NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman sebangku yang kebingungan

Yuna menatap meja di hadapannya yang sudah tertata rapi akan peralatan tulis: buku tulis yang sudah terbuka di tengah meja, kotak pensil berwarna biru, juga botol minum yang ada di sudut bangku.

Semuanya telah ia susun sejajar dengan sudut yang nyaris sempurna.

Ia melirik ke Azka yang masih sibuk menata teman-temannya. Kemudian kembali menatap mejanya sendiri.

Dengan wajah datar, ia mulai memasukkan kembali satu per satu barang itu ke dalam tas.

Gerakannya pelan.

Namun setiap resleting yang ditutup terdengar seperti bentuk protes tanpa suara.

"Efisiensi yang menyedihkan."

Di sampingnya, Melody ikut mengemasi barang-barangnya dengan raut muka yang sedikit murung.

"Yun..."

Yuna menoleh.

"Nanti..."

"Kita ke kantin bareng, ya? Kamu jangan sampe lupain aku."

Yuna berkedip pelan.

"Aku hanya berpindah tiga bangku dari tempatmu duduk loh. Toh itupun masih berada dalam satu ruangan yang sama."

Melody menggeleng cepat.

"Ya sama aja jauuuh. Aku harus kesana. Terus..."

Yuna memandangi wajah dramatis itu beberapa detik.

Lalu menghela napas kecil.

"Iya, iya..."

"Kalau jam istirahat, aku akan menunggumu."

Seketika wajah Melody kembali berbinar.

"Asyiiik!"

Ia mengepalkan kedua tangannya kecil.

Yuna pun hanya tersenyum tipis.

"Emosinya benar-benar berubah secepat sakelar lampu."

Di sudut lain kelas, Raizel masih sibuk membantu para siswa mencari bangku baru.

"Santai aja."

"Iya, nanti ketemu lagi kok."

Senyumnya tetap ramah kepada siapa pun. Sangat berbanding terbalik dengan perempuan berambut panjang yang ada disampingnya.

"Iya, yang baris sana."

"Bukan... sebelahnya lagi."

"Iya."

"Sana."

Nada suaranya masih terdengar datar.

Setengah hati.

"Ssst..."

Raizel mendekat pelan.

"Nia."

"Apa?"

"Jangan judes-judes gitu, dong. Katanya pengen jadi kakak pembimbing yang penuh kasih sayang?"

Nia akhirnya menoleh dengan tatapan tajam.

"Kamu tahu nggak, Zel?" bisiknya cepat.

"Aku tuh kesel banget tau gak?"

"Planning yang kita rapatin berhari-hari... dirubah seenaknya sama orang itu..." gerutunya sembari menunjuk Azka dengan dagunya.

"Aku tuh—"

"Heh."

Raizel buru-buru mengangkat telunjuknya.

"Ssst."

Nia langsung mengatupkan bibir.

"Nanti aja ngeluhnya. Masih banyak adik kelas."

Nia mengembuskan napas panjang. Matanya berputar malas.

"Iya, iya. Sorry..."

Lalu kembali menjalankan tugasnya.

Sementara itu...

Azka justru terlihat semakin bersemangat melihat seluruh kelas sibuk berpindah tempat akibat ulahnya.

"Ayo ditata yang rapi semuanya..." serunya sembari bertepuk tangan.

Beberapa menit kemudian, suasana kelas perlahan kembali tenang. Bangku-bangku kini telah teracak sepenuhnya.

Tidak ada lagi yang duduk bersama teman yang baru dikenalnya. Semuanya benar-benar diacak. Persis seperti tujuannya sejak awal.

Yuna akhirnya tiba di bangku barunya yang berada di barisan paling belakang. Persis di samping jendela.

Ia kembali mengeluarkan buku, tempat pensil, dan botol minumnya. Lalu menyusunnya dengan ketelitian yang sama seperti sebelumnya.

Baru setelah itu ia melirik ke samping. Nampak seorang siswa bertubuh tinggi yang baru saja menarik kursi. Bahkan saat duduk pun, bahunya masih terlihat lebih lebar dibanding kebanyakan siswa di kelas.

Ia tersenyum canggung.

"Maaf ya. Aku lupa sama namamu tadi."

Yuna menggeleng pelan.

"Tak apa. Itu bukan masalah besar kok."

"Oh iya..."

Siswa itu menggaruk pipinya.

"Namamu memangnya siapa, ya?"

Sembari berbicara, ia menjulurkan tangan.

Yuna memandang tangan itu beberapa detik.

"Nama panjang atau nama panggilan?"

"Eee..."

Siswa itu sempat melirik ke arah depan kelas. Di sana, Kak Azka masih sibuk mengatur posisi duduk siswa lain bersama Kak Nia dan Kak Raizel.

Setelahnya, ia kembali menoleh pada Yuna.

"Lengkap aja, deh. Takutnya nanti Kak Azka nanyain pertanyaan yang sama lagi."

Yuna mengangguk kecil. Lalu menyambut uluran tangan itu.

"Ratu Ahimsa Yunanda. Salam kenal."

Siswa itu berkedip. Matanya langsung berbinar. Seolah baru menyadari bahwa nama teman sebangkunya terdengar sangat indah.

Ia buru-buru menjabat tangan Yuna.

"A-aku..."

"...Andito Sofansyah Putra. Salam kenal juga."

Jabat tangan itu hanya berlangsung beberapa detik. Namun setelah melepaskannya, Andito justru mendadak duduk lebih tegak.

Kok gue ikut-ikutan ngomong formal gini?

....

Suasana kelas perlahan tenang. Tak ada siswa yang berlalu-lalang sembari menenteng tas lagi. Azka memandang sekeliling ruangan sambil mengangguk puas.

"Kalau begitu... kami pamit dulu. Setelah ini kalian akan dikenalkan dengan guru-guru mata pelajaran," terangnya dengan wibawa yang belum luntur sama sekali.

Meski tatapan para adik-adiknya, cenderung ke tatapan memicing ketimbang tatapan kagum.

Raizel ikut melangkah ke depan.

"Semangat ya, adik-adik. Jangan takut kalau nanti ditanya-tanya para guru."

Berbeda dengan Nia yang masih saja badmood. Ia mengekor di belakang kedua temannya dengan tangan bersedekap.

Ketiganya kemudian berbalik menuju pintu.

Sebelum keluar, Azka sempat melirik sekilas ke arah bangku paling belakang. Lebih tepatnya ke arah Yuna.

Senyumnya tipis. Seolah puas melihat "karyanya".

Sempurna.

Yuna yang menyadari tatapan itu hanya memutar bola matanya malas.

Semoga tak kembali lagi...

Begitu pintu kelas tertutup, ruangan kembali hening.

Yuna kembali mengatur posisi duduknya. Punggung lurus. Kedua tangan bertumpu rapi di atas meja. Bahkan menggoyangkan kaki pun tak ia lakukan.

Sampai-sampai membuat Andito yang duduk di sampingnya, untuk sekedar batuk pun merasa tak sopan.

Dari dekat, Andito baru benar-benar memperhatikan teman sebangkunya itu.

Rambut bob pendek yang tertata rapi. Bando biru tua yang menahan poni agar tidak jatuh ke wajah. Kacamata bulat berbingkai hitam. Seragamnya nyaris tanpa kusut.

Andito mengerutkan dahi.

"Keknya dia pemalu deh?"

Ia kembali mengamati Yuna. Namun wajah gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa gugup.

"Atau..."

"Dia memang pinter?"

Andito mengusap tengkuknya sendiri.

"Ini cewek sebenarnya tipe yang kayak gimana, sih?"

Otaknya mulai menyerah menyusun kemungkinan.

....

Begitu ketiga kakak pembimbing meninggalkan kelas, suasana yang semula tegang perlahan mencair.

Suara kursi bergeser mulai terdengar. Disusul obrolan-obrolan kecil dari berbagai penjuru ruangan.

"Rumahmu di mana?"

"Kamu SMP mana?"

"Eh, nanti pulangnya naik apa?"

Ada yang langsung akrab. Ada pula yang sekadar berbasa-basi demi mengusir canggung.

Andito melirik ke bangku depan.

Di sana, Rendy—teman satu SMP-nya—sudah tertawa lepas bersama teman sebangkunya yang sama-sama laki-laki.

Entah membahas game. Entah membahas sepak bola. Yang jelas, obrolan mereka terdengar mengalir begitu saja.

"Enak banget kalau sama-sama cowok..."

Andito mengembuskan napas panjang.

"Lah gua? Dipasangin sama cewek yang..."

Ia melirik sekilas ke samping.

"Yang bahkan cara duduknya kayak lagi sidang tugas akhir sekolah."

Seolah merasakan tatapan itu, Rendy refleks menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Andito langsung memicingkan mata dengan sorot penuh rasa dengki.

Diseberangnya, Rendy justru tersenyum lebar sembari mengangkat kedua alisnya naik turun. Seakan ingin memberikan ekspresi:

"Semangat, Bro."

Entah itu bentuk dukungan...

Atau ejekan.

Andito memalingkan wajah kesal.

Beberapa detik setelahnya, kedua tangannya langsung meremas rambut sendiri—membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya.

"Gimana cara ngobrol sama orang kayak gini?"

Ia berpikir keras.

Topik.

Ia butuh topik.

"Cewek biasanya suka apa, ya?"

Drama Korea?

Boyband?

Penyanyi luar negeri?

Atau...

Film?

Matanya kembali melirik Yuna. Terlihat gadis itu sedang memainkan ponselnya. Casing berwarna merah muda dengan gantungan kecil berbentuk kucing menggantung di sudutnya.

"Ohh masih ada sisi ceweknya."

Sedikit lega.

Setidaknya...

Penampilannya tidak sepenuhnya kaku.

Ia menarik napas panjang.

"Oke."

"Keknya mulai bahas-bahas musik cocok nih."

Andito berdeham pelan.

"Yun..."

Belum sempat sepatah kata keluar, matanya tanpa sengaja menangkap wallpaper pada ponsel Yuna.

Bukan foto grup BTS.

Bukan BLACKPINK.

Bukan pula Justin Bieber.

Yang terpampang memenuhi layar justru seorang pria berkumis dengan tatapan tajam. Dengan tulisan yang ada di bawah fotonya.

Nikola Tesla.

Andito membeku.

Otaknya berhenti bekerja selama beberapa detik.

"..."

"Itu..."

"Siapa, anjir?!"

Ketika ia hendak membuka suara, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang bergerak ritmis. Suara yang mengetuk tak terdengar seperti sepatu siswa yang lebih lembut. Melainkan mengetuk bagaikan hak sepatu pantofel.

Dan benar saja, sosok yang berikutnya datang adalah seseorang dengan penampilan yang nampak berwibawa dengan setelan batik dan celana hitamnya.

Membuat Andito mengurungkan percakapannya. Lalu mengatur posisi duduknya menjadi lebih tegap dari sebelumnya.

....

Dua jam telah berlalu, seluruh guru mata pelajaran telah selesai memperkenalkan diri.

Guru Sejarah yang berkali-kali mengingatkan bahwa memahami masa lalu sama pentingnya dengan menatap masa depan. Hingga guru Bahasa Inggris yang energinya seolah tak pernah habis.

Bu Denise tersenyum lebar di depan kelas.

"Alright, students!"

"Untuk tempat kantin, ada di sebelah timur, dekat gedung kelas sebelas IPA."

Beliau menunjuk keluar jendela.

"Di sana ada banyak warung berjajar yang menunya bervariasi."

"Enak..."

"...dan tentu saja bergizi."

Senyumnya kembali melebar.

"So... enjoy your break!" serunya sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Yes, Ma'am!" sahut seluruh siswa hampir bersamaan.

Bel istirahat pun berbunyi. Suasana kelas yang tadinya tenang langsung berubah ramai.

Kursi bergeser.

Tas dibuka.

Obrolan kecil kembali memenuhi ruangan.

Andito mengembuskan napas panjang.

"Huff... finally," ucapnya sok Inggris. Atau memang masih terbawa suasana akan pelajaran sebelumnya.

Yuna bahkan belum terlalu peduli.

"Bu Denise...." Kalimatnya menggantung. Dan berhasil mencuri perhatian dari Yuna.

"Kayaknya orangnya baik."

Yuna memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya.

"Beliau komunikatif dan mampu mencairkan suasana kelas..."

"Kurasa itu memang salah satu kualitas yang baik untuk seorang pengajar."

"Oh..."

Andito mengangguk pelan.

Meski...

Jawaban itu lagi-lagi terdengar seperti hasil observasi dibandingkan pendapat biasa.

Ia mencoba lagi.

"Kalau Pak Baihaqi tadi... kayaknya kaku banget ya?"

Yuna menutup resleting tasnya.

"Mungkin beliau sedang memikirkan bagaimana menjelaskan materi."

"Jadi menurutku..."

"...kita sebaiknya memakluminya."

"..."

Hening.

Andito hanya mengangguk pelan.

Bisa nggak sih, Yun? Lu jelasin pake bahasa yang biasa aja?

Setelah berteriak dalam hati, pandangannya tanpa sengaja melirik ke isi tas Yuna.

Buku tulis.

Map.

Tempat pensil.

Dompet.

Semuanya tersusun rapi.

Lalu ia melihat tasnya sendiri.

Tiga buku tulis.

Sebuah pulpen.

Penggaris yang ujungnya patah.

Dan charger ponsel yang bahkan tidak tahu kenapa ikut terbawa.

Dia sampe sesiap itu ya?

Setelah Yuna selesai mengemasi barang-barangnya, Andito mengumpulkan keberanian sekali lagi.

"Ehm..."

"Mau ke kantin bareng, nggak?"

Yuna yang baru saja mengambil dompet berwarna krem itu menoleh setengah.

"Maaf. Aku sudah berjanji bertemu seseorang."

Andito membeku.

"Seseorang?"

"Jangan-jangan..."

"Pacarnya waktu SMP?"

1
Arni Arlinawati pratiwi
andito kaya nemu temen harta karun, pake nangis bjirrr... /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
mampus andito.. mampus.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
/Doge/
Arni Arlinawati pratiwi
yuna.. andito.. 😭😭 mampus, /Facepalm/
Hs Mochi
dan lebih berkesan pastinya. jd pengen sekolah lagiiiii...😢
Hs Mochi
kebayang seru tapi ribet sih. harus cari orang ngumpet di sekolah🤣
Hs Mochi
eh.. seru ini.. jd teringat masa sekolah dulu. harus gesit dan lincah
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
kenzi moretti
duh blak-blakan sekali perkataanmu😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!