NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda"

Matahari hampir sepenuhnya terbenam saat mereka keluar dari gerbang sekolah. Langit berwarna jingga gelap dengan sisa-sisa ungu di ufuk barat. Jalanan perumahan elite mulai sepi, hanya beberapa mobil yang lewat sesekali.

Ren berjalan dengan langkah mantap, menggendong Lucy tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Tangannya kokoh, dan meskipun posturnya ramping, dia ternyata cukup kuat.

"Supirku biasanya menjemput," kata Ren tiba-tiba, suaranya datar. "Tapi aku sering menyuruhnya tidak datang. Aku lebih suka berjalan kaki."

"Oh..." Lucy tidak tahu harus menjawab apa.

Keheningan lagi. Canggung. Hanya suara langkah kaki Ren di trotoar dan jangkrik yang mulai berbunyi.

"Siapa namamu?" tanya Ren.

"Eh?"

"Namamu. Aku belum tahu."

"Lu... Lucy." Suaranya kecil. "Namaku Lucy."

"Lucy." Ren mengulanginya, seolah sedang mencoba nama itu di lidahnya. "Kau anggota klub musik."

"I-iya..."

"Suaramu bagus. Aku mendengarnya kemarin."

Wajah Lucy semakin merah. "Ma-maaf soal itu... aku kira tidak ada orang..."

"Kubilang tidak perlu minta maaf."

Keheningan lagi. Tapi kali ini sedikit berbeda—sedikit lebih hangat, sedikit kurang canggung. Sinar matahari senja membungkus mereka dalam cahaya keemasan, menciptakan siluet dua orang yang berjalan di trotoar—seorang laki-laki tinggi dengan seragam rapi menggendong seorang gadis dengan pita merah di rambutnya.

Seorang ibu yang lewat dengan anjingnya tersenyum melihat mereka. Sepasang kakek-nenek yang duduk di bangku taman menatap dengan tatapan hangat. Bahkan seorang pekerja kantoran yang sedang berjalan pulang menoleh sekilas, lalu tersenyum kecil.

Mereka terlihat seperti pasangan romantis dari novel remaja. Dan yang paling menyebalkan—atau menyenangkan, tergantung sudut pandang—adalah bahwa Ren sepertinya tidak menyadari itu. Atau kalau pun dia sadar, dia tidak peduli.

Aneh, pikir Ren. Aku menggendong seseorang. Seseorang yang tidak kukenal. Dan aku tidak merasa ingin melepaskannya.

Dia tidak mengerti perasaannya sendiri. Jadi dia memilih untuk tidak memikirkannya.

Apartemen Blok 7 akhirnya muncul di depan mata. Sebuah bangunan sederhana bertingkat tiga—jauh dari kemewahan rumah keluarga Arisugawa, tapi cukup terawat. Ren berhenti di depan pintu masuk, lalu perlahan menurunkan Lucy.

"Kakimu," katanya. "Masih sakit?"

Lucy mencoba menapakkan kakinya. Rasa sakitnya sudah berkurang—sebagian besar memang akting dari awal. "Sudah... sudah lebih baik. Terima kasih, Ketua OSIS..."

"Ren."

"Eh?"

"Panggil Ren. Tidak perlu formal."

Mata Lucy membulat. Ini... di luar dugaan. "Re-Ren..."

"Masuklah. Aku akan pastikan kau bisa masuk dengan selamat."

"A-apa kau mau mampir?" Lucy bertanya, lalu langsung menutup mulutnya sendiri. Kenapa aku bertanya itu?!

Ren menatapnya—menatap wajahnya yang merah padam, kacamata tipis yang sedikit miring, pita merah yang lucu di rambutnya. Sesuatu di dalam dadanya bergetar lagi. Sesuatu yang tidak dia kenali.

"Tidak," jawabnya. "Hari sudah hampir malam. Kau harus istirahat."

"Oh... i-iya... terima kasih..."

Ren mengangguk. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya tenang, punggungnya tegak, siluetnya menghilang perlahan di kejauhan, ditelan cahaya senja yang semakin redup.

Lucy berdiri di depan apartemennya, menatap kepergiannya. Angin malam menerpa wajahnya, memainkan pita merah di rambutnya.

"Kau tidak masuk?" suara Lili di kepalanya.

Lucy tersadar dari lamunannya. Dia berbalik dan masuk ke apartemen, menutup pintu di belakangnya.

Begitu pintu terkunci, topengnya runtuh.

Dia melempar tasnya ke sofa. Kacamatanya dicabut dan dilempar ke meja. Softlens hitamnya dilepas dengan gerakan cepat, memperlihatkan mata biru cemerlang yang selama ini tersembunyi. Rambutnya yang diikat dilepaskan, pita merahnya ditarik begitu saja.

"AHHH!" Dia merebahkan dirinya di kasur, menatap langit-langit. "Melelahkan!"

Lili muncul dari balik bantal, melompat dan mendarat di perut Lucy. "Kau berakting dengan sangat baik. Aku hampir percaya kau benar-benar gadis pemalu."

"Aku benar-benar malu!" Lucy menutup wajahnya dengan bantal. "Digendong seperti itu... di depan umum... aku Dewi, Lili! Dewi!"

"Seorang Dewi yang baru saja mendapatkan kenaikan 10% rasa suka dari targetnya."

Lucy mengintip dari balik bantal. "10%?"

Lili mengangguk, matanya berkilat. "Aku baru saja memeriksanya. Ren Arisugawa: ♡ | 10%. Satu hati."

"Hanya 10%?" Lucy melempar bantalnya ke dinding. "Aku tersandung, jatuh, terkilir, digendong, diantar pulang... dan hasilnya cuman 10%?!"

"Itu kemajuan yang bagus untuk seseorang yang sebelumnya tidak pernah tertarik pada siapa pun."

Lucy mendengus, menyilangkan tangannya di dada. "Pria itu benar-benar susah ditaklukkan."

"Bukankah itu yang membuatnya menarik?"

Pertanyaan itu membuat Lucy berhenti. Dia menatap langit-langit, memikirkan mata abu-abu yang dingin itu, tangan yang kokoh, suara datar yang entah kenapa terasa menenangkan.

"...Ya," akunya akhirnya. "Itu yang membuatnya menarik."

Dia bangkit dari kasur, berjalan ke jendela. Dari sini, dia bisa melihat atap-atap rumah di kejauhan—termasuk atap mansion keluarga Arisugawa.

"10%," gumamnya. "Besok akan jadi 20%. Dan lusa, 30%. Dan seterusnya."

"Dan Kaito?"

Lucy tersenyum. "Kaito bisa menunggu. Tapi ya... mungkin besok aku akan mulai mengamatinya juga. Bagaimanapun, aku harus menurunkan tingkat kejahatannya. Dan siapa tahu... jiwanya juga menarik."

Dia berbalik, berjalan ke arah kamar mandi kecil di sudut apartemen.

"Sekarang, aku mau membersihkan semua bedak ini dari wajahku. Rasanya lengket sekali."

Lili mendengkur setuju, meringkuk di atas bantal. Di luar, malam semakin larut, dan di suatu tempat di distrik elite ini, Ren Arisugawa mungkin sedang duduk di kamarnya, menatap langit-langit, bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa melupakan wajah seorang gadis dengan pita merah di rambutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!