NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Uang Lamaran yang Hilang

Sepuluh hari setelah Wati datang, salinan mutasi rekening akhirnya lengkap.

Selama beberapa pekan, Arya dan aku tidak menuduh siapa pun di depan umum. Kami mengumpulkan dokumen satu per satu: bukti transfer dari rekening usaha Arya, tanda terima yang ditandatangani Ratna saat lamaran lama, daftar barang seserahan, serta catatan pengiriman kepada keluarga kandungku di Tegalsari.

Petugas KUA membantu mengonfirmasi bahwa rencana pernikahan lama atas nama Tiara tidak pernah berlanjut menjadi akad. Arsip mereka hanya mencatat berkas pernikahan dan mahar yang direncanakan, bukan pengelolaan uang seserahan keluarga. Karena itu, aliran uang dibuktikan melalui bank, kuitansi, dan orang yang menyerahkan langsung.

Angkanya jelas.

Arya pernah mentransfer empat juta delapan ratus ribu rupiah sebagai uang lamaran dan kebutuhan awal persiapan. Ratna menerimanya di rekening keluarga. Pak Sukri dan Bu Minah hanya mendapat satu juta dua ratus ribu melalui transfer terpisah.

Sisa tiga juta enam ratus ribu berpindah pada hari yang sama ke rekening pribadi Tiara.

Dua hari kemudian, uang itu dipakai untuk membayar tagihan kartu belanja dan membeli tas bermerek.

Mendapatkan rangkaian itu tidak semudah meminta petugas bank membuka data orang lain. Arya menyerahkan mutasi rekeningnya sendiri. Ratna awalnya menolak memberikan catatan rekening keluarga, tetapi Bimo akhirnya menandatangani permintaan salinan karena namanya ikut tercantum sebagai pemilik. Untuk rekening Tiara, pengacara hanya memperoleh bukti transfer masuk dari sisi pengirim dan bukti pembayaran yang pernah Tiara unggah sendiri kepada penjual.

Sisanya akan diminta penyidik melalui prosedur resmi.

Kami juga menemui lelaki yang dulu mengantar map lamaran. Dia mengingat Ratna menghitung uang di ruang tamu dan Tiara membawa map itu ke lantai atas. Sopir yang mengantar bagian ke Tegalsari menyimpan pesan perintah dengan nominal satu juta dua ratus ribu, jauh di bawah jumlah awal.

Setiap bukti berdiri sendiri mungkin masih bisa dipelintir. Jika diletakkan berurutan, semuanya menunjuk ke arah yang sama.

Aku menyalin dokumen dalam tiga set. Satu untuk polisi, satu untuk pengacara, dan satu kami simpan. Arya memasukkannya ke map bersegel. Setelah pengalaman dengan dapur, kunci palsu, dan kotak emas, kami tidak lagi mengandalkan ingatan atau niat baik orang.

Kami mengundang Bimo, Ratna, dan Tiara datang ke rumah pada hari yang disepakati. Pak Kades hadir sebagai saksi sosial, sedangkan seorang pengacara duduk di samping tumpukan dokumen. Dua polisi dari polsek menunggu di luar karena laporan awal sudah diajukan berdasarkan bukti transfer.

Anak-anak kutitipkan kepada Bu Sumi. Aku tidak mau Raka, Bayu, dan Sasa menyaksikan orang dewasa saling meneriakkan uang.

Bibi Yem datang tanpa diundang. Dia berdiri dekat pintu bersama beberapa warga, merasa berhak menonton karena pernah membawa kabar soal seserahan.

Tiara masuk dengan kacamata hitam dan tas baru. “Aku tidak punya waktu seharian. Katakan maumu.”

“Penjelasan,” jawabku.

Pengacara mendorong salinan tanda terima ke tengah meja. “Ini dana yang ditransfer pihak Pak Arya kepada rekening keluarga Ibu Ratna saat proses lamaran. Kuitansi menyebut penggunaannya untuk persiapan calon pengantin dan bagian keluarga Laras di Tegalsari jika pergantian calon disetujui.”

Ratna langsung menyela. “Waktu itu belum ada pergantian. Uang diberikan untuk Tiara.”

“Kalau Tiara menolak pernikahan, dana yang belum digunakan seharusnya dilaporkan dan dikembalikan,” kata pengacara. “Bukan dipindahkan tanpa persetujuan pemberi.”

Bimo membaca lembar di depannya dengan wajah mengeras. “Saya tidak pernah menyetujui pemindahan ini.”

Tiara melepas kacamata. “Mama memberikannya kepadaku.”

Ratna menoleh cepat. “Mama tidak pernah bilang begitu.”

“Mama memberikan PIN rekening.”

“Untuk membayar kebutuhan rumah, bukan memindahkan uang lamaran.”

Retakan pertama muncul bahkan sebelum kami membuka bukti berikutnya.

Aku menyerahkan mutasi rekening. “Tiga juta enam ratus ribu masuk ke rekeningmu. Lalu pembayaran tas dan tagihan tercatat dua hari setelahnya.”

“Itu uangku sendiri.”

“Nominal dan waktunya sama.”

“Kebetulan.”

Pengacara mengeluarkan surat keterangan bank tentang sumber transfer dan nomor referensi transaksi. “Nomor ini menghubungkan dana dari rekening Bu Ratna ke rekening Anda. Kami juga memiliki pesan WhatsApp yang Anda kirim kepada teman pada hari itu.”

Di layar tercetak pesan Tiara: uang lelaki desa lumayan juga untuk menutup tagihan.

Wajahnya berubah.

“Ponselku diretas,” katanya.

“Percakapan diperoleh dari cadangan perangkat yang diserahkan pemilik akun penerima pesan secara sukarela,” jawab pengacara. “Keasliannya masih akan dinilai penyidik. Namun ia selaras dengan aliran bank dan bukti pembelian.”

Tiara menatapku. “Kamu menyuruh orang memata-mataiku?”

“Aku hanya mengikuti uang yang seharusnya tidak hilang.”

“Kamu sudah mendapat lebih banyak saat akad! Emas, uang, rumah besar. Kenapa masih mengejar tiga juta?”

“Karena jumlah kecil tetap bukan milikmu kalau kamu mengambilnya tanpa izin.”

Aku mengeluarkan salinan transfer kepada Pak Sukri. “Bapak dan Ibu tidak pernah menuntut uang. Mereka bahkan malu membicarakannya. Tapi itu tidak berarti kamu boleh memakai kemiskinan mereka sebagai kesempatan.”

Tiara melirik Bibi Yem. “Keluarga Tegalsari sendiri penuh orang yang mengincar uang. Mungkin mereka yang mengambil sisanya.”

“Transfer langsung masuk ke rekeningmu,” kata pengacara. “Tidak melalui Tegalsari.”

“Laras bisa saja mengatur semua ini dengan uang suaminya.”

Pak Kades membuka salinan yang dibawanya. “Tanggal transfer terjadi sebelum Laras tinggal di Rejosari. Bagaimana dia mengaturnya?”

Tiara kehilangan jawaban dan beralih menyerangku. “Kamu memang selalu iri karena aku mendapatkan keluarga aslimu.”

“Aku kehilangan keluarga yang membesarkanku pada hari mereka memilih mengirimku,” jawabku. “Yang sedang kita bahas bukan siapa yang lebih dicintai. Yang kita bahas adalah uang yang kamu pindahkan.”

Setiap kali dia mencoba menarik percakapan ke soal darah, iri, atau nasib, kami mengembalikannya pada tanggal, nominal, rekening, dan tujuan dana. Untuk pertama kalinya, gelar anak kandung tidak memberinya jalan keluar dari angka.

“Itu kompensasi karena aku dipaksa menerima lamaran orang tua ini!”

Arya yang sejak tadi diam mengangkat wajah. “Kamu menolak sebelum pernah bertemu denganku.”

Tiara tersentak.

“Dan penolakanmu tidak memberimu hak mengambil dana yang harus dikembalikan,” lanjutnya.

Bimo menutup mata sesaat. Baginya, setiap lembar bukti bukan hanya soal uang, melainkan penghinaan terhadap nama yang selalu dijaganya. “Tiara, kenapa kamu tidak mengatakan ini?”

“Karena Papa pasti menyuruhku mengembalikan.”

Pengakuan itu keluar sebelum dia sempat menahannya.

Ruangan langsung riuh. Bibi Yem berseru paling keras, seolah dia tidak pernah datang meminta daging gratis. Warga di pintu berbisik bahwa anak kandung keluarga kaya ternyata memakan uang milik anak yang dibuang.

Ratna menggenggam tangan Tiara. “Sudah. Kita kembalikan uangnya sekarang. Tidak perlu melibatkan polisi. Semua ini masih urusan keluarga.”

Bimo menarik tangannya dari meja. “Uang ini masuk lewat rekening kita. Nama saya ikut terseret.”

Ratna menatap suaminya tidak percaya. “Kamu lebih memikirkan nama daripada anakmu?”

“Aku memikirkan mengapa kalian memakai rekening keluarga tanpa sepengetahuanku.”

“Dia hanya khilaf.”

“Khilaf tidak disertai pesan menertawakan pemberi uang.”

Tiara memukul meja. “Papa juga sama! Begitu ada masalah, semua orang hanya ingin menyelamatkan diri.”

“Aku sudah menyelamatkanmu berkali-kali,” kata Bimo. “Kali ini kamu meninggalkan jejak atas namamu sendiri.”

Wajah Tiara perlahan kehilangan kesombongan. Yang tersisa adalah panik karena orang-orang yang biasanya menutup kesalahannya mulai menghitung harga perlindungan mereka sendiri.

Aku melihat perempuan yang membesarkanku selama dua puluh tahun. Dulu satu kalimat darinya cukup membuatku meminta maaf meski tidak bersalah. Kini kalimat “urusan keluarga” terdengar seperti kain yang dipakai menutup lubang setelah semua orang melihat isinya.

“Saat aku dipaksa berangkat ke Rejosari, Mama bilang hubungan kita selesai,” kataku. “Sekarang ketika Tiara harus bertanggung jawab, kita mendadak keluarga lagi?”

“Mama sedang berusaha melindungi kalian berdua.”

“Mama hanya melindungi orang yang selalu Mama pilih.”

Ratna memucat.

Arya menaruh telapak tangan di atas meja. Tidak keras, tetapi ruangan seketika tenang.

“Laras bukan orang yang mengambil uangku,” katanya. “Tiara yang melakukannya. Jangan pakai nama keluarga untuk menyamakan korban dan pelaku.”

Ratna menoleh kepadanya. “Pak Arya, uangnya akan kami ganti dua kali lipat. Tolong cabut laporan. Tiara masih muda. Masa depannya bisa hancur.”

“Laras juga masih muda ketika kalian mengirimnya menggantikan putri kalian.”

Tak ada yang menjawab.

Pengacara menjelaskan bahwa pengembalian dana dapat dipertimbangkan dalam proses, tetapi tidak otomatis menghapus dugaan perbuatan. Arya sebagai pemberi dana dan Bimo sebagai pemilik rekening asal sama-sama harus memberikan keterangan. Tiara juga berhak didampingi penasihat hukum.

Dua petugas masuk setelah dipanggil. Mereka tidak memborgol Tiara di ruang tamu. Salah satu menunjukkan surat panggilan pemeriksaan dan meminta dia ikut untuk memberikan keterangan serta mencocokkan bukti elektronik.

Tiara mundur. “Aku tidak mau.”

“Ibu dapat didampingi pengacara,” kata petugas. “Tapi panggilan ini harus dipenuhi.”

Dia menoleh kepada Bimo dan Ratna. Ayahnya tidak bergerak. Ratna menangis, tetapi tangannya perlahan terlepas.

“Kalian membiarkan mereka membawaku karena Laras?” teriak Tiara.

“Karena perbuatanmu sendiri,” jawab Bimo.

Tiara meraih tasnya dan berjalan ke pintu diapit dua petugas. Di ambang, dia berbalik dan menatapku dengan kebencian telanjang.

Warga di luar pagar terdiam. Tidak ada lagi bisik bahwa anak asli pasti lebih pantas atau anak tertukar seharusnya tahu diri. Yang mereka lihat hanyalah seorang perempuan dibawa menjawab aliran uang yang tercatat atas namanya.

“Kenapa?” suaranya pecah. “Kenapa semua yang baik selalu menjadi milikmu?”

Petugas menyentuh pergelangan tangannya ketika dia mencoba kembali masuk. Tiara meronta, tetapi akhirnya dibawa melewati pagar.

Pintu rumah tertutup keras di belakangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!