Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Pembukaan Paviliun Jiwa Bintang
Di ruang bawah tanah Toko Daun Emas yang kini berganti nama, suhu mendadak meningkat hingga dinding batu memerah.
Lin Xuan duduk bersila dalam wujud Tuan Mo. Di depannya hanya ada tungku besi tua seharga lima Batu Roh tingkat rendah. Tungku itu retak dan bahkan tidak memiliki formasi penahan panas.
Namun di tangan seorang mantan Kaisar Suci, tungku rongsokan pun cukup untuk menjadi tungku dewa.
Lin Xuan menjentikkan jari. Api Teratai Bumi Terdalam menyala. Ia menekan auranya hingga tampak seperti api biru biasa.
Di sampingnya, Xiao Ya yang kini menyamar sebagai Ah Ya menuangkan berbagai tanaman herbal murah ke dalam tungku.
"Masukkan semuanya."
"S-semuanya, Tuan?"
"Ya."
Xiao Ya pun menuangkannya tanpa ragu.
Tungku langsung penuh. Bagi alkemis biasa, campuran seperti itu pasti akan membuat tungku meledak. Namun Kekuatan Jiwa Lin Xuan menahan seluruh tekanan di dalamnya.
Api biru menyelimuti setiap batang dan daun. Racun serta kotoran tanaman terbakar habis.
Asap hitam keluar dari tungku lalu lenyap sebelum sempat menyebar.
Lima menit kemudian, tumpukan herbal murah itu berubah menjadi sepuluh tetes cairan spiritual.
Lin Xuan mengangkat tangannya. Sepuluh tetes cairan itu memadat menjadi sepuluh butir pil berwarna biru jernih dengan aroma menyegarkan.
Enam garis emas perlahan muncul di permukaan setiap pil.
Pil Enam Cincin!
"Selesai. Pil Pemusat Roh Murni, Enam Cincin."
Lin Xuan menyimpan sepuluh pil ke dalam botol giok.
Xiao Ya menatapnya tak percaya.
"Tuan, Anda mengubah rumput pakan binatang senilai dua Batu Roh Rendah menjadi sepuluh pil Tingkat 3 Enam Cincin. Jika Asosiasi Alkemis melihat ini, mereka pasti akan gila."
Lin Xuan tersenyum tipis.
"Inilah Hukum pertukaran langit. Alkemis biasa bergantung pada bahan langka. Alkemis sejati mengandalkan keahliannya. Bagiku, sampah pun bisa menjadi harta."
Ia menyerahkan sepuluh botol giok kepada Xiao Ya.
"Total seratus pil. Bawa ke atas dan suruh Shen Fugui menjualnya. Lima ratus Batu Roh Menengah per butir. Jangan turunkan harganya."
"Lima ratus Batu Roh Menengah?" Xiao Ya terkejut. "Itu jauh lebih murah daripada pil sejenis milik Asosiasi!"
"Justru itu tujuannya. Kita akan mematahkan harga mereka dan menguras kantong Asosiasi Alkemis."
Di lantai atas, Shen Fugui sedang membersihkan etalase yang baru diperbaiki. Papan nama Paviliun Jiwa Bintang telah terpasang di depan toko.
Begitu melihat seratus pil yang dibawa Xiao Ya, matanya langsung berbinar.
"Jika pil seperti ini bisa dibuat terus-menerus, kita bukan hanya akan menguasai jalan ini. Seluruh Kota Bintang Jatuh akan menjadi milik kita!"
Namun dua jam setelah toko dibuka, tak seorang pun berani masuk.
Para kultivator hanya melirik dari kejauhan. Beberapa anggota Asosiasi Alkemis berjaga di seberang jalan dan mengintimidasi siapa pun yang hendak mendekat.
Shen Fugui mulai berkeringat dingin.
"Ah Ya, mereka sengaja menakut-nakuti pelanggan. Kalau begini, pil kita hanya akan menjadi pajangan."
Di balik tirai bambu, Lin Xuan duduk tenang sambil menyesap teh.
"Biarkan saja. Emas murni tidak takut diuji api. Kita hanya perlu satu kesempatan."
Saat itu, seorang pria kekar berjalan sempoyongan di depan toko. Tubuhnya setinggi dua meter dan dipenuhi luka. Sebilah pedang besar tersandang di punggungnya. Auranya berada di puncak Pembentukan Fondasi, tetapi sangat kacau seolah Dantiannya bisa pecah kapan saja.
Dia adalah Tie Zang, Kapten Tentara Bayaran Darah Besi.
Wajahnya pucat dan urat-urat di lehernya menghitam. Selama bertahun-tahun ia mengandalkan pil murahan untuk mengejar terobosan. Namun ampas pil yang menumpuk justru meracuni meridiannya.
"Sial... tabib Asosiasi meminta tiga ribu Batu Roh Menengah untuk menyelamatkanku."
Tie Zang batuk darah.
"Tiga ribu! Menjual seluruh pasukanku pun belum tentu cukup."
Saat melewati Paviliun Jiwa Bintang, ia mencium aroma obat yang sangat murni. Rasa sakit di dadanya bahkan sedikit mereda.
Tanpa memedulikan tatapan para anggota Asosiasi di seberang jalan, Tie Zang masuk.
"Pemilik toko..." suaranya serak. "Pil apa yang kalian jual?"
Shen Fugui segera menyambutnya.
"Selamat datang, Pahlawan! Kami menjual Pil Pemusat Roh Murni Enam Cincin. Khasiatnya tinggi dan cocok untuk memulihkan luka dalam."
Tie Zang tertawa getir sebelum kembali batuk darah.
"Enam Cincin? Pembohong. Asosiasi Alkemis Bintang Jatuh hanya mampu membuat empat Cincin. Kalaupun pilmu benar, harganya pasti mahal."
"Hanya lima ratus Batu Roh Menengah."
Tie Zang terdiam. Sesaat kemudian wajahnya memerah karena marah. Ia mencengkeram kerah Shen Fugui dan mengangkat tubuh gemuk itu.
"Berani kau mempermainkanku? Pil Enam Cincin seharga lima ratus Batu Roh? Pasti racun yang dibuat dari lumpur!"
"L-Lepaskan dia."
Suara berat Tuan Mo terdengar dari balik tirai bambu. Tidak keras, tetapi mengandung tekanan yang membuat udara bergetar.
Tie Zang merasa seperti ditindih gunung. Tangannya terlepas dari kerah Shen Fugui dan ia mundur dengan wajah pucat.
Orang di balik tirai itu hanya memancarkan aura Kondensasi Qi. Namun tekanannya bahkan membuatku gentar.
Lin Xuan berkata tenang, "Ada dua titk telah tersumbat racun api. Setiap malam, tulang rusuk kirimu terasa seperti ditusuk jarum. Jika kau memaksa mengedarkan Qi, kau tidak akan bertahan lebih dari tiga hari."
Tie Zang membelalakkan mata.
Lin Xuan melanjutkan, "Jangan salahkan toko ini. Tubuhmu sudah dipenuhi ampas pil dari Asosiasi Alkemis."
Wajah Tie Zang berubah. Ia segera menangkupkan tangan dan membungkuk.
"Senior, saya yang tidak tahu diri. Pil ini benar-benar bisa menyembuhkan saya?"
Sebuah botol giok melayang keluar dari balik tirai dan mendarat di tangannya.
"Lima ratus Batu Roh Menengah. Telan sekarang. Duduk dan pecahkan sumbatan di meridianmu."
Tie Zang langsung membayar. Ia membuka botol dan menelan pil itu tanpa ragu sebelum duduk bersila di tengah toko.
Boom!
Energi murni segera mengalir ke seluruh tubuhnya. Tidak seperti pil Asosiasi yang keras dan bergejolak, khasiat pil ini mengalir lembut namun kuat.
Racun hitam perlahan keluar dari pori-porinya lalu menguap menjadi asap busuk.
Di saat yang sama, Qi murni yang selama sepuluh tahun terjebak di puncak Pembentukan Fondasi akhirnya menemukan jalan keluar.
Blaarrr!
Pilar cahaya keemasan meledak dari tubuh Tie Zang. Atap Paviliun Jiwa Bintang langsung jebol dan cahaya itu menembus langit Kota Bintang Jatuh.
Awan spiritual berputar membentuk pusaran. Qi alam dari segala penjuru tersedot ke tubuh Tie Zang.
"Terobosan Inti Emas!"
Seruan itu membuat para kultivator di jalan berkerumun. Para anggota Asosiasi Alkemis yang berjaga di seberang jalan langsung pucat.
Tie Zang membuka mata. Cahaya keemasan berputar di telapak tangannya. Ia bukan hanya terbebas dari racun. Setelah sepuluh tahun terhenti di puncak Pembentukan Fondasi, ia akhirnya menembus Inti Emas.
Pria kekar itu berbalik dan bersujud di depan tirai bambu.
"Tuan Mo! Anda telah menyelamatkan hidup saya! Mulai hari ini, nyawa saya dan seluruh Tentara Bayaran Darah Besi adalah milik Paviliun Jiwa Bintang!"
Di balik tirai, Lin Xuan hanya tersenyum sambil menyesap teh.
Pemicu yang kutunggu akhirnya tiba.
Para kultivator yang menyaksikan semuanya mulai berebut masuk.
"Aku beli satu!"
"Berikan aku sepuluh!"
"Aku bayar seribu Batu Roh untuk satu botol!"
Shen Fugui dan Xiao Ya kewalahan menghadapi kerumunan. Para anggota Asosiasi bahkan sudah melarikan diri.
Tak sampai setengah batang dupa, seratus pil itu ludes terjual.
Lima puluh ribu Batu Roh Menengah!
Di kejauhan, Ma Teng menyaksikan kejadian itu dari gedung Asosiasi Alkemis Bintang Jatuh. Wajahnya pucat.
Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua berjubah emas. Dialah Penatua Gu yang menguasai pasar alkimia Kota Bintang Jatuh.
"Berani menjatuhkan harga dan merebut pelanggan kami?"
Penatua Gu meremukkan cangkir giok di tangannya.
"Kumpulkan Pasukan Penegak Hukum. Besok aku akan meratakan toko itu dan menangkap alkemis di balik tirainya."