Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 20
“Ck, dasar pengganggu.” Hanan melayangkan tatapan malas.
“Ini untuk kakaknya Kak Hanan.” El menyendok dua udang besar hasil kupasan Hanan ke piring Kamila.
“Kamila, panggil aku Kak Mila,” ralat Kamila.
“Baik, Kak Mila.” El tersenyum begitu manis hingga membuat Kamila salah fokus.
Hanan menyadari reaksi kakaknya yang begitu jelas hanya bisa menggeleng pelan. Dia juga sebenarnya cukup salah fokus saat melihat El versi yang sudah dimandikan dan didandani oleh ibunya, terlihat semakin cantik dan menggemaskan. Meski tubuhnya kecil dan tampak kurus, pipinya selalu merah merona. Perpaduan dengan kulit putihnya itu membuatnya teringat dengan manusia salju.
Suasana makan sore itu cukup harmonis. Mereka yang biasanya makan malam saat pukul tujuh lewat akhirnya makan lebih awal karena kehadiran El. Ketiganya tanpa sadar berlomba-lomba memberikan makanan pada gadis kecil itu hingga sang empu menggeleng pelan—tak sanggup lagi menerima makanan.
“Em ... tidak, tidak. aku sudah kenyang.” Gadis kecil itu menggeleng lemah sembari menutup mulutnya dengan tangan.
“Eh, kamu baru makan sedikit. Yakin sudah kenyang? Jangan malu-malu.” Kamila masih menyodorkan udang di tangannya.
“Benar, masih banyak makanan di meja.” Hanan juga tak mau kalah dari kakaknya.
“Tidak, Kak Mila, Kak Hanan. El rasa ... mereka semua sedang berkelahi di dalam sini. Udang, ayam, ikan—“ El cegukan beberapa kali hingga dia tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Tangannya menunjuk-nunjuk kasar setiap area perutnya.
“Jangan dipaksa lagi.” Sang ibu akhirnya menengahi.
“Bibi memang pahlawanku. Aku mau pulang.” Gadis kecil itu menatap wanita di sampingnya dengan penuh rasa terima kasih.
“Sebentar lagi. Biarkan makananmu tercerna dulu.”
Wanita itu menuntun El ke taman belakang. Dua anaknya sigap mengikuti mereka dengan sesekali berdebat tentang siapa yang harus mengantar El pulang.
“Kak Mila. El itu temanku. Dia ke mari bersamaku. Jadi, aku yang harus mengantarnya pulang. Bukannya tadi Kak Mila tidak suka dengannya karena kotor, sekarang kenapa bersikeras ingin bersamanya?” Hanan menatap tak senang pada kakaknya itu yang terus mengganggu sedari tadi.
“Itu, ‘kan, saat dia kotor. Sekarang dia sudah bersih dan menggemaskan. Sudahlah, kamu harus mengalah pada perempuan. Jangan berdebat.”
“Kak Mila!”
“Sudahlah kalian berdua. Antar El pulang bersama-sama. Puas, ‘kan.” Sang ibu menengahi kedua anaknya yang tai menunjukkan tanda-tanda akan mengalah.
Hanan berdecak kesal. Dia masih tak puas dengan pengaturan ibunya, tapi kakaknya juga tidak semudah itu dikalahkan.
Akhirnya El diapit dua bersaudara itu di jok belakang. Gadis kecil itu sama sekali tak keberatan, tapi kedua orang di sampingnya bahkan enggan untuk diam.
“Kak Hanan, Kak Mila, Bibi bilang tidak boleh bertengkar.” El menatap keduanya secara bergantian.
Wanita itu sudah memperingatkan kedua anaknya, tapi sepertinya mereka lupa terlalu cepat.
Mendengar nasihat dari El membuat keduanya sedikit malu dan membuang pandangan ke jendela mobil—pura-pura menatap pemandangan yang sebenarnya sama sekali tak menarik.
Sang sopir mengendarai mobil sesuai arahan El yang ternyata cukup jauh.
“Bagaimana kamu bisa sampai di area perumahan kami?” Kamila bertanya saat menyadari bahwa jarak yang mereka tempuh lumayan jauh.
“Entahlah, aku hanya berjalan terus. Terkadang mengejar burung, terkadang mengejar kupu-kupu.” Jawaban santai El tak lantas membuat keduanya tenang.
“Kamu berjalan sejauh ini apa tidak takut? Bisa saja ada yang menculikmu.” Hanan menatap khawatir pada gadis kecil di sampingnya.
“Aku baik-baik saja. Lebih baik jalan-jalan mencari makanan dari pada berada di rumah sendirian.” El justru tak tampak khawatir sama sekali.
“Apa kamu benar-benar kehabisan makanan? Lain kali jangan pergi terlalu jauh. Mulai sekarang biar aku yang membawakan makanan untukmu.”
Semakin Hanan mendengarkan cerita El, semakin dia resah. Bagaimana bisa di usianya yang Hanan yakin belum menginjak sepuluh tahun, gadis kecil itu bisa bertahan hidup dengan hanya mengandalkan insting. Pergi bermain sembarangan tanpa tahu jarak yang ditempuh sudah terlalu jauh.
“Benar, tapi yang paling penting, di mana orang tuamu? Mereka bisa saja sibuk bekerja, tapi bagaimana bisa mereka tak menyiapkan makanan apa pun untukmu?” Kamila bertanya dengan kesal.
“Ibu dan Ayah bilang aku harus mengurus diri sendiri. Jadi, aku melakukan semua sebisaku dan menjadi terbiasa.” Suara El masih terdengar sangat ceria membuat kedua bersaudara itu heran.
Perjalanan diisi oleh banyak pertanyaan yang diajukan oleh Hanan dan Kamila. Semakin mereka tahu, semakin mereka tak menyangka dan tak akan sanggup jika berada di posisi El.
Sesampainya di rumah, Hanan dan Kamila memaksa mampir. Mereka masuk ke rumah yang sebenarnya juga tidak terlalu sederhana, tapi di dalamnya begitu kosong. Tak ada suara apa pun yang menandakan kehadiran seseorang di sana.
“Kapan orang tuamu pulang? Ini sudah hampir malam.” Kamila mendudukkan diri di sofa ruang tamu.
“Entahlah. Bisa malam ini, bisa besok, lusa, atau hari berikutnya sampai minggu dan bulan berganti.
“Serius? Kamu—“
“Baiklah, sekarang waktunya kembali. Bibi pasti menunggu kalian. Terima kasih sudah mengantarku. Aku berhutang banyak pada kalian. Jika ada yang bisa kulakukan di masa depan untuk membantu kalian, katakan saja. Aku akan melakukan semuanya sebisaku.”
Hanan tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena El sudah lebih dulu memberikan kode agar mereka pulang. Penolakan secara halus agar mereka tidak bertanya lagi.
“B-baiklah, kami akan ke mari lagi besok.” Kamila menarik Hanan keluar dari rumah itu.
El melambai pelan sampai mobil yang dikendarai Kamila dan Hanan lenyap dari pandangannya. Senyumnya begitu lebar mengingat apa saja yang sudah dia makan hari ini benar-benar memuaskan.
“El, dari mana kamu, Nak? Bibi khawatir karena kamu tidak pulang mulai pagi.”
Seorang wanita berjalan tergopoh-gopoh dengan seorang balita berumur tiga tahun di gendongannya. Wajahnya tampak begitu cemas, tapi juga lega setelah melihat eksistensi gadis kecil di hadapannya.
“Bibi Lan, pelan-pelan. Aku baru pulang dari rumah teman. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Bagaimana kabar Luna? Apa dia masih demam?” Pandangan El tertuju pada balita yang menatapnya dengan mata sayu, sementara tangannya berusaha menggapai El.
“Sudah jauh lebih baik, tapi dia sangat rewel dan terus-menerus menatap ke mari. Tadi dia yang pertama kali melihatmu pulang sambil bertepuk tangan. Anak ini benar-benar pandai mengali kakak cantiknya.”
El tertawa dan memainkan jemari Luna. “Benarkah, bayi kita satu ini benar-benar nakal. Jangan terus merepotkan ibumu, oke. Jadilah anak baik.”
“Ini, Bibi bawakan makan malam, kamu pasti belum makan, ‘kan? Berhenti makan sembarangan El. Perutmu bisa sakit.” Sebuah rantang makanan disodorkan pada El.
“Bibi, jangan terus merepotkan diri. Aku bisa mengusahakannya sendiri, tapi terima kasih.” El tersenyum tulus.
Bibi Bulan satu-satunya orang yang begitu peduli padanya padahal wanita itu terbilang cukup sulit, anaknya tiga dan suaminya juga bekerja serabutan, tapi tak pernah melupakan dirinya dan selalu membawa makanan.
“Nak, jangan khawatirkan Bibi. Apa pun yang terjadi tetaplah hidup untuk dirimu sendiri.”