Nikah SMA
˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ̮ ❝᷀ົ⁎⁺˳✧˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ
Taksa Liam. Ketua OSIS tampan, berkarisma. Namun dingin dan cuek, tak tersentuh.
Iva Kayra. Supel, cerewet, cenderung pemalas, dan bukan gadis populer.
Mereka harus menikah di usia muda demi memperluas wilayah kekuasaan kedua orang tuanya, di dalam dunia bisnis.
Bagaimana kisah pernikahan mereka? Dengan sifat yang bertolak belakang, akankah keduanya bahagia dengan pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggung jawab
Pintu bel apartemen berbunyi sejak tadi, sepertinya tamu yang datang tidak sabar menunggu tuan rumah membukakan pintu. Dengan berutalnya dia terus-terusan menekan bel.
"Ck siapa sih, nggak sopan banget?" Iva yang baru saja selesai mandi keluar dari dalam kamar sambil terus mengomel, sedangkan Taksa lelaki itu mungkin sedang tidur usai makan siang tadi.
"Taksa!!" mereka berhenti di depan pintu, karena yang membuka pintu itu bukan Taksa.
"Iva, kok kamu di sini?" mata Iva mengerjap saat mendengar para pemuda itu menyebut namanya. Ia terkesiap dan segera tersadar.
"Em itu, Taksa sakit. Iya Taksa sakit jadi aku ke sini?" mata keempat pemuda itu memicing curiga, apalagi melihat penampilan Iva yang masih mengenakan jubah mandi serta rambut yang masih basah.
"Ngapain kalian ke sini?" suara berat milik Taksa terdengar dari belakang, menyelamatkan Iva.
Gadis itu menoleh, begitu juga keempat sahabat Taksa. Mereka melambaikan tanganya heboh. Iva menghembuskan napas lega, ia berjalan meninggalkan pintu.
Saat berhadapan dengan Taksa, Iva menatap penuh tanya pada suaminya. Seolah mengatakan kenapa nggak bilang kalau mereka mau datang? Tapi, Taksa hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga sama tidak tahu akan kedatangan mereka.
Iva cemberut meninggalkan kelima lelaki itu dan segera masuk ke kamarnya. Taksa mengajak mereka duduk di sofa depan tivi.
"Kalian tinggal satu unit?" tanya Andra si paling kepo diantara mereka semua.
Taksa tidak berniat menjawab, ia memilih meinggalkan mereka menuju kulkas dan mengambil lima minuman kaleng dari sana.
"Kita curiga nih, kalian abis ngapain kok basah-basahan gitu?" Ian menuding wajah Taksa dengan tatapan menggoda. Karena penampilan Taksa pun tak jauh berbeda dengan Iva, lelaki itu mengenakan kaos putih polos serta celana armi dengan rambut basah tersisir walau tidak rapi.
"Abis berkeringat bareng ya?" kali ini Ardhan berseru dari tempatnya.
"Abis kerja bareng masa nggak mandi." sahut Taksa seraya mengambil minuman di atas meja dan membukanya.
Keempat temannya saling pandang mendengar jawaban Taksa. Kemudian tatapan mereka berganti horor pada Taksa.
"Serius?"
"Demi apa?"
Taksa memutar bola matanya jengah, ia mengangkat kedua bahunya. Dalam hati Taksa yakin kalau mereka saat ini berpikiran kotor padanya dan Iva.
"Ya kali abis masak-masak bau asap, bau keringat nggak mandi." jawab Taksa, ia memalingkan wajahnya menahan tawa.
Dari semua temannya tidak ada yang tahu Taksa mempunyai ekspresi lain, selain datar dan dingin. Taksa bahkan hampir tidak pernah tersenyum di hadapan mereka.
"Wihh, kita kira apaan." Adit melempar bantal sofa ke arah Taksa, namun lelaki itu berhasil menghindar. Seketika tawa mereka memenuhi ruangan itu.
"Taksa, aku pergi dulu ya. Mau ke supermarket depan." Iva keluar setelah berganti baju. Sebenarnya itu hanya alasannya saja untuk menghindari para pemuda itu, Iva masih merasa kurang nyaman berada di sekitar mereka.
"Mau ngapain?" tanya Taksa datar, sifatnya selalu berubah ketika ada orang lain bersama mereka dan Iva sudah tidak aneh lagi dengan itu.
"Kepo." ucap Iva seraya melangkah menuju pintu.
"Iva, tunggu." Taksa bangkit dan masuk ke dalam kamar, tidak lama dia kembali memberikan sebuah kartu ATM ke tangan Iva.
Iva mengerutkan kening, menatap bergantian pada suami dan ATM di tangannya. Buat apa lelaki itu memberikan kartu itu? Orang dia hanya ingin beli camilan doang.
"Kamu tanggung jawab aku, gunakan semua yang ada di dalamnya untuk keperluan kamu. Sandinya tanggal pernikahan kita." bisik Taksa, ia tidak mau para sahabatnya ikut mendengar.
Senyum Iva merekah. Hei siap yang tidak senang dikasih kartu ATM sendiri, unlimitid pula. Sama orang tuanya saja, dia masih selalu di kasih cash biar nggak boros katanya.
"Makas..." Taksa menahan kening Iva dengan telapak tangannya, gadis itu sudah bersiap memeluknya. Beruntung Taksa sadar bahwa saat ini beberapa pasang mata sedang memperhatikanya.
"Peluk aja, Va. Anggap aja kita nggak ada!" seru Adit dari belakang Taksa.
"Iya, kita nggak lihat kok." timpal Ian.
Taksa tersenyum mendengar godaan sahabatnya, seraya mengusak puncak kepala Iva. Sedangkan Iva cemberut, kesal kenapa harus ada mereka sih. Ia melongokan wajahnya di balik tubuh Taksa dan memeletkan lidahnya pada para pemuda itu.