"Maaf, aku mundur."
"Maksudmu?"
"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."
Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit, Woy!
~Tak perlu membohongi diri. Jika suka, katakan saja.~
💥💥💥💥💥💥
💥💥💥💥
💥💥
Semua orang menikmati nasi liwet yang tersaji. Riki bahkan dua kali menambah nasi.
"Enak," katanya.
Dika merasakan sesuatu yang berbeda dari Riko. Namun, ia hanya mengamati. Mungkin hanya perasaanya saja.
"Ma, Pa, mungkin besok, Riko bakal meluncur ke Bandung langsung," ungkap Riko memberitahu kembali kepergiannya.
"Kamu bakal lama di sana, Nak?" Dika bertanya serius.
Riko berpikir sekilas. "Mungkin sekitar dua mingguan."
"Jangan kelamaan, Bambang! Awas aja, kala pas acara lo enggak ada. Gue gantung di pohon toge." Riki ikut ambil bagian di perbincangan ini.
Dira hanya diam mendengarkan ketiga lelakinya bercakap-cakap.
Riko menggelengkan kepala dua kali. "Kalau enggak sibuk, gue hadir. Kalau sibuk. Sorry, Brother!" Sedetik kemudian Riko tersenyum mengejek.
"Wah, menantang Adek Riki ini kayaknya Abang satu ini." Riki mulai kesal.
"Makan dulu! Habis itu kalau mau gulat, pergi ke lapangan!" tegur Dika.
"Iya, Pa." Kedua anaknya menyaut.
Sungguh ... kekacauan ini akan selalu dirindukan saat salah seorang dari mereka telah tereleminasi dari rumah ini. Mungkin hanya tinggal kesenyian yang terasa.
Mereka kembali makan dengan tenang. Menikmati setiap masakan ala Sunda tersebut dengan hati riang. Setelah selesai, Riki membantu mamanya membereskan piring. Sementara Riko rupanya pamit lebih dahulu ke kamar.
Piring telah selesai dicuci. Riki pun pamit menyusul kembarannya ke lantai atas. Mungkin saja kehadirannya sangat dibutuhkan. Ya, sekadar menghibur jiwa yang tengah dirundung kesedihan.
Dika kian merasa janggal. Dan, ketika Dira menghampirinya sembari membawa secangkir teh ke ruangan keluarga, ia menyempatkan bertanya.
"Sayang, kamu ngerasa ada yang aneh sama Riko?" tanyanya cepat. Dira duduk di samping Dika.
"Aku ngerasa ada sesuatu yang janggal," sambung Dika sembari tangan kananya meraih segelas teh, dan menyeruputnya perlahan
"Lily, dan Riko sudah berakhir lagi," jawab Dira sejujurnya.
Sontak Dika menyemburkan teh. Ia kaget. Bahkan kepalanya pun otomatis menoleh ke samping. "Kamu enggak salah ngomong, Sayang?"
Dira menggeleng cepat. "Riki yang bilang."
Dika menaruh kembali cangkir teh di tempatnya. "Apa terjadi sesuatu?"
Dira diam. Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan di benak Dika. "Apa kamu?"
"Ya, Mas." Secepat kilat Dira mengakui. Ia terlibat atas keputusan yang Lily ambil. Setidaknya secara langsung.
"Kenapa?" Dika bertanya tanpa mengintimidasi. Ia selalu berusaha bersikap lembut.
"Hati kecilku belum bisa menerima Lily. Aku belum bisa melupakan sakitnya Riko dulu," jelas Dira dengan cepat.
Dika paham. Ia bergeser ke kanan, merapatkan tubuhnya ke badan Dira. Tangan kanannya merangkul pinggang ramping sang Istri. "Sayang ... kita ini hanya orang tua. Kita tidak perlu terlalu ikut campur. Bukankah kebahagian mereka adalah kebahagian kita juga? Biarkan mereka memilih jalannya sendiri. Yang penting tidak sampai melanggar syariat agama."
Dira menunduk. Bulir air mata mulai membasahi pipi. Di pelukan sang Suami itulah tempat yang paling nyaman ia bermanja-manja. Meluapkan apa yang menjadi bebannya.
"Kamu terlalu sayang sama Riko. Jadi ... kekhawatiranmu pun makin berlebih. Lepaskan. Riko punya alur cerita yang ingin juga ia tulis sendiri. Kita hanya bersiap untuk menjadi pemeran figuran di cerita dirinya."
Dira tak lagi berbicara. Ia cukup menunduk dengan wajah yang telah basah oleh air mata. Tanpa mereka sadari, Riko rupanya memperhatikan keduanya di dekat anak tangga. Kakinya berat untuk sekadar meneruskan langkah.
🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️
Pagi datang setelah panjangnya malam. Riko bersiap-siap mengemas beberapa baju dan perlengkapan selama di sana. Tak lupa ia mengirimkan pesan pada Adnan. Mengatakan, jika dirinya akan langsung berangkat dari rumah.
Riko pergi dengan mengendarai mobilnya. Sebelum berangkat, Riki beberapa kali mengingatkan Riko tentang pernikahannya yang akan diselenggarakan tiga minggu lagi. Lelaki itu tak peduli apa pun yang tengah melanda Riko. Sekali pun badai salju, hujan lebat dengan petir menyambar. Riko tetap harus hadir.
"Emang gila tuh, si Riki," gumam Riko sembari menyetir.
Perjalanan menuju kota Bogor memang tidaklah lama. Namun, suasana jalanan Ibu Kota yang beberapa mengalami kemacetan pun terkadang menghambat perjalanan.
Mobil Riko sudah keluar dari Jakarta, dan masuk wilayah Bogor barat. Lokasi proyek baru tersebut berada di Bogor Timur. Ketika mobilnya sampai di jalan Cempaka Bogor Timur, Riko sempat menepi sejenak untuk melihat GPRS. Lalu, ia kembali berkendara.
Saat akan melintasi perempatan. Mobil Riko yang hendak berbelok ke kanan tanpa sengaja menyenggol sebuah sepeda motor berserta pengendaranya. Sehingga, menyebabkan ia melakukan pengeraman mendadak. "Astagfirullah."
Melihat pengendara motor tergeletak, Riko bergegas turun. Adapula yang ikut turun dari mobil belakang. Riko menghampiri pengendara sepeda motor yang saat ini sudah bangkit dari aspal, dan dengan posisi membelakangi Riko.
"Maaf, saya enggak sengaja," sesal Riko.
Mendengar suara Riko, spontan pengendara itu berbalik badan. Membuka helm sport miliknya. Rupanya dari balik helm itu tampak wajah ayu seorang gadis berpenampilan tomboy dengan rambut hitam panjang. Celana jeans robek-robek serta baju kaos oblong berkerah V warna hitam. "Oh ... jadi lo yang nyerempet gue!" Tatapannya tajam. Matanya bersinar terang mirip mata seekor elang yang tengah mengincar mangsa. "Sakit, Woy! Makanya, kalau belum bisa nyetir, enggak usah gaya-gayaan naik mobil. Noh, naik becak dulu aja!"
Riko melongo. Ia seperti sedang menonton Riki versi perempuannya. Ya, setidaknya itu yang bisa ia simpulkan.
"Jangan ngelamun, Woy! Kesambet setan baru tau rasa!" Suara nyaring perempuan itu kembali menggelitik gendang telinga Riko.
🌈🌈🌈🌈🌈🌈
nikah kq dibuat mainan
begitu sih etikanya
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗