NovelToon NovelToon
Summer Between Jonas & Arnas

Summer Between Jonas & Arnas

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:30.5k
Nilai: 4.5
Nama Author: @l_uci_ous

"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.

Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.

Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.

Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Perkara Bola Basket

"Kayak ada bau kebakar," ucap Arnas, mengendus-endus udara.

Chilla memutar matanya. Ia tahu Arnas bermaksud menyidir dirinya yang ditinggalkan Jonas ke ruang tamu untuk menemui Zeeta.

Kendati tadi Jonas sudah pamit ke depan dengan tak enak hati dan berkata ini masalah olimpiade, ia tetap merasa kesal. Bukan kesal karena alasan keberadaan Zeeta di sini, tapi kesal dengan sosok Zeeta itu sendiri. Zeeta membuatnya merasa terancam.

Arnas terus mengendus-endus, mendekat ke arah Chilla. Kelihatannya ia puas sekali dengan tingkahnya. Walau pun sudah sebulan mereka menjadi sekutu, tampaknya Arnas tetap merasa kurang afdal bila tak membuatnya kesal sehari saja.

Plakk!

Chilla menggeplak kepala Arnas yang melayang-layang dekat kepalanya. Sama seperti Arnas yang tak afdal bila tak mengesalkannya, ia juga tak akan melewatkan kesempatan menganiaya laki-laki itu.

"Gak usah resek deh!" sungut Chilla. Ia pun bangkit berdiri. "Lagi panas nih gue!"

"Mau gue guyur?" Arnas mengangkat kotak jus di tangannya. "Biar adem gitu."

"Lo kayaknya lebih butuh diguyur. Biar otak lo bersih, gak julid mulu!" Setelah berkata begitu, Chilla menabrak pundak Arnas dan berlalu pergi dari dapur yang nyaman itu.

"Mau ke mana lo?" seru Arnas.

Chilla tak menyahut, mengabaikan saja pertanyaan Arnas itu.

Seburuk apa pun kondisi hatinya saat ini, ia tetap tersenyum dan bertutur manis ketika berpamitan dengan Jonas. Sungguh, ia tak bisa menunjukan bahwa ia kesal di hadapan laki-laki itu. Melihat wajah Jonas selalu membuatnya otomatis menjadi gadis manis yang ceria dan baik hati.

Namun senyum Chilla tak bertahan lama. Ia sudah kembali mengernyit kesal begitu melewati ambang pintu rumah Jonas. Dan alih-alih berjalan lurus menyeberangi jalan menuju rumahnya, ia malah terus menjelajahi jalan raya tanpa tujuan. Kepalanya tertunduk, langkahnya pelan, pandangannya kosong. Pikirannya masih tertinggal di ruang tamu rumah Jonas; membayangkan apa yang sedang Jonas dan Zeeta lakukan, bertanya-tanya apakah Jonas menikmati waktunya bersama Zeeta.

Tuk.

Sesuatu menepuk tumit Chilla, membuat si empunya menghentikan langkah. Ia pun berputar, melihat bola basket berwarna biru berada di dekat kakinya. Lantas ketika ia mengangkat muka, pandangannya menemui Arnas yang berjalan beberapa meter di depan sana.

Chilla kembali menunduk, memungut bola basket biru itu ke dalam pelukannya.

"Zeeta udah pulang?" tanya Chilla begitu Arnas sudah lebih dekat.

"Belum."

Berarti mereka cuma berdua dong, pikir Chilla muram. Lancar jaya kalo mau PDKT. Tapi Zeeta kan sudah punya pacar dan Jonas tahu soal itu. Mengingat fakta itu membikinnya merasa sedikit lebih tenang. Sedikit sekali

"Lo mau ke mana?"

"Main karambol," sahut Arnas pedas. Berhenti di hadapan Chilla.

"Serius?" tanya Chilla, memasang wajah sepolas mungkin. Ia tahu itu akan membuat Arnas kesal.

"Ya, enggaklah!" Arnas menoyor kening Chilla. "Udah tahu gue bawa basket, ya pasti mau main basket."

"Sembarangan banget sih lo! Noyor-noyor kepala gue mulu," protes Chilla. Ia mencoba membalas Arnas, tapi gagal karena laki-laki menghindar.

"Karena lo itu toyor-able," jawab Arnas enteng. "Sini bola basket gue," ia meminta bola basket yang masih dipeluk Chilla.

"Gue ikut lo main basket."

"Gak ada, gak ada. Gak sudi gue ngajak lo," tolak Arnas. "Apa kata Yaksa sama anak-anak yang lain kalo gue ngajak lo? Mending lo pulang aja sana."

"Bilang aja ke temen-temen lo itu gue mau ikut main basket. Ayolah Ar, gue butuh pelepasan emosi. Gedek banget gue abis lihat Zeeta."

"Emang lo bisa main basket?"

"Bisa!"

Arnas mengangkat sepasang alisnya.

"Teorinya," tambah Chilla.

"Teorinya...?" Arnas berkata, meremehkan. Tangannya sudah terangkat untuk merebut bola basket miliknya dari Chilla, namun gagal karena Chilla dengan gesit mengangat bola itu tinggi-tinggi seraya berjinjit.

"Gak usah main-main deh, Chill. Gue buru-buru."

"Biarin gue ikut makanya," ucap Chilla.

Ia sungguh-sungguh dengan alasannya ingin ikut. Ia butuh melepaskan rasa kesalnya. Dan olahraga adalah cara yang tepat, pikirnya.

"Enggak."

"Ya udah, gak gue kasih bolanya kalo gitu." Chilla berjinjit makin tinggi.

Arnas semakin mendekat, berusaha menggapai bolanya. Tapi usahanya gagal karena jarak yang masih terlalu renggang, sebab Chilla bergerak mundur. Maka ia pun semakin mendekat, kali ini meletakkan tangannya di pinggang Chilla, membut gadis itu tak bisa mengulur jarak lagi dan mesti memundurkan wajahnya sejauh mungkin.

Chilla kesal sekali dengan posisi mereka kali ini, sebab ia merasa tersudut.

Tak lagi mencoba mengambil alih bolanya, Arnas malah berkata, "Waktu itu cuma kening, sekarang bisa jadi di bibir. Gak takut lo?"

Tuk, tuk, tuk, tuk...

Boleh basket meluncur jatuh dari tangan Chilla yang membeku, memantul di belakangnya. Untuk sesaat merinding mendengar ucapan Arnas, meski pun ia tahu itu hanyalah gertakan.

Arnas menyeringai saat menarik tangannya dari pinggang Chilla. Tampak puas dengan ancamannya.

"Ngeri gue deket-deket lo sekarang," ujar Chilla. "Makin mesum."

Ia pun berputar, menamparkan rambutnya ke wajah Arnas, lantas berlari pergi bersama bola basket yang ia pungut kembali.

"Chillaaaa!" teriak Arnas.

∆∆∆

Chilla tak bohong.

Gadis itu tahu permainan bola basket beserta peraturannya—sebatas teori. Yang mana sangat tak cukup dalam permainan sesungguhnya. Jadi selama lima belas menit belakang, kerjaan Chilla hanya merecoki semua pemain lain. Berkali-laki ia merebut bola yang berakhir mental entah ke mana atau berhenti melambung karena ia tak tahu bagaimana cara men-dribble bola dengan benar.

Arnas meringis ketika Chilla menginjak kakinya karena terlalu heboh menggiring bola. Namun tampaknya Chilla sama sekali tak sadar dengan kejahatan yang baru saja dilakukannya.

"Shoot Chill! Shoot!" Arnas mendengar Yaksa berteriak-teriak pada Chilla yang masuk timnya.

Dengan kaki yang masih berdenyut-denyut, Arnas menoleh, melihat Chilla yang terus melambungkan bola, bersiap melakukan tembakan ke ring. Arnas pesimis bola itu akan masuk. Dan...

Pakk!

Buk!

Dugaan Arnas tepat.

Bola basket biru miliknya itu gagal masuk ring. Malah menghantam backboard dengan kekuatan mengejutkan, lantas memantul kembali dan mencium wajah Arnas dengan penuh nafsu.

Sial.

"Ar!" seru Chilla syok. Kedua tangannya menangkup muka, matanya membulat.

Arnas mengerjap. Sangat terkejut. Ini pertama kali wajahnya dihantam bola basket seumur hidupnya. Cukup mengerikan ternyata, dan menyakitkan.

Baik Chilla mau pun teman-teman yang lain sudah berkumpul mengelilingi Arnas, nampak khawatir menunggu reaksinya.

"Gak pa-pa, Ar?" tanya Yaksa.

Dan yang dapat dikatakan Arnas ialah, "*****!" Diikuti tangan yang melayang ke wajahnya, dengan waswas meraba hidungnya yang berdenyut. "Gue kira hidung gue patah, ****..." ucapnya lega. Kemudian ia berpaling pada Chilla dan berucap, "Dengan segala hormat, gue saranin lo gak usah main basket lagi sebelum ada hidung-hidung berharga di luar sana yang jadi korbannya."

"Lebay lo," sahut Chilla.

"Lebay, lebay," omel Arnas. "Sakit nih hidung gue! Belum lama tangan gue yang keseleo sembuh, yang bener aja kalo sampe hidung gue patah."

"Iya sih! Sorry." Chilla malah ngegas.

"Udah salah ngegas lagi lo!"

"Lo duluan yang ngegas!"

"Stop, stop, stop, stop, stop," Yaksa berkata, bermaksud melerai perdebatan.

"DIAM!" dengan kompaknya Arnas dan Chilla membentak Yaksa yang seketika bungkam.

"Oke." Yaksa menyerah, mengangkat kedua tangannya. "Mari kita pulang kawan-kawan," ucapanya dramatis, menggiring teman-teman mereka menjauh pergi dari arena pertarungan.

Maka sekarang yang tertinggal hanyalah Arnas dan Chilla yang saling melotot.

Kacau sudah permainan bola basketnya, pikir Arnas saat mengalihkan pandang, melihat punggung teman-temannya yang kian jauh. Ia memang sudah tahu bila membawa Chilla hanya akan menimbulkan bencana. Itulah kenapa tadi ia menolak keras keinginan Chilla ikut serta.

"Gara-gara lo..." kata-kata Arnas menghilang tatkala ia kembali memandang Chilla, tertelan rasa terkejut.

"Kenapa?!" tanya Chilla, masih dengan intonasi tinggi.

"Darah..." Arnas mencoba menerangkan. "Hidung lo berdarah."

Ia heran bukan main. Kan ia yang dihantam bola basket, tapi kenapa malah Chilla yang berdarah? Magic apa ini?

Tangan Chilla melayang ke wajahnya. Ujung telujuknya menyentuh darah yang mengalir lambat dari salah satu lubang hidung.

Sama seperti dirinya, Arnas berpikir Chilla pun kaget mendapati dirinya berdarah.

"Astaga... gue mimisan," ucap Chilla, takjub. "Jadi gini rasanya mimisan..."

Arnas mengerjap. Apa-apaan itu? Alih-alih khawatir, Chilla malah terkesan? Apa gadis itu sudah gila? Sepertinya suhu panas sore ini sungguh berefek besar pada otak Chilla yang malang.

"Sehat lo, Chill?"

Chilla mengangguk-angguk. "Gue cuma excited aja."

Brukk!

Chilla ambruk.

∆∆∆

Hi guys. please support karyaku dengan vote, like, komen, kasih bintang lima dan share supaya lebih banyak yang tahu cerita ini.

setiap apresiasi kalian sangat berharga buatku. karena aku menghabiskan banyak waktu buat nulis cerita ini. and it's free you know. ini gratis, jadi kuharap kalian lebih biasa menghargai karyaku.

thank you.

1
Ochi_Ara Alleta
huhuuuuu sampai loncat chapter gara2 penasaran endingnya....kirain bakal sad ending😭gak nyangka finally.....akhir yg bahagia....😩
S2 yuk kak....
Ochi_Ara Alleta
cerita bagus berkualitas kayak gini sepi like dan pembaca🤧Eman banget...
Ochi_Ara Alleta
telat banget tau gak....Nemu cerita kayak gini.huuhuu🤧
Ochi_Ara Alleta
Nemu cerita seru🥰
kenapa baru sekarang nemunya....
Zakiatu Anastasya
q jga pernah thor,sakit mah g terlalu tp malu y itu lah thor,,,,🤭🤭🤭😅
Ny Anwar
ngeri2 sedap... 😱😱
Santai Dyah
like
Santai Dyah
hadir
Santai Dyah
ceritanya bagus boom like untuk karya terbaikmu thor salam dari Kabut cinta
Buahnaga.putih
arnas gmn thor ?
newtoon🐇
keren
Conny Radiansyah
makasih Thor... happy ending untuk Jonas dan Chilla, btw Arnas apa ceritanya Thor...
Conny Radiansyah
kalo sampe sini ceritanya belum bisa dibilang tamat Thor...
Conny Radiansyah
lanjut
yul,🙋🍌💥💥💥
makasih.... semua karyamu bagus.


sungguh
Pitara Lusiana: Terima kasih
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
arnas mana?
Pitara Lusiana: Arnas ada di rumah. Udah move on
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
1 cangkir kopi buat arnas....
zkdlinmy
uuu akhirnya dilanjut jga.. thanks thorr
Pitara Lusiana: Sama-sama
total 1 replies
Ruliyah Yu Yah
makasih kak,tak tunggu kelanjutanya ghatan
Ruliyah Yu Yah
arnas,vita,sekarang mah nungguin ghatan....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!