Askana sangat benci pada sosok pria yang sudah menodainya. Sampai pria bernama Rafan itu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, sayangnya Askana menolak karena terlalu benci.
Mampukah Rafan mengambil hati Askana? Dan Membuatnya jatuh cinta, akan seperti apa kisah cinta mereka yang diawali sebuah kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khoirun Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28.
Safira begitu jengkel dengan perbuatan Sofia ia hanya bisa mengeluarkan nafasnya perlahan karena merasa sesak didada-nya dengan emosi yang sudah ia luapkan kepada Sofia, tak berapa lama pelajaran kembali dimulai oleh dosen, Safira begitu fokus mendengarkan setiap materi pelajaran yang dosen berikan.
Setengah jam sudah Safira mengikuti pelajaran tambahan yang diberikan dosen akhirnya waktu pulang pun tiba, ia segera keluar dari dalam kelas-nya dan menuju ke parkiran, tak sengaja Safira melihat Alex yang sedang berdiri di depan mobil-nya namun Alex sama sekali tidak menyapanya seperti biasa ataupun dengan candaan yang selalu ia lontarkan kepadanya.
Safira melihat raut wajah Alex seperti sedang mempunyai masalah berat, Alex pun melihat Safira yang sedang berdiri mematung di parkiran mobil namun Alex hanya cuek saja dan ia langsung masuk kedalam mobil-nya dan berlalu pergi meninggalkan Safira yang sedang berdiri mematung.
"Tumben cowok playboy sok jutek! Gak tebar pesona lagi." Batin Safira.
Safira mengirim pesan kepada Papah-nya memberitahu kalau ia sudah selesai dengan pelajaran di kampusnya, karena merasa bosan menunggu papa-nya yang tak kunjung datang menjemputnya Safira duduk disebuah taman pinggir kampus dibawah pohon yang sangat rindang.
"Heeum...! Sejuknya."
Safira mencoba menghubungi Askana namun sayangnya ponsel milik Askana masih tetap saja tidak dapat dihubungi. "Huh!" Safira mendengus kesal. "Kemana sih Askana, aneh banget!"
"Memang begitu kalau nasib jomblo bawaannya marah-marah melulu!"
Safira mendongakkan kepalanya-nya melihat keasal suara yang sudah mengatainya, ia mendengus kesal melihat kearah wanita tersebut.
"Kamu lagi Sofia! Rasanya aku sangat bosan mendengar perkataan-mu, malah aku lebih kasihan terhadapmu karena Alex sudah meninggalkan-mu."
"Maksud kamu apa, Safira?"
"Kamu belum pulang karena nungguin Alex kan! Tapi sayangnya Alex sudah pulang terlebih dahulu meninggalkanmu." ujar Safira sambil tersenyum mengejek kearah Sofia.
Sofia tak mampu lagi untuk berkata-kata karena ucapan Safira sudah sangat menjatuhkannya ia hanya mendengus kesal kepada Safira yang sudah mengatainya, Sofia pun pergi dengan keadaan sangat marah.
"Safira!" tak lama terdengar suara yang memanggil nama.
"Papah!" Safira begitu kaget melihat sosok papah-nya yang sudah berdiri di belakang-nya.
"Sejak kapan papah berdiri disana?"
"Baru saja! Tapi papah harap kamu jangan suka galak-galak sama teman kamu." ujar papah-nya sambil tersenyum kearah Safira.
Safira pun tersenyum mendengar apa yang sudah dilontarkan oleh papah-nya. "Gimana gak marah! sikap Sofia sangat menyebalkan." Gerutu Safira tapi masih terdengar oleh papah-nya.
Sanjaya mengelus pucuk kepala putri-nya dengan sangat lembut, membuat Safira menjadi terasa nyaman karena sudah lama kebersamaan bersama papah-nya jarang terjadi, bahkan untuk berjalan bersama dengan papah-nya terbilang sangat langka.
"Kenapa kamu bisa semarah itu kepada gadis tadi, Safira?" Sanjaya mengawali pembicaraan.
"Karena ia selalu mengejek Askana, Pah? Safira sangat tidak suka melihat teman Safira diperlakukan tidak baik walaupun dengan kata-kata."
"Apakah kamu cemburu kepada gadis tadi, karena ia sudah punya pacar?"
"Papah!" teriak Safira.
"Gak lah! Papah-kan tahu Safira itu lebih suka pada siapa?"
"Ia Papah tahu! Papah kan cuma bercanda, kok kamu sampai semarah itu."
Safira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan memeluk papah-nya. "Safira nggak bisa marah sama papah, Safira hanya merasa bahagia bisa merasakan jalan bersama-sama papah seperti ini."
Hati Sanjaya begitu terenyuh mendengar ucapan putrinya, iapun mengakui kesibukannya selama ini kurang memperhatikan Safira, karena ia lebih sibuk mengurusi perusahaan-nya. "Maafkan papah, Fir!" hanya kata maaf yang sekarang bisa dilontarkan Sanjaya kepada putri-nya.
Sanjaya memeluk tubuh Safira mengelus pucuk kepalanya dengan sangat lembut dan tak terasa air matanya pun menetes, segera ia menghapusnya supaya Safira tidak melihatnya. Sanjaya mengajak putrinya untuk masuk kedalam mobil dengan segera ia melajukannya. Ia melirik kearah putrinya terlihat wajah Safira sedang tersenyum bahagia. "Mulai hari ini! Papah janji akan selalu meluangkan waktu untuk-mu, Fir!" batin Sanjaya.