NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022: Rumah yang Dibayar Nadia

Nadia mengirim pesan kepada Dimas pukul tiga sore.

Aku datang jam lima untuk mengambil dokumen pribadi dan membicarakan barangku. Kalau pintu dikunci atau aku dihalangi, aku akan datang dengan saksi.

Dua centang biru muncul hampir langsung.

Tidak ada balasan.

Nadia menatap layar beberapa detik. Dulu, diam Dimas selalu membuatnya gelisah. Ia akan mengirim pesan tambahan, menjelaskan, meminta maaf, menebak-nebak suasana hati suaminya. Hari itu ia hanya mengambil screenshot dan menyimpannya ke folder.

Sari melihat dari meja makan kontrakan. "Bagus."

"Mama seperti guru ujian."

"Karena kamu sedang ujian."

"Ujiannya rumah tangga sendiri."

"Justru itu jangan datang tanpa persiapan."

Jam empat lewat empat puluh, Sari sudah menunggu di warung kopi seberang kompleks bersama Pak Surya. Nadia tidak meminta ibunya langsung masuk. Sari juga tidak menawarkan. Mereka sepakat pintu pertama harus dibuka Nadia sendiri, tetapi jika suara meninggi atau tangan Dimas mulai menahan, Sari dan Pak Surya masuk.

Pak Surya meletakkan map di meja warung. "Bu Nadia tahu batasnya?"

Sari mengangguk. "Dokumen pribadi, bicara soal barang, tidak mengambil barang besar hari ini."

"Dan tidak terpancing menghancurkan barang."

Sari menatapnya.

Pak Surya tersenyum tipis. "Saya sudah lihat banyak klien menyesal karena satu piring pecah mengalahkan sepuluh bukti kuat."

"Anak saya tidak akan pecahkan piring."

"Ibu yakin?"

Sari melihat ke arah gerbang kompleks. "Tidak. Makanya saya duduk di sini."

Nadia masuk rumah Dimas tepat pukul lima.

Pagar tidak dikunci. Pintu depan terbuka setengah. Seolah rumah itu ingin menunjukkan bahwa ia tidak mengusir siapa pun. Tapi Bu Marni sudah duduk di ruang tamu dengan wajah siap mengadili.

Televisi menyala keras. Sinetron sore menampilkan menantu menangis di depan mertua. Nadia hampir ingin tertawa. Bahkan televisi pun seperti berpihak pada drama yang salah.

Dimas berdiri di dekat jendela, ponsel di tangan.

"Akhirnya pulang," kata Bu Marni. "Semalam tidur di rumah ibumu?"

Nadia meletakkan tas di kursi. "Saya tidur di kontrakan Mama."

"Menantu baik tidak membawa urusan rumah ke ibunya."

"Mertua baik tidak mengambil barang menantu tanpa izin."

Dimas langsung menegur, "Nad."

Nadia menoleh. "Apa?"

"Jangan mulai dengan nada seperti itu."

"Nada apa yang kamu mau? Nada minta maaf karena perhiasanku digadaikan?"

Bu Marni menepuk sandaran sofa. "Itu untuk kebutuhan keluarga."

"Keluarga siapa?"

"Keluarga kita."

Nadia melihat sekeliling ruang tamu itu. Sofa abu-abu. Meja kaca. Televisi besar. Karpet. Gorden. Kulkas dua pintu yang terlihat dari ruang makan. Mesin cuci di belakang. Cat dinding abu muda yang dulu ia pilih setelah dinas malam.

Semua benda itu tiba-tiba seperti saksi yang selama ini diam.

"Sofa itu saya bayar," kata Nadia.

Bu Marni berhenti. "Apa?"

"Televisi juga. Kulkas. Mesin cuci. Kompor. Lemari dapur. Gorden. Cat dinding. Tukang renovasi. Sebagian besar dari bonus jaga malam dan uang lembur saya."

Dimas mengusap wajah. "Nadia, jangan hitung-hitungan."

"Aku menghitung karena kalian memakai kata keluarga untuk mengambil."

"Kamu tidak ikhlas?"

Nadia menatap suaminya. Kata ikhlas itu dulu membuatnya malu mempertahankan miliknya sendiri. Hari ini kata itu terdengar seperti kain kotor yang dilempar ke meja.

"Aku ikhlas membangun rumah tangga. Aku tidak ikhlas barangku hilang dan uangku dipakai tanpa izin."

Bu Marni berdiri. "Jadi kamu menuduh saya maling?"

"Saya bertanya surat gadai perhiasan saya di mana."

"Saya orang tua!"

"Saya pemilik barang."

Ruang tamu hening.

Dimas mendekat dan menurunkan suara. "Kita bicara di kamar."

"Tidak."

"Nadia."

"Setiap kali bicara di kamar, hasilnya aku disuruh mengerti. Hari ini kita bicara di ruang tamu, karena dari ruang tamu juga Ibu kamu biasa membahas rahimku di depan saudara."

Dimas seperti ditampar. Bu Marni memegang dada.

"Ya Allah, perempuan sekolah tinggi kalau melawan memang tajam sekali."

Nadia membuka map. Ia mengeluarkan salinan mutasi rekening, daftar barang yang ia beli, dan foto kotak perhiasan kosong.

"Saya minta surat gadai, alamat tempat barang digadaikan, dan penjelasan transfer ke rekening Ibu. Kalau tidak ada, saya minta jawaban tertulis."

Bu Marni menunjuknya. "Kamu mau melaporkan keluarga sendiri?"

"Kalau keluarga sendiri mengambil barang saya, iya."

Dimas menarik lengan Nadia. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat tubuh Nadia mundur setengah langkah.

"Jangan bikin malu."

Nadia melihat tangannya di lengan sendiri.

"Lepas."

Dimas tidak langsung melepas. Ia mungkin menunggu Nadia menunduk seperti biasa. Tapi pintu depan diketuk sebelum ia menemukan cara lain.

Suara Sari terdengar tenang dari luar. "Nadia?"

Dimas melepas.

Nadia membuka pintu. Sari berdiri bersama Pak Surya. Wajah Sari tidak marah. Justru itu membuat Bu Marni tampak lebih panik.

"Kami masuk?" tanya Pak Surya.

Bu Marni langsung berseru, "Ini rumah tangga anak saya. Pengacara tidak perlu masuk."

Pak Surya tersenyum. "Justru karena ada pembicaraan soal barang pribadi, rekening bersama, dan dugaan pengambilan tanpa izin, lebih baik ada saksi."

Sari masuk dan berdiri di samping Nadia. Ia tidak mengambil alih.

"Lanjutkan," katanya.

Nadia menarik napas. Ia menunjuk satu per satu barang di ruang tamu dan menyebut bukti pembeliannya. Tidak dengan pidato panjang. Hanya nama barang, tanggal, sumber uang, bukti transfer. Pak Surya mencatat. Dimas berkali-kali ingin memotong, tetapi setiap kali Nadia menatapnya, ia berhenti.

Bu Marni akhirnya berteriak, "Kalau merasa semua milikmu, ambil saja! Biar rumah ini kosong!"

Nadia menatap televisi.

Ia berjalan ke sana, mencabut kabel, lalu mendorong meja sedikit. Bunyi gesekan kaki meja membuat Bu Marni menjerit.

"Kamu gila?"

"Ibu yang menyuruh saya ambil."

"Itu cuma omongan!"

"Saya terlalu lama hidup dari omongan orang di rumah ini."

Dimas maju. "Nad, jangan kekanak-kanakan."

Nadia berhenti. Ia tidak mengangkat televisi. Bukan karena takut. Karena ia tahu hari ini bukan soal membawa pulang benda paling besar. Hari ini soal membuat mereka berhenti berkata ia tidak pernah memberi apa-apa.

Ia menatap layar hitam televisi. Wajahnya terpantul di sana, pucat tapi tegak.

"Aku tidak membawa TV hari ini," katanya. "Tapi mulai sekarang, jangan pernah lagi bilang aku numpang hidup di rumah ini."

Tetangga sebelah mengetuk pagar. "Ada apa, Bu?"

Sari membuka pintu sedikit. "Tidak apa-apa, Bu. Sedang inventaris barang. Kalau mau jadi saksi, silakan."

Tetangga itu langsung mundur, tetapi tirainya tetap terbuka.

Pak Surya menutup map. "Kami beri waktu dua kali dua puluh empat jam untuk menyerahkan informasi gadai, mengembalikan barang pribadi, dan memberi penjelasan rekening. Setelah itu kami kirim somasi."

Bu Marni menangis. "Lihat, Dimas. Istrimu mempermalukan ibu sendiri."

Dimas menatap Nadia. "Kamu benar-benar mau sejauh ini?"

Nadia memasukkan dokumen pribadinya ke tas. "Aku tidak tahu sejauh mana nanti. Tapi hari ini aku berhenti mundur."

Di depan pagar, kakinya hampir lemas. Sari menangkap sikunya.

"Aku tadi hampir bawa TV beneran," bisik Nadia.

"Sayang. Berat."

Nadia tertawa, lalu air matanya jatuh. Tawa dan tangisnya bercampur, tapi kali ini bukan tangis kalah.

Sari membiarkan sebentar. Setelah itu ia berkata, "Hari ini kamu tidak mengambil semua barangmu. Kamu mengambil kembali suaramu."

Nadia mengangguk.

Di dalam rumah, Bu Marni masih menangis. Dimas berdiri di antara sofa, televisi, kulkas, dan dinding yang baru saja berubah menjadi bukti.

Ketika Nadia masuk mobil, ponselnya berbunyi.

Dimas: Kalau kamu bawa pengacara lagi, aku ganti kunci.

Nadia menunjukkan pesan itu kepada Sari.

Sari hanya berkata, "Screenshot."

Nadia menekan tombol tangkap layar. Ancaman itu tidak lagi terdengar seperti akhir dunia.

Ia memberinya nama file: ancaman ganti kunci.

Pak Surya yang duduk di depan menoleh. "Kalau besok benar kunci diganti, jangan paksa masuk. Kita datang lagi dengan prosedur."

Nadia memandang rumah itu lewat kaca mobil. Di balik jendela, Bu Marni masih bergerak-gerak menelepon seseorang, mungkin sudah mengirim cerita ke grup keluarga.

"Dulu aku takut mereka cerita duluan," kata Nadia.

Sari memasang sabuk pengaman. "Sekarang biarkan mereka cerita. Kita punya bukti."

Nadia menyimpan ponsel ke tas. Untuk pertama kalinya, kata bukti terasa lebih menenangkan daripada penjelasan panjang.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!