⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 2
Pagi itu, Lucy terbangun lebih awal dari biasanya yeah setidaknya lebih awal dari kebiasaan tubuh yang sekarang dia tempati. Jam di dinding kamar sempitnya menunjukkan pukul 05.30, dan di luar jendela kecil, langit masih berwarna biru kelabu dengan sisa-sisa embun yang menempel di kaca.
Dia berjalan ke cermin. Gadis yang menatapnya dari sana masih sama seperti kemarin dengan rambut hitam kusam, kacamata tebal, kulit pucat, postur tubuh yang sedikit membungkuk karena kebiasaan menghindari perhatian. Tapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda.
Senyumnya.
"Lili," panggilnya sambil mengambil sisir plastik murah dari meja kecil. "Kau sudah bangun?"
Dari atas tumpukan buku, gumpalan bulu putih bergerak. Sepasang mata biru terbuka, mengedip pelan. "Aku selalu bangun saat kau bergerak. Ke mana pun kau pergi, aku ikut."
"Bagus. Karena hari ini kita sekolah."
Lucy mulai menyisir rambutnya. Gerakannya cekatan bukan gerakan seorang kutu buku yang biasa asal menyisir, tapi gerakan seorang Dewi yang sudah terbiasa merawat mahkotanya. Dia membelah rambut hitam itu menjadi dua dan mulai mengepangnya. Kepang kembar yang rapi, menggantung di kedua sisi bahunya.
"Aku perlu bertanya sesuatu," katanya sambil terus mengepang. "Tubuh ini... warna aslinya apa?"
Lili melompat dari tumpukan buku ke meja rias kecil. "Apa maksudmu?"
"Rambut ini. Mataku di balik softlens ini." Lucy menunjuk matanya sendiri. "Aku bisa merasakan ada sesuatu yang... tersembunyi."
Lili terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Kau benar. Warna asli rambut tubuh ini adalah biru. Matanya juga biru. Persis seperti dirimu yang asli."
Tangan Lucy berhenti mengepang. "Biru?"
"Pemilik tubuh ini mewarnai rambutnya menjadi hitam dan menggunakan softlens hitam sejak lama. Alasannya..." Lili menatapnya serius. "...orang yang membunuh keluarganya masih mengincarnya. Mereka tahu ciri-ciri anak keluarga itu: rambut biru, mata biru. Jadi dia menyembunyikannya."
"Hmm." Lucy menyelesaikan kepangnya dan mengikatnya dengan karet gelang sederhana. "Jadi dia bersembunyi di depan mata."
"Tepat."
"Dan kau tidak memberitahuku ini sejak awal?"
"Aku pikir kau akan mengetahuinya sendiri."
Lucy terkekeh "Kau benar. Aku merasakannya begitu masuk ke tubuh ini. Ada sesuatu yang... tertahan. Seperti burung dalam sangkar."
Gerakan tangannya terampil saat memasang softlens baru, memastikannya nyaman, lalu berkedip beberapa kali. Mata biru Dewi Rubah kini tersembunyi di balik lensa hitam pekat. Matanya kini terlihat seperti mata gadis biasa. Tidak mencolok. Tidak berbahaya.
"Untuk sekarang, aku akan meneruskan penyamarannya," kata Lucy, menatap bayangannya di cermin. "Ini belum saatnya untuk berubah. Aku butuh waktu untuk memahami dunia ini, karakter-karakternya, dan... ancamannya."
"Bijaksana."
"Aku selalu bijaksana. Hanya saja orang-orang lebih suka fokus pada sifat centilku."
Dia berdiri, meraih seragam sekolahnya. Rok abu-abu gelap, kemeja putih, dasi hitam, dan blazer biru navy dengan lambang SMA Seiran di saku dada. Semua terlihat sedikit kusam, sedikit kebesaran di bagian bahu, dan jahitan kecil di bagian lengan yang menandakan seragam ini sudah diperbaiki berkali-kali.
"Lili," katanya sambil mengancingkan blazer. "Soal para pembully."
"Ya?"
"Aku tidak akan menerima penghinaan. Aku Dewi. Jika ada manusia yang berani menghinaku, mungkin saja dunia ini akan aku hancur karena kemarahan ilahiku." Suaranya ringan, tapi ada baja di baliknya. "Dan itu akan merusak rencanaku untuk bersenang-senang."
Lili mengangguk. "Aku sudah menduganya. Makanya tadi malam, saat kau tidur..."
Mata Lucy menyipit. "Kau melakukan sesuatu?"
"Aku hanya... memodifikasi sedikit ingatan para pembully di sekolah ini. Mereka yang pernah membully tubuhmu. Mereka tidak akan mengganggumu lagi. Di ingatan mereka, kau hanyalah murid biasa yang tidak layak diperhatikan. Bukan target."
Lucy menatap Lili dengan campuran kagum dan terkejut. "Kau bisa melakukan itu?"
"Aku sistem dunia. Memodifikasi ingatan beberapa manusia adalah hal kecil."
"Kenapa kau tidak bilang sebelumnya?"
"Kau tidak bertanya." Lili menjilat kakinya. "Dan aku pikir kau akan lebih suka jika hari pertamamu di sekolah tidak dimulai dengan drama tidak penting."
Lucy tertawa kecil. "Kau benar. Aku lebih suka mengamati daripada diamati."
Dia meraih tas lusuhnya, menggantungnya di bahu, lalu berjalan ke pintu. Sebelum membukanya, dia berhenti dan menoleh.
"Hari ini, aku akan menjadi siswi biasa. Tidak ada kejadian mencolok. Tidak ada insiden. Hanya mengamati."
"Dan targetmu?"
Lucy tersenyum dengan senyum yang sama sekali tidak cocok dengan penampilan kutu bukunya. "Ren Arisugawa, kelas sebelah. Kaito Fujiwara, satu kelas denganku. Aku akan melihat mereka dari dekat. Mencium aroma jiwa mereka. Menilai seberapa... menariknya mereka."
SMA Seiran adalah salah satu sekolah swasta elite di kota ini. Gerbangnya menjulang dengan arsitektur modern minimalis, dikelilingi pohon sakura yang kata Lili akan mekar sempurna dalam beberapa minggu lagi, tepat saat Hana Himura masuk. Halamannya luas, dengan lapangan olahraga terpisah antara basket, sepak bola, dan trek lari. Gedung utamanya bertingkat tiga, dicat putih bersih dengan aksen biru navy yang sama dengan seragam mereka.
Lucy berjalan melewati gerbang bersama arus murid lainnya. Tidak ada yang meliriknya dua kali. Tidak ada yang menunjuk. Tidak ada yang berbisik.
Modifikasi ingatan itu berhasil, pikirnya.
Dia melangkah dengan tenang, menikmati sensasi menjadi tidak terlihat. Di dunia dewa, dia selalu menjadi pusat perhatian dan entah karena statusnya, kecantikannya, atau masalah yang dia buat. Tapi di sini, dia hanyalah gadis berkepang dua dengan kacamata tebal yang membawa buku-buku pelajaran di tas lusuhnya.
Menyegarkan.
Dia menemukan kelasnya dengan mudah yaitu kelas 2-C, di lantai dua. Ruangannya terang, dengan jendela besar yang menghadap ke lapangan basket. Meja-mejanya tertata rapi dalam barisan, dan beberapa murid sudah duduk di tempat masing-masing, mengobrol pelan sebelum bel masuk berbunyi.
Lucy berjalan ke kursinya di baris ketiga dari belakang, dekat jendela. Tempat yang strategis. Dia bisa melihat seluruh kelas dari sini, dan juga bisa mengamati lapangan di luar.
Dia meletakkan tasnya, mengeluarkan buku pelajaran, dan mulai... menunggu.
Satu per satu murid masuk. Wajah-wajah biasa. Tubuh-tubuh biasa. Jiwa-jiwa biasa.
Lalu dia masuk.
Kaito Fujiwara berjalan masuk seperti badai yang dikemas dalam tubuh manusia. Langkahnya santai, hampir malas, tapi ada kekuatan di setiap gerakannya. Seragamnya seperti yang Lili tunjukkan di foto tidak rapi, dengan beberapa kancing terbuka dan dasi longgar. Tapi entah kenapa, justru itulah yang membuatnya terlihat... menarik. Seperti pemberontakan yang disengaja.
Di belakangnya, dua anggota Five Shadows mengikuti, satu dengan rambut cokelat berantakan dan satunya lagi dengan potongan cepak dan anting-anting kecil. Mereka bertiga tertawa tentang sesuatu, suara mereka mengisi ruangan sebelum bel masuk bahkan berbunyi.
Kaito menjatuhkan dirinya di kursi—dua baris di depan Lucy, sedikit ke kiri. Posisi yang sempurna. Lucy bisa melihat profilnya dari samping: rahang yang kuat, tulang pipi yang tegas, dan rambut pirang gelap yang sedikit menutupi alisnya.
Lalu dia menoleh. Bukan ke arah Lucy, tapi ke arah temannya yang duduk di belakangnya. Gerakan itu membuat lehernya terekspos sejenak, dan Lucy bisa melihat garis otot yang samar di sana.
Tanpa sadar, ujung lidahnya menyentuh bibir atasnya.
Aroma jiwanya... kuat. Liar. Seperti api yang tidak bisa dikendalikan.
Lili, yang sekarang bersembunyi dalam bentuk bayangan di bawah meja Lucy dan tidak terlihat oleh mata manusia mengirimkan suara ke dalam kepalanya. "Kau menjilati bibirmu lagi."
Lucy tersentak kecil, lalu terkekeh dalam hati. "Tidak kusangka."
"Kau tertarik?"
"Tubuhnya... dan jiwanya." Mata Lucy masih terpaku pada punggung Kaito. "Aku bisa merasakan energi darinya. Bukan energi ilahi, tapi sesuatu yang hampir sama kuatnya. Hasrat, ambisi, kemarahan... dan kesepian."
"Kau bisa melihat semua itu hanya dari melihatnya?"
"Aku Dewi Rubah, Lili. Jiwa adalah makananku. Tentu saja aku bisa membacanya."
Lucy memaksakan dirinya untuk mengalihkan pandangan. Dia tidak boleh terlalu tertarik yeah tentu saja belum. Dia harus mengamati dulu. Memahami dulu.
Tapi serius, Kaito Fujiwara benar-benar memiliki jiwa yang menggoda.
Jam istirahat pertama datang setelah dua jam pelajaran yang sejujurnya sangat membosankan bagi seseorang yang sudah hidup ribuan tahun. Lucy menghabiskan waktunya dengan pura-pura mencatat, sementara sebenarnya dia menggambar sketsa kecil sembilan ekor rubah di sudut bukunya.
Bel berbunyi. Murid-murid mulai bergerak. Dan Lucy memutuskan ini saat yang tepat untuk mengamati target keduanya.
Dia berjalan keluar kelas, menyusuri koridor dengan langkah pelan. Tasnya dia tinggalkan. Buku-bukunya dia tinggalkan. Dia hanya membawa dirinya sendiri, berjalan melewati kerumunan murid yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Kelas 2-A ada di ujung koridor. Kelas unggulan. Kelasnya Ren Arisugawa.
Lucy berhenti di dekat pintu, pura-pura membaca pengumuman di papan informasi yang tertempel di dinding. Tapi sudut matanya mengintip ke dalam kelas.
Dan di sana dia melihatnya.
Ren Arisugawa duduk di kursi paling depan, dekat jendela. Posturnya tegak, tidak seperti murid lain yang mulai bersandar atau mengobrol. Dia sedang membaca sesuatu mungkin buku, mungkin laporan OSIS tidak ada yang tau apa yang dua baca dengan ekspresi yang benar-benar datar. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan kontras dengan kerapihan seragamnya. Tangannya yang memegang halaman buku itu panjang dan ramping, dengan jari-jari yang kokoh.
Salah satu temannya yang dari foto tadi Lili sebut sebagai Haruki mendekatinya dan mengatakan sesuatu. Ren mendongak, menatap Haruki dengan mata abu-abu gelapnya, lalu menjawab singkat. Hanya satu atau dua kata. Lalu kembali membaca.
Dingin, pikir Lucy. Benar-benar dingin. Seperti es yang tidak bisa dicairkan.
Tapi di balik es itu...
Lidahnya menyentuh bibirnya lagi. Kali ini dia tidak peduli.
Jiwanya... indah. Seperti kristal yang terbentuk di gua terdalam. Kokoh, murni, tapi juga rapuh di bagian dalam. Dia menyembunyikan sesuatu. Dia menyembunyikan banyak hal.
Ren tiba-tiba mendongak. Matanya menatap ke arah pintu.
Tepat ke arah Lucy.
Untuk sesaat, kontak mata terjadi. Mata abu-abu itu menatapnya bukan dengan ketertarikan, tapi dengan... pengamatan. Seperti dia sadar ada seseorang yang memperhatikannya.
Lucy tidak panik. Dia hanya menundukkan kepalanya sedikit seperti gadis pemalu yang tertangkap basah sedang melamun lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah kecil.
Detak jantungnya sedikit lebih cepat. Bukan karena takut. Bukan juga karena malu.
Tapi karena antisipasi.
Dia bahkan lebih menarik dari yang kubayangkan.
Sisa hari sekolah berlalu dengan damai. Lucy menghadiri kelas-kelasnya, memperhatikan Kaito dari kejauhan, dan sesekali melihat Ren saat mereka berpapasan di koridor. Tidak ada interaksi. Tidak ada insiden.
Hanya pengamatan.
Saat bel pulang berbunyi, Lucy mengemasi tasnya dengan perasaan puas. Hari pertama yang tenang. Besok dan seterusnya, dia akan terus mengamati. Mencatat detail-detail kecil. Mempelajari dinamika antara Ren dan Kaito, antara OSIS dan Five Shadows, antara disiplin dan kekacauan.
Saat dia berjalan keluar gerbang sekolah, Lili muncul di bahunya kali ini dalam wujud fisik, terlihat oleh mata manusia, tapi disamarkan sebagai kucing biasa.
"Bagaimana?" tanya Lili.
"Mereka berdua menarik." Lucy tersenyum, matanya menerawang ke langit sore. "Ren... jiwanya seperti kristal. Dingin di luar, tapi ada cahaya di dalamnya. Dan Kaito..." Dia menjilati bibirnya lagi. "...jiwanya seperti api. Membara, berbahaya, tapi juga hangat."
"Kau terdengar seperti pecinta makanan yang mendeskripsikan hidangan."
"Mungkin karena memang begitu." Lucy terkekeh. "Aku Dewi Rubah. Tubuh dan jiwa manusia adalah sumber energiku. Tapi aku tidak seperti siluman rubah biasa yang menyukai organ dalam atau daging. Aku lebih menyukai... esensi mereka."
"Jadi kau ingin memakan mereka?"
"Aku ingin memiliki mereka." Suara Lucy turun satu oktaf. "Tubuh mereka. Jiwa mereka. Tapi tidak dengan paksaan, Lili. Itu tidak menyenangkan."
Dia melangkah di trotoar yang mulai dihiasi cahaya jingga senja.
"Aku ingin mereka datang padaku dengan sukarela. Tanpa kekuatan ilahiku. Tanpa paksaan. Hanya dengan... diriku sendiri."
"Itu ambisius."
"Aku tahu." Senyum Lucy melebar. "Tapi bukankah itu yang membuat permainan ini jadi menyenangkan?"
Lili mendengus. "Kau benar-benar Dewi yang aneh."
"Aku tahu," ulang Lucy, kali ini dengan tawa kecil. "Sekarang, ayo pulang. Aku butuh istirahat. Besok kita mengamati lagi. Dan lusa. Dan seterusnya. Sampai dua minggu berlalu."
"Sampai Hana Himura datang."
"Ya." Mata Lucy berkilat. "Sampai permainan sesungguhnya dimulai."