Sebuah kisah cinta Andhara Trisha gadis tomboi berusia 23 tahun dengan seorang OB sebuah hotel,Bagas Pratama cowok berusia 25 tahun.
Di saat Bagas sudah siap untuk meminang Andhara, hadirlah seorang cowok dingin yang mendekati Andhara.
Bagaimana perjalanan kisah cinta mereka?
Siapakah cowok dingin tersebut?
Dan siapakah pelabuhan terakhir cinta Andhara?
Ikuti kelanjutannya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TRIO A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Andhara sudah menunggu di dekat mobil, berusaha menemukan Rio juga Siska dan Anton, pandangan Andhara terhenti pada dua sosok cowok yang berjalan menuju ke arah ia sedang berdiri.
"Hey, mana Siska?"
"itu, masih ada perlu sama Bagas," jawab Anton.
"Iya, pakai acara tarik tangan segala, kasihanilah Siska," sahut Rio.
Andhara mengernyitkan dahinya dan bertanya kembali pada Anton dan Rio,"memangnya kenapa sampai tarik tangan begitu?"
"kalo kami tahu, gak bakalan penasaran juga. Bagas tak mau kami mendengar percakapan dirinya dengan Siska, tampaknya serius sekali. Karena tampak dari raut wajah Bagas yang sangat tegang," jelas Rio.
"Ya sudahlah, kita tunggu di dalam mobil saja sambil menyandarkan punggung, ya kan Anton," ujar Rio sambil membuka pintu mobil.
Anton langsung saja masuk begitu pintu mobil bisa dibuka dan menuju posisi ternyamannya.
Andhara juga masuk dan duduk sambil memainkan ponselnya, tampak beberapa pesan masuk dari Pandya.
(Andhara Trisha lagi ngapain?)
(maaf aku ganggu ya)
(tapi gak pa pa, kan cuma sebentar)
(loh, gak balas chat aku)
(ntar aja ya, sempatkan balas)
(terimakasih)
(Apa mungkin gak save nomor aku)
(jadi gak kenal chat dari siapa)
(Aku Pandya Lesmana)
(biasa dipanggil Pandya)
(kita kenal di kereta api saat itu)
Andhara tersenyum membaca chat dari Pandya dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Tiba-tiba Anton terbangun dari duduknya dan menjulurkan kepalanya dekat Andhara, sehingga membuat Andhara terkejut.
"Ah Anton, bikin aku kaget," ucap Andhara sambil mengusap dada.
"Lagipula kenapa kaget Mbak Dhara, lagi baca chat dari siapa sih, sampai senyum-senyum seperti tadi,"
"ya, kamu muncul tiba-tiba saat aku sedang serius baca," omel Dhara dengan wajah kesal.
Anton kembali ke posisinya, sedangkan Rio tersenyum melihat kejadian barusan dari spion mobil.
Sesaat kemudian Siska datang bersama Bagas dan langsung masuk ke dalam mobil sesuai posisi semula.
"Sis, darimana saja, dengar dari Anton juga Rio kamu ditarik tangannya ma Mas Bagas. Memang ada apa, seperti penting sekali?"
Siska berusaha bersikap seperti biasanya,"enggak, Bagas cuma bercanda dan memang ada sedikit urusan tentang keluarga. Maklum aku dan Bagas tetanggaan jadi untuk urusan keluarga lebih cepat tahu."
Bagas yang duduk di samping Rio, diam seribu bahasa, namun ia pasang kedua telinga baik-baik, menguping pembicaraan Siska dan Andhara. Jangan sampai Siska keceplosan, dan ini bakal membuat Bagas malu di hadapan Andhara.
Tiba-tiba ponsel Andhara berbunyi, sebuah panggilan masuk dari Pandya. Mata Siska sangat jeli, dengan cepat ia membaca nama penelfon Andhara.
"Assalamualaikum?"
"waalaikumsalam, iya maaf. Nanti saja baru aku balas, maaf ya," ucap Andhara mengakhiri percakapan dengan Pandya menggunakan suara yang sangat pelan.
Siska yang berada di sampingnya menyenggol lengan Andhara sambil tersenyum dan menggoda,"sssttt, siapa tadi, sepertinya suara cowok."
Andhara tak menghiraukan Siska, dan mematikan ponselnya karena batrei sudah lemah.
Siska semakin penasaran dengan sikap Andhara yang diam,"loh, kenapa dimatikan ponselnya?"
Bagas bertambah cemas mendengar kata Siska, Andhara mematikan ponselnya. Bagas menoleh ke belakang sambil mengulang pertanyaan Siska pada Andhara,"Dhara, kenapa ponselnya kamu matikan, bagaimana jika ada telfon dari orang rumah. Menanyakan keberadaan kita saat ini, tentu mereka akan kuatir, jika tidak bisa menghubungi nomor kamu. Lagipula orang rumah kamu tidak ada yang mengetahui nomor kita,"
"Mas Ade, punya nomor kamu Mas Bagas, jadi tak perlu kuatir lagi. Baterei ponselku sudah lemah. Jika aku paksakan pasti gak kuat, dan bakal mati juga, paham semuanya, terimakasih. Rio, ayo kita langsung pulang, agar tak kemalaman sampai di rumah."
Bagas dan Siska diam mendengarkan perkataan sekaligus penjelasan dari Andhara.
***
Di kota Tulungagung
Yunita bersama Riska sedang persiapan untuk sholat tarawih di masjid agak jauh dari rumah mereka tinggal.
"Bu, Ayah belum datang ya?"
"iya, gak pa pa. Mungkin Ayah masih ada urusan lain yang harus diselesaikan."
"Bu, kapan adik Riska yang di dalam perut keluar, Riska gak sabar pengen ketemu adik bayi yang pasti sangat lucu."
Yunita tersenyum sambil mengusap perutnya yang kian membesar.
"Dua bulan lagi Nak, jadi setelah lebaran Riska bakal ketemu adik bayi,"
"dua bulan itu, berapa lama ya Bu?" tanya gadis kecil yang sangat polos.
"yang jelas masih lama ya Nak,"
Riska terdiam dan pasang muka kecewa, kemudian berkata,"coba beli di ****maret, pasti cepat dapat adik Bu,"
Yunita tersenyum mendengar perkataan Riska yang perlahan mendekati perut sang Ibu, dan meletakkan telinganya di perut.
"Adik yang pintar ya di dalam perut Ibu, kalau sudah siap keluar harus secepatnya ya, emmuach."
Yunita semakin terbaru mendengar perkataan Riska pada adiknya yang masih dalam kandungan.
"Ya sudah, kita berangkat sholat tarawih dulu, karena tinggal bentar lagi sudah lebaran."
"Baik Bu, ayo berangkat."
Riska berjalan mendahului Yunita yang masih hendak mengunci pintu, tapi tiba-tiba, perut Yunita terasa sangat sakit hingga ia tak kuat untuk berdiri dengan tegak. Hampir ia jatuh, namun Yunita dengan cepat meraih tiang penyangga teras untuk berpegangan. Dan perlahan ia duduk di lantai dengan menyelonjorkan kedua kakinya.
Riska sangat kuatir dan ketakutan melihat keadaan ibunya, ia berlari mendekati ibunya sambil berteriak,"Ibu,Ibu kenapa Bu."
Isak tangis Riska semakin menjadi, sedangkan Yunita masih terus mengusap perutnya dan wajahnya semakin pucat karena menahan sakit.
Riska berteriak,"tolong ... tolong ... bantu Ibu aku!"
Yunita semakin lemas dan pucat, Riska kebingungan.
-Bersambung-
Like, tulis komentar dan hadiah juga vote buat Author ya
Terimakasih
Salam Manis
TRIO A
wehhh pakaian dinas malam yg membuat Pandya panas dingin 🤪
nah lo siapa yg minta tolong
pandya habis jalan* nanti makan masakan ibu mertua mu yah awas klw ga ku jewer nanti kamu yah🤭🤣
like♥️
Saling dukung ya
Mampir di novelku
GADIS TIGA KARAKTER
mas makanlahhh masakan ibu mertuamu walau tidak sesuai seleramu hargailahhh toh kamu kan tidak setiap hr disitu