Rangga melemparkan bantal keatas lantai dan menyuruh Naya untuk tidur disana. Ia tak ingin satu ranjang bersama Naya.
Dengan pasrah Naya mengikuti keinginannya tanpa perlawanan sedikitpun. Ia tak mengira jika laki-laki itu akan memperlakukannya sampai seperti ini hanya karena ia adalah anak dari kedua orangtuanya yang tadinya menjadi pembantu dirumah ini.
Naya menatapnya nanar dan berjongkok lalu duduk diatas lantai. Hatinya terasa sakit dan perih, "Demi Allah aku juga tak sudi satu ranjang denganmu!" bisiknya dengan tangis tertahan.
Bagaimana kelanjutannya?
Cerita ini mengandung konten dewasa hanya untuk usia 21+.
Penasaran dengan jalan ceritanya? Baca selengkapnya.
COVER BY PEXELS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putus asa
Pada saat dini hari Tias diam-diam memasukkan obat pencuci perut kedalam tepung terigu yang akan di pergunakan Naya membuat kue dagangannya. Bik Pah melihat semua itu. Ia menengok cctv yang berada di pojok dapur yang samasekali tak disadari Tias. Bik Pah pun segera berlalu saat Tias hendak keluar dari dapur, "Apa yang di masukkan nya?" tanya Bik Pah curiga.
Bik Pah ingin memberitahu Naya tetapi ia takut akan mengganggu wanita itu kini yang tengah tertidur lelap. Dengan perasaan ragu dan resah ia pun mengurungkan niatnya dan akan memberitahukan hal itu esok pagi.
.......................................
Usai kepergian sang suami Naya lekas kedapur untuk segera membuat pesanan pelanggan semalam. Bik Pah buru-buru mencegatnya, "Tunggu, Non!" sergah Bik Pah.
"Ada apa, Bi?"
Bik Pah kemudian menarik tangan Naya keluar dapur dan memberitahukan apa yang dilihatnya semalam dengan sedikit berbisik.
"Bik Pah yakin?" tanya Naya.
"Memangnya apa lagi yang ia masukkan kecuali racun?" sela Bik Pah.
Naya pun lekas melihat tepung terigu miliknya. Ia tak melihat kejanggalan sedikitpun pada tepung itu, "Apa yang dia masukkan?" tanyanya. Naya bingung. ia tak tahu harus bagaimana arena ia sudah berjanji kepada pelanggannya jika pesanan mereka akan sampai 1 jam lagi.
"Buang saja, Non," cegah Bik Pah hingga membuat keraguan Naya lenyap dan segera membuang tepung itu.
Naya pun segera mengkonfirmasi waktu pengiriman pesanan pelanggannya melalui telepon jika waktu pengiriman akan molor hingga 2 jam kedepan. Pelanggannya kecewa berat dan memutuskan membatalkan pesanan mereka.
Hari ini beberapa dari teman yang dahulu saat duduk di bangku SMA datang kerumah untuk membeli baju kepada Tias. Ia tak mengira jika mereka akan datang secepat itu setelah chat semalam.
"Yas, suami mu mana? Kerja ya?" tanya Franda yang hanya melihat Naya dari kejauhan terlihat bingung mematung di dekat tangga.
"Iya lah, suamiku mana mungkin sepagi ini ada di rumah. Paling nanti sore baru ia tiba," ucapnya bangga.
Teman-temannya kagum. " Boleh pesan beberapa perhiasan nggak, Yas?" tanya Lusi sembari membongkar baju yang akan ia beli.di atas lantai.
"Maksudmu?" Tias bingung.
"Biasanya kalau jualan seperti ini pembeli boleh reques barang lain yang diinginkan pelanggan," jelasnya.
"Oh, begitu? Aku baru tahu."
"Bisa nggak? Soalnya aku akan bawa ke pesta lusa."
Tias berpikir sejenak. "Ok. Tapi berikan dp nya dulu," pintanya.
"Aku akan transfer."
Hingga sore tiba tak ada satu pun seseorang yang memesan kue dari Naya. Ia yakin jika pelanggan yang tadi merasa kecewa telah menyebarkan keburukan yang dialaminya kepada pelanggannnya yang lain. Tias memperhatikannya yang tengah terduduk lemas di ruang keluarga dengan senyum puas karena berpikir rencanya telah berjalan sukses sekali pun apa yang di alami Naya karena ulahnya tak sesuai dengan yang diharapkannya. "Rasakan, Babu!" ringisnya. Mona yang telah memberinya info tentang apa yang di alami Naya.
Naya menyentuh perut nya dan membelainya lembut, "Doakan ibu ya Nak," pintanya. Tiba-tiba ia kepikiran untuk memasarkan kuenya pada beberapa warung di dekat rumah karena merasa begitu jenuh seperti niat awal saat hendak memulai usaha. Ia segera bangkit menuju kamar Susan untuk memohon izin keluar sejenak.
Tok-tok, Naya mengetuk pintu. Sosok Susan muncul dengan penampilan agak berantakan karena baru aja bercinta dengan sang suami, "Ada apa, Naya?"
"Maaf aku mengganggu. Aku hanya ingin minta izin keluar sejenak."
Susan mengangguk, "Silahkan," ucap nya singkat dan kembali menutup pintu.
"Mama kenapa?" tanyanya bingung.
Naya menyusuri gang tak jauh dari rumahnya dan menghampiri beberapa warung. Ia pun bertanya apakah ia bisa memasukkan barang miliknya.
"Boleh saja, Mbak. Tetapi keuntungan saya dua setengah persen dari setiap kue yang terjual," pintanya.
"Dua setengah persen?" batin Naya.
"Gimana, Mbak?"
Naya pun menyetujuinya dengan perasaan galau.
"Kalau di kampung ku tak sebanyak ini yang diminta," celetuknya saat berlalu dari warung kecil itu.
Saat tiba di rumah dua orang wanita paruh baya sudah menantinya. Rosi yang sejak tadi mendampingi mereka segera meminta Naya mendekat dan memperkenalkan kedua wanita itu kepadanya, "Kak Rangga mendatangkan mereka sebagai pegawai yang akan membantumu," gumam Rosi.
Naya tersenyum dan mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Bibi bisa mulai membantuku?" tanya Naya.
"Iya, Non. Kami siap," tukas Bi Mulimah bersemangat.
Sudah tiga hari lamanya permintaan lemat medsos Naya sepi pembeli. Hanya ada beberapa orang yang memesan padanya. Untung pendapatannya dari warung pun tak seberapa. Naya menyembunyikan semua itu dari sang suami, "Bagaimana ini?" bisik nya tak bersemangat saat makan malam berlangsung. Ia hanya makan sedikit. Tias sekilas menengok padanya dan bersyukur Naya yang ia anggap sebagai saingan bisnisnya meringsek drop.
.............................
Saat Rangga mulai menutup mata Tias lekas memeluknya erat dan menaruh kepalanya di dada Rangga, "Aku mau minta sesuatu lagi, Pa."
"Apa?" tanya Rangga malas.
Beberapa hari ini pesanan lebih banyak perhiasan ketimbang baju. Apa aku boleh minta modal lagi untuk bisnis perhiasan?" tanyanya halus.
"Tak bisa. Cukup yang waktu itu. Lagi pula pasti kamu sudah mendapat keuntungan. Pakai saja yang itu."
Tias merengut, "Sedikit saja, Pa. Cuma lima ratus juta."
Rangga tak menanggapinya dan memilih untuk tertidur.
"Pa? Pa!" sergahnya menggoyangkan tubuh Rangga. Ia pun mendongak menengok wajah Rangga. Ia kesal bukan main karena pria itu mengabaikannya.
Naya merenung seorang diri di ruang keluarga. Ia memilih tempat itu karena merasa lebih nyaman di sana. Ilham tanpa disengaja menatapnya ketika melintas bersama Sulaiman dalam gendongannya tengah tertidur pulas. Ilham kemudia membawa Sulaiman untuk membaringkannya di ranjang.
Naya mendesah, "Huh.... Apa yang harus kulakukan ya Allah! Semua sudah kulakukan. Jalanku buntu!" ia sudah merasa putus asa.
"Apa yang terjadi?" tanya Ilham sembari duduk di sampingnya.
"Eh, Kak. Mana Sulaiman? Apa ia akan menginap lagi di rumah mamanya?"
"Tidak, Sulaiman tak betah di sana karena mamanya seringkali mengabaikannya."
Ilham nampak kelelahan dengan mata yang mulai sayu. "Apa yang terjadi? Apa kamu mendapatkan masalah dari usaha mu? Atau yang lain?"
Naya mengangguk, "ya, Kak. Semuanya tak berjalan lancar. Bahkan stagnan tak ada perubahan sejak Tias berusaha mengerjaiku."
"Apa yang ia lakukan padamu?" tanya Ilham langsung tegang.
Naya ragu menceritakannya kepada Ilham akan tetapi Ilham memaksa dan akhirnya ia pun menceritakan segalanya.
"Perempuan gila!" geram Ilham. Ia tak terima wanita yang dicintainya ini disakiti.
Mona diam-diam mengintip keduanya, ia mendengarkan dengan seksama apa yang mereka bicarakan, "Awas kamu Naya," bisiknya. Ia akan melaporkan itu kepada Tias.
Bersambung....
maju ilham lindungi naya