Satu rumah dengan orang yang paling kita cintai, memang impian semua orang, tapi bagiku itu seperti neraka.
Bagaimana jadinya jika pernikahan yang seharusnya tumbuh karena cinta dan malah terjadi karena ketidaksengajaan.
Dan di satu rumah kan bersama orang yang kita sayangi namun berakhir tragis.
bagaimana kelanjutan kisahnya, jangan lupa untuk menambahkan ke favorit biar dapat informasi updatenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti Fauziah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surprise
Drrrttt....
Drrrttt....
Drrrttt....
Ponselku berbunyi dan ada notifikasi dari nomor tidak dikenal mengirimkan sebuah video lalu aku memutarnya.
Di video itu menampilkan ayah dan ibu yang sedang terikat di sebuah kursi sedangkan mereka masih dalam keadaan tidak sadar.
"ASTAGA! AYAH,, IBU" aku teriak histeris.
Lalu si perekam menggerakan kameranya kearah lain dan disana banyak sekali darah dilantai lalu dia merekan seseorang dimulai dari kaki nya yang sudah penuh berlumuran darah dan saat kamera menyorot ke wajahnya aku berteriak lagu karena itu Danial.
"ASTAGA DANIAL! " aku yang terus berteriak membuat supir taxi kaget dan menghentikan mobilnya.
"Ada apa ?" tanyanya penasaran.
"Kita putar balik ke tempat tadi saya naik" aku bicara tanpa menoleh.
Aku masih tetap menatap layar ponsel yang memperlihatkan Danial sedang di tendang-tendang oleh kaki si perekam.
"SIAPA KAMU? BERANI-BERANINYA BERBUAT HAL ITU PADA MEREKA!" aku terus memakinya tanpa tahu siapa dia sebenarnya.
Dan si perekam mulai berbicara namun kameranya masih tetap menyorot pada Danial yang sudah tidak berdaya.
"Hallo Zia, kamu kaget tidak dengan sikap lelaki brengsek kamu ini" katanya dengan terus menendang Danial yang penuh dengan darah.
Aku tidak banyak berpikir dan segera menelpon ke nomor itu.
"HALLO!"
"HALLO!"
"ANDA BISA DENGAR SAYA?" aku berkata dengan berteriak dan sedikit emosi.
Dia tidak menjawab apapun dan hanya membiarkanku terus berteriak.
"JAWAB!"
"PENGECUT!"
"AAAAAAAAAAA" aku teriak histeris dan membanting ponsel ke jok samping karena dia tidak menjawab apapun.
"Pak tolong lebih cepat lagi" setelah sedikit tenang aku bicara pada supir taxi.
Dia tidak menjawabnya dan terus fokus menatap jalanan di depan.
*
Tidak butuh waktu lama untuk kami sampai di villa.
"Mbak udah sampai" ucap supir itu dengan ramah nya.
"Makasih pak" ucapku sembari menyodorkan uang 100 ribuan 5 lembar padanya.
"Kebanyakan mbak" dia menolak uang yang aku kasih.
"Gak apa-apa ambil aja, terimakasih karena bapak sudah menunggu saya dari tadi" tanpa banyak bicara lagi aku langsung menyimpan uang didekatnya dan segera turun.
Aku berjalan dengan cepat ke villa dan masuk lewat pintu depan.
Dan saat aku buka pintu. . . . .
"SUURRRPPRRRIIIISEEEEEE.... " ucap semua orang yang ada didalam villa.
Aku hanya diam membisu tidak bisa berkata apa-apa sambil menatap mereka satu persatu, karena keadaanku sedang khawatir dengan kondisi mereka setelah melihat video itu apalagi mataku mulai sembab.
"Zi maaf jika niatku sedikit memaksa, tapi dari awal kita bertemu aku udah yakin bahkan sangat sangat yakin sama kamu. Dan tolong kasih aku kesempatan terakhir" Danial langsung berjongkok menghadapku.
"APA SEMUA INI?" aku tidak menghiraukan ucapan Danial sebelumnya dan aku malah berteriak bertanya pada semuanya dengan kata-kata sedikit ditekankan.
Mereka tidak menjawab apapun dan bahkan mereka yang awalnya tertawa dan bersorak bahagia hanya menundukan kepala.
"Kalian tega mainin aku, aku udah capek cari-cari kalian, aku udah khawatir setengah mati. Aku kesana kesini cari kalian bahkan bukan hanya aku, supir taxi aja rela nungguin aku disana dan beberapa orang dengan urusannya juga tertunda hanya gara-gara kalian." Aku menatap benci pada mereka dan bahkan sekarang air mataku mulai turun dengan deras.
"Oke fine, kalian punya niat baik mau kasih aku kejutan dan kalian berhasil untuk itu. Tapi, apa kalian sadar kalo keegoisan kalian hanya akan merugikan orang lain"
"Dan untuk kamu, apa kamu gak punya hati? Coba kamu pikirin perasaan Zahra bagaimana" aku menatap tajam pada Danial yang masih berjongkok didepanku.
"Aku gak ada apa-apa sama dia, kita udah selesaikan masalah kita dan dia fine-fine aja jika aku nikah sama kamu." Danial menjelaskan padaku.
"Baiklah, dan sekarang aku menolak kamu, jadi gak usah usik hidup aku lagi" ucapku padanya dengan sedikit iba.
"Zi, aku cuma minta satu kali aja kesempatan...." Ucapannya terpotong olehku.
"Dan, aku ngerti perasaan kamu bahkan perasaanku mulai tumbuh dan aku juga mencintai kamu. Tapi aku gak bisa terus-terusan berada diantara kamu dan Zahra"
"Ya walaupun kalian bilang kalian tidak ada hubungan apa-apa tetap saja aku sebagai wanita aku juga punya perasaan, punya hati yang bisa sakit." Tidak terasa air mataku mulai keluar saat aku terus mengoceh pada Danial.
"Zi, aku gak cinta sama Zahra aku hanya cinta sama kamu" ucapnya lagi.
"Ya aku tau itu. Tapi aku gak bisa terima kamu lagi, maaf" dengan lirih aku berkata pada Danial yang sudah kehilangan asa.
"Zi, apa gak bisa kalian selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Mungkin kalian salah paham makanya masalahnya jadi berbelit begini." Tiba-tiba ibu bicara dan mengingatkan kami.
"Bu aku capek terus-terusan melihat dia dekat dengan wanita lain" ucapku disusul dengan tangisan yang mulai menjadi.
Tiba-tiba terdengar pintu yang dibuka oleh seseorang dan terdengar suara langkah seseorang mendekat pada kami.
"Bisa aku bicara" tanya seseorang yang akupun belum tahu siapa.
Saat aku menoleh melihatnya ternyata itu Zahra, entah bagaimana dia bisa ada disini.
"Kamu?" ucapku dengan tidak percaya.
"Ya ini aku, aku datang kesini atas permintaan Danial dan aku akan menjelaskan semuanya agar kesalahpahaman ini berakhir." Ucapnya sambil duduk di kursi, tingkahnya membuatku sedikit kurang respect padanya karena dia bersikap seolah tidak tahu etika dan tatakrama.
"Apa tidak sebaiknya kita bicara sambil duduk?" usul ayah yang sudah duduk lalu di susul oleh ibu yang duduk disampingnya.
Kami semua duduk di kursi, aku dan Danial duduk bersebelahan sedangkan Zahra dia duduk di sofa yang hanya muat untuk satu orang.
"Jadi saya harus mulai dari mana?" tanya Zahra dengan sedikit menyeringai.
Semua orang memandang ke arahku terutama Danial dia bahkan menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kenapa jadi aku sih?" aku yang risih dengan tatapan semuanya segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Jadi Zia gak mau nerima kamu lagi?" tanya Zahra pada Danial.
"Alasannya apa?" tanyanya penasaran.
"Dia cemburu sama kamu dan dia gak mau terlibat diantara kita karena katanya aku dan kamu terlalu menempel" Jawab Danial dengan sengaja meledeku.
"Astagaaaaaa Zia zia,,,, aku sama dia gak ada hubungan apa-apa kami hanya teman dari kecil gak lebih" kata Zahra yang ikut menertawakan.
"Lalu kalian bisa jelaskan hubungan macam apa yang kalian jalani sehingga dia dengan gampangnya merenggut keperawanan kamu?" tanyaku dengan sedikit menekankan kata-katanya.
Zahra yang sedang tertawa seketika berhenti mendengar ucapanku yang sedikit merendahkannya.
"ZIA!" bentak Danial padaku.
"Apa? Kalian tersinggung? Aku gak mau terus-terusan ada diantara kalian dengan berbagai macam drama yang kalian lakukan" seketika amarahku langsung memuncak setelah mendengar Danial membentaku demi Zahra.
"Kamu bisa gak sih jaga sikap kamu?" Danial bertanya dengan sedikit lembut, mungkin dia merasa bersalah sudah membentaku.
"Aku jaga sikap? Lalu apakah kalian bisa jaga perasaan aku?" kataku dengan sedikit emosi.
"Katanya mau menyelesaikan masalah kok malah beradu argumen gini sih?" Ibu yang sedaritadi mendengarkan segera melerai kami.
"Zia, kamu diem dulu biar masalahnya cepet selesai!" Perintah Danial padaku dengan sedikit melarang.
Aku tidak menjawabnya bahkan sejak Danial melarang aku hanya diam sambil menatap mereka bergantian.
"Zahra lanjutkan penjelasan kamu" ucap ayah yang menyuruh Zahra melanjutkan penuturannya yang sempat tertunda.
"Baik saya jelaskan dari awal"
"Jadi, dulu saya dan Danial teman dari kecil dan hingga dewasa dia menyukai saya namun saya dengan keras kepala menolaknya, bahkan waktu itu dia sempat menyusul saya keluar negeri dan disana kita bertemu lagi meski keadaanya sudah berbeda, disana saya sudah punya kekasih dan saya hanya menganggap dia sebagai teman tidak lebih" Tutur Zahra.
"Lalu?" tanya ibu yang mulai penasaran dengan cerita mereka.
"Ya dari situ kita ketemu dan dia juga tau aku udah pacaran dengan orang lain. Dan entah gimana ceritanya aku mergokin pacar aku selingkuh dengan wanita lain lalu aku menceritakan semuanya pada Danial karena dari dulu kita selalu berbagi cerita, dari hari ke hari kita mulai dekat tapi aku tidak pernah ada niat untuk punya rasa sama dia. Hingga suatu hari kita bertemu di club sambil minum minuman beralkohol lalu mabuk dan akhirnya kita melakukan itu, jadi kejadian itu tanpa unsur kesengajaan." Zahra menjelaskan dengan detailnya.
"kemarin-kemarin keluarga kamu datang untuk menjodohkan kalian, lalu apa maksudnya itu?" tanyaku dengan sedikit mengernyitkan alis.
"Karena itu aku yang minta, setelah kejadian itu aku sering mengecek kandungan aku bahkan jika aku telat datang bulan satu hari aja aku langsung panik, makanya waktu itu aku datang untuk minta di jodohkan dengan Danial." Jawab Zahra.
"Aku benar-benar gak ngerti sama kamu" aku menjambak rambutku sendiri karena merasa tidak yakin dengan penuturan Zahra.
"Gak ngerti dimananya coba?" tanya Zahra padaku.
"Lalu kenapa siang itu kamu datang dengan Danial dengan mabuk dan badannya penuh dengan bekas ciuman kamu, bahkan malam harinya kamu datang ke rumah untuk menginap sebagai tamunya Noku?" tanpa basa-basi aku langsung menanyakan keganjalannya.
"Untuk itu, biar Danial aja yang jelasin aku gak berhak dan untuk Noku ya aku punya urusan sama dia" jawabnya dengan enteng.
"Coba sekarang kamu yang jelasin?" aku beralih menoleh ke Danial.
"Jelasin apa?" tanyanya dengan polos.
"Kamu masih menyukai Zahra?" tanyaku langsung.
"Tidak, aku lebih menyukai kamu dan mencintai kamu lebih dari siapapun termasuk ibu aku sendiri" jawabnya.
"Eh, ibu kamu harusnya yang utama." Ucapku menimpal.
"Iya tapi kalo aku jawab kamu yang kedua, kamu bakal tetep marah kan" Ucapnya merajuk.
"Terus kenapa waktu kamu pulang badan kamu penuh dengan bekas lipstik?" tanyaku masih heran.
"Jadi gini, waktu itu aku sengaja menyuruh Zahra datang ke caffe apa club ya lupa, dan saat itu aku menyuruh dia membawa boneka yang punya bentuk bibir seperti manusia lalu mengoleskan lipstik di bibir bonekanya dan menyebarkannya di tubuh aku dan aku sengaja melakukan itu hanya untuk melihat reaksi kamu bagaimana" jawabnya dengan sedikit becanda.
"Gak mungkin, orang aku liat kalian sama-sama mabuk" aku membantah penjelasan Danial.
"Aku sengaja meminum segelas bir, dan itu gak mungkin buat aku mabuk agar aroma bir tercium sama kamu dan aku juga pura-pura mabuk." jawabnya.
"Terus Noku bilang dia datang kesana gak liat ada Zahra disana? Terus kamu kan pulang ke rumah sama Noku kenapa bisa sama Zahra datang ke kamarnya?" aku terus menanyakan hal yang membuatku janggal.
"Karena aku menyuruh dia sembunyi di toilet lalu mengikutiku ke rumah, dan sebenarnya Zahra juga tidak mabuk dia hanya pura-pura" jawabnya lagi.
"Tunggu dulu kenapa aku gak bisa percaya ya sama apa yang aku dengar sekarang" aku bergumam dengan sedikit tidak percaya.
"Apa lagi yang mau kamu dengar? Aku akan jelaskan semuanya" ucap Danial.
"Untuk apa juga kamu lakuin itu semua? Hingga pura-pura mabuk, apa kamu senang mempermainkan perasaan aku?" Lagi-lagi aku menanyakan pertanyaan itu pada Danial.
"Zi, kalo masalah mabuk aku juga marah sama kamu, kenapa kamu bohong sama aku tentang Brian? Dan kenapa kamu harus dekat-dekat sama dia?" Sekarang malah dia yang balik marah.
"Ehh, aku dari awal gak ada niatan bohong, lagian aku gak sembunyiin hal lain ya sama dia. Dan juga aku udah pernah jelasin masalah itu kenapa kamu ungkit-ungkit lagi?" aku merasa terpojokan olehnya.
"Tunggu dulu, siapa itu Brian?" tiba-tiba Zahra memotong pembicaraan kami.
"Kamu gak perlu tau siapa dia, dia bukan orang penting kok dan dia gak ada hubungannya dengan ini" aku menjawabnya untuk menyanggah pernyataan Danial.
Ayah dan ibu daritadi hanya diam mendengarkan pembicaraan kami bertiga.
"Lalu masalah kalian sudah selesai? Kalo sudah berarti urusan aku udah selesai ya?" ucap Zahra seraya bangkit dari duduknya.
"Ya udah kamu pergi aja" jawab Danial.
Zahra pun pergi keluar dari villa di ikuti beberapa pengawal Danial.
"Mau selesai mau enggak, ya tetep aja aku nolak kamu Danial." Aku langsung bangkit dari duduku.
"Kok gitu?" Danial merasa usahanya sia-sia menjelaskan panjang lebar namun hasilnya tetap saja di tolak.
"Ya aku gak bisa paksain lagi perasaan aku sama kamu, biar waktu aja yang menjawab semuanya" ucapku lalu pergi ke arah luar villa.
Aku berjalan keluar villa dengan sedikit pelan, dan menghirup udara malam yang mulai larut.
"Astaga hampir lupa, apa yang pak Rudi lakukan tadi aku belum sempat menanyakannya pada mereka" gerutuku dalam hati.
Saat akan berbalik menuju ke dalam ternyata Danial tepat berada disampingku dan kami harus bertatapan beberapa detik.
"Astaga! Bikin kaget aja" ucapku kaget.
"Zi" Ucapnya lirih.
"Ada apa?"
"Kamu yakin mau nolak aku?" Ucapnya lagi.
"Terus? Daritadi udah aku bilang kan dan jawaban aku akan tetap sama seperti itu" aku menjelaskan lagi padanya.
"Baiklah" jawabnya singkat lalu beranjak pergi lagi.
Sebelum dia benar-benar pergi aku segera memanggilnya untuk menanyakan lagi beberapa hal lain.
"DANIAL!" aku berteriak pelan memanggilnya.
"Apa?" tanyanya keheranan.
"Aku mau tanya sesuatu" kataku sambil melirik kesekitar takutnya ada orang yang menguping.
"Dan, tadi waktu aku pergi dari rumah, aku liat pak Rudi mengunci kamar di lantai 2 dan lengan bajunya berlumuran darah, apa kamu tau hal itu?" tanyaku dengan tingkah seperti detektif yang sedang menyelidiki.
"Tau lah, kan aku yang suruh dia" dan deg jawabannya membuatku bingung seketika.
"Kamu membunuh seseorang?" tanyaku padanya sedikit curiga.
"Ya enggak lah, untuk apa aku bunuh seseorang" Jawabnya.
"Terus aku juga liat dia menyeret sebuah karung yang berlumuran darah dan bahkan dia mengejar-ngejar aku" aku menjelaskan kejadian tadi siang pada Danial.
"Itu bukan darah, tapi pewarna buat melukis yang aku beli dan gak kepakai tapi malah tumpah mengenai karung yang berisi peralatan buat kasih surprise sama kamu tadi" jawabnya lagi.
Ya memang benar tadi sewaktu mereka kasih surprise rumah didekorasi dengan berbagai macam hiasan.
"Tapi dia sempat mengejar-ngejar aku tadi makanya aku kabur" ucapku menyanggah.
"Dia mau mastiin kalo kamu gak liat yang dia lakuin, soalnya aku udah peringatkan dia agar kamu tidak tau tentang rencana ini, dia takut kalo kamu sampai tahu nanti dia bakalan aku pecat" jelas Danial.
"Astaga aku udah salah paham" Aku menyeringai malu atas tuduhan ku pada pak Rudi.
"Terus siapa yang kirim video kalo kamu lagi di siksa dan di ikat?" tanyaku lagi.
"Ya aku sendiri lah, aku sengaja agar kamu pulang ke villa, karena kata pak Rudi kamu ketakutan waktu tadi siang dan gak mungkin kamu bakal balik ke villa dengan sendirinya. Makanya aku kirim video itu agar kamu pulang kesini dan aku kasih surprise lamaran buat kamu" dengan sedikit kesal Danial menjelaskan lagi semuanya.
"Kok kamu sweet banget sih" ucapku dengan tulus.
"Sweet tapi kok ditolak terus!" jawabnya dengan kesal.
"Aku beneran gak bisa kalo kita langsung tunangan, lagian kan kita juga belum lama kenal masa kamu udah ambil keputusan aja sih" aku berusaha membuatnya yakin dengan pilihanku.
"Ya" Jawabnya merajuk.
"Kok marah sih?"
"Gak" ucapnya lagi.
Aku tidak menggubris Danial lagi, aku hanya menatap langit malam yang penuh dengan bintang.
"Dan, kamu liat deh langit sepertinya sedang bahagia langitnya sangat cerah dan bintangnya juga bersinar dengan indah" aku mengalihkan pembicaraan.
"Zi" ucap Danial lirih, sepertinya dia tidak mendengarkan ucapanku sebelumnya.
"Apa?"
"Kalo misalnya kita punya komitmen tanpa ada status gimana?" ucapnya dengan ragu.
"Maksudnya?" tanyaku kaget.
"Ya kita bersikap layaknya teman gak lebih, tapi kita punya komitmen untuk menikah, jadi ya kamu bebas mau ngapain aja aku gak akan larang tapi ya kita berkomitmen untuk menikah aja" Ucapnya.
"Boleh juga sih, tapi gimana kalo nanti aku pacaran sama orang lain?" tanyaku menggoda Danial.
"Ya terserah kamu, kan aku gak akan atur-atur kamu" ucapnya.
"Ya kalo gitu aku setuju, dan untuk pernikahannya biar aku yang tentukan kapan, kamu gak bisa ambil keputusan sendiri" aku mencoba membuat penawaran.
"Baiklah" ucapnya dengan gembira.
Danial terlihat sangat senang mendengar jawabanku, mungkin memang benar dia sangat menyukaiku hingga reaksinya seperti itu.
*
semangat terus up nya,, ceritanya bagus 😍💪
-cinta jangan datang terlambat
-ternyata itu cinta