Di novel Author yang kedua ini, Author akan menceritakan sebuah peliknya kehidupan seorang pemuda tampan, yang dimana kehidupannya selalu di selimuti kesedihan yang sangat perih di dalam dirinya.
pengalaman hidup, akan kehilangan orang orang yang sangat di sayangi, membuatnya berpikir, dia belajar dan terus belajar menjadi orang yang sangat kuat, dan tak ingin lagi menjadi sosok seorang lelaki yang lemah cengeng dan manja.
Hingga pada suatu masa, ketika ia telah dewasa. Dirinya terjebak di sebuah dunia, dimana ketika itu, tak ada kehidupan canggih seperti zaman sekarang ini.
Berat memanglah berat, kehidupan yang di jalaninya. Mungkinkah Leon bisa bertahan sekaligus melewati petualangan hidupnya.
Simak dan baca terus, kisah perjalanan Leon Scott Kennedy dalam mengarungi bahtera kehidupanya yang sangat pelik dan epic.
Jangan lupa like rate and comment karya terbaru saya,
Salam Author
Arby Yingjun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA ENRICO
"Sudah jam 9." Virza menatap jam dinding.
Sudah saatnya aku berangkat ke sekolah untuk menjemput Leon.
Virza melangkah keluar dari rumahnya, dan tak lupa untuk mengunci pintu dan jendela rumah sebelum ia pergi.
Dengan bantuan stik bahunya, ia berjalan perlahan menuju tempat pemberhentian Bis 3/4.
Tak berselang lama, Virza bangun dari duduknya bersama calon penumpang yang lain.
"kosong kosong bang, masih muat." kernet mengajak masuk calon penumpangya.
Virza naik di bantu sang kernet.
"Hati hati bang, duduk disono aja." ucap kernet sambil berlalu, membantu penumpang yang akan naik dan turun.
Tak berselang lama, si kernet pun menghapiri Virza.
"Mau kemana Bang?" tanya kernet sambil menghitung uang di tanganya.
"Sekolah TK BPK penabur." Virza memberikan selembar uang 5 ribuan pada si kernet.
"Sip, makasih. Bang." kernet berlalu pada penumpang lainya.
15 menit kemudian...
"penabur.. Penabur." si kernet memberitahukan pada pada penumpang yang akan turun di situ.
Virza bangun dari tempat duduknya, ia berjalan perlahan karena penumpang yang kini agak berdesakan.
Si kernet menghampiri Virza dan langsung membantunya untuk turun.
"Terima kasih bang."ucap Virza yang baru turun dari Bisnya.
"Sama sama Bang." Si kernet kembali naik dan pergi meninggalkan Virza.
Virza melanjutkan langkahnya kembali, menuju sekolah Leon yang jaraknya tidak terlalu jauh dari jalan raya.
Kali ini Virza menungu Leon di pinggir gerbang sekolahnya. Sesekali ia melihat jam di ponselnya.
Suara bel sekolah BPK penabur telah berbunyi, para orang tua telah terlihat siap menjemput anaknya yang baru keluar dari kelasnya.
"Leon mana ya?, kok belum kelihatan tumben." Virza kembali melihat jam di ponselnya.
Ia memasukan kembali ponsel ke dalam jaketnya.
Senyum mengembang di wajah Virza, ia melihat orang yang di nantinya sedang tersenyum dan berjalan menuju ke arahnya.
"Sudah lama Om Virza?" Tanya Leon dengan tangan kanan berpegang pada jaket Virza.
"Gak juga, Om baru saja sampai." jawabnya.
"Ayo, kita pulang." ajak Virza.
Di tempat pemberhentian mobil, Leon melihat anak sebayanya sedang asik menikmati ice crema sponge Bobnya.
Tapi terlihat Leon menatap Virza, dan tak memandang lagi anak sebayanya lagi.
Virza yang mengetahui hal itu, hanya tersenyum simpul. Dia tahu keponakanya, bukanlah type manja dan suka merengek meminta minta.
Tak berselang lama, datanglah Bis yang di nanti nanti mereka berdua. Mereka naik dan duduk bangku paling belakang.
Leon yang lelah akan aktifitas belajarnya, dengan mudahnya tertidur pulas, dengan kepala menyender di tangan Virza.
Virza membayar ongkos dan meminta si kernet, untuk menurunkan dia di persimpangan sebelum rumahnya saja.
"I ya, siap Bang." si kernet paham dan beerlalu. Pergi.
10 menit berlalu...
"Bang, siap siap. Sebentar lagi kita sampai."*si kernet memberi tahu Virza.
Virza menganguk dan membangunkan Leon.
"Leon, bangun!, kita akan turun sebentar lagi sayang." Virza menepuk pipi Leon.
Leon bangun dengan sigapnya, di ikuti bis yang berhenti dan membuka pintu keluar otomatisnya.
"Kenapa kita turun disini Om?" Leon yang baru turun dari Bisnya.
"Leon, ada sesuatu yang harus Om beli buat di rumah." Virza memberitahukan.
Leon patuh dan mengikuti Virza menuju swalayan. Di dalam Swalayan Virza hanya membeli keju dan minyak.
Virza mengajak Leon, menuju frezzer ice cream.
"Kau mau yang mana sayang?, ambil sesukamu." titah Virza.
Senyum mengembang di wajah Leon, pandangan tertuju pada ice cream magnum revolver.
"Om, bolehkah Leon minta yang itu," dengan tangan menunjuk. "kalau tidak boleh, tidak apa apa kok." pintanya penuh harap.
"Boleh sayang, ambil saja. Kan Om dah bilang sesuka hatimu." tegasnya.
Leon tersenyum dan mengambil Ice cream yang di inginkanya.
"Ayo, kita bayar dulu ke kasir." Virza menuju meja kasirnya.
Virza dan Leon keluar setelah membayar belanjaanya.
Seperti biasa, mereka berdua duduk di gazebo depan swalayan. Leon menghabiskan Ice creamnya dan Virza mengecek kembali apa yang telah di belinya tadi.
Sambil menikmati manisnya ice cream magnum, Leon tersenyum melihat Virza yang serius mengecek barang belanjaanya.
"Om, belanja apa saja memangnya?" tanya Leon sambil menikmati Ice creamnya.
"Oh, ini. Om cuma beli shampo buat kamu, dan beberapa keperluan rumah, di tambah dengan keju. Hanya itu saja." jawab Virza.
"Keju?" tanya lagi Leon untuk memastikan apa yang ia dengar.
"I ya, benar. Keju." jawabnya kembali.
"Untuk apa Om beli keju." Leon sedikit penasaran.
Virza tertawa melihat Leon yang ingin sekali tahu, untuk apa kejunya nanti.
"begini sayang, hari ini. Om Virza berencana ingin mewariskan satu resep tradisional yang pastinya banyak orang suka." Virza memberi kisi kisinya.
"Wah, resep apalagi itu Om?, Leon jadi tidak sabar mempelajarinya." Leon membuang stick bekas Ice cream, dan langsung mencuci tangan pada Wastafel yang telah di sediakan pihak Swalayan.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
Sementara di lain tempat, di rumah Raylene.
Aura kesegaran dan bercahaya, memancar dari wajah tampan Enrico. Berbeda dengan Daphne istrinya, aura pucat seperti bunga yang telah di hisap madunya, tak bisa di sembunyikan lagi.
Tidak seperti biasanya, Raylene yang mengetahui kedua orang tuanya sedang berpacu dalam melodi, ia memutuskan dirinya untuk memasak, untuk menu makan siang mereka.
Aroma kelezatan ayam goreng yang telah bermandikan kecap pedas, menyeruak. Menggugah nafsu makan, bagi siapa saja yang mencium aromanya.
"Oh, emm," Enrico yang baru membuka pintu kamarnya.
"Kenapa Pi? Tanya Daphne.
"Apa kau tak bisa menciumnya sayang?, aroma yang begitu lezat seperti ini." Enrico mengelus perutnya.
Daphne turun dari tempat tidurnya. Mereka berdua mengikuti sumber aroma itu keluar.
Di dapur mereka mendapati Raylene yang baru saja menggantungkan afronya.
"Sayang, kamu masak?" tanya Daphne yang baru datang di sebelah Ray.
Raylene tersenyum, melihat Mam nya yang sedikit heran.
"Hari ini, Ray membuat Ayam kecap pedas sama sayur bayam Mam." Ray memindahkan masakan yang telah jadinya pada wadah yang telah di sediakanya.
"Ayah tak menyangka, kalau kamu pandai memasak Juga sayang." Enrico yang salut melihat perubahan pada anaknya.
"I ya dong Daddy," Ray bangga dengan dirinya.
Raylene membawa ayam kecap pedasnya itu ke ruang makan, di bantu sang bunda yang membawa sayur bayamnya.
Di meja makan mereka bertiga telah siap dengan makan siangnya. Mereka bertiga berdoa terlebih dahulu sebelum menyantapnya.
Acara makan siang berjalan dengan khodmat.
Mereka bertiga berkumpul di ruang tamu sambil berbincang.
"Daddy sama Mam tahu tidak, pesan tersirat dari menu makan siang yang Raylene buat?" Ray bertanya sambil memandang Ayahnya dan beralih pada Ibunya.
Kedua orang tua Ray saling menatap dan beralih memandang Ray sambil menggelengkan kepalanya.
"Sini Ray jelasin." Ray menghampiri kedua orang tua dan memeluk dari belakang secara bersamaan.
Mereka saling menempelkan Pipinya, dengan posisi Ray yang berada di tengah sambil mengalungkan tangan pada ayah dan ibunya
"Apa itu Ray?" Enrico yang yang merasa penasaran.
"I ya, apa sih Ray?" Daphne tak kalah penasaran.
"Sayur bayam itu, agar Dady kuat seperti Popay menghajar Mami nya." Ray mencium pipi Enrico yang sudah memerah malu.
"Sedangkan Ayam pedas, biar Mami lebih sumringah setelah di hajar papi nya." Ray mencium pipi Dahne yang mematung malu.
"Dahhhh... Semua." Ray tertawa sambil berlari masuk ke dalam kamarnya.
Enrico dan Daphne saling menatap malu. Mereka menyadari bahwa anaknya telah tumbuh dewasa dan mengerti akan hal tabu, yang sering di lakukan pasutri pada umumnya.
"Papi sih," Daphne yang menyalahkan Enrico.
"Kok jadi Papi sih yang di salahkan?" Enrico sugkan mengalah.
Enrico menggendong kembali Daphne dengan gaya brydal style, dan membawa masuk ke dalam kamarnya untuk di hukum.