NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Ratna masih menatap layar ponselnya. Jarinya tidak bergerak. Pesan itu masih terpampang jelas di hadapannya.

Biaya verifikasi tambahan: Rp25.000.000.

Ratna mengerutkan kening. "Kenapa harus ada biaya lagi...?"

Ia membaca pesan tersebut sekali lagi. Kemudian sekali lagi. Seolah-olah dengan membacanya berulang kali, kalimat itu akan berubah. Namun tidak. Tetap sama.

Ratna menarik napas panjang. "Kalau memang biaya administrasi..." Ia mencoba berpikir. "Mungkin memang prosedurnya seperti itu." Ucap Ratna

Ia sendiri tidak terlalu memahami investasi. Yang ia tahu hanya satu. Di dalam aplikasi itu terdapat angka yang sangat besar.

Rp360.000.000.

Dan angka itu membuatnya sulit untuk berpikir jernih.

Ratna segera membuka daftar kontak. Ia mencari nama Melisa. Jarinya berhenti beberapa detik di atas tombol panggil.

Kemudian...

Klik. Panggilan tersambung.

"Halo, Ratna?"

"Melisa..."

"Iya?"

"Kamu pernah diminta bayar biaya verifikasi?"

Di ujung telepon... Melisa terdiam. Tidak langsung menjawab. Keheningan itu membuat Ratna semakin gelisah.

"Melisa?"

"Iya..."

"Jawab."

Melisa menarik napas. "Belum."

Ratna membeku. "Belum?"

"Iya."

"Kenapa aku diminta?"

Melisa kembali diam.

Ratna mulai merasa tidak nyaman. "Melisa, kamu jangan diam saja."

"Aku juga kurang tahu."

"Katamu kamu sudah dua bulan ikut."

"Iya."

"Terus selama ini pernah tarik uang?"

Pertanyaan itu membuat suasana di ujung telepon kembali hening. Beberapa detik kemudian... Melisa menjawab pelan.

"Belum."

Ratna langsung duduk tegak. "Belum?"

"Iya."

"Jadi selama ini kamu cuma melihat saldo di aplikasi?"

Melisa tidak menjawab.

Ratna menutup matanya. Dadanya mulai terasa tidak nyaman. "Melisa..."

"Iya?"

"Jangan bilang..." Ratna berhenti. Ia bahkan tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Melisa akhirnya berkata, "Ratna... aku juga mulai khawatir."

Panggilan itu berakhir beberapa menit kemudian.

Ratna masih memegang ponselnya. Tatapannya kosong. Untuk pertama kalinya... Angka Rp360.000.000 yang selama ini membuatnya tersenyum justru terlihat seperti sesuatu yang menakutkan. Ia mencoba membuka aplikasi itu lagi. Masih sama. Saldo tetap. Grafik tetap naik. Semua terlihat normal.

Ratna menelan ludah. "Jangan-jangan..." Tangannya mulai gemetar. Namun ia segera memaksa dirinya untuk berpikir positif. "Tidak." Ia menggeleng. "Pak Adrian bilang aman. Melisa juga ikut. Perusahaannya juga punya kantor."

Ratna berdiri dari kursinya. Ia berjalan mondar-mandir di ruang keluarga. "Kalau memang penipuan... kenapa mereka punya kantor?"

Pertanyaan itu ia lontarkan kepada dirinya sendiri. Tidak ada jawaban.

Ratna kemudian mengambil brosur investasi yang masih tersimpan di laci. Ia membukanya. Ada logo yang amat jelas. Ada alamat kantor. Ada nomor layanan pelanggan. Semuanya terlihat meyakinkan.

Ratna menghela napas lega. "Mungkin memang hanya prosedur."

Ia mencoba menenangkan diri. Namun... Ponselnya kembali bergetar.

Ratna terkejut. Pesan baru. Ia buru-buru membukanya.

"Segera lakukan pembayaran agar proses pencairan tidak tertunda."

Ratna membaca pesan itu perlahan. Kali ini... Tidak ada senyum di wajahnya.

*

Sementara itu... Kembali di kantor. Arga masih berdiri di depan meja Calista. Percakapan mereka sebenarnya sudah selesai.

Namun... Tidak ada satu pun dari keduanya yang langsung bergerak.

Calista menutup dokumen perlahan. "Kalau begitu... saya kembali bekerja dulu, Pak."

Arga mengangguk. "Baik."

Calista baru hendak duduk.

Namun Arga tiba-tiba berkata. "Calista."

Calista kembali menoleh. "Iya, Pak?"

Arga terdiam.

Dimas yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana langsung memasang wajah penasaran.

Arga sebenarnya tidak punya alasan lagi. Ia sudah bertanya mengenai sistem pengarsipan. Sudah mendapatkan penjelasan. Bahkan sudah memuji hasil pekerjaan Calista. Seharusnya selesai.

Namun... Ada sesuatu yang membuatnya ingin berbicara sedikit lebih lama.

"Kamu..." Arga berhenti sejenak. "Kamu sudah makan?"

Dimas hampir tersedak.

Arga sendiri langsung sadar bahwa pertanyaannya terdengar terlalu pribadi.

Calista tampak sedikit bingung. "Sudah, Pak."

Arga mengangguk cepat. "Oh."

Hening. Kemudian...

"Bagus."

Calista mengangguk. "Terima kasih, Pak." Ia kembali duduk.

Arga masih berdiri.

Dimas menundukkan wajah. Sudut bibirnya bergetar.

Arga akhirnya menoleh. "Kenapa?"

Dimas menggeleng. "Tidak ada, Pak."

"Kalau mau tertawa, tertawalah."

"Saya tidak berani."

Arga mendengus pelan. Kemudian ia berbalik. "Permisi."

Calista kembali mengangkat wajah. "Iya Pak."

Arga berjalan meninggalkan ruangan. Namun baru beberapa langkah... Ia tanpa sadar tersenyum. Pertanyaan yang sebenarnya sederhana. Tetapi entah mengapa... Ia merasa senang hanya karena berhasil menanyakannya.

Dimas berjalan di sampingnya. Beberapa detik ia memilih diam.

"Pak."

"Hm?"

"Bapak mau makan siang di mana?"

Arga menjawab tanpa berpikir, "Belum tahu."

"Kalau begitu..."

Dimas tersenyum. "Kenapa tidak ajak Bu Calista?"

Langkah Arga langsung berhenti.

Dimas ikut berhenti.

Arga menatapnya. "Jangan mulai."

Dimas mengangkat kedua tangan. "Saya cuma memberi saran."

"Saranmu tidak perlu."

"Baik."

Dimas kembali berjalan.

Arga menyusul. Namun beberapa langkah kemudian... "Kalau..."

Dimas menoleh. "Kalau apa, Pak?"

Arga tampak berpikir. "Kalau ada urusan pekerjaan..."

Dimas menunggu.

"...apa wajar kalau mengajak makan sambil membahas pekerjaan?"

Dimas hampir tertawa. Namun ia menahannya. "Sangat wajar, Pak."

Arga mengangguk kecil. "Begitu?"

"Iya."

"Baik."

Setelah itu Arga kembali diam. Namun di dalam pikirannya... Sebuah rencana kecil mulai muncul. Hanya makan siang. Dan alasan yang sederhana. Membicarakan pekerjaan. Setidaknya... Itulah alasan yang ingin ia gunakan.

*

Di ruang administrasi... Calista kembali bekerja. Ia sama sekali tidak tahu bahwa atasannya sedang memikirkan cara untuk mengajaknya makan siang.

Baginya... Arga hanya datang untuk menanyakan pekerjaan.

Calista membuka laptop. Kemudian melanjutkan laporan. Beberapa menit berlalu. Sampai seorang rekan kerja datang menghampirinya.

"Bu Calista."

"Iya?"

"Pak Arga tadi mencari Ibu?"

Calista mengangguk. "Iya."

"Ada apa?"

Calista tersenyum kecil. "Katanya ingin melihat sistem pengarsipan."

Rekan kerjanya mengangguk. "Oh." Kemudian ia pergi.

Calista kembali menatap layar. Namun entah mengapa... Pikirannya sempat kembali kepada senyum Arga tadi. Senyum yang berbeda dari biasanya.

Calista menggeleng pelan. "Kenapa aku malah memikirkannya?"

Ia kembali fokus kepada pekerjaannya. Tidak menyadari...

Di lantai atas... Arga juga sedang melakukan hal yang sama. Mencoba bekerja. Namun beberapa kali... Tatapannya kembali menuju jam dinding. Dan kali ini... Bukan karena menunggu rapat. Melainkan menunggu waktu makan siang.

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!