Hidup dengan kekayaan yang luar biasa dan membuatnya menjadi pengusaha sukses Nomer satu di Negaranya serta beberapa Hotel terbesar di Negara lain yang dikelola adik keduanya. Namun siapa sangka jika Maharani telah menjalai kehidupan pahit serta masalalu yang menyakitkan.
Kejadian tak terduga membuat hidupnya kembali bahagia
" Aku sangat sangat mencintaimu Mira "
" Aku juga "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna Agustiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Mulai Ngidam
Kinara yang sudah mendengar cerita dari Mommy nya tersenyum lebar. Ternyata selama ini yang menjaga ke tiga anak Alika adalah mantan pacar dari ibunya.
" Aku tak menyangka jika anak-anak yang aku anggap anak sendiri adalah anak mu dan Ferdi." Ucap Tuan Rangga.
" Pantas saja dulu saat aku melihat Mira dan Kinara seperti melihat dirimu dan juga Fer yang mirip sekali dengan Ferdi " lanjutnya
" Terima kasih sudah menjaga anak-anakku Rangga " ucap Nyonya Alika
" Tenang saja Al. Mereka sudah seperti anak-anak kandungku " ucap Rangga tersenyum
' Hem.. Sepertinya Papa masih mencintai Mommy. Dari tatapannya saja Papa selalu bersinar. ' Batin Ara
Nyonya Alika tersenyum " Lalu bagaimana keluarga mu ?"
Rangga menghela nafasnya " Istri dan anak ku meninggal saat kecelakaan pesawat " Ucap Tuan Rangga
" Ya Allah. Maafkan aku. Aku tidak tahu " Ucapnya dengan nada menyesal.
" Tidak apa Al " Balasnya sembari tersenyum.
" Apa kau menikah dengan orang yang dijodohkan oleh orang tua mu ?" Tanya Nyonya Alika
" Iya aku terpaksa menikahinya karena waktu itu papa sakit keras. Dan setelah dua tahun pernikahan papa ku meninggal " ucap Rangga
" Ya Allah. Semoga tenang disana. Lalu bagaimana dengan ibu kamu Rangga ?" Tanya Nyonya Alika
" Mama juga meninggal karena kecelakaan bersama Oma setelah lima bulan papa meninggal " jelas Rangga
" Ya ampun maafkan aku Rangga. Aku tidak tahu " ucap Nyonya Alika dengan nada menyesal
" Santai saja Al " balas Rangga tersenyum
*
*
*
*
Mira terbangun dari tidurnya saat Shaka menciumi wajah Mira
" Sayang bangun yuk. Udah sore kita pulang. " ajak Shaka
" Hmm iya sayang "
" Nanti kita mampir ke rumah Tari dulu untuk menjemputnya. Nanti malam dia akan menginap di rumah kamu selama 2 hari. " tutur Shaka
" Memangnya Fer mau kemana ?" Tanya Mira.
Seperti biasanya Tari akan menginap di rumah Mira saat Fer akan pergi bisnis.
"Tadi dia telepon katanya besok dia akan ke negara B untuk pameran mobil sport nya " Terang Shaka
Mira mengangguk dan duduk saat ia mengingat Sekertarisnya
" Shilla mana pi ?" Tanya Mira
" Shilla sudah pulang tepat saat papi keluar dari ruangan ini. Mami tidak perlu cemas. Iqbal yang mengantarnya " jelas Shaka
" Pi jangan dekatkan Iqbal dengan Shilla. " ucap Mira
" Kenapa ?" Tanya Shaka
"Papi lupa jika Shilla sudah bersama Darren " jelas Mira.
Shaka terkekeh mendengar ucapan Mira.
" Mami sayang. Iqbal sudah menikah, jadi mana mungkin papi mau menjodohkan Shilla dengannya. Lagipula papi masih ingat jika Darren sangat mencintai Shilla. Bahkan Mami sampai memutuskan kerja sama dengan Mitra utama hanya karena Ceo itu membuat Darren cemburu " terang Shaka
Mira mendengus lalu memukul suaminya dengan bantal " Bilang dong dari tadi " dengus Mira.
" Darimana papi tahu ? " Tanya Mira bingung
" Papu dengar saat mami telepon Darren malam itu untuk memutus kerja sama " ucap Shaka
Mira mengangguk, Ia hendak berdiri namun tiba-tiba kepalanya teramat pusing hingga ia terduduk kembali. Shaka yang khawatir dengan Mira dengan segera memeluk istrinya
" Ada apa sayang ? Mami sakit ? Kita ke dokter ya Mi " tawar Shaka.
Namun Mira selalu menjawab " Mami hanya kelelahan Pi " Kilahnya
' Hm kenapa tiba-tiba ingin makan soto babad ' Batin Mira.
" Mami lapar " Rengek Mira
" Baiklah. Mami ingin apa ?" Tanya Shaka
" Mami ingin Soto babad pi " ucapnya
Shaka terkejut mendengar istrinya menginginkan soto. Pasalnya Mira sangat tidak menyukai soto, lalu apa ini ? Kenapa tiba-tiba ingin makan soto.
" Bukannya mami tidak suka soto ?" Tanya Shaka
" Mami ingin mencobanya pi. Kemarin mami lihat Shilla makan soto dan sepertinya enak " ucap Mira dan tentu saja ia berbohong jika Shilla makan soto.
" Baiklah. Kita makan soto setelah itu menyusul Tari. " putus Shaka.
*
*
*
*
" Papaaa " Teriak Fer saat menemui Papa angkatnya sedang mengobrol dengan Mommy nya. Ia segera berlari dan memeluk Tuan Rangga
" Anak ku sudah besar yah.. Mana calon menantu Papa ? " Tanya Tuan Rangga
" Nanti sama Kak Mira dan Kakak Ipar. Fer langsung pulang saat Kak Ara menelphon jika Papa di rumah " Ucapnya dengan semangat
Nyonya Alika yang melihat Fer begitu dekat dengan Rangga membuatnya tersenyum. Fer melihat Mommy nya yang tersenyum langsung bangun dan memeluknya.
" Kamu ternyata sangat dekat dengan Rangga yah Fer " Ucap Nyonya Alika
" Iya Mom. Papa bilang wajah Fer mirip dengan sahabat Papa dan wajah kakak kembar juga mirip dengan sahabat Papa yang wanita. Benar kan Pa ? " Fer menoleh ke arah Tuan Rangga dan Ia mengangguk membenarkan ucapan Fer.
" Dimana Kak Ara ? " Tanya Fer saat tidak melihat Kinara
" Di kamar. Mungkin menyiapkan pakaian untuk Rendi. " Balas Nyonya Alika. Fer hanya mengangguk.
Mereka bertiga mengobrol sesekali Fer melemparkan candaan konyol yang membuat mereka tertawa. Seketika tawa Fer terhenti saat melihat Mommy nya dan Papa angkatnya sangat dekat seperti seorang sahabat.
" Mom Pa.. kok kalian seperti orang yang sudah kenal lama yah " Ucapan Fer membuat Rangga dan Alika menghentikan tawanya
Tuan Rangga tersenyum " Nak. Asal kau tau Mommy mu itu adalah sahabat Papa saat kuliah daaann " Tuan Rangga kemudian menarik nafas dan mengembusnya pelan" Mantan kekasih Papa " sambungnya.
" Apa ?? " Ucap Fer terkejut dengan kedua mata yang nyaris keluar dari tempatnya dan rahangnya yang nyaris terjatuh. Sebuah fakta yang sungguh mengejutkan bagi Fer.
" Jadi waktu papa bilang jika wajah kami mirip dengan sahabat-sahabat papa adalah Mommy ? Tapi kan wajah Fer berbeda dengan kakak kembar " ucap Fer
" Wajahmu seperti Ferdi. Dia juga adalah sahabat papa. Mommy dan Daddy mu dulu satu kampus dengan papa dan menjadi sahabat " ujar Tuan Rangga.
.
.
.
.