anda lakukan? Apa anda tidak tahu sopan santun?" kurang ajar, dia berbicara padaku tentang sopan santun? Apa dia tidak tahu jika dirinyalah yang harus belajar etika ketimbang diriku.

"Tapi, nona Mona,"

"Mr. CEO ada meeting, sudah kukatakan, jika anda tidak bisa menunggu, maka silahkan pergi, aku juga sudah mengatakan tadi, kau akan kupanggil jika Mr. CEO sudah memanggilmu," suara nona mona terdengar lantang, sebuah peringatan keras untukku, mengalah, yah, hanya itu yang bisa aku lakukan, mengalah.

"Baik, akan saya tunggu."

Aku kembali bersabar menungggu sampai nona Mona memanggilku, meski aku melihat Mr. CEO keluar dari ruang meeting dan kembali masuk ke ruangannya, tapi aku tak mengejarnya, aku hanya menatapnya penuh harap, semoga Mr. CEO itu melihatku dan segera bersedia untuk menemuiku.

Nona Mona masuk ke ruang CEO sambil membawa bungkusan makanan dari brand ternama, kulihat jam di ponsel, sudah jam makan siang, dan makanan yang dibawa Mona itu pasti adalah makan siang Mr. CEO.

Ya Tuhan, aku sudah menunggu Mr. CEO selama setengah hari, seharusnya aku sudah sampai di rumah sekarang andai Mr. CEO itu tak mengukur waktu untuk bertemu, dan bisa memberikan asi secara langsung pada Tita, ini semua karena Mr. CEO angkuh itu, sampai kapan dia akan membuatku menunggu? Apa dia hanya mempermainkanku? Sungguh aku akan membuat perhitungan dengannya.

Mengingat Tita aku ingin menangis, aku pun menghubungi Namira melalui sambungan video call untuk melihat aktivitas putri kecilku, melupakan makan siangku, karena aku juga fokus melihat pintu ruang CEO bergantian dengan nona Mona, berharap namaku segera mereka panggil. Takut, jika aku turun untuk mencari makan siang, dia justru datang.

Jam menunjukkan pukul 3 sore, perutku sudah perih menahan lapar sejak tadi, segelas air pun sama sekali tak kuterima, jika aku pergi kutakut dia akan menggunakan alasan itu untuk membatalkan janji denganku. Sudahlah, anggap saja sedang latihan berpuasa.

Pukul 4 sore, jam kantor telah usai, pintu ruang CEO terbuka dan dia melangkah cepat menuju lift, megabaikan Mona yang kembali memberinya Bow penghormatan.

Tak peduli lagi dengan etika maupun sopan santun, ini sudah keterlaluan, aku menunggunya sampai seharian, aku pun berlari mengejar Mr. CEO, ikut melesak masuk ke dalam lift, dan kami hanya berdua di sana.

'Haahh,,,, haahh,,,,' aku membuang nafas kasar beberapa kali terengah karena harus berlari mengejarnya. Karena menunduk aku tak dapat melihat bagaimana raut mukanya mendapati aku yang kini berada di sampingnya, marah, kesal, atau tersenyum puas, sampai aku mengangkat kepala untuk memulai berbicara, dan dia hanya bersikap datar seperti aku ini tidak ada. Dengan gaya angkuhnya, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan aku yang sedari tadi pagi menunggu untuk bisa bertemu dengannya.

"Mr. CEO, S-sa saya sudah membawa hasil designe eksterior yang anda minta," ucapku yang masih sedikit terengah.

Hening, tak ada jawaban. Ingin rasanya aku mengulangi kalimatku, tapi aku takut itu akan memancing emosinya, karena kuyakin, dia pasti sudah mendengar kalimatku dengan jelas tadi.

Aku sangat gelisah, berdiri mematung sambil memegang berkas designe dengan tangan gemetar karena Tremor.

"Mr, CEO, designnya," ucapku mengulangi, astaghfirullah,,,,, dia benar-benar bukan manusia. Sama sekali tak menghiraukan diriku.

'Ting.'

Pintu lift terbuka, Mr. CEO melangkah keluar, kami telah sampai di loby utama lantai dasar, tak ada pilihan selain mengikutinya berjalan.

Sampai di depan halaman utama perusahaan, sebuah mobil mewah telah siap menunggu kedatangannya, seorang satpam dengan sigap membukakan pintu belakang bagian penumpang, itu artinya ada sopir yang akan mengendarai mobil ini.

Mr. CEO masuk ke dalam mobil, aku, bagaimana denganku? Tidak, aku tidak boleh kehilangan dia, atau dia akan membatalkan perjanjiannya.

Tanpa aba-aba, aku berlari memutar, membuka pintu belakang melesak masuk ke dalam mobilnya menjatuhkan bok.ong pada jok di samping Mr. CEO, sangat memalukan, tanpa izin dan perintah aku memasuki mobil orang lain. Tapi aku tak ada pilihan, aku tidak mau Mr. CEO pergi meninggalkanku begitu saja.

Nafasku tersengal sampai dadaku naik turun, masa bodoh jika dia akan berteriak marah ataupun memakiku, tapi yang jelas, aku tidak akan keluar sebelum dia melihat hasil designe yang kubuat dan memberikan keputusannya.

Tapi, ternyata aku salah, sampai mobil melaju meninggalkan perusahaan, Mr. CEO tidak berkomentar apa-apa. Dia tidak marah, tapi juga tidak bicara. Apa dia sudah menjadi bisu? Apa dia sudah mendapatkan azab atas kesombongannya?

"Mr. CEO, saya telah membawa hasil designe yang anda minta, mohon untuk memeriksanya!" kedua tanganku terulur ke depan, menyerahkan berkas dengan penuh hormat dan harap, lagi tak ada tanggapan.

Kepalaku yang semula menunduk, sedikit demi sedikit terangkat untuk melihat dirinya, dan, apa ini? Dia bersandar santai pada punggung jok, melipat kedua tangannya sedada, sambil memejamkan mata, ya Tuhan....

Kutarik kembali kedua tanganku penuh kesal, tapi aku harus tetap bersabar.

Hening, entah mobil ini melaju akan membawanya kemana, kini aku sudah pasrah dan diam mengikuti, sampai akhirnya mobil mewah ini berhenti di sebuah landasan udara.

Tunggu, landasan udara? Sejak kapan kami telah sampai di sini? Langit sore telah petang.

Tadi aku memang sempat tertidur, aku sangat lelah, setelah semalaman terjaga mengerjakan designe setelah menidurkan Tita, seharian duduk mematung menunggu Mr. CEO, bahkan aku tidak makan siang, jadi wajar jika tadi aku tertidur begitu saja karena lelah. Tapi sampai mataku terbuka, Mr. CEO masih duduk di sampingku, dan dia baru membuka pintu mobil untuk keluar setelah aku bangun.

'Brak.' tidak sengaja aku menutup cukup keras pintu mobil karena aku harus cepat mengejar Mr. CEO yang sudah melangkah cepat menuju sebuah pesawat, sebuah pesawat mewah jet pribadi.

"Mr. CEO, designnya," teriakku, ia terus melangkah dan aku terus berlari, sampai ia menaiki tangga pesawat, barulah langkahku terhenti, punggung Mr. CEO perlahan telah menghilang dari pandangan.

Aku menangis, bukan karena lemah, tapi setelah menunggu selama seharian hingga hari petang dan tak dihiraukan itu ternyata rasanya sakit dan sesak.

"Nona, silahkan naik, pesawat akan segera lepas landas." suara lembut seorang pramugari yang turun menghampiriku membuyarkanku dari lamunan.

Apa? Aku? Naik? Tunggu, aku harus memastikan apakah ini perintah Mr. CEO atau tidak, aku tidak mau jika nanti dia menendangku keluar dari pesawat saat masih terbang diudara.

"Apa, Mr. CEO yang meminta?"

"Iya, beliau mengatakan jika ada meeting dengan anda, silahkan, anda sudah ditunggu,"

Ditunggu? Sial, dia akan menjadikan alasan ini sebagai satu kesalahanku, menuduhku terlambat datang begitu? Kurang ajar.

Aku pun melangkah cepat menaiki tangga pesawat mengabaikan rasa takutku yang semula hinggap, yah, aku takut melakukan penerbangan, dulu aku pernah melakukannya sekali saat bersama mas Reyhan, dan itu menyeramkan, pesawat yang berada di ketinggian terasa bergetar kuat seperti motor yang melewati jalan berbatu, dan itu menakutkan.

***

Bersambung.

Lantas, bagaimana pertemuan Aretha dengan Mr. CEO?

Dilanjut hari ini apa besok saja ya?

1
slohnayani berutu
Luar biasa
Ros Yusmiasih
wah tambah seru ceritanya.......
Ros Yusmiasih
aku tersenyum ....lucu sekali ....
martina melati
hahaha.... iy kocak nih thor bundany reyhan
martina melati
iy betul nih kata2 dr.bian
martina melati
lho? kamu sendiri jg sedang meluk rena... masa tangan mantan istri dpegang dr.bian jd marah...???
martina melati
kamu salah orang.. salah orang... dbikin tiktok aja
martina melati
hahaha... gk usah heran, perempuan itu ingat lho... bukan dendam y!
martina melati
emang gk dgigit nyamuk2 nakal???
martina melati
koq malah mikir bgini sih... wajarlah suami istri melakukan hubungan intim kan sdh sah
martina melati
maaf lho..,, bukan mihak aretha... tp rena, mumpung blm menikah sbaikny relakan reyhan... x aja jodohmu lbh dr reyhan
martina melati
lho sdh bercerai toh... emang boleh dcium???
martina melati
jangan sering nangis lho bumil... kasihan nti bayiny kalo sdh lahir jd cengeng...
martina melati
jangan2 yg ngidam nih reyhan
martina melati
kasianny... mau mkn dcegah dminta buatin masakan...
martina melati
nah... loe... td kn sdh dkoment jika jodoh mau cerai pun kyk'e sulit dpisahkn walo sdh sah cerai
martina melati
benar toh patah jadi 2
martina melati
katanya mau belajar jualan baju agar bisa buka toko baju... y gpp tinggal sm mantan ibu mertua apalg jika baik hati...
martina melati
egois... sdh menikah dg satu wanita ingin memiliki lg satu wanita... patah jadi 2 nih namany
martina melati
ngaur... jika tidak berjodoh walo saling mencintai y gk bisa dpaksakn donk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!