Seperti surga, menatap sepasang mata mu penuh keindahan. Andai saja berdua tanpa ikatan bukanlah dosa ingin rasanya menghabiskan waktu sepanjang hari berdua saja dengan mu.
Daffa berdecak kesal, bisa-bisanya dia kecolongan, Kanza adik semata wayangnya mendapat kiriman puisi di kertas merah jambu bergambar hati.
Ingin rasanya dia mencongkel kedua mata yang telah lancang mengirimi Kanza puisi.
Itu terjadi beberapa tahun lalu dimasa kuliah, tapi Kini dialah yang ingin berkirim puisi semacam itu saat sepasang mata indah bak surga mampu menggetarkan relung hatinya.
selamat mbaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Daffa mengiringi langkah Patimah keluar dari rumah sakit menuju tempat parkir. Sebelum pulang patimah kembali menemui Kanza berpamitan kembali kepesantren.
"Pak Daffa!"
Seseorang memanggil Daffa. Daffa dan patimah menghentikan langkah mereka yang sudah berada di halaman rumah sakit.
"Anita, lagi apa disini?"
"Aku jenguk temen pak, bapak sendiri?" tanya Anita sembari menatap Patimah dari ujung rambut hingga kaki.
"Aku jenguk Kanza masuk rumah sakit, oh ya kenalin ini Patimah tunanganku," jelas Daffa seraya memperkenalkan Patimah pada Anita.
Anita menatap Daffa dengan ekspresi kaget, tak menyangka pertemuannya dengan Daffa kali ini malah memperkenalkan tunangannya.
"Anita," ucap Anita seraya mengulurkan tangan pada Patimah.
"Patimah."
"Kami duluan ya nit," ujar Daffa seraya berlalu dari hadapan Anita.
"Iya pak."
Cantik dan anggun, kalau dilihat memang sangat cocok dengan Daffa, bahkan wanita itu lebih bekarisma dari dirinya.
Anita menarik napas dalam, mengisi paru-parunya yang terasa kosong. Melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat inap, menemui seseorang yang paling dia benci dalam hidupnya.
Tok!
Tok!
"Masuk!" terdengar suara lelaki mempersilahkan Anita masuk.
Anita masuk perlahan, dengan menenteng barang pesanan lelaki itu dengan wajah di tekuk tak senang.
"Kenapa lama sekali, membuatku kesal saja!" bentak lelaki itu kesal.
Anita cuma diam, dengan santai dia menyusun barang yang dia bawa di atas meja kecil, memasukkan beberapa stel baju kedalam lemari yang ada disamping tempat tidur pasien.
"Mana pesananku?"
"Ini, dengar, aku tidak bisa memberimu ini sering-sering, kau harus berhemat."
"Hehehe berhemat? omong kosong! kau yang harus dengar. Aku tidak perduli kau mau bangkrut kek, kaya kek, yang aku perduli kau berikan apa yang aku mau, kecuali kau ingin aku menyebarkan video panas kita ke media sosial, biar kau piral," ucapnya dengan senyum lebar.
"Kau keterlaluan Ben!" dengus Anita emosi.
"Terserah bagiku yang penting uang!" ujarnya sembari terkekeh.
Perkataan Beni membuat Anita muak. Tak ingin berlama-lama di tempat ini, Anita melangkah pergi keluar dari ruang rawat inap, meninggalkan beni yang menatap kepergian Anita dengan seringai licik.
Lelaki ini sungguh seperti lintah bagi Anita, menghisap darahnya tanpa ampun. Mau tak mau Anita harus menuruti maunya, atau lelaki itu menyebarkan adegan panas yang mereja abadikan dulu. Lelaki itu memegang kartu Asnya, bila tak dituruti habislah dia.
Itu bukan sepenuhnya salah Beni sebagian adalah salahnya. Kejadian berawal saat Anita masuk SMA ternama di kota A. Anita jatuh hati pada pandangan pertama, Beny yang dulu bukanlah Beny yang sekarang. Dulu Beny lelaki yang di idolakan semua orang, dengan wajah tampan, otak yang lumayan di tambah harta orang yang berlimpah, membuat sosok Beny jadi idola seluruh siswi di sekolah itu.
Saat itu Anita berambisi memiliki Beni dengan cara apapun, lelaki tampan nan populer itu harus jadi miliknya. Beny yang tau Anita menaruh hati padanya mulai melancarkan aksinya. Mendekati Anita lalu menyatakan cinta, tentu saja gayung bersambut.
Anita merasa di atas angin memiliki Beny sebagai kekasihnya. Apa keinginan beni pasti di penuhi Anita. Begitu juga saat suatu malam Beny membawanya ke apartemennya. Meminta melakukan hal yang tak semestinya, sekali lagi Anita menuruti keinginan Beny tanpa penolakan.
Ternyata Beny bukanlah pria baik, tapi sayangnya Anita buta oleh cintanya hingga tak mampu melihat kenyataan.Setiap hari Beni membawanya kejurang hitam tanpa dia sadari, dan sialnya beni selalu mengamadikan momen-momen itu dengan Handycam miliknya dengan alasan untuk di nikmati saat sendiri, dan lagi Anita mengijinkannya.
"Buk sudah sampai," ujar supir pribadi Anita membuyarkan lamunan Anita.
Anita mengedarkan pandangan keluar jendela mobil, ternyata benar dia sudah berada di tempat parkir kantornya.
***
Daffa menatap wanita cantik di sampingnya dengan lembut.
"Benar, gak mau aku antar Imah?" tanya Daffa berharap patimah berubah pikiran.
"Bener mas," sahut Patimah dengan senyum tipis.
"Bersabarlah mas, hanya menunggu anak-anak selesai ujian mas bisa antar jemput aku sesuka hati, tapi jangan bosan ya," ujar Patimah masih dengan senyum yang begitu manis.
"Tapi bagiku terasa sangat lama, entahlah aku selalu berpikir bahwa zikir dan sholat bisa membantu menghilangkan gundah, tapi nyatanya aku gagal, entah imanku yang tak seberapa atau cintaku yang teramat besar padamu Imah." ucap Daffa menerawang.
"Makanya zikir Karena Allah bukan karena gundah. Mas perlu meluruskan niat tuh."
"Begitu ya buk guru?" Patimah cuma tersenyum tipis menanggapi candaan Daffa.
***
Kanza mempersembahkan senyum paling cantik, pada teman suaminya di kantor, yang datang menjenguknya di rumah sakit.
"Semoga lekas sembuh ya buk Kanza, dedek bayinya juga. Ini ada sedikit oleh-oleh dari kami. Cuma ini yang mampu kami berikan ke ibu," ujar mbak lia mewakili temannya yang lain.
"Terimakasih banyak mbak, ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih juga buat yang lain udah meringankan langkah jenguk saya."
Lia datang tak sendiri, dia datang bersama tiga teman lainnya, tapi mbak lia ini yang menarik perhatian Kanza, saat yang lain ngombrol sekedar basa-basi, lia diam-diam mencuri pandang ke Hanif. Tentu hal ini tak luput dari pantauan Kanza.
"Buk Kanza kami pemisi dulu. Kami akan ada rapat bareng pak Hanif setengah jam lagi, jadi gak bisa lama-lama. Bagaimana pak Hanif? mau bareng kami ketempat pertemuan?" tanya Lia dengan senyum lebar yang memperlihatkan barisan giginya yang tersusun rapi.
"Boleh, biar gak saling tunggu," sahut Hanif. Lia tampak sumringah seketika.
"Sayang mas pergi dulu ya," ucap Hanif seraya mencium pipi Kanza. Di saat bersamaan Kanza mebisikkan sesuatu ketelinga Hanif.
"Biar Lia duluan mas aku mau bicara," bisik Kanza pelan. Hanif mengangguk kecil mengiyakan.
"Lia kamu tunggulah di tempat parkir, aku ada keperluan sebentar."
"Baik pak."
Hanif mendekati Kanza, duduk di sampingnya. Hanif tau calon ibu dari anaknya ini cemburu pada Lia, tak ada gerak gerik lia yang luput dari pantauan Kanza. Dia akui istrinya sangat jeli membaca gerik orang.
"Ada apa?"
"Ingat mas, jangan dekat-dekat dengan Lia," ujar Kanza dengan pasang wajah cemberut.
"Kenapa?"
"Aku tidak suka dengan caranya menatap mas."
Hanif tertawa pelan, dia tak salah menduga Kanza cemburu pada Lia.
"Baiklah istriku, mas akan jaga jarak nanti disana, kau jangan khawatir," ujar Hanif seraya membelai jemari Kanza.
"Pergilah aku percaya pada mas."
"Bibik aku suruh masuk ya sayang."
"Iya mas."
"Aku pergi dulu. jangan berpikir macam-macam ya sayang. Aku tidak tertarik dengan wanita selain dirimu."
Kanza tersenyum, kalimat Hanif terdengar seperti rayuan bagi Kanza.
"Iya hati-hati mas."
Cemburu bukan karena seseorang kurang dewasa, tapi karena bentuk kewaspadaan karena takut kehilangan. Itu bila tak berlebihan tentunya.
Happy reading
Hay readers emak yang budiman jangan lupa tingalin dukungan ya🥰🥰🙏🙏
sukses sll 😇😇😇