NovelToon NovelToon
Wasiat Iblis

Wasiat Iblis

Status: tamat
Genre:Petualangan / Pendekar / Iblis / Action / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Kutukan / Barat / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.6
Nama Author: Fariz Pradipta

Penyerbuan gabungan pasukan Demak, Banten dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahilah terhadap kerajaan Padjadjaran di bawah pimpinan Prabu Surawisesa berujung kegagalan. Padahal, Prabu Surawisesa mendapat bantuan dari pasukan Portugis dan Pasukan Mega Mendung, yang merupakan negeri bawahan Padjadjaran.
Negeri Mega Mendung di bawah kekuasaan Prabu Kertapati ingin merdeka, bebas dari pengaruh Padjadjaran dan menjadi negeri yang menguasai seluruh tanah Pasundan. Demi mencapai tujuannya, Prabu Kertapati rela melakukan segala cara. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui perjanjian Wasiat Iblis dengan seorang petapa sesat bernama Topeng Setan. Akan tetapi Prabu Kertapati tiada sanggup melaksanakan perjanjian yang meminta tumbal putra sulungnya.
Kisah Wasiat Iblis pun berkembang…

Kisah ini mengambil berbagai kejadian sejarah, seperti gagalnya penyerbuan gabungan Islam ke Pajajaran, Penyerbuan Pasukan Banten ke Pajajaran yang akhirnya berhasil menguasai Kota Pakuan. #FiksiSejarah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29 - Kyai Supit Pramana (1)

Didalam sebuah rumah gubug di puncak gunung Tangkuban Perahu, seorang pemuda berambut gondrong yang mempunyai tanda luka diatas alis sebelah kanannya nampak tak sadarkan diri sedang direndam didalam sebuah gentong raksasa berisi air mendidih yang mengeluarkan bau aneh, hingga tak ubahnya pemuda itu nampak sedang direbus didalam sebuah gentong raksasa. Pemuda itu yang tak lain adalah Jaka mulai menggeliat merasakan kesakitan diseluruh bagian tubuhnya, perlahan matanya mulai membuka.

Perlahan kesadarannya mulai pulih, pandangan matanya mulai jelas, ia mendapati sedang berada didalam gentong raksasa, direndam semacam air panas yang mengeluarkan bau aneh hingga layaknya ia sedang direbus! “Ah air ini panas sekali, membuat seluruh tubuhku makin sakit! Ahhh… Apakah ini di Neraka? Apakah aku sedang disiksa di neraka?” rintihnya.

Jaka kemudian merintih menahan sakit disekujur tubuhnya, dan ternyata kedua tangannya terikat pada bagian telinga gentong raksasa itu, “Ah aku ingat, aku jatuh ke jurang setelah adu tanding dengan Kakang Dharmadipa, setelah itu pandanganku menjadi gelap semua aku tak ingat apa-apa lagi, tapi sekarang dimana aku?”

Tiba-tiba terdengarlah suara tawa seorang pria lanjut usia, suara tawa itu terdengar pelan saja dan halus, tapi seolah menggetarkan tempat itu, membuat jantung Jaka pun berdegup kencang, “Apakah ia seorang malaikat yang bertugas menyiksaku?” tanya Jaka.

“Hehehe… Aku bukan seorang malaikat, aku manusia biasa, dan tempat ini masih berada diatas muka bumi, di alam fisik manusia,” jawab orang tua yang tiba-tiba muncul dihadapan Jaka tanpa Jaka sadari kehadirannya. Orang tua itu bertubuh tinggi kurus, rambutnya yang panjang serta kumis janggutnya telah memutih, ia memakai sorban dan jubbah biru tua serta berpakaian dan bercelana putih, wajah orang tua itu nampak klimis.

Orang tua itu tersenyum pada Jaka, tapi senyumnya terlihat sangat menakutkan bagi Jaka, baru kali ini ia merasa gentar melihat wajah seorang tua seperti orang tua yang ada dihadapannya itu, pancaran wajahnya sangat berbeda dengan Kyai Pamenang yang menyejukan hati itu, pancaran wajah orang tua ini sangat angker! Namun begitu Jaka memberanikan diri bertanya, “Kalau begitu mengapa engkau menyiksaku sedemikian rupa orang tua? Apa salahku padamu?”

Si Orang Tua itu menyeringai, “Hahaha… Sungguh pemuda tak berbudi, kau langsung menuduhku yang macam-macam!”

Jaka heran dengan ucapan orang tua itu, “Kalau kau tidak menyiksaku, kenapa kau merebusku begini? Seluruh tubuhku sakit terasa oleh air aneh ini! Apalagi kau juga mengikat tangan dan kakiku!”

Orang tua itu mencelupkan tangannya ke air mendidih yang merendam seluruh tubuh Jaka dari leher ke bawah, “Ini adalah air belerang yang aku ambil dari curug Jodo tempat Sangkuriang bertemu dengan Dayang Sumbi, sumber mata air panas itu mengandung belerang di bawah puncak gunung ini yang sangat berkhasiat untuk menyembuhkan luka luar, aku mencampurnya dengan ramuan obat-obatan untuk mengobati luka luar dalammu, uap dari air belerang campur ramuan ini juga dapat mengobati luka dalammu, itulah mengapa aku merendam seluruh tubuhmu dalam gentong ini, aku sengaja mengikat kaki dan tanganmu agar kau tidak banyak gerak supaya obat ini bisa lebih cepat merasuk kedalam tubuhmu!” jelas si orang tua.

“Ini adalah ramuan obat? Jadi kau sedang mengobatiku bukan menyiksaku?” Tanya Jaka.

“Benar, aku menemukanmu tiga hari yang lalu didasar jurang Tangkuban Perahu ini dengan sekujur tubuh penuh luka, maka aku rendam kamu dalam air belerang ramuan obat ini!” jawab orang tua itu.

“Astagfirullah… Maafkan aku orang tua, aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan, aku juga mengucapkan terimakasih sudah menolongku,” sesal Jaka.

Si orang tua tertawa mengkehkeh, “Jangan salah sangka anak muda, menolong sesama adalah kewajiban semua manusia jadi aku tidak butuh terimakasihmu, aku juga sudah memaafkanmu, hanya saja lain kali kau jangan pernah lagi menuduh orang sembarangan, curiga boleh untuk waspada tapi hati-hatilah dengan mulutmu, jangan sampai kau menuduh orang sembarangan karena dapat menimbulkan fitnah! Camkan itu baik-baik anak muda!”

“Baik orang tua, aku akan mengingatnya baik-baik” angguk Jaka.

Jaka lalu memperhatikan orang tua dihadapannya itu, dia mengingat-ngingat rasa-rasanya ia pernah melihat orang tua itu mengunjungi Kyai Pamenang, “Tunggu, sepertinya kita pernah bertemu orang tua, aku pernah melihatmu berkunjung ke Padepokan Sirna Raga di Tagok Apu! Orang tua, namaku Jaka Lelana, aku murid Kyai Pamenang dari padepokan Sirna Raga, kau pernah menonton pertandinganku melawan Kakang Dharmadipa bukan?”

Si orang tua menyeringai kecil “Akhirnya kau ingat anak muda, aku adalah sahabat gurumu, dan aku berkunjung saat seluruh murid-murid di padepokan itu bertanding unjuk kebolehan yang diadakan oleh Kyai Pamenang.”

Jaka menangguk-ngangguk “Ya… mohon maaf aku terlambat mengingatmu eyang, kalau tidak salah nama Eyang adalah Kyai Supit Pramana bukan?” si Orang Tua yang bernama Kyai Supit Pramana itu menangguk perlahan sambil tersenyum.

Ingatan Jaka pun melayang pada peristiwa beberapa tahun silam, saat ia dan Dharmadipa masih kecil, ketika itu Kyai Pamenang mengadakan semacam pertandingan silat antara murid-muridnya, ia juga mengundang beberapa tokoh dan para sahabatnya, beberapa tokoh silat golongan putih dan para ulama terkemuka dari Pasundan dan Jawa (Wilayah Kesultanan Demak) datang sebagai tamu undangan, termasuk Kyai Supit Pramana, Kyai yang dulunya punya pesantren besar di wiliayah Subang yang entah mengapa ia tinggalkan, kemudian ia menyepi di Gunung Tangkuban Perahu.

Saat itu ada seorang anak yang menyita perhatian Kyai Supit Pramana, anak kecil itu begitu sopan dan pandai merendah, bahkan kalau tidak dipaksa oleh gurunya untuk naik ke panggung pertandingan, ia tidak mau bertanding. Anak itu adalah Jaka Lelana. Saat itu gurunya memilihkan Dharmadipa sebagai lawan tandingnya, mereka pun bertanding dengan serunya. Saat itu Jaka lebih unggul dalam ilmu meringankan tubuh sehingga gerakannya lebih cepat, ia memilih untuk lebih banyak menghindar, sementara Dharmadipa lebih unggul dalam hal tenaga dalam dan tenaga luar kian bernafsu menyerang Jaka. Pada suatu kesempatan Dharmadipa berhasil mengirimkan serangan beruntun yang membuat Jaka terlempar jatuh dari panggung pertandingan.

Sambil memegang dadanya yang sesak Jaka bangkit dari jatuhnya, ia lalu mengelap darah yang mengucur dari sela-sela bibirnya, sementara Dharmadipa merayakan kemenangannya dengan jumawa dan penuh rasa bangga diatas panggung. Jaka keluar meninggalkan tempat itu. Jaka lalu merenung di bawah sebuah pohon yang rindang, saat itulah tiba-tiba ada seorang tua menghampirinya, “Kau kecewa karena kekalahanmu?” tanyanya.

Jaka terkejut melihat tiba-tiba ada seorang tua berada dihadapannya, ia sama sekali tidak melihat, mendengar, atau merasakan kehadirannya, “Benar saya kecewa, tapi saya lebih kecewa lagi karena harus bertanding dengan Kakang Dharmadipa.”

Orang tua itu bertanya lagi, “Namamu Jaka Lelana bukan? Kenapa? Bukankah pertandingan itu bagus untuk mengukur seberapa jauh ilmu kita.”

Jaka menghela nafasnya, “Benar, tapi menurut apa yang saya pahami tentang ilmu bela diri, kita malah harus menghindari sebuah pertarungan, akan tetapi kalau sudah bertarung kita harus menang! Dan saya kalah, sebab saya sudah tahu tidak akan bisa menang dari Kakang Dharmadipa.”

“Kenapa kau sudah yakin tidak akan menang dari saudaramu itu?” Tanya Kyai Supit Pramana.

“Sebab tenaga luar dan dalamnya jauh lebih unggul daripada saya,” jawab Jaka.

1
Thomas Andreas
mirip kisah surodipo sm retno jumini hampir kejadian di bukit, ada petir jg di bukit yg menggagalkan.
Thomas Andreas
gading dong bkn cula
Ulun Jhava
Wow keren sy pecinta sejarah dan cerita silat nusantara baru nemu cerita ni luar biasa
Ulun Jhava
Sultan banten cerdas dan cakap
Ulun Jhava
Luar biasa
Ulun Jhava
Saya kok suka sama megasari
Ulun Jhava
Kebablasan pendekar
Ulun Jhava
Hati2 jaka dia adik kndungmu
Ulun Jhava
Jaka jgn naif surat udah sampai ya udah tinggalin dan tempuh jalanmu sendiri mencari jatidirimu
Kang Mus
cerita apa saja itu Ki Adi ?
Esther M
galuh Parwati thor....mantabb
wahyu hidayat
baru baca di 2024.
keren banget thor.
btw, referensi sejarahnya apa aja thor?
penasaran dengan sumbernya
CADAS JALARAMBANG: keren luar biasa.. br baca thn 2026 ini
total 2 replies
jagadcell 31singkut
ini SDH melenceng dari cerita silat ini mah horor....
jagadcell 31singkut
jaman sejarah belum ada Istal Kuda yang ada Kandang kuda ( gedhokan)
jagadcell 31singkut
saran kpd Author...agr perbendaharaan katanya lebih pas pada alur ceritanya tolong belajarlah dari novel silat karya S MiINTARJA. nanti karya anda akan makin di gandrungi para penggemar cerita silat klasik sejarah indonesia.🙏
jagadcell 31singkut
bahasanya tolong di perhatikan Thor...klu cerita silat kerajaan jgn pakai istilah "Atribut" (Umbul"Pratanda)
jagadcell 31singkut
ini baru sejarah...mantap Thor Lanjut
Rusdi P Bangun
Luar biasa
Rusdi P Bangun
Lumayan
Mus Dalifah
ok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!