NovelToon NovelToon
Teman Tapi Menyebalkan

Teman Tapi Menyebalkan

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:108.6k
Nilai: 5
Nama Author: BILANOUR

Ini adalah kisah tentang Zahira dan Arsha. Mereka adalah teman sejak SD hingga mereka SMA. Anehnya, mereka selalu saja satu kelas.

Arsha, idola sekolah yang selalu bersikap seenaknya sendiri pada Zahira. Namun, dia juga begitu perhatian. Apakah Arsha jatuh cinta secara diam-diam pada Zahira? lalu, apakah perhatian Arsha membuat Zahira pun memiliki perasaan yang sama?

Bagaimana sikap Zahira saat mengetahui masa lalu keluarganya dengan keluarga Arsha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BILANOUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TTM 28

"Bagaimana aku bisa mengajar anak TK ini gustiii ...."

Aku akhirnya pasrah. Menelungkupkan wajah pada meja belajar yang menjadi penghalang anatara aku dan Evan. Anak itu tidak mau diam. Ketimbang belajar, dia malah bermain ke sana ke mari. Menggunting dan mewarnai apa saja yang dia ingin warnai.

Ruangan ini memang dikhususkan untuk Evan belajar. Aku rasa, lebih kumplit dari sekolah TK biasa di luar sana.

Berbagai macam pewarna, pensil, buku cerita, juga berbagai macam alat belajar di sini, lengkap.

"Evan, ayo kita belajar."

"Enggak. Evan maunya mewarnai."

"Kakak di sini buat ngajarin Evan berhitung, mewarnainya nanti aja, ya. Yuk, Van. Kita belajar dulu."

Ank itu tidak menjawab. Dia terus asik dengan pensil warna dan gambar robot yang sedang dia warnai.

"Duuuh, Bu Rani itu kenapa, sih? anak sekecil ini disuruh belajar tematik. Dia kan emang waktunya belajar mewarnai dan gunting menggunting." Aku mendumel sambil melihat Evan mewarnai.

"Alamat gagal ini mah. Baru sehari, aku pasti akan dipecat. Nasib!" Aku memukul-mukul jidat dengan tenaga alakadarnya.

"Evan, itu tangan robotnya ada berapa? coba hitung?" tanyaku.

Ank itu mulai menghitung tangan robotnya. "Dua," jawabnya.

Akhirnya aku menemukan cara agar dia mau belajar. Bukan dia yang harus ikut aturan aku, tapi aku yang ikut permainan dia.

Setiap Evan melakukan sesuatu, maka aku akan ikut masuk ke dalamnya. Tidak hanya mengajarkan dia berhitung, tapi juga mengenal warna dan mengenal nama-nama benda dalam bahas Inggris.

"Bu Rani kenapa tidak menyekolahkan Evan? atau manggil guru, misalnya. Sekarang kan bisa home schooling. Kenapa malah nyuruh aku coba?"

"Kak, jangan ngomong sendiri. Kalau mau ngomong sama Bunda, nanti tunggu Bunda datang."

"Eh?"

"Kalau Evan punya empat robot," aku mengambil gambar robot yang dia warnai tadi. "berapa jumlah tangannya semuanya? coba hitung."

Anak itu menghitung. "Delapan, Kak."

"Pintar. Kalau kepalanya ada berapa?"

Dia kembali menghitung. "Empat."

"Warna kepalanya yang ini, warna apa?"

"Merah."

"Bahasa inggrisnya apa?"

"Ehmm ... apa, ya? MMM, red?" tanyanya penasaran dan antusias.

"Yes!"

"Horeeee." Evan jingkrak-jingkrak kegirangan. Entah kenapa tapi aku pun ikut senang dengan perkembangannya. Hingga aku pun ikut jingkrak-jingkrak sama dia. Butuh waktu hampir satu jam lebih untuk membuat Evan seperti ini. Awalnya dia hanya diam dan asik bermain sendiri.

"Evan, kakak lapar. Mau makan dulu. Evan mau?"

Evan diam. Dia terlihat ragu untuk mengatakan iya sekaligus tidak.

"Kakak mau bikin cemilan enak, loh, buat kita. Yakin gak nyesel kalau gak mau ikut makan?"

Dengan malu-malu dia menganggukkan kepala. Lalu kami saling membalas senyuman yang merekah.

"Bi, ada alat seperti cetakan bulat-bulat kecil, gak? aku mau bikin bola-bola nasi buat Evan."

"Nasi? dia kan gak doyan. Pasti gak akan dimakan."

"Coba dulu aja. Makanya, itu cetakan yang aku butuhkan, ada gak?"

"Tar bibi cari dulu. Kayaknya, sih ada di dapur kita, Ra. Sebentar, ya."

Sambil menunggu Bi Inah mengambil alat yang aku minta, aku mengajak Evan menyiapkan bahan-bahan yang lain.

"Evan, bantuin kakak, yuk. Evan ambil keranjang ini, lalu ambil sayuran yang ada di kulkas. Gimana?"

"Eummm." Dia mengangguk cepat.

Dengan keranjang kecil di tangannya. Evan mulai mengambil bahan-bahan makanan yang aku sebutkan.

"Carrot, Van. Satu aja." Dia kebingungan dan sepertinya sedang berpikir tentang apa itu carrot, meski akhirnya dia tau dan segera mengambilnya.

"Fish, Evan."

"Onion, Van."

"Bean, Evan."

"Chees, Van."

Hingga akhirnya dia berhasil mengambil semuanya meski kadang aku memberinya sedikit petunjuk saat dia merasa bingung.

"Evan bantuin kakak nyuci sayuran, ya. Biar kakak yang ngiris dan ngupas. Takutnya Evan terluka."

Ank itu menggulung lengan bajunya sampai sikut, menyalakan keran lalu mulai mencuci sayuran.

"Look at this. Like?"

"Yes. So yummy."

"Kamu mau coba?"

"Mau."

Evan sangat antusias saat aku menolak-balik bola-bola nasi yang mungkin di mata Evan terlihat seperti takoyaki. Dia tidak tahu isinya aku campur dengan nasi yang sudah di lembutkan. Aku beri wortel, brokoli, ikan, juga telor. Isiannya aku pakai keju. Kadang, Evan yang membubuhkannya.

Setelah matang, aku dan Evan pindah ke meja makan, tapi dia menolak.

"Aku gak mau makan di sini, Kak. Kita ke Deket kolam aja, sekalian aku mau renang."

"Renang?"

Aduh, aku gak tau apa Evan boleh renang siang-siang gini?

"Kalau Bunda marah, gimana? ini siang, panas banget, Van."

"Telpon aja."

Ah, iya. Kenapa gak kepikiran? Aku segera berlari menemui Bi Inah, meminta bantuannya untuk menelpon Bu Rani.

"Kata Nyonya, boleh. Renangnya di kolam renang balon aja, itu, loh, yang ditiup. Ada di belakang. Nanti Bibi minta bantuan Pak Koko buat nyiapin kolamnya."

"Oh, iya. Makasih, ya, Bi."

"Sama-sama, Neng."

"Nah, kita akan renang di kolam punya kamu. Sekarang ... Evan tambah lagi makannya, ya."

"Nanti aja sambil renang."

Astagfirullah ... nih, anak, gak tau apa, ya. Perut aku laper banget. Masa harus ngurusin dia terus. Aku ini suruh ngajarin dia, apa jadi baby sitter-nya, sih?

Aku dan Evan hanya diam, duduk sambil saling menatap. Aku melihat wajahnya yang menurutku sangat tampan. Berpikir dan juga bertanya tentang banyak hal mengenai dirinya.

"Kakak, cantik."

"Eh? beneran? makasih, loh." Aku tersipu dipuji anak kecil. Anak kecil itu jujur, loh.

"Tapi kucel."

Dhuarrr! Aku merasa disambar petir.

Anak sekecil ini pinter banget PHP-ini orang. Dia puji untuk dia jatuhkan. Ck! ck!

"Neng, kolamnya udah penuh. Ayo kalau mau renang mah."

"Nah! Bi Inah udah manggil, ayo kita ke belakang."

Evan mengulurkan tangannya, aku segera menggenggam dan kami berjalan dengan riang ke belakang.

Kolam itu penuh dengan air dan juga bola. Evan sangat suka dengan sesuatu yang berwarna-warni. Begitu melihat kolam penuh bola, dia langsung masuk.

"Evan, ayo sini. Katanya mau makan ini." Aku memperlihatkan bola-bola nasi yang aku tusuk pake garpu. Dia tersenyum dan berenang ke arahku.

Aku ragu saat dia mengigit bola-bola nasinya, takut ketahuan kalau itu adalah nasi.

"Enak?"

Evan mengangguk antusias. Ahhh, leganya. Dia ternyata tidak sadar kalau itu adalah nasi. Entah berapa lama kami menghabiskan waktu bermain air. Bola-bola nasinya pun Evan habiskan tanpa sisa.

"Evan, udahan renangnya. Dingin."

Tanpa menjawab ataupun mengatakan apa-apa, Evan menghampiri dan langsung keluar dari kolam. Bi Inah memberikan handuk dan aku langsung memakaikannya pada Evan.

"Mandi sama Bi Inah, ya. Kakak mau makan dulu, laper."

Evan menggelengkan kepala. "Sama Kakak aja."

Aku menghela napas dalam-dalam. Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi, perih. Dia meminta hak nya untuk diisi.

"Ya sudah, nanti setelah mandi, kakak mau makan. Kakak laper banget, kalau kakak sakit, siapa yang nemenin Evan nanti?"

Dia mengangguk.

Evan itu anak penurut sebenarnya, aku kasih bertanya, kenapa dia tidak sekolah atau tidak home schooling?

Setelah mandi, Evan memintaku untuk menemaninya tidur. "Kalau aku udah bobo, kakak makan." Begitu katanya.

Akhirnya aku bisa bernapas lega. Aku bisa makaaan, guysss!

"Sayur asemm ... em kaming."

1
Dinda
Luar biasa
Ida Ulfiana
ni critanya telat bawa ke rumah sakitnya jd nyawa zahira melayang
Ida Ulfiana
kayaknya zahira punya penyakit ini
Ida Ulfiana
nyesek bngt jd zahira
Ida Ulfiana
aku bingung mereka ni 1 sekolah tp knp rumah abqa d semarang yg. lain juga berasa rumahnya jauuuh bngt sm zahira
Ida Ulfiana
bagus bnget sih ni crita bikin baper aja
Ida Ulfiana
nyesek bngt d part ni
Ida Ulfiana
ye tak kira rafa suka sm zahira ternyta cm anggap adek to,pasti jodoh zahira adalah abqa
Ida Ulfiana
abqa sesuatu bangt memang gak kayak arsya
Ida Ulfiana
ada sesuatu di kluarga bu rani mencurigakan
Ida Ulfiana
gemes bngt sm arsha brasa gak jentel bngt jd cowok
Ida Ulfiana
arsha gak jentel jd cowok masak mau aja d jodohin dan ninggalin zahira
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Muanisah Jariyah
menarik
Ummi Lestari
di tunggu novel barunya thor
Ayu Wulan Dari Aseng
pada hal crt ny baguuuuus banget tp Napa like ny cm dikit ya Thor.
kok Dy buat nyesek sih Thor ending ny😭😭😭 pd hal pengen lht keunyuk an Zahira n abqa setelah punya baby.
tp yada lah Thor semangat ya Thor dengan karya2 baru ny. 👍👍👍
EmakOnces 🍒🍒
sesak aq thor..... 😭😭😭
kok g Happy ending...
EmakOnces 🍒🍒
udh pasrah ya Zahira.... udh banyak y nolak.... akhirnya nemu keluarga y hangat dan mau Nerim
Dahlia Lia
Keysa imut beeudd thor
Dahlia Lia
❤️❤️ SM kata ** nya ringan .. kekinian dah mudah di mengerti 👍👍 buat othor nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!