DISARANKAN UNTUK MEMBACA MARRIED WITH STRANGER LEBIH DULU.
Jevian R Hugo.
Seorang konglomerat abad 21 berdarah campuran Italia datang ke negara ini untuk dua tujuan, yang pertama adalah menemukan ibu kandungnya dan yang kedua adalah menemukan wanita yang telah mencuri hatinya tujuh tahun yang lalu.
Seperti sebuah keajaiban, wanita itu datang tepat didepannya di salah satu pertemuan bisnis, sayang statusnya sebagai istri orang lain.
Namun bukan senyum cantiknya yang Jevian terima, karena gadis itu memandangnya layaknya orang yang baru pertama kali bertemu.
Sebagai seorang pria sejati haruskah ia melupakan cinta terlarang di hatinya? atau malah memperjuangkannya meski harus memisahkan sang wanita dengan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buono Sera
"Aku akan mendapatkan berkas itu dari tangannya" katanya serius, ia akan mengembalikannya pada Seira secepatnya, apapun yang terjadi.
"Aku bahkan tidak tahu dia menyimpannya dimana" Seira sudah habis akal mencari berkas pentingnya dari tangan Renald selama ini dan hasilnya nihil.
"Percayakan semuanya padaku" gumam Jevian percaya diri.
Seira senang jika Jevian memang bisa melakukan itu, namun sebenarnya itu bukan alasan utamanya bercerita semua ini.
"Aku minta tolong padamu untuk menjaga Kai, sebelum aku bisa bebas dari Renald"
Ayahnya mungkin tidak bisa berbuat macam-macam jika ada Jevian disisi Kai.
"Aku akan menjaga Kai dan ibunya, aku janji"
Wanita itu tersenyum sekilas, "Tapi kau tetap tidak boleh mengajaknya tinggal bersamamu. Dia akan kesepian di penthouse mewahmu itu" katanya memperingatkan.
Jevian mengangguk, ia harus cukup bersyukur untuk itu. "Jadi aku boleh mengunjunginya ke panti?"
"Iya, tapi jangan terlalu mencolok. Aku tidak mau ada hal-hal yang menjadi makin rumit, kita masih harus merahasiakan ini"
"Terimakasih sudah mempercayaiku"
Kaleng bir di tangannya telah kosong sejak tadi namun ia tetap mengenggamnya erat hanya agar tidak terlalu gugup menghadapi Seira.
"Kau tidak akan pernah mengkhianati kepercayaanku kan?"
"Jika aku mengkhianatimu silahkan cabut nyawaku dengan tanganmu sendiri"
"Haruskah kita menulis perjanjian di atas meterai" gurau Seira.
Namun ternyata Jevian mengangguk serius, "Aku akan menyuruh martin membuat perjanjian besok"
"Aku hanya bercanda" wanita itu tertawa seraya bangkit, ia mengibaskan celananya sejenak.
Jevian juga mengikutinya berdiri, wajah Seira terlihat indah di antara sinar lampu dan biasan cahaya bulan, pria itu merasa tersesat sesaat pada ilusi didepannya.
"Kembali ke kamarmu sekarang, aku mengantuk" suara Seira membuyarkan semuanya.
Ia baru saja berniat berbalik dan masuk kamar saat tangan Jevian menahannya, diikuti tatapan meremang yang sontak membuatnya merinding.
Pria itu menariknya kedepan, memperkecil jarak.
Seira menahan nafasnya, ingin berontak namun tubuhnya tidak patuh pada perintahnya sendiri sampai akhirnya ia melihat wajah Jevian mendekat.
Rahang tajam yang mulai ditumbuhi janggut tipis itu condong kedepan hingga hembusan nafasnya menerpa, membuat wanita didepannya otomatis menutup mata.
Sedetik kemudian kesadaran terakhir Seira memaksa tangannya untuk mendorong tubuh Jevian menjauh.
Ia menggigit lidahnya kuat dan menatap tajam ke arah Jevian.
"Aku mengizinkanmu masuk ke hidup Kai, bukan ke hidupku. Jadi jangan kurang ajar Mr. Jev" ujarnya seraya berlari ke arah pintu, secepat mungkin menutup pintu meninggalkan Jevian yang masih berdiri diam di tempat.
Dua detik kemudian senyum simpul terukir dan pria itu mengusap bibirnya kasar.
"Apa dia mengira aku ingin menciumnya?" Jevian bergumam lirih.
Ia hanya ingin mengucapkan selamat malam. Matanya melirik daun pintu yang sudah tertutup rapat, namun ia yakin Seira masih berdiri dibalik pintu.
"Buono Sera" ujarnya setengah berteriak.
Dan memang benar gadis itu masih berdiri dibalik pintu mengatur nafas.
Seira bisa mendengar suara Jevian, sebelum suara tapak kaki terdengar meninggalkan pelataran kamarnya.
Apa artinya?
Selamat malam mungkin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menjelang siang saat Seira selesai membereskan barang mereka, masih tersisa satu hari ini sebelum nanti malam mereka harus kembali.
Tapi ia belum menemukan kegiatan apa yang akan dia lakukan hari ini.
Mungkin ia hanya akan bersantai di kamar dengan Kai, bermain puzzle, atau membaca dongeng.
Namun ia lupa ada satu manusia lagi yang sedang liburan bersama mereka.
Tepat pukul sembilan pagi pintu kamarnya sudah terketuk, ia bahkan belum mencuci muka dan masih bergelung dibawah selimut bersama Kai.
Bocah kecil itu kelelahan kemarin dan sampai sekarang masih mengantuk, sementara Seira terserang insomnia setelah percakapan tadi malam dengan Jevian.
Ia memutuskan tidur lagi setelah beres-beres.
"Mr. Jev" matanya membulat mendapati Jevian sudah rapih didepan pintu kamarnya.
"Selamat pagi," seperti kemarin Jevian langsung masuk, menenteng makanan yang banyak, cukup untuk membuat mereka bertiga kekenyangan.
"Pergi cuci muka" pria itu mengacak rambutnya sebelum duduk santai di meja, menata makanan.
"Seira" Jevian kembali memanggil saat ia menyadari Seira masih berdiri diambang pintu.
"Aku tidak punya kegiatan hari ini" wanita itu berjalan mendekat.
Ia memperhatikan Jevian yang sibuk menata makanan, ini semua makanan sehat dan berasal dari restoran terkenal di kota. Darimana sih pria ini mendapatkan makanan ini setiap hari?
"Asistenku selalu kesini setiap pagi" pria itu seakan menjawab pertanyaan dalam benak Seira.
Oh. Seira mengangguk, meninggalkannya ke kamar mandi.
Selang beberapa menit Kai terganggu dengan suara-suara, anak itu akhirnya terbangun, matanya menatap sang ayah yang sudah ada didepan meja dan ia sontak tersenyum senang, bangkit dari kasur menghampiri pria itu.
"Dad, kita akan naik kuda lagi?" ia bertanya dengan antusias.
"Morning, Boy" Jevian mengacak rambutnya sekilas sama seperti mengacak rambut Seira tadi.
"Kita akan pergi ke tempat lain hari ini" Jevian berkata dengan misterius.
"Kemana?"
"Kai akan tahu nanti"
"Kita akan pergi kemana?" kali ini Seira yang bertanya.
"Ke rumahku" Jevian berujar lirih.
Wanita itu menaikkan alisnya tidak mengerti, kenapa mereka tiba-tiba ke rumahnya?
"Aku punya kejutan untuk Kai" Jevian berbisik.
"Kejutan apa?"
"Rahasia" jawabnya seraya tersenyum tipis.
"Ayo makan, asistenku akan membereskan barang-barang kalian"
Pada akhirnya mereka bertiga duduk seperti kemarin, menikmati makanan dalam diam. Kai baru menghabiskan satu mangkok sup ikan saat Martin dan supir datang mengetuk untuk mengambil barang-barang.
"Tuan, Nyonya" sapanya sopan.
"Dimana barang bawaanmu? berikan padanya" ujar Jevian pada wanita yang masih duduk linglung didepannya.
"Sebentar" Seira bangkit dan mengambil koper pakaiannya, beruntung ia sudah membereskannya tadi pagi.
Ia memberikannya pada Martin dengan canggung, apakah asistennya ini tahu tentang hubungannya dengan sang bos?
"Berikan kunci mobilmu padanya, kau dan Kai akan pulang dengan mobilku" Jevian kembali berkata sambil sibuk mengunyah, ia juga menaruh beberapa sayuran di mangkok Kai.
Dan seolah dihipnotis, Seira menyerahkan kunci mobilnya kepada Martin.
Dua pria itu mengangguk sopan lalu berbalik menenteng koper, matanya yang cekung dengan lingkaran hitam menandakan betapa lelahnya ia beberapa malam ini.
Butuh berjam-jam untuk sampai disini setiap pagi. Dia bahkan harus keluar sebelum ayam bangun, mengantarkan sarapan dan melaporkan urusan pekerjaan, dan tugas aneh lainnya
Beruntung hari ini siksaan itu akan berakhir, karena mereka akan kembali dari liburan.
"Kai mandi dulu, kita akan berangkat sebentar lagi" Jevian menyeka mulut putranya yang belepotan.
Ia mengunyah banyak makanan dalam mulutnya hingga penuh, makanan yang dibawa ayahnya adalah makanan terenak yang pernah ia makan.
Anak itu mengangguk patuh dan menyambar handuk untuk mandi, liburan ini hanya beberapa hari namun terasa seperti bertahun-tahun telah berlalu.
boleh sesih jev tp jangan berlarut karena hidup terus berjalan dan yg pasti ada seira dan kei yg akan sllu ada untuk kamu